IdBlogNetwork

Perlukah seorang anak di vaksinasi?



Perlukah seorang anak di vaksinasi?
Pro dan Kontra perlu tidaknya vaksinasi masih berlanjut. Khususnya di Mailinglist Dokter Indonesia (http://www.mldi.or.id), jawaban yang sangat awam diberikan oleh Dokter Internet dari Jepang, Tonang Ardyanto.

Pada 2/07/06 17:53PM, "Yuliana Dewi" menulis :

Lalu dari uraian dokter, apakah saya dapat tarik kesimpulan bahwa kalo misalkan anak terjaga dengan baik, kebersihan lingkungan dan asupan gizinya, maka pada sakit2 tertentu yang self-limiting desease, memang tidak diperlukan obat, sedangkan pada anak yang lingkungan maupun makanannya tidak terjaga, tetap diperlukan obat walaupun sakitnya jenis self-limiting desease? CMIIW ya dok, eh dok tapi anak saya nggak se-alert itu kok :), masih sering saya ajak berkebun di belakang rumah dan tau2 mulutnya udah penuh dengan tanah :( dan sering juga saya ajak berenang di pantai (bukan resort atau temapat wisata) yang terkadang banyak sampah dan kotoran, tapi gimana lagi, enggak ada kolam renang :(


Pada Thu 09-02-2006 13:36, dr Tonang menjawab:
Ibu Dewi,

Kalau kita menganggap secara sederhana unit kehidupan terkecil adalah sel, maka sebenarnyalah si virus ini hanya "setengah hidup" (hanya punya DNA atau RNA saja). Karena setengah hidup, maka antibiotika (anti terhadap yang
"bio", yang hidup) tidak mempan melawan virus. Karena itu hehehe ....
Anak-anak nggak perlu antibiotika .... Benar ?

Namun, karena sifat "setengah hidup" ini pula, virus butuh sel yang hidup untuk "ditumpangi". Begitu masuk tubuh manusia, segera si virus mencari sel manusia untuk tumpangan. Setelah masuk sel, si virus akan berusaha menguasai sel tempatnya menumpang, dengan menguasai sistem di dalam sel dan menjadikannya home-base. Setelah menguasai itulah, si virus akan menimbulkan penyakit beragam bentuknya (ini bukan untuk kelas Bu Lakshmi dll lho ya, too simple).

Nah, kalau sudah berhasil menguasai suatu sel, maka bumerang buat si virus, karena sel itu akan mati. Akibatnya apa ? Si virus harus beralih mencari "home-base" baru.

Sementara itu, saat tubuh manusia kemasukan si virus tamu tak diundang, tentu saja tidak tinggal diam. Segera mereka membentengi diri, sehingga ketika virus harus mencari "home-base" baru, terlanjur terhadang.

Jadilah si virus kehilangan sumber kehidupan, dan berakhirlah riwayatnya.
Karena itulah Bu Dewi sangat paham paradigma : penyakit akibat virus bersifat self-limiting disease dan tidak perlu antibiotika.

Lha kok kemarin katanya bisa saja diberikan obat ? Ceritanya ....

Seperti disebut diatas, tentu tentara tubuh tidak akan sekedar melongo di markasnya melihat si virus merajalela. Terjadilah perang baratayudha, antara Pandawa yang berbaju putih (sel-sel darah putih) melawan Kurawa berjas hitam
(Men in Black eh si virus maksudnya). Saking hebohnya pertempuran, tubuh si anak jadi demam. Mengapa ? Karena si kurawa ini termasuk tentara yang meski sakti, penampilan seram tapi manja. Kalau tubuh manusia demam, dia jadi
cepat lelah, nggak garang lagi. Sementara si putih, kalau terjadi demam, malah makin giat bertempur, makin giat mencetak tentara baru.

Karena itulah Bu Dewi sudah sangat paham : kalau anak demam jangan buru-buru panik dan memberi obat.

Mengapa kadang diperlukan obat ? Ceritanya ...

Begini, kita cerita soal sistem imun tubuh dulu. Tentara tubuh terbagai atas 3 batalyon utama : penyerang/pemukul, intelijen dan markas. Si penyerang ini siaga di semua lini dari pintu gerbang sampai siap diterjunkan melawan musuh. Si intelijen bergerak lincah mengawasi setiap sudut, mengenali mana kawan mana lawan. Si batalyon markas bekerja di litbang, merancang setiap strategi serangan maupun memproduksi senjata ampuh (antibodi) berdasarkan
informasi dari batalyon intelijen. (catatan : batalyon intelijen ini mah kelasnya jauh sama yang melakukan operasi intelijen terhadap anggota DPR penyelidik impor beras hehehe ....)

Nah, sebenarnya, banyak si hijau (bakteri) yang setiap saat mengancam tubuh manusia. Tetapi nasibnya lain dengan virus. Kalau virus, dia bisa masuk tubuh melalui berbagai teknik kamuflase, dan - lagi-lagi karena sifat setengah hidupnya tadi - tidak mudah terdeteksi oleh tentara tubuh penjaga pintu gerbang, bahkan seringkali bisa menipu mentah-mentah, licin bagai belut, tidak kalah dengan jagoan kita : I am Bond, James Bond ...

Lain dengan si hijau, dasar orangnya "lugu", seragamnya norak, gaptek lagi, tentara tubuh cepat mendeteksi. Jadilah pada saat tentara segar-bugar, siap senjata, si hijau hanya bisa sekedar melakukan provokasi, sementara tentara tubuh bahkan sudah siap kalaupun harus melakukan pre-emptive strike.

Nah, saat tubuh bertempur baratayudha, tentulah dia akan banyak kehilangan resources, konsentrasinya akan terfokus, pertahanannya akan rentan.
Saat-saat seperti itulah, si hijau (bakteri) punya peluang mencari celah masuk tubuh manusia.

Bisa dibayangkan, kalau sudah pas bertempur, padahal sehari-hari si tentara ini sudah kurang makan, kurang gizi, bahkan kurang personel gara-gara nggak ada bakal tentara yang memenuhi syarat (tumbuh kembang tubuh kacau).

Karena itulah, pada kondisi tertentu, diperlukan "doping" power dari luar (obat) agar para tentara itu sanggup mempertahankan tubuh dari pertempuran melawan virus, sekaligus membentengi diri terhadap provokasi si bakteri.

Kapan kira-kira pasokan power dari luar ini diperlukan ? Faktor-faktor yang gampang dipahami : kalau pertempuran melawan virus sudah kelewat lama, analisa terhadap profil pertahanan tubuh sebelumnya mengindikasikan banyak kelemahan, atau bila tanpa disadari si bakteri sudah terlanjur menembus barikade pertahanan.

Siapa yang menilai kebutuhan pasokan dari luar ini ? Bisa dari tubuh itu sendiri yang mengibarkan bendera dan berteriak minta tolong (misalnya kejang akibat demam mendadak, panas tinggi terus menerus tanpa perbaikan, nyeri
yang sangat) atau terlihat dari luar muncul tanda-tanda sudah ada penyusupan bakteri yang memperparah serangan si virus. Dalam hal ini, Security Council (Doctor) lah yang akan menilainya.

Hmmm ... Kok jadi panjang sekali ya ? Diterusin di email berikutnya deh ya
...

Tonang

Bagi yang ingin membaca kelanjutan tulisan dr Tonang, bisa membuka arsip MLDI, yang bersubject:
- [MLDI] Si "hitam", obat dan sistem imun ... (1) Wed 15-02-2006 12:34
- [MLDI] Si "hitam", obat dan sistem imun ... (2) Wed 15-02-2006 12:38
- [MLDI] Si "hitam", obat dan sistem imun ... (3) Wed 15-02-2006 12:45


Bagaimana tanggapan Anda?

8 komentar:

Lakshmi Nawasasi mengatakan...

Selamat, dr.Erik ...
Saya terkesima lho dengan uraian dr Tonang ini juga untuk subjek si hitam, obat dan sistim imun 1,2,3
Pas, ngena, peduli, merasuk, dan tepat :)
Banyak keinginan yang terwakili, lega sekali rasanya.
Dr Tonang, sepertinya spesialisasi memberikan pencerahan untuk meluruskan yang berbau-bau kontradiktif ya ..
Sebagian ilmu yang ditulis (mungkin) bukan ilmu baru, saya yakin semua dokter juga memahaminya ..
yang membuat nya lain dan terkesan istimewa adalah cara penjabarannya yang pas sekali :) dan saya
yakin ga banyak yang bisa melakukan seperti itu :)
Jangan bosan untuk selalu memberikan pencerahan seperti itu ya Dokter Tonang ....
Semoga dr.Tonang selalu diberikan banyak waktu dan kesempatan untuk
tetap menulis dan menulis sehingga bisa mewakili inspirasi banyak orang.
Untuk dr.Erik, sukses terus Dok ...

eptia mengatakan...

Dr Erik.. mungkin bisa mengajak Dr Tonang untuk menulis buku juga :)
Tulisannya memang bagus dan sangat mudah dicerna oleh orang awam. Sukses terus untuk Anda berdua, jangan pernah lelah untuk share dan menebar ilmu :)

Anonim mengatakan...

Wah asyik juga ya caranya dr. Tonang ini.. semuanya jadi jelas..las..las.. :)
Coba kalo semua dokter kita bisa seperti ini, rasanya puas banget deh kalo lagi mampir ke ruang prakteknya...

Salam kenal dari member lama namun tidak aktif Dok...
bagus banget lho penjabarannya...
Sukses selalu buat Dokter..

Lucky

Dani Iswara mengatakan...

Kalau sdh dijelaskan mantab [pake B] bgt o/ TS dr. Tonang, pasti pasien dan kerabatnya jd makin paham.
Bukan berarti dtg ke klinik trus hrs dpt obat, apalg antibiotika utk anak.. :)

Mei mengatakan...

Salut banget atas penjelasan dr. Tonang, saya yakin sekali semua orang pasti bisa mencerna setiap kata tersebut. Karena jarang sekali kita jumpai orang yang bisa menjelaskan dan sangat mudah utk dimengerti. Banyak juga para dokter yang enggan utk menjelaskan bila si pasien menanyakan sesuatu.

Erik Tapan mengatakan...

Dear All,
Mudah-mudahan makin banyak dokter Indonesia yang mau belajar komunikasi dengan pasien.

Saya dengar-dengar (masih er ha es sebenarnya), akan keluar buku yang berjudul

Be a Good Doctor.

Sangat baik bagi para dokter untuk mulai belajar memarketing dirinya sendiri.

BunSal mengatakan...

smoga dr Tonang tak pernah bosan berbagi kata, dimanapun, kapanpun.
Go On, dok.

Anonim mengatakan...

kalo saya pribadi sih menentang vaksinasi yang hanya isapan jempol belaka dan malah meracuni anak kita dengan bahan2 yg sangat berbahaya terutama thd saraf (neurotoxin)

coba buka
www.thinktwice.com
www.novaccine.com

jadi kalo anda yakin dg vaksinasi, silakan..
nanti kita bandingkan saja anak anda dg anak saya

salam