IdBlogNetwork

Fw: Detox Kaki: Terapi atau Penipuan?

Pembaca peminat Anti Aging yang berbahagia,
Berulangkali saya ditanyakan mengenai alat ini, jawaban yang selalu saya sampaikan adalah sampai saat ini saya belum menemukan paper ilmiah (benar-benar ilmiah) mengenai hal ini. Kemarin di salah satu milis, saya membaca artikel ini.
Silakan disimak, dikomentari, dibantah. Semua terbuka demi tercapainya hal yang sebenarnya.


====


Pernahkah anda melihat sistem terapi detox kaki? Jika sering bepergian ke pusat keramaian seperti supermarket atau mal, maka pasti anda pernah melihatnya. Sistem terapi ini bekerja dengan menempatkan kedua kaki peserta terapi ke dalam sebuah bak yang terhubung ke sebuah alat. Terapi ini diklaim berfungsi untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh melalui kaki. Setelah kurang lebih 30 menit, air dalam bak yang tadinya jernih akan menjadi berwarna merah kekuning-kuningan pekat. Zat yang berwarna pekat ini adalah racun yang berasal dari tubuh peserta. Sungguh menakjubkan! Hanya dalam 30 menit sudah sedemikian banyak racun yang berhasil dikeluarkan dari tubuh peserta.

Jika ditanya, para pemasar alat ini -yang seringkali berpakaian putih-putih selayaknya seorang dokter- dengan sigap akan menjelaskan bahwa terapi detox akan mengurangi resiko terkena berbagai macam penyakit mulai dari pusing-pusing sampai kanker dan diabetes.

Yang menjadi pertanyaan: Apakah kenyaatannya benar seperti yang mereka klaim?

Alat detoksifikasi ini dapat dibeli dengan harga sampai jutaan rupiah atau peserta dapat melakukan terapi pada tempat-tempat yang populer dengan nama 'Foot Spa' dengan harga antara 100-200 ribu rupiah per sesi. Harga yang tidak mahal -menurut para penjual- jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat.

Di Indonesia, media massa beberapa kali mengulas terapi detoks ini. Sayangnya, seluruh artikel-artikel tersebut tak lebih daripada sebuah promosi terselubung. Sebagai contoh adalah artikel "Sehat dengan Detoksifikasi" dari Tabloid Bisnis Uang atau artikel "Detoksifikasi: Bikin Hidup Lebih Hidup" dari Tabloid Senior.

Ray Girvan pada tulisannya "Dodgy Detox" menyimpulkan bahwa semua ini hanyalah sebuah reaksi elektrolisis, suatu topik yang umum pada praktikum anak-anak SD/SMP. Warna merah kekuning-kuningan tersebut adalah besi yang telah teroksidasi yang berasal dari elektroda alat tersebut. Bukanlah suatu kebetulan jika elektroda alat ini perlu diganti dari waktu ke waktu.

As to the brown colour, a number of critics, such as WicklowLass cited below, argue that foot detox machines are simply AC-DC transformers attached to ferrous electrodes that corrode to generate rust when used to electrolyse the saline water in the footbath.

This theory is backed up by some observers who have found by experiment that their feet didn't need to be in the bath for the brown to appear.

Ben Goldcare dari The Guardian melakukan sebuah penelitian kecil untuk menganalisis kandungan zat air sebelum proses detox dan setelahnya. Kandungan besi setelah 'terapi' melonjak sangat tinggi jika dibandingkan sebelumnya. Selain itu, tidak ditemukan urea dan kreatinin pada sampel yang dianalisis, menandakan tidak ada racun yang keluar dari tubuh.

Bravely I sent along my friend Dr Mark Atkins to have himself Aqua Detoxed. He took water samples from the bowl, which we sent off to the Medical Toxicology Unit at New Cross, south-east London. You can only imagine our excitement, especially as they charged us £200 for the analysis. And so - triumphant music - the water taken out before they switched their Aqua Detox machine on contained only 0.54mg per litre of iron (probably from the metal spoon); but afterwards it contained ... 23.6mg/l. Our water, from our kitchen table setup, contained 97mg/l (and it was a bit browner).

But did it extract toxins? "Toxin" is classic pseudoscience terminology. Essentially, the Aqua Detox people are offering dialysis, through your feet. Urea and creatinine are probably the smallest molecules - call them "toxins" if you like - that your body gets rid of, in places like urine and sweat: if "toxins" were going to come out, anywhere, you'd expect those to come out, too. There was no urea or creatinine in the water before the Aqua Detox, and there was none in the water afterwards. Which means, I believe, that we win.

Alat ini pun masuk dalam DeviceWatch.org, sebuah situs yang khusus membahas alat-alat medis yang dipertanyakan kebenarannya. Dalam situs ini, Stephen Barrett, M.D. menyimpulkan bahwa alat-alat ini secara medis tidak berguna.

The Guardian Unlimited article has had some impact on how the Aqua Detox and its imitators are marketed. Some marketers admit that the colors are due entirely to electrode conversion, and there is less emphasis on toxin removal and more emphasis on the "balancing" of "energy" that is not measurable with scientific instruments (and is therefore untestable.) But the bottom line is very simple. All such devices should be considered medically worthless.

Talkabouthealthnetwork.com bahkan mengatakan bahwa terapi detox kaki juga memiliki resiko karena reaksi ini melepaskan gas Klorin yang beracun dan Hidrogen yang mudah terbakar. Berhati-hatilah jika menggunakan alat ini. Jangan gunakan alat detoks kaki pada ruangan tertutup karena gas berbahaya akan terkonsentrasi. Atau lebih baik lagi, jangan gunakan alat ini.

Hydrogen and chlorine gas is given off in this process. The oxygen atoms from the water combine in the liquid with the salt(added to water to improve conductivity) to form hydroxyl ions. The chlorine gas is from the chloride in the salt. The oxygen in the hydroxyl ions stay in the solution.

Given that chlorine gas is poisonous, this process can be potentially be dangerous to your health. And the explosive hazard posed by the hydrogen is another minus.

Mungkin karena Undang-undang perlindungan konsumen yang cukup baik di negara-negara maju, Ray Girvan dalam tulisannya "Bad Science and rusty footbath revisionism" mengatakan bahwa beberapa produsen 'alat-alat' tersebut merevisi klaim bahwa 'racun' berwarna merah kekuning-kuningan tersebut berasal dari dalam tubuh peserta terapi. Kini mereka mengatakan bahwa warna tersebut berasal dari elektroda pada alat tersebut. Walaupun demikian tentunya manfaat dari alat ini masih belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

However did the press manage to arrive at such a misconception? Perhaps via the vendors' own statements? Hydra Detox (www.hydradetox.com) now says that its machine merely rebalances the body: "This type of machine is described as a detox machine because the response of a rebalanced body is to excrete any excess toxins via the kidneys, liver, bowels and skin AFTER the treatment" (their capitals, not mine). But a Google search finds a repeated occurrence of an older marketing tagline "Hydra Detox Foot Spas, simply immerse your feet in water and watch in amazement as the toxins are released through the pores in your feet". Similarly, a Google search also finds many sites for Aqua Detox and Bio Detox stating that you'll "see the excreted toxins in the water", in texts whose near-identical content suggests that the claim was in their manufacturers' blurb.

Bagaimana di Indonesia?
Saya lihat Indonesia belum memasuki 'tahapan' tersebut, mungkin karena perlindungan konsumen yang sangat lemah. Produsen alat-alat tersebut masih bebas mengklaim hal-hal yang jelas-jelas tidak benar.

====

70 komentar:

Priyadi mengatakan...

artikel ini aslinya saya yang buat heheheh :)
http://priyadi.net/archives/2006/03/22/detox-kaki-terapi-atau-penipuan/

Erik Tapan mengatakan...

Dear Priyadi,
Wah nggak nyangka lho, Mas Pri punya kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan .

BTW, merasa sangat tersanjung, blog saya dikunjungi oleh Suhu dan dikomentari.

Terima kasih.

Erik Tapan

anis mengatakan...

Saya setuju dengan mas Priyadi bahwa konsumen kesehatan di negara kita masih belum terlindungi, termasuk terhadap informasi kesehatan yang menyesatkan di Internet. Secara internasional ada inisiatif HON (www.hon.ch) yang mengatur mengenai kriteria mutu informasi di website kesehatan. Itupun, ternyata juga tidak berdampak luas. Di Indonesia, mungkin pak Erik nih yang dapat menjadi inisiator...

Dani Iswara mengatakan...

konsumen kesehatan hati-2..jgn tertipuuu...

Ronald T.Gultom mengatakan...

Akhirnya "penipuan mulus" itu terbongkar juga yah pak Erik, sebenarnya sudah lama saya curiga dan tidak percaya dengan terapi tersebut. Aneh bin ajaib ngeluarin racun hanya dengan rendam kaki dan bisa nyembuhin berbagai jenis penyakit. Bisa-bisa nantinya dokter pada berhenti praktek...karena semua pasien pada rendam kaki dan gak ada yang ke dokter lagi...hehehe

iskandar suryawinata mengatakan...

Dear Dr Eric,

Yang membingungkan mengapa tiap orang bisa berbeda kekeruhannya. Saya pernah 2 kali mencoba, yang pertama tidak begitu coklat, yang kedua menjadi lebih gelap.

Erik Tapan mengatakan...

Dear Pak Anis,
Wah berat Pak Anis untuk jadi inisiator. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tuntutan pekerjaan makin berat, jadi untuk ini-ini..., kelihatannya ditunda dahulu.
Semangat sich ada Pak. Kalau dikerjakan bareng-bareng, mungkin jadi lebih ringan.
Bagaimana kalau kita konsentrasi ke Telemedicine dahulu Pak?

Dear Pak Dani,
Saya sependapat dengan Anda, kita sebagai konsumen harus hati-hati. Para dokter juga harus terus mengupdate ilmunya termasuk ilmu-ilmu yang sedang trend di masyarakat, meskipun dahulu tidak diperoleh di bangku kuliah. Dengan demikian kita bisa menjadi dokter yang 'tahu semua', tidak percaya buta kepada suatu vendor.
Bukan begitu?

Dear Pak Ronald,
Kalau dibilang dengan detox, pasien-pasien dokter akan berkurang, yha nggak juga. Tidak semua sakit bisa 'disembuhkan' dengan detox.
Kalau sakit perut/diare (detox alamiah), misalnya, bagaimana mo detox, sudah ngocor duluan dan dehidrasi (kekurangan cairan).

Dear Pak Iskandar,
Menurut saya sih, kekeruhan terjadi akibat reaksi cairan dengan 'kotoron' kulit bagian luar kita. Sekarang dibalik saja Pak. Coba Pak Iskandar ke langganan Bapak, minta dia menjalankan alat tanpa kaki. Apakah airnya akan keruh juga atau bening saja?
Ingat prinsip Air Aki di mobil kita yang warnanya hitam karena oksidasi besi khan?

Salam,
Erik Tapan

Devi mengatakan...

alo2...wah saya baru tahu ada blog dr erik tapan :D hm, yah kadang memang di negara ini segala cara menjadi 'halal' utk mencari uang, dan benar kata anis bahwa konsumen di negara ini blom terlindungi krn hak2 perlindungan konsumen masih blom jelas penegakkan hukumnya.setau saya sih masih byk hal2 yg blom begitu terbukti kebenarannya, seperti pengobatan dengan sejenis kasur 'elektrik' atau program pengurusan berat badan dengan akupuntur. soalnya dr pengalaman temen saya sih ga terbukti hehehe

Linda H mengatakan...

Wah, setuju banget kalo kita harus hati-hati. Sekarang makin merajalela produk dengan sejuta klaim yang belum tentu bener, makanya perlu kritis dan teliti. Salut atas artikelnya Priyadi tersebut :)

mellyana mengatakan...

Akhirnya terbongkar juga penipuan ini. Soal air yang berubah warna tiap orang. Itu tergantung dari air yang dipakai utk elektrolisisnya. Kalau pake air kran air akan berubah kehitaman dan berminyak. Kalau air kran dimasak dulu, airnya akan berubah kekuningan keruh. Kalau pakai air mineral atau air oksigen akan berubah kuning jernih. Aku tahu ini saat demo water purifier, mereka coba dgn alat elektrolisis yahg prinsip kerjanya sama dgn detox-ion. Blh dicoba sdr. So, jgn tertipu ok!!

Anonim mengatakan...

Alat ini saya pernah lihat digunakan dan direkomendasikan oleh seorang dokter kulit di Jakarta.
Apakah ini dapat dikategorikan sebagai "penipuan" ?
Atau, dokter-nya yang tertipu oleh si penjual alat ?

(Bambang)

aqila mengatakan...

Saya teringat cerita teman tentang vco yang dulu pernah diklaim oleh laboratorium di amerika bahwa vco berbahaya bagi tubuh. Akibatnya industri rumahan vco yang sedang berkembang di Indonesia jadi terjerembab sukses. Ternyata ini cuman akal-akalan dagang, buktinya setelah diteliti oleh guru besar yang peduli pada masyarakat desa ternyata vco banyak manfaatnya.

Saya juga teringat cerita dokter yang mengatakan susu berkalsium dan berbagaimacamnya itu sebenarnya tidak lebih dari bisnis aja. Termasuk suplemen dan sebagainya.

Saya pikir kasus terapi ion ini juga akal-akalan dagang. Baik yang pro maupun kontra. Yang pro jelas didukung sama produsen terapi ion dan yang kontra 'mungkin' ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak suka terapi ini ada hingga dipelosok-pelosok desa (booming kalau boleh dibilang).

Kalau mau jujur, kenapa pas saat terapi ini sudah menyebar baru dipersoalkan. Kenapa pula cuman alat ini? kenapa yang jelas-jelas bahaya bagi kesehatan, seperti rokok kok gak dilarang?

Karena saya bukan dokter, saya cuman mikir, selama ini memberi sugesti dan membuat mereka senang serta sehat, mengapa tidak? Adakah kita sebagai manusia (juga para dokter) bisa menjamin kesehatan seseorang. Beranikah kita mengklaim dapat menyembuhkan?

Saran saya, mungkin para dokter bisa membantu meluruskan dan meneliti secara jernih (DAN YANG TERPENTING MEMBERI SEBUAH SOLUSI). Tidak terpancing memberikan kontra (karena ada dosen yang membenarkan secara fisika cara kerja alat ini dan pengaruhnya pada cairan tubuh). Berikan solusi pada para pengguna yang sudah fanatik dan pengusaha yang keluarganya bergantung pada alat ini....

Tolong... jangan seperti politikus kita yang bisanya cuman ngeklaim...

misbahul mengatakan...

Dulu saya tidak tertarik dengan terapi ion karena terus didesak teman akhirnya saya melakukan penelitian kecil salah satu penelitian saya dengan alat test ( uji ukur )dan ilmu aqupuntur. bahwa titik meredian atau refleksi organ tubuh itu banyak berada di bagian telapak kaki atau tangan. contoh saja: Apabila bak terpasang alat terapi yang berisi air dipasang alat ukur. maka semakin dijauhkan salah satu colokannya dari elektroda maka akan terlihat beda potensial. dimana listrik dengan daya kecil merangsang titik2 meridian pada kaki. ada yang menyebutkan alat ion terapi alat pengurai air, bisa juga seperti itu atau banyak kegunaan lainnya karena setiap saat tubuh manusia mengeluarkan cairan lewat pori2 terutama tangan atau kaki(sj). apalagi kakinya direndam sampai 30 menit. cairan itu sendiri bukan murni air tapi ada unsur garam, proses detoksi tubuh dll. jadi bisa mempengaruhi warna air. dan masih banyak penelitian saya yang harus lebih dikembangkan dan maaf tidak sepenuhnya bisa dijelaskan dicomment posting ini. Saya juga sependapat dengan saudara aqila. jadi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap terapi ion dan seperti yang saya kutip dibawah ini memang harus ada standarisasi alat terapi ini mengenai bahan rangkain dan sebagainya tidak bisa asal.kutipan:

Terapi Ion
Ada Dasar Ilmiahnya
Surabaya, Kompas - Terapi ion buka penipuan. Terapi itu bisa dijelaskan secara ilmiah, baik proses maupun manfaatnya.
Hal itu dinyatakan dosen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Sarwono, Rabu (9/8). Menurut Sarwono, imbauan dinas kesehatan agar usaha terapi ion ditutup perlu dikaji ulang. "Imbauan itu tidak didasarkan penelitian yang menggunakan alat, obyek, dan metode yang sama," ujarnya di Surabaya.
Sebelumnya, Dinkes Surabaya meminta usaha terapi ion ditutup karena tidak memberikan dampak penyembuhan (Kompas, 4/8/ 2006). Imbauan itu dikuatkan dengan hasil penelitian Kepala Laboratorium Biofisika Universitas Airlangga Prof Suhariningsih. Bahkan, alat itu dikhawatirkan berbahaya karena berisiko menyetrum pengguna.
Sarwono menuturkan, alat terapi ion yang marak digunakan belakangan ini memang diduga tidak menggunakan bahan yang standar. Seharusnya alat terapi ion terbuat dari bahan antikarat, bisa menghantar listrik dengan baik, dan tidak beracun. "Siapa pun yang mengerti teknik elektronika bisa merakit alat itu," ujarnya.
Alat itu dibuat dengan dasar pemahaman bahwa pada prinsipnya manusia mengandung ion positif dan negatif dalam jumlah seimbang. Jika jumlah ion tidak seimbang, tubuh manusia akan sakit. "Alat terapi menarik ion yang berlebih dari tubuh manusia. Secara sederhana, cara kerja alat ini mirip dengan metode kompres," tuturnya.
Ia menyatakan, hanya pasien berusia lanjut dan berpenyakit menahun yang sebaiknya diterapi dengan alat itu. Pasien juga harus memiliki keluhan jelas sebelum mulai terapi. "Karena itu pasien harus melakukan tes kesehatan sebelum dan sesudah terapi," tuturnya.
Ia heran mengapa dinkes baru mengeluarkan imbauan penutupan saat sudah banyak warga mempunyai usaha itu. Saat terapi itu digelar di hotel-hotel dengan biaya mahal, tidak ada imbauan penutupan. (RAZ)

Anonim mengatakan...

saya rasa mengatakan detox adalah penipuan, TERLALU BERLEBIHAN, mengapa dulu metode akupuntur juga tidak diakui oleh dunia kedokteran sekarang malah menjadi salah satu yang dipelajari secara serius dan TELAH DIAKUI oleh dunia kedokteran.

Paman saya telah mengalami stroke dan memiliki kadar kolesterol yang sangat tinggi, telah mencoba lebih dari 10 kali metode DETOX ini dan telah diperiksa kadar Kolesterolnya telah menurun secara signifikan sekitar 27 % !!

Jadi lebih baik kita sendiri melihat dan mecoba dan jika anda para dokter hendak meneliti detox ini, bisa diadakan survei / riset yang mendalam seperti :
1. Orang yang telah memakai metode DETOX ini adakah penurunan kadar kolesterol / gula atau yang lainnya ?

Jangan2 malah anda para dokter yang telah menghalagi orang untuk menjadi lebih sehat ? Sama seperti akupuntur atau VCO atau yang lainnya.

Marilah kita MENELITI SENDIRI dan membuktikannya dengan survei, jangan asal bicara saja !!

( Richard )

Anonim mengatakan...

Buat para Dokter, seperti dr Eric, dr Priyadi dan para dokter lainnya. Saya mohon sebelum kita memulai sesuatu yang menjadi pro dan kontra ( krn saya melihat fwd email : Detox : Terapi atau Penipuan telah beredar sangat banyak ) COBALAH MELAKUKAN SURVEY SECARA ILMIAH. Sama seperti kita membuat skripsi.

Marilah kita mengambil sample 100 orang lalu kita lakukan tes lab kesehatan dan kita melalukan tes lab kesehatan lagi setelah mereka menjalani detox selama 10 kali.

Jika anda semua para dokter benar-benar perduli dan bukan mencari sensasi dengan mengirimkan sembarangan email dengan mengutip sana sini utk mendukung argumennya. Marilah kita menghubungi distributor alat detox terutama MAXIMAN ION DETOX yang telah diakui DEPKES dan adakan penelitian secara terbuka.

Dengan ini kita dapat menilai mana yang benar ?
Jika anda para dokter yang benar maka anda telah menyelamatkan banyak orang dari penipuan ini.
Jika anda para dokter yang salah berarti anda harus mengclearkan email tersebut karena menghalangi orang yang ingin sehat ?

Bgmn tanggapan anda dr Priyadi, dr Erik ?

( Richard )

Erik Tapan mengatakan...

Dear Richard dan rekan-rekan pembaca yang budiman,
Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini.
Menurut saya, yang harus membuktikan secara ilmiah adalah produsen dari alat tersebut bukan kami para dokter. Terus terang sampai saat ini, saya belum melihat satu journal ilmiah (benar-benar journal lho) yang diakui oleh komunitas kedokteran, yang memuat hasil penelitian dari alat ini.

Saya sangat terbuka atas pelbagai teknis/cara yang sangat bermanfaat bagi kesehatan kita semua. Silakan produsen alat ini, mempublish hasil penelitiannya di journal ilmiah dan tunjukkan kepada kami para dokter.

Perlu diketahui, saat ini telah berkembang ilmu baru yang disebut dengan
Pseudoscience.
A pseudoscience is any body of alleged knowledge, methodology, belief, or practice that claims to be scientific but does not follow the scientific method.[1] [2]

The term pseudoscience appears to have been first used in 1843[3] as a combination of the Greek root pseudo, meaning false, and the Latin scientia, meaning knowledge or a field of knowledge. It generally has negative connotations, because it asserts that things so labeled are inaccurately or deceptively described as science.[4] As such, those labeled as practicing or advocating a "pseudoscience" normally reject this classification.

Though there is disagreement as to exactly how to distinguish pseudoscience from legitimate science, some characteristics include: the use of vague exaggerated or untestable claims, over-reliance on confirmation rather than refutation, lack of openness to testing by other experts, and a lack of progress in theory development.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Pseudoscience)

Tidak hanya orang awam, yang dokter pun kadang-kadang 'termakan' oleh pseudoscience ini. Jadi sebaiknya kita harus hati-hati. Kesembuhan satu dua orang bukan berarti alat/metode itu bagus. Seperti kata Anda, mesti dilakukan pada sekitar 30 orang atau lebih dengan teknik-teknik penelitian khusus.
Begitu berhasil, silakan submit hasil penelitian tersebut ke journal yang bereputasi (sudah terkenal sebagai journal). Biasanya, sebelum dipublish artikel tersebut, para ahli akan menganalisa hasil penelitian tersebut (peer review), di kongres, dll.
Nach, jika memang penelitian tersebut valid, tentu bisa diakui oleh kalangan medis.

Jadi sekali lagi, penelitian valid tidaknya suatu cara / metode, haruslah dilakukan oleh produsen alat/metode tersebut. Bukan hanya membuat buku dengan cara pseudoscience.

Catatan: Pihak Depkes dalam mengeluarkan ijin, tidak menilai manfaat (fungsi), melainkan hanya teknik administratif semata. Bahwa alat ini ada produsennya, dll. Yang menguji manfaat adalah Badan POM.

Terakhir, selamat untuk Paman Anda. Saya ikut senang. Pengalaman saya dengan pasien-pasien, sudah ada 2 orang yang berkonsultasi ke saya karena gatal-gatal.
Mudah-mudahan, siapapun yang ingin berdiskusi topik ini, bisa berdiskusi di jalur yang benar yang sesuai dengan bidang ilmu kesehatan/kedokteran.

Terakhir, asalkan sudah dibuktikan secara ilmiah dan bukan pseduoscience, buat saya pribadi nggak masalah. Persis sama seperti akupunktur yang Anda maksudkan. Metode tersebut, telah berhasil membuktikan secara ilmiah.

Hal ini juga berlaku terhadap tetumbuhan / herbal. Baru lulus uji toksisitas dan berhasil pada tikus, sudah digembar-gemborkan melakukan uji klinis.

Priyadi mengatakan...

saya bukan dokter, cuma rakyat biasa, yang dokter beneran itu dr Erik :). saya cuma merangkum informasi yang saya temukan dari internet. jadi kalau melihat yang aneh2 gini, saya otomatis cari di internet, dan ternyata seperti itu kesimpulannya.

untuk aqila: "karena ada dosen yang membenarkan secara fisika cara kerja alat ini dan pengaruhnya pada cairan tubuh", boleh tau dimana bisa saya baca penelitiannya? "jangan seperti politikus kita yang bisanya cuman ngeklaim"™ :)

untuk richard: kalau saya simple aja, kalau lihat di counter2 mereka, seakan2 warna merah adalah racun dari dalam tubuh. tapi ternyata bukan. apa itu bukan penipuan?

Anonim mengatakan...

Halo dr eric.

kalo sakit gagal ginjal asal belum cuci darah dengan terapi ions detox bisa ssembuh. Bisa dilihat dengan turunnya ureum dan creatinine pasien akan turun. Kalo gagal total sudah ga bisa deh.
6:16 PM
Kalo ada pasien dokter menderita gejala gagal ginjal dengan batasan maksimum ureum dan creatine yang tinggi boleh kita buktikan dengan terapi ions detox dan tanpa obat dengan terapi 10 x akan banyak kemajuan kesehatan yang menakjubkan... kalo dokter bersedia... saya juga ada pasiennya dan ada medikal recordnya.... hub saya 0711-7088028. victor

Anonim mengatakan...

http://nobelprize.org/nobel_prizes/chemistry/laureates/2003/
AQUAPORIN WATER CHANNELS dengan penjelasan bisa di download.
Di web ini kita bisa tau mengenai cell yang dirangsang dengan bio listrik yang mendasari dari terapi ions detox... atau cara kerja ions detox. Jadi cara kerja ions detox berdasarkan teori Peter Agre.. bukan teori bung Pri.
Jadi sebenernya sel tubuh kita mempunyai kelistrikan sampai dengan 90 milivolt. Dimana sel yang kurang bagus dibawah 30 milivolt. Alat ions detox mengisi kelistrikan sel, sehingga sel kembali bertenaga. Kita tau tubuh kita terdiri dari sel-sel. Apa bisa kita bisa merangsang sel2 ini maka tubuh kita dirangsang untuk berfungsi lebih baik.

bisa dilihat di web ini kira2 gambaran mudahnya...

http://www.detoxinternationalusa.com/
bisa dilihat bagaimana cara kerja alat ini.

Semoga informasi ini cukup menjelaskan.

Saya ada pasien dokter membeli alat ini dan ambeyennya sembuh...

Apa bisa efek placebo menyebuhkan? Sedangkan makan obat saja belum tentu sembuh... ??

Anonim mengatakan...

ah...sial banget... pernah ketipu dong saya... dah nyoba 2x loh...
tp kenapa ya setelah detox kaki tidur saya jadi puleeeeezzzzzz banget...karena abis ngeluarin racun. atau kaki saya jd keracunan.. hehe

Anonim mengatakan...

Saya sudah pernah coba, tidak ada kaki yang di rendam sementara alat di nyalakan, hasilnya air tetap jernih..sedangkan jika kaki di rendamkan air keruh. dan tingkat kekeruhan setiap orang berbeda-beda..bisa di jelasin kenapa ini ?

Erik Tapan mengatakan...

Terima kasih atas info yang diberikan oleh Anonim. Nanti akan saya pelajari. Hanya saja ada hal yang bisa saya tambahkan, kadang-kadang apa yang bisa dibuktikan di laboratorium (yang disebut in vitro), tidak bisa / susah berjalan jika hal itu terjadi di dalam tubuh (in vivo).
Jadi reaksi kimia di tabung kaca percobaan tidak bisa otomatis dianggap reaksi tersebut bisa terjadi di dalam tubuh kita.

Sena Stiaji mengatakan...

Bukanakah sistem eksresi toxik manusia itu melalui buang air kecil dan besar, sedangkangkan yang keluar melalui pori-pori kulit adalah air yang mengandung sebagian besar NaCl (bahan utama garam dapur) selain bahan lain (yang mengeluarkan aroma) seperti 2-metilfenol (o-kresol) dan 4-metilfenol (p-kresol). Maksud saya tidak ada jalan keluar untuk logam berat (zat aditif), radikal bebas melewati pori-pori kulit..lagi pula saya belum pernah mencium bau keringat kayak urine hehehe..:-p "kiding"..Air garam memang mamampu menyerap cairan tubuh melalui peristiwa osmosis karena perbedaan konsentrasi tapi sepengetahuan saya yang keluar ya kadar air..

Tapi secara empiris masyarakat yang menggunakan terapi banyak yang mengatakan "eh guwe merasakan sesuatu setelah terapi" dan banyak yang merasa lebih baik..mungkin alat ini memang memiliki maanfaat tapi belum dapat dijelaskan secara ilimiah, karena yang saya tau perubahan warna terjadi karena proses oksidasi saja..seperti jamu, jaman dulu orang minum jamu 'x' bisa sembuh dari suatu penyakit tapi tidak tahu kenapa bisa sembuh, lalu setelah diteliti ternyata mengandung suatu senyawa yang dapat mengobati suatu penyakit dan disintesis menjadi obat misalkan,... klo udah jadi obat kan ilmiah hehehe :-p "peace"

whk mengatakan...

klo menurut saya jgan airnya yang di uji, seharusnya darahnya yang diuji sebelum memakai alat dengan sesudah memakai alat apakah ada perubahan kandungan racun dalam darah.

Anonim mengatakan...

Semua yg tidak setuju malah tidak pernah mencoba alat ini.cuma katanya katanya saja.Buktinya orang tua saya telah mencobanya dan sangat berpengaruh besar utk kesehatannya.tadinya ortu saya sempat lumpuh karena nyeri tulang tapi setelah mengikuti terapi ini jauh lebih baik dan mulai mampu berjalan dan berakttifitas yg sebelumnya tdk dpt dia lakukan.saya sih ga perduli urusan kandungan apa yg terdapat didalam airnya yg penting ortu saya bisa SEMBUH,utk anda yg punya keluhan saya sarankan mencoba alat ini.tapi ingat harus disiplin utk 12 hari pertama.

Alice abal_abal mengatakan...

wah, wah, wah..
malah jdi kayak politikus yg maen lempar2 argumen ya..
sedikit saran ja nie mas2 sekalian, sebaiknya kalo mau mempublish sesuatu yg mengandung unsur hana-hini, mbok yo makek penelitian dulu, jgn asal ngejeblek ja,,
klo dah pasti, ada pembuktiannya baru di publish biar gak jdi bhan lempar-lempar argumen kayak gini.
hihihihi..
permisiiiii
cuma numpang lewat ^^

Kasiman Peranginangin mengatakan...

Urun rembuk. Meneliti itu pada dasarnya tidak untuk dilakukan oleh produsen alat saja. Mungkin dari sisi teknis alat sah-sah saja oleh produsen alat, aman tidaknya dipakai oleh konsumen. Dari sisi reaksi yang dihasilkan dalam bentuk warna-warna, mungkin orang kimia akan lebih memahami. Dari sisi reaksi terhadap ion tubuh, mungkin dunia kedokteran bisa merangkainya menjadi satu hasil yang bermanfaat atau tidak bagi konsumen. Dari sisi lain yang mungkin masih relevan, ada lagi yang berkompeten menelitinya. Setelah diteliti kesemuanya diramu menjadi satu kesimpulan, mungkin ada kesimpulan dengan untung rugi penggunaan alat detox ini. Ada yang perlu diteliti secara bersama dengan berbagai bidang ilmu itulah yang harus dilakukan. Tidak mengklaim dengan mengatakan "ini tidak bermanfaat", "ini penipuan", "ini tugas si a menelitinya", "ini bukan ranah ilmu kami" atau alasan lain yang tidak ada solusi yang menjadikan "win-win solution" dan semua membenarkan diri. Satu pesan bagi konsumen "lakukan pemeriksaan lab lengkap terlebih dahulu sebelum menjalankan terapi ini, setelah selesai melakukan terapi ini, lakukan kembali pemeriksaan lab lengkap, kalaulah ada perubahan signifikan kearah yang lebih baik, berarti terapi ini ada manfaatnya bagi diri anda" Bahaya yang dihasilkan alat ini menurut penelitian masih bisa dinetralisir angin. Jadi tidak menjadi masalah untuk mencoba, kalau tersugesti sembuh, biasanya akan peningkatan kesehatan, lakukanlah. Tapi bagi yang tidak tersugesti, jangan lakukan terapi ini, karena akan menambah penyakit lain yaitu "stress". Terimakasih, mari kita tidak saling menyalahkan. Tingkatkan solidaritas.

Anonim mengatakan...

Beberapa hari yang lalu saya menerima broadcast melalui BBM tentang alat terapi ion ini. Berhubung saya agak tertarik karena orang tua saya menderita asam urat dan rematik terus bolak balik ke dokter gak semnbuh-sembuh maka saya ingin mengetahui informasi lebih lanjut tentang produk ini.
Yg pasti ada dua hal yg saya pikirkan :

1. Kalau saya minta informasi dari penjual produk ini maka pastilah akan dibahas sisi positifnya saja. (Menganjurkan membeli)

2. Kalau saya minta informasi dari Dokter tentang produk ini maka pastilah akan dibahas negatifnya saja. (Tidak menganjurkan menggunakan)

Oleh karena itu saya mencari testimoni dari pengguna produk ini.
Karen a yang bisa menjelaskan hanya orang yang pernah menggunakan.

kalau berbicara efek kedepannya, memangnya obat apa yang tidak ada efek samping ?

Artikel diatas kalau saya lihat khusus membahas negatifnya saja.

Padahal menurut saya sangat masuk akal kalau racun bisa diserap melalui telapak kaki karena adanya pori-pori dan juga hampir semua titik akupuntur berada di telapak kaki.

Jadi saya sepakat untuk diadakan penelitian lebih lanjut tentang alat ini dan yang meneliti seharusnya dari pihak yang netral.
karena maaf yaaa....

Profesi Dokter di Indonesia adalah profesi memperkaya diri, Bukan lagi profesi kemanusiaan.
(Mungkin hanya sebagian kecil yang misinya kemanusiaan)

Padahal dalam Islam sendiri kalau berobat kepada Dukun yang menggunakan perantara ghoib (JIN) tidak dianjurkan karena apa ?
sering kali jin meminta syarat yang sebenarnya secara ekonomi itu tidaklah terlalu tinggi seperti 1 ekor ayam.

Tapi bagaimana dengan syarat yang diajukan dokter ????

Kalau begitu apoa bedanya dokter dan jin.
Saya jawab ya :
Yang membedakan dokter dan jin hanya takwa nya saja.

Tnri Ewa mengatakan...

Saya liat komentar paling atas....
Kedua penulis saling memuji seperti "Dear Priyadi,
Wah nggak nyangka lho, Mas Pri punya kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan .

BTW, merasa sangat tersanjung, blog saya dikunjungi oleh Suhu dan dikomentari.

Terima kasih.

Erik Tapan"

Sebenarnya ini penulis peduli terhadap siapa ?

Peduli terhadap konsumen kah ?
Kalau peduli terhadapa konsumen, pernah gak ada konsumen yang merasa tertipu dengan alat ini ?
Mungkin ada yang tk sembuh tapi apakah obat-obat yg dibuat profesor juga menyembuhkan semua orang ?

Atau karena belum adanya pembuktian ilmiah maka ini dianggap penipuan ?

sekarang saya tanya, bagaimana kedokteron bisa membuktikan secara ilmiah atas ditemukannnya puluhan paku yang bersarang pada kaki seorang Balita di Bone Sul Sel ?

Kalau memang anda penduli maka fokuskan mengobati orang yang tidak mampu bayar.
Karena anda tidak akan celaka dengan melakukan hal seperti itu.
Tp saya yakin, sebagian dokter akan tersenyum bahagia kalau pasiennya adalah orang kaya karena ujung2nya adalah DUIT.

Anonim mengatakan...

Kesembuhan itu datangnya dari alloh swt kita hanya berikhtiar jangan men judge obat yang menyembuhkan sama saja musrik sepanjang bukan dengan yang haram dan pengobatannya tidak melanggar syariat itu semua sah sah saja...adapun misalnya itu penipuan maka yang teripu harus bicara jujur apa adanya yang sembuh juga jujur apaadanya jangan pula karena teori logika kita mengabaikan fakta wallahu a'lam....sembuh sakit wafat adalah suatu keniscayaan hanya pada alloh swt semua berpulang dan dengan mencontoh prilaku hidup nabi SAW baik makan minum dsb menjadi terapi yang mujarab dunia akhirat....

Anonim mengatakan...

Sorry buat agan-agan semua... tetapi pendapat saya bahwa, terapi ION ini ada benarnya, karena setiap pasien yang melakukan terapi tersebut berbeda gejala yang timbul, kalau hanya reaksi logam saja itu tidak mungkin. saya pernah mencoba, karena saya asam lambung dan asam urat. terapi pertama menunjukkan kekuningan dari asam urat, dan terapi kedua gelembung putih berbusa tanda asam lambung. Setiap kaki kita memiliki pori2 dan pori2 tersebut dapat mengeluarkan racun dikarenakan perpaduan aliran ion dengan garam.

nhaaanhaanhiiina mengatakan...

saya jadi bingung yang benar yang mana....segera lakukan uji coba dunx bwat para dokter agar orang2 bisa pasti dan tidak rugi..trimakasihhhhh

The Manager mengatakan...

Saya baru saja mencoba theraphy ion ini...saya gak peduli apakah itu penipuan atau bukan...tujuan saya saat ini adalah kondisi prima bagi tubuh....Mungkin bisa juga efek plasebo...atau cuma sugesti..namun kenyataan.saya merasa baik dan senang...penyakit saya bermula dari diberikan obat oleh dokter di sebuah rumah sakit..akhirnya badan saya pada gatal-gatal...pergi lagi ke dokter dikasih obat lagi...gak ada perkembangan berarti....akhirnya saya pergi ke teraphy ion itu...hasilnya gatalan saya sedikit demi sedikit ilang dan tidur istirahat saya lebih nyaman....so..bagi para medis..yang eksistensi dan trustnya saat ini sudah " diragukan" masyarakat cobalah untuk bisa fokus dan tidak membuat polemik di...cobalah diintensipkan sebab kesehatan adalah milik umat manusia dan keinginan setiap mahluk untuk sehat...bukan dokter atau siapa....oke salam.

TOKO HERBAL mengatakan...

Pak Dokter yth, andaikan kami para pasien tertipu oleh alat ini, paling cuma berapa ribu rupiah sebulan? tapi kalo kami berobat ke dokter/rumah sakit, berapa ratus ribu bahkan juta uang yg seharusnya bisa ditekan, krn produsen obat menaikkannya sekian ratus persen utk biaya promosi. Kemana para Dokter kalo seminar+wisata? siapa yg membiayai? mohon maaf, kalo comment saya ini dianggap menjelekkan profesi dokter/rumah sakit, anda salah besar.Belum lagi efek samping obat2an yg merugikan kesehatan, seperti yg sdh dikupas oleh Dokter2 yg pro dgn pasien. Komentar saya ini adalah benar adanya, hanya selama ini pasien tidak merasa tertipu, karena pasien tidak tahu, berapa biaya produksi obat tersebut, dan berapa kita harus tebus di apotek? sebaiknya kita tekuni saja profesi masing2 tanpa saling menyalahkan.

Anonim mengatakan...

SEKEDAR INFORMASIKAN ATAS KEKELIRUAN YG TERJADI PADA ALAT TERAPI ION ELEKTRIK INI, SAYA HANYA MELURUSKAN SAJA SECARA TEKHNIS PADA ALAT INI, ALAT INI BUKAN MENGELUARKAN RACUN DALAM TUBUH , AKAN TETAPI ALAT INI BISA DIBILANG SEPERTI ALAT DIAGNOSA UNTUK MENDETEKSI TOKSIN APAKAH YANG ADA PADA DALAM TUBUH INI, MELALUI PROSES ELEMENT YG ADA PADA ARAY SERTA GARAM KASAR. DAN ALAT INI DENGAN ARUS LEMAHNYA INI YG MERANGSANG DAN MELANCARKAN SIRKULASI PEREDARAN DARAH, NAMUN KEMBALI LAGI KESEMBUHAN MUTLAK MILIK TUHAN, WALAUPUN DOKTER,TABIB, AHLI - AHLI YG LAINNYA KALAU TUHAN TIDAK MENGHENDAKI SEMBUH YAH MANA SEMBUH. OK JADI KALIAN TAK PERLU SALING MENYALAHKAN / MEMBENARKAN. MARI KITA BERSATU UNTUK SALING MENGISI KEKURANGAN BAIK DARI DUNIA MEDIS MAU DUNIA ALTERNATIF. TRIMS

Anonim mengatakan...

Nelly
Mertua saya sudah berumur 53 tahun dan sudah 6 bulan nggak datang haid namun semenjak ikut terapi ion 3 hari berturut-turut langsung datang haid dan banyak. Saya juga heran dengan alat ini. semoga ada penjelasan dan kejelasan dari ahlinya yang bisa membuat konsumen lebih percaya untuk terapi atau tidak...tq

ajat mengatakan...

alhamdulillah saya sudah mncoba terapi ini dan alhamdulillah ada manfaatnya

demibara mengatakan...

Di atas banyak komentar pake "Anonim".
Kenapa, ya?
Masak iya maen ke dunia maya nggak punya ID?

Anonim mengatakan...

"Dalangnya bingung,wayangnya juga bingung".. OVJ banget cerita ini.

Anonim mengatakan...

Kesembuhan itu 90% pada iman, kepercayaan, sugesti, keyakinan, rohani, jiwa, fikiran dll , baru yg 10% pada terapi. Dan semuanya 100% mutlak dalam kuasa Allah.

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
GOZZILA mengatakan...

Maaf saya sudah menjalani terapi ini dan rasa nyeri dipersendian saya Alhamdulillah hilang...da n kebetulan di samping saya waktu menjalani terapi ada se orang dokter yang tidak mungkin saya sebutkan namanya di sini...terimakasih

Anonim mengatakan...

Saya pernah lihat presentasi perusahaan air mineral kmd dia membandingkan beberapa sample dari air mineral lain dg memasang alat (seperti pemanas air listrik dg 2 elemen)lalu dicelupkan di masing2 sample air mineral hasilnya ada yg menggumpal kehitaman, ada yg keruh berbusa, ada yg hijau mirip kotoran di parit ada yag coklat tanah dan ada yg tetap bening. Kasta presentan perbedaan warna tersebut akibat kandungan mineral atau logam di dalam air tersebut. Mungkin cara kerja terapi ion elektrik sama dg alat penguji air minum yg sy sebutkan di atas. Intinya tanpa melibatkan "kaki kita" air tersebut akan tetap berubah warna krn proses fisika. Dr. Alam

Anonim mengatakan...

terima kasih mas pri ats artikel na

Anonim mengatakan...

Saudara2 ku...
Karena kolom ini kolom komentar, yaaa terserah kita mau komentar apa, yang penting suatu pengalaman empiris atas penggunaan alat ini. Kalau isinya harus berdasarkan penelitian, ya... itu dimuat di jurnal ilmiah saja.
BTW, selama alat ini tidak merugikan kesehatan why not? Kalau alasannya cuma karena kekawatiran pasien tidak lagi pergi ke dokter (maaf... biaya berobat ke dokter bisa-bisa 2-10 kali lipat dp pergi terapi dengan alat ini) waaaah... agak ribet kita....

Anonim mengatakan...

Baru tadi sore nyoba, penasaran juga sama terapi ala ion ini. Kalo pribadi hasilnya : Ngk ada..cuma sempat memperhatikan dengan seksama bahwa proses perubahan warna serta buih2 pada air berawal/keluar dari kaki2 Ionator tersebut, bukan keluar dari pori2 kaki kita. Jadi..Saya sudah bisa mengambil kesimpulan pribadi tentang alat tersebut :)

Anonim mengatakan...

Saya baca artikel ini mlah sy jd bingung sendiri,tp sy sdh mencoba 2x blm mlhat hsilnya,tp sy mmg kolestrol tinggi,akn sy cb 12x wong di daerah sy bisaroh (byr)seikhlasnya alias sukarela, jd akan sy cb stlh 12x nti sy akan comment di blognya mas pri ini,tp sy jg ktw artikel mas pri tryta ngutip dr org lain dan ketahuan lgi,hi..hi..hi.. lucu ya??????????

Anonim mengatakan...

Pembaca yang terhormat,
Awalnya saya penasaran dgn alat ion terapi rendam kaki karena saya punya penyakit atau apalah namanya( susah tidur dan leher selalu tegang )dan saya mencoba terapi ini 1 saja dan hasil saya yang rasakan saat ini saya sudah gampang tidur dan leher selalu sakit sedikit berkurang dan karena pengen tahu hasil dari terapi ini obat dari doter saya tidak minum.......jadi sekarang saya tetap melakukan terapi 2x seminggu.

Salam,

Ladoraka.

Alvin Lie mengatakan...

Sebetulnya menurut pendapat saya alat terapi ini berfungsi seperti stimulus untuk menghasilkan ion negatif yang sangat baik untuk keseimbangan metabolisme tubuh,,

buat kawan2 yang belum mengetahui manfaat dari ion negatif bisa baca di :

http://terapiion-elektrik.blogspot.com/2012/06/artikel-mengenai-manfaat-negative-ion.html

DPW PKS DIY mengatakan...

ARIF :
Kadang ilmu kedokteran tidak menjelaskan fenomena yang ada dimasyarakat. Di dunia kedokteran tidak ada penjelasan apa itu MASUK ANGIN. secara tradisional kita mengenal istilah KEROKAN untuk menghilangkan masuk angin, dan memang manjur. Belakangan ada Jamu yang memproduksi Jamu Obat Masuk Angin, yang sampai saat ini TIDAK ADA OBAT MEDISnya. Apakah bila sesuatu hal tidak ada penjelasan medisnya, lalu dianggap cuma NGAYAWARA? Selama ini dunia kedokteran selalu berlindung dibawah ETIKA KEDOKTERAN yang dalam pelaksanaannya seringkali sudah tidak etis lagi, namun pasien tetep saja dipaksa untuk percaya.
sebaiknya, Para Dokter tak perlu meributkan hal-hal yang mereka memang BELUM MAMPU menjelaskan, sebaiknya anda mulai merenungkan mengapa BIAYA OPERASI MAHAL SEKALI? kalau orang ngga kuat bayar silahkan MATI saja.... kalau ada pasien miskin nggak kuat bayar, silahkan pulang saja... Jadi, Kalau ada orang masuk angin dan dia sembuh dengan kerokan, mbok biarkan saja, nggak usah bilang soal sugesti atau penipuan lah... nyatanya khan sembuh masuk anginnya, kalau nggak masuk angin dikerokin juga nggak merah koq.... Kalau ada orang merasa sembuh penyakit beratnya dengan terapi ion, ya biar sajalah, para dokter nggak usah protes karena nggak jadi dapet duit pengobatan yang mahal itu.

agen xamthone plus bandung mengatakan...

makasih banget deh kalo gitu untuk informasi mengenai terapi detoxnya,,, kagak jadi beli dah klo gitu,,,

Anonim mengatakan...

sy dari MAKASSAR..., dan sy juga pernah mengikuti terapi ini...., keluhan sy susah tidur...dan baru 3 kali sy mencoba terapi ini.....tidur sy jadi sangat lelap....
kemudian ayah sy selalu sakit di bagian pinggang dan susah klo berjalan...tapi setelah 7 kali mengikuti terapi ini semua keluhan ayah sy menjadi hilang....
sy percaya dengan terapi ini...dan sebagian besar masyarakat makassar senang dan menjadi sehat dengan terapi ini...
makasih yg telah ciptain alat ini...

salam

Andyka

Anonim mengatakan...

wah perlu belajar lebih banyak nih..gitu aja pada ribut. cari ilmunya dulu.gak tau ilmunya ikut-ikutan gak ngomong penipuan.kalu penipuan mengapa merasa ada manfaatnya? kalu itu ada manfaatnya mengapa mereka bilang penipuan?.mbok udah prasojo saja jangan saling merasa bener.cari dong ilmunya belum mesti yang bergelar prof dsb itu bener.belajar yok he he he

English is Easy mengatakan...

Coba aja dirumah,ini sih praktikum anak SMA. Bisa pakai aki/adaptor 12 volt, 2 batang carbon (pake batang carbon batere bekas). Sambungnin aja masing2 kutubnya dengan satu batang carbon, terus celupin air. Tambahkan sedikit garam agar airnya jadi penghantar. Tunggu 20-30 menit, akan muncul gelembung2 dan air berubah warna. Masalah warna yang berbeda-beda, itu semua tergantung kakinya, karena kaki bisa saja membawa zat-zat kimia dan kotoran dari tanah ataupun sendal. Intinya semakin murni airnya/semakin bersih kakinya maka tidak akan ada perubahan warna. Kalau masih penasaran bisa googling pakai keyword "Praktikum elektrolisis"

English is Easy mengatakan...

Coba aja dirumah,ini sih praktikum anak SMA. Bisa pakai aki/adaptor 12 volt, 2 batang carbon (pake batang carbon batere bekas). Sambungnin aja masing2 kutubnya dengan satu batang carbon, terus celupin air. Tambahkan sedikit garam agar airnya jadi penghantar. Tunggu 20-30 menit, akan muncul gelembung2 dan air berubah warna. Masalah warna yang berbeda-beda, itu semua tergantung kakinya, karena kaki bisa saja membawa zat-zat kimia dan kotoran dari tanah ataupun sendal. Intinya semakin murni airnya/semakin bersih kakinya maka tidak akan ada perubahan warna. Kalau masih penasaran bisa googling pakai keyword "Praktikum elektrolisis"

Poppy Aprilia Kausar mengatakan...

Saya pernah coba terapi ini, di air rendaman kakii saya liat gumpalan kayak minyak terapung di permukaan. Sedangkan di rendaman kaki papa sy yg perokok warna airnya merah dan ada gumpalan hitam seperti dedak. Saya bingung terapi ini ngaruh apa ngga tp saya seneng aja ngeliat warnanya hehehehe

Poppy Aprilia Kausar mengatakan...

Saya pernah coba dan di permukaan air rendaman kaki saya terdapat gumpalan berwarna kuning mirip minyak, kalo saya sih percaya aja sama terapi ini
Positif thingking aja lah, gimana mau sembuh kalo kita ga percaya. Hehehehe

Anonim mengatakan...

dokter2 yang budiman..apakab obt dri dokter bisa menyembuhkan berbagai penyakit..masyarakat sudah bosan dengan rumah sakit. biaya mahal untuk berobat.. adanya rendam kaki ini masyarakat punya harapan untuk sembuh dengan biaya terapi yang murahdan . tanpa obat dokter...sedang kan obat dokter.. racun untuk melawan penyakit..

Davin Candra mengatakan...

aku malah budrek ngedenger semua...tp yang jelas..terapi itu sangat menyehatkan saya juga ibu saya...

Anonim mengatakan...

sy sudah coba alat terapi ini dan awalx nggak percaya. jd sy tanya pasien yg lain ada yg udh 21 kali terapi.beliau menyatakan bahwa dia telah mengalami perubahan, awalx beliau tdk bisa berjalan sendiri tapi setelah melakukan terapi sy lihat dy sdh bisa berjalan sendiri.
apakah ini hanya sugesti?
masyarakat tidak perduli apakah dibohongi atau apapun yg penting mereka sembuh. karena mereka tidak sanggup membayar biaya berobat dokter yg mahal.untuk makan aja susah.
buat bapak/ibu dokter yg ngerasa bener.

susi
kalimantan timur

Latif Ramadan mengatakan...

Akhirnya dengan penjelasan semacam ini kita jadi tahu agar tidak mudah terjebak dengan berbagai tipu daya alat-alat Anti Aging. Lebih baik lakukan aktivitas sewajarnya aja ya dok, sperti jogging dll. makasih dok atas pencerahannya... :)

Nurista IJ mengatakan...

Baru pulang dr terapi..byr seikhlasx.. Rata rata 5-20rb :) air kakiq jd hitam, pasien sebelah kuning berminyak... Tp kyx kotoran keluar dr kaki besi/sengnya bukan dr telapak kaki... Tp positif thinking aja... Tetangga2 banyak yg sembuh :) tp ada jg yg tdk ngefek apa2 :(

Fajrul Ulum mengatakan...

Kalau sudah cuci darah konon katanya harus terus seperti itu ya???
Tapi di Serang Banten ada yang ikut "senam kesehatan" selama kurang lebih 3(tiga) bulan sampai kembali normal(tidak cuci darah) lagi...
Ada juga pecandu narkoba yang bisa sembuh dengan "senam kesehatan" ini...
Yang mau ikut yuk bareng saya ke Banten...
:)

Deddy Suyanto mengatakan...

Orang yang meng-klaim sesuatu bohong atau benar tanpa menyertakan bukti nyata itu sama saja dengan HOAX. saran saya buat tulisan hasil penelitian sendiri disertai bukti2 nyata bisa berupa gambar atau video. Negeri kita banyak melahirkan orang2 pintar yang sering kepintarannya menjurus ke hal2 negatif. kalau cuma copas mending ga usah nge-blog malu-maluin aja....

Anonim mengatakan...

tante saya sudah menjalani terapi ini sebanyak 3x, hasilnya?keluhan sakit pinggang yang dialami beliau berkurang sedikit demi sedikit.
tadi saya sempat mencoba alat ini, rasanya seperti tersengat listrik tegangan rendah yang menggelitik, namun saya masih penasaran dengan alat ini,sempat terlintas dipikiran saya apa yang terjadi jika kita tidak memasukkan kaki kita ke alat itu?td saya mau coba, tetapi saya merasa kurang etis karena seolah-olah berniat mendiskreditkan terapisnya :D

menurut saya topik ini sangat bagus untuk diangkat menjadi sebuah judul karya tulis ilmiah dan terlebih lagi jika jurnal internasional, lumayankan syarat utama untuk meraih gelar doktor atau bagi dosen doktor kita yang sedang menyicil kredit nya :D

jejaring sosial mengatakan...

terimakasih banyak informasinya, saya sempat bingung apa benar racun keluar dari tubuh kita dengan cara simpel seperti itu. sekarang jadi lebih hati-hati untuk tidak termakan promosi

Anonim mengatakan...

Saya seorang penulis yang lebih banyak habiskan waktu malam hari tuk bekerja; kadang sampai kukuruyuk masih aja di ruang kerja.

Dari kenyataan tersebut, tentu saya bersahabat dengan kopi dan rokok. Ini jelas melanggar persyaratan hidup sehat!

Sejak lima tahun lalu saya berjuang tuk membalik pola kerja (siang hari layaknya manusia kebanyakan). Hasilnya selalu nihil.

Prinsip saya sederhana:
Fakta bahwa semua orang pada akhirnya bakal mati.

Jadi, "Silakan Anda mati dengan cara Anda! Saya berhak mati dengan cara saya!"

Tapi, sumpah... saya sangat penasaran dengan terapi detok ... dan karena saya gak peduli dengan kesehatan (dan emang gak pernah bermasalah dengan kesehatan), jadi saya sangat kuper soal dunia medis, terapi ini, terapi itu, bla-bla-bla...

Yang saya tahu, belakangan ini dua teman saya merasakan hasil optimal setelah menjalani per-detok-an rendam kaki. Tidurnya pulas, dan terbebas dari insomnia...

Besok siang mereka mau seret saya ke TKP per-detok-an...

Saya percaya dokter, dukun, terapis herbal, terapis tawon, dll.... Tetapi, saya lebih percaya pada partikel-partikel atom yang membentuk tubuh saya....

salam...
www.linggapustaka.com

Anonim mengatakan...

persaingan membuat manusia menjadi bodoh dan mencari cari alasan demi mendapat pembenaran.

Dbagindas mengatakan...

terima kasih atas informasinya..
semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) D Bagindas

nanda mengatakan...


terima kasih atas informasinya..
semoga dapat bermanfaat bagi kita semua :) Rio Dewanto