IdBlogNetwork

Informasi Anti Aging Medicine pada Intisari Oktober 2006 & Kongres PERKAPI

Dengan semakin gencarnya informasi mengenai cara-cara hidup sehat saat ini, banyak yang bertanya-tanya mengenai Anti Aging (khususnya Anti Aging Medicine = AAM) kepada saya. Banyak juga -yang belum mengetahui benar apa itu AAM- mempunyai pandangan yang miring terhadap ilmu ini. Sewaktu saya mengemukakan hal tersebut, ada yang mengatakan, "Wah belum saatnya, masih mahal", "Anti Aging itu hanya untuk orang kaya", bahkan ada yang mengatakan "Wah ini ilmu yang melawan kodrat manusia" alias ilmu sesat.

Ungkapan-ungkapan yang sejenis itu yang membuat saya tertarik untuk 'meluruskan'nya.

Untunglah upaya 'pelurusan' ini mendapat dukungan penuh dari Majalah Intisari dan Panitia Kongres PERKAPI (Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia), suatu perhimpunan seminat di bawah PB IDI.

Berikut disampaikan informasi yang benar apa itu Anti Aging Medicine, yang bisa diperoleh rekan-rekan pada:

1. Majalah Intisari edisi Oktober 2006 halaman 104
Majalah Intisari bisa diperoleh pada pelbagai tempat dengan harga Rp. 18.000

2. Mengikuti Kongres I PERKAPI (Perhimpunan Kedokteran Anti Penuaan Indonesia)Pada kongres yang diadakan pada tanggal 24 -25 November 2006 ini di Jakarta Convention Center (JCC), penulis diberi kesempatan bercerita mengenai Anti Aging Medicine pada Simposium Awam tanggal 25 November 2006.
Detail informasi awam dan dokter.

Semoga dengan dua jalur di atas, kita bisa lebih paham (dan yang penting menjalaninya) mengenai apa itu Anti Aging Medicine.








"Wah, sekarang susah, makan dikit aja sudah jadi daging (maksudnya lemak - Penulis). Kalau dulu, makan banyak tetap saja langsing," demikian ucapan (kadang bernada keluhan) yang sering kita dengar dari mereka yang berusia sekitar 40-an tahun.

Di saat dan tempat lain, ada berita teranyar tentang salah satu artis terkenal yang ditangkap gara-gara mengonsumsi narkoba. Dari wawancara di televisi, si artis beralasan mengonsumsi pil haram itu lantaran sering merasa capek. Ia merasa kegiatannya tidak tambah, tetapi badannya makin mudah capek.
Yang bisa dipetik dari kedua cerita itu adalah adanya kewajaran yang terjadi di tubuh seseorang, saat secara alamiah tubuh harus mengikuti perjalanan usia. Pernyataan seperti "Makin tua sudah sewajarnya seseorang menjadi sedikit gemuk" atau "Wajar jika kondisi fisik kita menurun di usia empat puluhan tahun", "Orang tua sakit-sakitan adalah hal biasa", pastilah sudah sering kita dengar.

Sebaliknya, jika ada pernyataan "Kita bisa hidup di usia tua (lebih dari 65 tahun) dengan kondisi tubuh, jiwa, dan raga seperti masih berusia 25 tahun", tentu menjadi sesuatu yang sangat menarik.

Yang pasti, pernyataan terakhir ini bukan sekadar kalimat tanpa bukti. Saat menghadiri Kongres Internasional XIII Anti-Aging Medicine di Las Vegas, beberapa waktu lalu, saya menyaksikan betapa para lansia hilir mudik, tetap beraktivitas layaknya orang muda. Mereka adalah pelaku anti-aging medicine (ilmu kedokteran untuk menghambat proses penuaan).

Bagi mereka, usia tua bukanlah halangan untuk tetap beraktivitas dan berkarya layaknya orang muda. Target mereka, bisa hidup hingga 100 tahun (centenarian) atau lebih, tanpa dibebani penyakit dan hal lain yang berhubungan dengan proses penuaan (aging).
Bagaimana hal itu bisa dicapai?

Diterapkan pada dokter
Jika saat ini Anda memeriksakan kadar kolesterol dan kemudian mengonsumsi obat penurun kolesterol, melakukan pemeriksaan mamogram, atau sedang menjalani terapi sulih hormon, Anda sudah bisa disebut menjalani hal-hal yang termasuk dalam bidang AAM.
Tetapi AAM tidak hanya sampai di situ. Menurut Dr. Robert Goldman, chairman dari American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M) Board, pengertian AAM adalah ilmu kedokteran yang berdasar pada tindakan-tindakan seperti: deteksi sangat dini, pencegahan, dan pembalikan penyakit atau proses yang berhubungan dengan usia.
Goldman, dokter bedah pemegang sabuk hitam karate itu melanjutkan, semakin tua usia seseorang (sering disebut usia kronologik atau usia KTP), akan makin sering terpapar penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, kencing manis, stroke, tekanan darah tinggi, kanker, osteoporosis, osteoartritis, glaukoma, pikun, dll.
Dengan pelbagai teknologi tinggi yang ada saat ini, deteksi yang sangat dini terhadap penyakit-penyakit itu sangat mungkin dilakukan. Proses degenerasi pun bisa diketahui dan timbulnya penyakit dapat dicegah. Bahkan bagi yang sudah mengalaminya, proses itu bisa dibalikkan atau dimundurkan. Jadi, AAM adalah ilmu kedokteran pencegahan masa depan dengan memanfaatkan teknologi kedokteran terkini.

Dokter yang mempelajari hal ini secara awam sering disebut "dokter anti-aging"". Para dokter anti-aging umumnya mempelajari hal ini dengan langsung menerapkannya pada diri sendiri. Bidang-bidang yang bisa dipelajari oleh dokter anti-aging antara lain:
  • Biomarker and preventive screening. 
  • Aesthetic and skin aging. 
  • Nutrition and nutraceutical.
  • Sport/exercise and musculoskeletal aging. 
  • Multihormone orchestra. 
  • Bio identical hormone. 
  • Spa body-mind interaction (spiritual).

Ilmu ini terbuka bagi setiap dokter, baik dokter umum maupun dokter spesialis. Kini, tidak kurang dari 30.000 dokter yang tersebar di 80 negara, tergabung dalam A4M (komunitas kedokteran AAM). Badan ini mengeluarkan sertifikat internasional yang disebut ABAAM (American Board of Anti-Aging Medicine) Certification. Untuk dokter Indonesia, ujian tertulisnya sudah bisa ditempuh di Bali, sejak 2005.

Holistik dan sinergis
AAM atau yang sering disebut juga dengan ilmu kedokteran longevity, successful aging, healthy aging, optimal aging, maupun age management, mempunyai lima prinsip dasar, yakni ilmiah (scientific), evidence based, holistik, sinergis, dan terdokumentasi.
Segala hal yang dipelajari dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh komunitas AAM haruslah ilmiah, berdasarkan pada ilmu pengetahuan. Jadi, semua jenis pemeriksaan/diagnosis, pemberian terapi, dll. berdasarkan ilmu dan tidak sekadar kata orang atau nenek moyang, atau anekdot semata. Setiap dokter yang mendalami ilmu ini dan menemukan cara atau resep anti-aging harus berani mempresentasikannya dalam kongres atau seminar.
Istilah "berdasarkan bukti" atau evidence based medicine populer di kalangan kedokteran. Prinsip ini juga diterapkan dalam AAM.
Penanganan pasien dengan problem penuaan harus dilakukan secara holistik. Yang ditangani adalah aspek jiwa dan raga, dari kulit hingga tulang, dari ujung rambut hingga ujung kuku. Jadi, penanganan yang hanya menitikberatkan pada satu organ atau sistem saja, belum bisa masuk dalam lingkungan ini. Adakalanya seseorang hanya mengutamakan penampilan sehingga sisi estetiknya sangat ditonjolkan. Sayangnya orang itu, misalnya mengalami karapuhan tulang (osteoporosis), tidak diperhatikan.
Multimodalitas atau menggunakan banyak cara juga mesti diterapkan untuk menghindari proses penuaan. Termasuk di dalamnya penggunaan suplemen nutrisi. Ini pula yang dijalani pakar anti-aging dari Thailand, dr. Anongnuth Chiangpradit, ABAAM, hingga ia tetap tampak selalu segar dan berseri.
Prinsip lainnya dalam menerapkan AAM adalah cara atau modal yang kita gunakan itu harus sudah terdokumentasi dalam jurnal ilmiah, minimal dalam jurnal perkumpulan seminar. Saat ini banyak cara atau temuan yang diklaim masuk dalam bidang AAM. Tapi selama hal itu belum dipresentasikan atau di-review oleh tim yang duduk dalam penerbitan jurnal ilmiah, tentu belum bisa dikatakan sebagai cara anti-aging medicine.

Bisa mudah dan murah
Mempraktikkan AMM kelihatannya rumit dan mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Kita, terutama bila berusia 35 tahun atau lebih, dapat menjalani hal-hal berikut, sebagai bentuk praktik AMM yang murah meriah:
  1. Mengatur diet seimbang. Pola diet yang dianjurkan adalah rendah karbohidrat, rendah lemak, lebih dominan ikan, konsumsi banyak buah-buahan dan sayuran, minum dalam volume cukup (setidaknya 2 l/hari, terutama air putih).
  2. Latihan olahraga rutin. Jika kita melakukan latihan sekitar 15 menit saja sehari, ini bisa menjaga kesegaran atau kebugaran kita sehari-hari secara minimal. Yang dianjurkan (tentu perlu konsultasi dengan dokter dan dilakukan secara bertahap) adalah satu jam per hari, lima hari per minggu. Bentuk latihan yang disarankan adalah kombinasi dari latihan aerobik (untuk menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah), latihan beban (untuk mengeluarkan hormon pertumbuhan secara alamiah), dan peregangan (untuk menjaga kelenturan tubuh). 
  3. Berpikir positif selalu dan hindari stres mental. Jika seseorang berpenampilan muda dan berpikir muda terus, maka ia akan kelihatan muda. Ini adalah penerapan dari prinsip koneksi tubuh-pikiran (mind-body connection) yang memang merupakan hal yang sangat ampuh dalam menjaga diri agar tetap awet muda. Perlu diketahui, jika berada dalam kondisi stres mental, tubuh akan mengeluarkan kortisol, suatu hormon yang bisa merusak organ-organ tubuh. Makanya, kendalikan selalu stres Anda. Hindari sikap dendam, iri hati, dengki, dll. 
  4. Konsumsi antioksidan dan vitamin. Salah satu teori mengapa seseorang bisa menjadi tua adalah akibat radikal bebas. Penangkal radikal bebas yang diketahui saat ini adalah antioksidan. Ronald Klatz, Presiden A4M, menekankan betapa pentingnya antioksidan. Bersama-sama terapi sulih hormon yang fisiologik, antioksidan disebut-sebut sebagai salah satu cara untuk memperpanjang usia di abad ini. Guna meningkatkan jumlah antioksidan dalam tubuh, biasakanlah mengonsumsi sayur maupun buah yang kaya akan vitamin A, C, E, dan mineral selenium. Minimal lima porsi sehari. Jika diketahui masih kurang memadai (saat ini di Indonesia sudah ada beberapa tes yang bisa mengukur kadar antioksidan dalam tubuh kita), bisa juga ditambah dengan suplemen antioksidan. 
  5. Selalu lakukan deteksi dini. Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat ini, banyak penyakit yang bisa dideteksi jauh-jauh hari sebelum timbul gejala. Biasanya, jika diketahui sejak awal, pengobatan penyakit seperti kanker, kencing manis, osteoporosis, jantung, pembuluh darah, ginjal, dll. masih lebih mudah dibandingkan dengan jika sudah berkembang lanjut. Dengan demikian, bisa memperpanjang usia atau malah terhindar dari penyakit-penyakit itu hingga ajal menjemput kita.
  6. Selalu berkonsultasi dengan ahli AAM. Banyak hal terbaru yang bisa diperoleh dari mereka (dokter maupun profesional kesehatan lainnya) yang selalu meng-update ilmu anti-aging-nya. Tidak usah jauh-jauh, di Indonesia pun komunitas dokter maupun awam yang mempelajari sekaligus mempraktikkan AAM sudah terbentuk.
Ketika Anda kelak telah berusia 45 tahun atau lebih, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan kadar hormon tubuh. Lakukan ini minimal setahun sekali. Jika memang diketahui kadarnya kurang (meskipun gejalanya belum ada), cobalah minta pendapat dokter untuk melakukan terapi sulih hormon. Jika masih ragu memanfaatkan hormon sintetik, saat ini sudah banyak beredar hormon nonsintetik atau sering diistilahkan bio identical hormone.
Memang, urusan usia berada di tangan-Nya. Tetapi manusia bisa berusaha untuk tetap sehat hingga saat dipanggil pulang oleh-Nya. Bukankah banyak hal bisa dinikmati pada masa tua yang sehat? Di sanalah perlunya AAM.
Penulis: dr. Erik Tapan, pengamat dan praktisi anti-aging medicine, di Jakarta
dikutip dari majalah INTISARI

 

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Iya nih ,saya udah baca...bagus juga artikelnya...Dr. Erik mau tanya...banyak yang masih ragu-ragu pake HRT, emangnya mash aman?

Victor S

Erik Tapan mengatakan...

Dear Victor,
Mengenai HRT, pada prinsipnya sich OK-OK saja. Tentu dengan segala konsekuensinya.
Terima kasih kepada Anti Aging Medicine (Ilmu Kedokteran umumnya), sekarang untuk terapi sulih hormon (HRT), sudah diwajibkan untuk pemeriksaan kadar hormon pasien sebelum dan selama terapi.


Atas perhatian diucapkan banyak terima kasih.

InfoMedika mengatakan...

Walaupun bukan hanya untuk orang kaya, tapi masih mahal kan?!

Erik Tapan mengatakan...

Mahal murah itu sangat relatif Pak/Bu.
Kalau Anda telah membaca majalah Intisari bulan Oktober, akan terlihat jelas, metode anti aging, bisa kita terapkan sesuai dengan kebutuhan kita.

BTW, selalu saya tekankan, manakah yang lebih baik, memanfaatkan uang sedikit lebih pada saat kita sehat, atau memanfaatkannya pada saat kita telah jatuh sakit.

Semua pilihan terserah kita tentu.

Salam,
Erik Tapan