IdBlogNetwork

Mengurus Surat Tilang di PN Jakarta Timur

Hari ini saya mengurus surat tilang di PN Jakarta Timur. Beberapa waktu yang lalu, begitu buru-burunya saya, sehingga secara sengaja melanggar rambu lalulintas. Akibatnya kena tilang. Diberi surat tilang warna merah, meskipun saya sebenarnya sudah mengakui kesalahan.

Setelah membaca pelbagai informasi di internet, bagaimana caranya mengurus tilang. Akhirnya saya memberanikan diri mengurus sendiri ke Pengadilan Negeri yang kebetulan di Jakarta Timur.

Sebelum hari sidang, pelbagai tawaran telah masuk ke saya untuk membantu mengurusnya. Namun saya katakan "Terima kasih, saya akan coba mengurusnya sendiri".

Punya pengalaman buruk dengan Agency
Pengalaman saya sewaktu memperpanjang SIM di Polres Kemayoran membuat saya berani mencoba.Waktu itu (kasus perpanjangan SIM), saya meminta bantuan salah satu agency. Ternyata yang saya alami, pengurusannya malah lebih lama. Saya melihat, bagaimana mereka yang mengurus SIM (non calo/agency), begitu cepatnya memperoleh SIM. Sedangkan saya (via agency) harus menunggu sang agency, kemudian setelah diurus tidak lebih cepat (malah lebih lama) dari mereka yang mengurus sendiri.

Mengurus Surat Tilang hanya 30 menit

Berbekal pengetahuan yang diinformasikan pada pelbagai milis, akhirnya saya bertekad untuk mengurus surat tilang SIM sendiri. Darimana kalau tidak memulai dari diri kita sendiri.
Begitu masuk ke kantor Pengadilan Negeri Jakarta Timur, saya langsung menuju ke loketnya. Karena hari ini Jumat (sidang di PN Jaktim setiap hari Jumat), saya sengaja datang pukul 12:30 WIB.
Ternyata loket baru dibuka (lagi) pukul 12:45 WIB. Pemikiran saya, karena ini sidang in abstentia, maka jika datangnya siang hari, pasti sudah selesai, tinggal bayar dendanya.

Segala tawaran bisik-bisik yang dilakukan para calo, saya abaikan saja (sudah PD karena sudah memperoleh informasi dari Internet).
Pengen tahu, apakah negeri yang saya cintai ini sudah mengalami perbaikan.

Saya langsung meletakkan surat tilang tersebut (1 lembar) ke lobang kasirnya. Tak lama kemudian, kami dipanggil satu per satu. Ada yang langsung diserahkan SIMnya, ada yang membayar dalam jumlah tertentu, dan ternyata saya (bersama beberapa rekan senasib), diminta masuk ke ruang sidang. Surat yang satu lembar dikembalikan dalam bentuk 3 lembar.
Yang paling sial, kalau dikembalikan hanya satu lembar. Itu artinya SIM/STNK-nya belum ada di pengadilan alias masih ditahan oleh polisi (?).

Tak lama kemudian (mungkin menunggu sekitar 7 menitan), masuk 3 orang duduk di depan. Kemudian kami diminta maju satu per satu. Denda yang harus kami bayar ditulis di belakang bukti tilang tersebut (ada 3 lembar), kemudian kami diminta membayar di kasir. Sesampainya kembali ke kasir, kami membayar sesuai dengan denda yang tertera di situ (Rp. 30.600).

Jadi dihitung-hitung, dari saat mulai memasukkan surat tilang ke jendela kasir hingga memperoleh SIM kembali, mungkin sekitar 30 menitan.
(saya keluar dari PN Jaktim, sekitar pukul 13:15 WIB)

Keluar PN Jakarta Timur, ada rasa bangga berkecamuk dalam hati saya "HIDUP INDONESIA". Nambah satu lagi kebanggaan menjadi orang Indonesia.

Kadang-kadang, kita diminta mengurus segalanya sendiri, tetapi kita dibiarkan masuk jebakan. Untung tidak dengan PN Jakarta Timur.

Marilah mulai sekarang kita membiasakan diri untuk mengurus segalanya sendiri.

Yang lucu, saya ketemu seorang polisi lagi mengurus Surat Tilang. Koq bisa?
Saya tanya, "Pak koq bisa kena tilang?".
Jawabnya, "Oh ini surat tilang adik saya".
Yang bersangkutan sama-sama sidangnya dengan saya (kelihatannya baru kali itu ikut sidang)

Catatan:
Kalau untuk pengurusan administrasi kependudukan (pindah alamat), ternyata masih 'harus' berurusan dengan calo. Bukannya tidak mau mengurus sendiri, tetapi kelihatannya dipersulit
(pengalaman pertengahan tahun 2006 ini), khususnya di bagian RT/RW.

Dari beberapa hal administrasi yang saya urus, urutan pengurusan (ganti nama) dari yang terbaik adalah:

-------------------------------------------------------------
Ingin CANTIK tapi tetap SEHAT? Klik ini: http://bit.ly/LMelia 
-------------------------------------------------------------

  1. PLN (hidup PLN)
  2. Kantor Kecamatan
  3. PAM
  4. TELKOM (fixed telephone) ini yang paling sulit, sebab sampai sekarang pun masih bermasalah dengan alamat baru. Padahal sudah bolak balik, buat surat dari RT, bayar denda keterlambatan dan biaya-biaya lainnya (bingung juga)

Untuk PBB dan Pajak (ha...ha....ha... belum berani sampai saat ini).
Tampangnya sangar2 bo...
Jadi tetap harus memerlukan bantuan dari pakarnya / konsultan.

Jadi jikalau saya ditanya "Apa Obsesimu?", maka jawabannya
Saya mempunyai obsesi bisa mengurus pelbagai kebutuhan administrasi semudah
- mengurus SIM di Polres Kemayoran (meskipun tidak mengurus sendiri),
- mengurus surat tilang di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan
- mengurus ganti nama pelanggan di PLN Cempaka Putih (20 Juni 2006).

Pesan bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang urus mengurus ini, jika memang mempunyai niat baik mempermudah pengurusan:
Tulis cara pengurusannya, syarat-syarat yang dibutuhkan, serta WAKTU pengurusannya.
Tempel di tempat yang mudah dibaca.
JANGAN HANYA TEMPEL "JANGAN BERURUSAN DENGAN CALO", tetapi begitu tidak menggunakan calo, pengurusannya jadi lebih ribet dan bertele-tele. Itu sich namanya nggak niat.

Artikel terkait:
1. Harian Pos Kota
2. Jonriah's experience
3. Lagi iseng? Kunjungi MaluDong.com (bravo utk yg punya ide ini)


46 komentar:

amudi mengatakan...

wah hebat, ngurus sendiri. Tapi bayarnya lebih murah ngga pak?

Erik Tapan mengatakan...

Dear Amudi,
Terima kasih atas kunjungan Anda.
Tabel denda bisa dibaca (dan diprint) di:
http://www.transparansi.or.id/kajian/kajian3_lalin/tabel.html

Semoga bermanfaat.

mpokb mengatakan...

bagus kalo gini. moga2 bisa diikuti untuk wilayah lain ya.. saya sendiri suka bingung kalo urus ktp, harganya berubah2 terus, malah sekarang kalo telat katanya ada denda.. uang diterima, tapi tanda terima gak jelas :(

Erik Tapan mengatakan...

Dear Bina,
Terima kasih atas komentarnya.
Ternyata, info-info dari kita tidak jauh berbeda yha.
Jadi peristiwa ini bukan kasuistis semata, tetapi sudah jadi budaya.

Salam,
Erik Tapan

stella mengatakan...

Sekitar 12 th yang lalu, karena menikah, saya harus menukar KTP saya dengan KTP DKI. Kebetulan, walaupun saya keturunan tionghoa, perempuan pula, saya nekad. Kalau belum mentok, lebih suka coba ngurus sendiri. Akhirnya saya berhasil mengurus KTP DKI tanpa calo, walaupun lama, berbelit-belit dan itupun tertolong pemilu (dipaksa oknumnya supaya saya nyoblos partai tertentu, saya iya-in aja, emangnya dia tau nanti saya nyoblos apa hehehe).

Lalu soal ngurus passport, sejak saya punya passport entah berapa belas tahun yl, saya belum pernah memakai jasa calo. Termasuk ketika harus mengurus pergantian wilayah ke DKI, ngurus passport anak-anak, dll. Dan kalau soal yang satu ini, saya malah belum pernah menemui kesulitan apapun, dan tidak ada pungutan aneh-aneh apapun. Padahal kata orang, kantor imigrasi jakbar itu menyeramkan hehehe....

Jadi setuju dengan dokter Erik, jangan belum apa-apa menyerah dan takut, keenakan para calo dong hehehe....

Erik Tapan mengatakan...

Wah Stella, terima kasih atas komentarnya.

Terus terang kalau dari sisi keberanian, kita patut anjung telunjuk gede-gede untuk Stela.

Salam,
Erik Tapan

Anonim mengatakan...

Waw...justru yang patut diacungi jempol ya dr Erik sendiri dech=) karena mencoba sesuatu yg baru & "berisiko" (ngurus surat tilang sendiri kan berisiko entah dilama2in-lah or biayanya lebih gede-lah). To be honest, saya juga prefer urus sendiri, bukannya menghina ataupun meng'under-estimate' profesi calo (maaf ya kalo ada calo yg kesindir..he..he..), saya pikir dengan begitu saya sudah kontribusi untuk memperpendek jalur birokrasi yg ga perlu trus juga semacam pembuktian diri bahwa saya juga bisa & mampu urus sendiri...he..he..bangga dunks=).

Saya punya pengalaman urus KTP saya yg hilang digondol copet. Setelah buat surat hilang ke polisi (lupa deh, bayar ga ya waktu itu), saya ke Pak RT minta surat referensi (gratis..apa sayanya yg ga tau diri=p) trus langsung ke Kelurahan. Nah, minta ttd Pak Lurahnya juga ga lama kok. Setelah selesai saya cuma diminta bayaran seikhlasnya (padahal jelas2 terpampang di kelurahan, ada tulisan bahwa mengurus KTP tidak dipungut biaya)tapi itung2 bersyukur prosesnya ga lama & hasilnya memuaskan saya nyumbang seikhlasnya. Seikhlasnya kan ga semahal pake calo, di deket rumah saya, bikin KTP pake calo bisa kena biaya paling murah 50 ribu, padahal klo urus sendiri kan ga sampe gocap meskipun harus meluangkan waktu.
Salut buat dr Erik (saya suka web maludong.com=p)yang sudah mengangkat topik ini, thanx for ur information=)

@>--Fitry

Erik Tapan mengatakan...

Dear Fitry,
Banyak terima kasih atas komentarnya yang memberi semangat untuk mengurus sendiri segala sesuatu.

Kita perlu orang-orang yang seperti Anda-Anda di Indonesia.

snydez mengatakan...

setahu saya dokter, wartawan (televisi) .. punya semacam freepass kalo kena tilang, tinggal tunjukin ID (IDI / Kartu Press)
langsung lewat deh..

Erik Tapan mengatakan...

Wah Pak/Bu Snydez,
Kartu wartawan saya sudah lama expired dan belum diperpanjang. :-(

solomon mengatakan...

Bravo dr Erik Tapan!!! Salut deh dengan keberaniannya ngurus sendiri... Tapi bagaimana ya kalau pas ada masalah (tilang) tapi kita gak punya waktu banyak?

Simalakama juga ya?

solomon mengatakan...

Duluuuu jaman saya masih mahasiswa, saat kena tilang saya bilang kalau saya mahasiswa hukum... lalu ketika ambil SIM di kantor polisi ternyata saya tidak bayar apa-apa...

Polisi takut sama mahasiswa hukum kali ye?

solomon mengatakan...

Duluuuu jaman saya masih mahasiswa, saat kena tilang saya bilang kalau saya mahasiswa hukum... lalu ketika ambil SIM di kantor polisi ternyata saya tidak bayar apa-apa...

Polisi takut sama mahasiswa hukum kali ye?

Erik Tapan mengatakan...

Dear Pak Solomon,
Wah komentarnya banyak banget.
Satu-satu jawabnya.

Bagaimana kalau nggak punya waktu untuk mengurus?
Berdasarkan informasi yang saya terima, urusan tilang bisa diurus oleh orang yang telah kita beri kuasa.

Sama seperti cerita saya, sang polisi mengurus surat tilang keponakannya.

2. Kalau masih di Kantor Polisi, bisa nego (menurut saya), tetapi kalau sudah masuk ke Pengadilan, ya harus terima saja.

3. idem

Atas perhatiannya diucapkan banyak terima kasih.

KamiL mengatakan...

Hi Pak Erik.

Saya baru baca postingnya hari ini Referensinya cukup buat modal besok sidang tilang di PN Jak Tim....Bsk selesai sidang saya info lagi apa saya sesukses bapak di sidang

Erik Tapan mengatakan...

Dear Kamil,
Good luck. Sukses buat Anda.
Jangan lupa ceritanya yha.

KamiL mengatakan...

Met Pagi Dokter,

Nyambung cerita saya yang kemaren...ternyata saya tidak sesukses cerita pak erik.

Jam 10 saya tiba di PN Jaktim...saya ikutin sarannya langsung masuk ke parkiran..ternyata aman dari calo, walaupun menjelang pengadilan banyak calo. Setelah tanya petugas (yang tidak berusaha untuk menjadi calo..makasih pak atas penjelasan singkatnya tentang prosedur sidang saya antri di loket setelah surat tilang merah saya serahkan ke petugas.

Disini baru mulai masalah. Setelah +/- 40 menit saya dipanggil...ternyata sim saya belum ada di pengadilan n surat tilang saya dikembalikan. Katanya sim saya masih di samsat jaktim (kebon nanas). Katanya juga mgkn saya disuruh titip sidang saja dengan polisi disana. FYI saya ditilang tanggal 4 Des dan sidang saya tanggal 15 Des (kalau surat saya masih di polisi itu khan tidak benar).

Saya meluncur ke samsat dan lgsg ke petugas jaga dan menjelaskan masalahnya. Ternyata oleh petugas disana saya di informasikan kalau saya harus ke diltlantas di pancoran. Karena sudah mo sholat jumat saya jumatan dulu baru ke pancoran.

Well saya pikir perburuan sim saya sudah akan selesai di pancoran, ternyata tidak. Di pancoran seirang petugas meminta maaf karena sim saya dikirim ke PN Jakut. Sang petugas polisi salah mengirimkan berkas saya. Saat itu saya ada 2 pilihan: saya ke PN Jakut atau saya kembali ke pancoran hari senin untuk mengambil sim saya
Saya ambil opsi pertama karena saya tidak mungkin ijin lagi hari senin. Oleh petugas di pancoran saya di beri pesan untuk ketemu dengan rekannya sesama polisi disana agar lebih mudah pengurusannya disana. (mgkn karena di surat tilang saya tertulis sidang di PN Jaktim)


Saya lgsg ke PN Jakut dan tiba disana sekitar jam 15.00. Saya tanya petugas disana dimana loket untuk tilang eh beliau malah meminta surat tilang saya dan menjelaskan secara berbelit. (Berbeda dengan petugas di PN Jaktim HIDUP PN JAKTIM) Dengan nada tinggi saya bilang saya tidak seharusnya berada disini karena sidang saya di Jaktim. Akhirnya dikasih tau juga sama beliau.

Saya ke loket dan disana pun saya berdebat lagi oleh petugas di loket karena masalah tempat sidang saya di Jaktim.

Untungnya (atau tidak ya) disana ada petugas pengadilan (beliau berkantor di dekat parkir motor depan taman) yang tahu cerita saya. Beliau ambil surat tilang saya dan menghubungi rekan polisi yang sudah membawa berkas saya.

Sambil menunggu rekan polisi itu saya di ajak ke ruangannya dan menunggu di mejanya sambil ngobrol kecil. Sang polisi pun datang menyerahkan berkas saya dan sim ke orang itu dan pergi keluar. Beliau (sang petugas pengadilan) mnyerahkan sim menanyakan apakah sudah benar itu milik saya. Saya jwb "benar" dan saya tanya apakah sdh selesai. Beliau bilang belum dendanya belum dibayar. Saya tanya berapa dan dijawab Rp. 40.000.

Saat itu saya kesal sekali mgkn karena sudah capek dan lapar saya belum makan siang dan bilang saya tidak bawa uang sebanyak itu. Saya cuma bawa Rp. 15.000 sesuai dengan denda(berdasarkan tabel denda dari masyarakat transparansi yang ada di blog dokter tertulis melanggar pasal 57 ayat 2 yang sesuai dengan kesalah saya plat no motor saya tidak saya pasang karena paginya hampir jatuh dan disarankan oleh polisi yang off duty untuk dicopot saja dahulu daripada jatuh dan ketika ditangkap pun pelat no itu ada di tas saya).

Ternyata di ruangan itu saya dapat menawar, dari Rp. 40.000 diturunkan ke Rp. 20.000 dan saya bersikeras bahwa saya cuma bawa Rp. 15.000. Akhirnya dengan logat khasnya beliau mengatakan "kasihan amat sih cuma punya duit segitu". dan dia bilang ini saya bantu ya....gak cukup nih kalau segini yang diamini oleh rekan bapak ini yang kebetulan datang dan mendengar pembicaraan saya. Saya bayar Rp.15.000 ditempat (tanpa ke loket lagi) dan sim saya dapatkan kemudian saya pulang.

Kesimpulan saya:
- Saya tidak menjalani sidang (atau memang sudah di sidang karena pada dasarnya adalah Sidang In Absentia)
- Saya menggunakan calo atau tidak saya tidak tahu karena saya mengurus sendiri tapi tidak disidang
- Denda pengadilan (bisa ditawar).hahaha...yg ini saya tidak tahu.
- Aparat kita sudah beres seperti cerita dokter saya tidak tahu apakah itu berlaku dalam pengalaman saya. Karena saya pulang tanpa rasa bangga akan sistem kita. (Denda tilang dapat ditawar apakah ada permainan) atau kalau saya berpikir positif dendanya memang sebesar itu tetapi karena saya sudah keliling jakarta beliau bersimpati pada saya.

Saran Saya:
- Kalau tidak bisa menghadiri sidang barang bukti bisa diambil apabila kita menggunakan pilihan titip tilang dan itu bisa dilakukan di polisi. Disini kita punya waktu untuk mengetahui berapa sih besaran denda tilang kita sebelum memutuskan titip tilang atau sidang. Di Pancoran saya ketemu rekan yang mengambil sim-nya. Dan prosuderalnya juga tidak rumit. Hal ini mgkn lebih baik dari menyuap di tempat.

Erik Tapan mengatakan...

Dear Kamil,
Turut prihatin atas keadaan yang dialami Anda.
Sisi positifnya, dengan perjuangan akhirnya SIM tersebut bisa kembali.

Komentar saya berdasarkan cerita Anda:
- Ternyata tidak semua PN mempunyai jiwa melayani.
- Apakah itu biaya tilang atau bukan, bisa dilihat dari tulisan yang ada pada kertas yang diberikan. Jadi, kalau pembayaran tidak melalui loket, menurut saya itu berarti memang tidak disidang.
- Kemungkinan (ini kemungkinan lho), jika kasus seperti Anda sering dialami, kemungkinan para polisi sudah enggan melakukan sidang di PN Jaktim. Hal ini harus menjadi perhatian PN JAKTIM.
- Dalam hal ini Anda tidak salah. Bagaimana kalau melaporkan 'kisah' Anda ini di Masyarakat Transparansi Indonesia?
Orang kita mau mengikuti aturan koq malah dipersulit?

Ternyata masih ada person yang tidak ingin transparan yha?
Hayoo, gimana nich para pahlawan anti KKN yang sering melakukan demo-demo, tolong dibantu donk kita-kita ini.
Apakah Anti KKNnya, hanya sampai di slogan saja?

Usut tuntas nich kasus Pak Kamil, agar para pelaku jera.
(penuntasan menurut saya tidak hanya oknum pelaku, melainkan pejabat yang berwenang yang mengijinkan tindakan ini terjadi).


Hidup Indonesia.

Salam

juwi mengatakan...

Wah, terima kasih untuk artikelnya. Saya juga baru kena tilang kemarin, dan mencari di google mengenai PN JakTim, dan menemukan blog ini. Mudah-mudahan pengalaman saya dengan PN juga sebaik pengalaman anda.

Erik Tapan mengatakan...

Dear Juwi,
Semoga Anda berhasil. Mari kita lakukan segalanya dengan baik dan benar.

Jangan lupa bagi-bagi ceritanya yha.

Good Luck.

andriansah mengatakan...

alamat pengadilan jaktim dimana?

Erik Tapan mengatakan...

Pak Andriansah,
PN Jaktim terletak di daerah Pulo Mas. Samping tol.
Dekat papan gede (Extra Joss, Siemens, dll.)

masliliks mengatakan...

pak, saya sangat berterima kasih karena dari blog ini lah saya pede aje ketika ngurus tilang.. sorry baru inget sekarang hehehe

btw, waktu pengambilan SIM saya di loket satlantas PN Jaktim tidak sampai 5 menit loh.. karena saya ambil hari senin, setelah hari jumat sebelumnya saya dateng dan .. mbludhak :D akhirnya balik kanan.
dan menurut petugas disitu, pokoknya ngambil SIM/STNK lebih baik antara senin sampai kamis.. dah gitu aja.. tidak usah susah2 ke Kebon Nanas

SLA mengatakan...

temen2 semua, gw cape bgt hari selasa ini tgl 27 nov 07

gw kena tilang lupa tanggalnya tp sidang tanggal 27

gw ngikutin semua cara dr sini, tp gak semudah yg dibayangkan..

gw gak ikut sidang tgl 27, tp gw ngurusny tanggal 27 pas, jd gw lgs dateng ke PN jaksel (ampera raya)

calo bisa gw lewatin semua gw ikutin semua petunjuk, ampe gw cari tuh tpt loket ndiri, gak nemu akhirny nanya bbrp org..

gw akhirny ktm tpt kayak loket gitu yg ternyata bukan loket, melainkan tempat orang istirahat, tptny mirip bgt kayak loket

gw tny disitu trus dy keqny coba bantu urus pertama dia bilang 100 rb gw kasih 35 rb (gw kena 2 pasal)

1.melanggar jalur cepat motor (pancoran) 61 (1) Yo Psl. 23 (1) d Yo Psl. 8 (1) A UULAJ Yo Psl. 17 (3) & (4) PP 43/93

2.TNKB gak sesuai am ketentuan (gw pk plat nomor yg kecil) 57 (2) Yo Psl 14 (2) UULAJ

dy gak mau, dy minta 50 rb, gw tetep ngotot ngasih 35 akhirny dy bawa gw ke loket yg benernya, disana gw diminta 80 rb, gw tolak donk ampe sempet debat, akhirnya dia kuarin buku yg isinya pasal2 gitu, itu gw taw pasti bukan buku resmi, krn kayak buku fotokopian kucel gt disitu tarifnya beda bgt dr tarif tilang yg gw dpt drsini http://www.transparansi.or.id/kajian/kajian3_lalin/tabel.html

gw ngurus tuh surat tilang ampir 3 jam, dr ngerayu org loket, ampe mo minta jasa calo (gw ud cape bgt)

akhirny dy minta 70.000

y ud gw bayar aj, berhubung ud sore bgt gw ud cape bgt dan duid gw ud byk kepake buat

total pengeluaran gw ( kalo dipikir2 bodoh jg gw, cuma mo kata ap lah):
1.70.000 ( tilang )
2.10.000 ( print tarif tilang di warnet am ongkos warnte)
3. 2.000 ( parkir 2 x bolak balik)
4.15.000 ( bensin, macet parah di pd.indah nya)

total ampir 100.000

gw cape bgt ud buang tenaga, waktu, trus gak kuliah pula hasilnya mengecewakan

yg maw gw tanyakan :

1. misalkan orang loket menolak tarif yang kita seharusnya gmn caranya supaya dy bs nerima tarif tsb, krn gw ud bilang tarif tilangnya segini2 tp dy tetep ngotot gak mau, kan gak mungkin gw main ambil aj tuh SIM

2. bisa gak sich kita ngelaporin orang loket krn memberlakukan tarif tilang yg tidak sesuai ( jd kita bs lebih galak drpd dy org )

3. kl bs laporinnya kemana?

4. apa bener kalo kena tilang di daerah TTL (tertib lalu lintas) ato jalan protokol biayanya lbh mahal?


thx bgt ud mo baca tolong diberi tau agar temen2 disini lbh byk dpt pengalaman

Erik Tapan mengatakan...

Turut prihatin dengan apa yang dialmi. Namun sekarang sudah beres khan.
Jika masih memiliki unek2, silakan:

tulis keluhan ini sebanyak mungkin di pelbagai media. Yang paling gampang sih di media internet, blog, milis, dll.

kirim e-mail ke Masyarakat Transparansi Indonesia, mti@centrin.net.id

kirim e-mail ke pemda DKI: dki@jakarta.go.i

kirim SMS ke pemda DKI: 0818-08598888

semoga bermanfaat

Mari kita wujudkan pemerintahan yang bersih dan bertanggungjawab

Anonim mengatakan...

Dengan ramainya email mengenai slip biru-merah belakangan ini... dan ramainya email mengenai kampanye anti suap untuk polisi
Menimbulkan modus2 operandi baru bagi polisi...

Hal ini diketahui berdasarkan pengalaman pribadi...
YANG PERLU UNTUK DIPERHATIKAN ADALAH

1. SELALU MINTA SLIP BIRU DAN BAYARLAH KE BANK BRI.
2. Pastikan terisi di slip biru: PASAL PELANGGARAN, NILAI RUPIAH TILANG SESUAI DGN PASAL PELANGGARAN, LOKASI BANK BRI.
3. SESUAIKAN JUGA NAMA ASLI POLISI (yg ada di seragamnya) DGN YG TERCANTUM DI SLIP BIRU.

Itu saja yg paling penting untuk diperhatikan.


Sedikit cerita pengalaman pribadi:

Penilangan terjadi di perapatan hotel golden gunung sahari, ketika diberikan slip biru, nilai rupiah & lokasi bank tidak tertera disana.
Ketika saya menanyakannya, Sang Pengatur Lalulintas mengatakan
"Bayar saja di bank yg pernah kamu bayar (kebetulan pernah bayar tilang di BRI
Menara Mulia Gatsu), bank BRI sudah tau kok berapa biaya tilang sesuai
dengan pasal pelanggarannya. "

Kebetulan memang ada pasal pelanggarannya di slip biru, jadi terpaksa percaya saja saat itu pada Sang Penegak Hukum.

Keesokan harinya sampailah di bank BRI Menara Mulia Gatsu, seperti biasa penerima tamu langsung berkeinginan membantu kita mengisi form pembayaran tilang, tapi dengan lancarnya dia menolak karena tidak ada nominal yg tertera di slip biru, alasannya mereka tidak bisa proses karena tidak tahu nominal yg harus dibayar, dan mereka tidak memiliki daftar harga
tilang.

Dengan amat berat hati akhirnya langsung saja ke jl MT. Haryono , Ditlantas Polri bagian tilang & kecelakaan. (disanalah tempat pengambilan SIM stelah bayar ke BRI).

Disana langsung disambut dengan kata-kata "Ga ada nominalnya di slip ya mas?" seakan-akan hal itu sudah biasa bagi mereka.
Dengan memaksa untuk membayar di bank, akhirnya mereka menuliskan nominal tilang di slip biru dengan semena-mena.

MEREKA BISA MENULIS NOMINAL SEMAUNYA MEREKA. DAN HARUS DIBAYAR DI BANK BRI JL. VETERAN.


KESIMPULAN
MODUS INI DILAKUKAN UNTUK MEMBUAT TERTILANG KESUSAHAN DALAM PROSES
PEMBAYARAN SEHINGGA DIHARAPKAN MAU MEMBAYARNYA SECARA DAMAI.

Anonim mengatakan...

Ya, begitulah...
Pesan moral dari cerita-cerita saat ini:
1. Jangan pernah sampai kena tilang
2. Jika kena, segeralah berdamai (daripada repot nantinya)*
3. Kalau masih sebel/kesel juga, doakanlah yang menilang kita itu, DIPERSULIT juga di akherat kelak.
(ingat cerita bahwa, kejadian selanjutnya ditentukan oleh bagaimana kita bereaksi!!)

Puas...puas......(ngikutin Tukul)

* kelihatannya antara pembuat aturan dan pelaksana di lapangan main kucing-kucingan terus. Setiap kebijakan yang dilakukan (untuk mempermudah pelanggar), tak lama kemudian diikuti dengan modus operandi baru. Begitu seterusnya.

OSO mengatakan...

Wahh...kebetulan neh pak erik..besok tgl 12 saya disidang tilang di PN Jaktim....kalo boleh tau infonya tuh loket tilang ada disebelah mana yah..trus ruang sidangnya dimana..biar gak celingak-celinguk dandideketin calo..mau kayak pak erik juga neh..mengurus sendiri permasalahan dengan instansi pemerintah..hehehe...ma' kasih sebelumnya untuk infonya pak erik

Erik Tapan mengatakan...

Semoga OSO bisa dilayani dengan baik.
Begitu kita masuk dari pintu masuk. Langsung ke loket yang sebelah kanan depan. Tapi kalau datang awal, rasanya mesti ikut pengadilan yang ada di sebelah kiri dulu.
Kanan dan kiri adalah posisi kita masuk menghadap kantor PN.

Muwahhidin Firdaus mengatakan...

info yang bagus negh...

http://dhawi1986.wordperss.com

Anonim mengatakan...

kalo mau tahu tentang keterbukaan informasi dan pengaduan di Pengadilan, coba buka www.mahkamahagung.go.id/images/uploaded/SKKMA-144.pdf.
semoga bisa membantu

Erik Tapan mengatakan...

Coba cek situs ini kalau ada masalah dengan Kepolisian:
http://www.jalur259.com/

Semoga membantu.

ciput mengatakan...

Waaah makasih nih inspirasinya. Kebetulan hari ini Jumat (11/09/09) saya harus ngurus tilang di PN Jaktim juga. Sama2 kasusnya ngelanggar lampu merah. Hmmm 30menit, 30rb... worthed laah...

Kalau dtg sblm jam 12.00 WIB ngantrinya lamaan ga ya???

ciput mengatakan...

Update: Hari ini (Jumat 11/09) gw coba urus sendiri tilang ini di PN Jaktim di Pulomas.

Nyampe sana jam 9.50, masukin berkas di loket SAMSAT jam 10.00 WIB, dapat nomor antrian 885! :scared:

Santai aja, secara sebelum berangkat sempat baca blog ini: http://eriktapan.blogspot.com/2006/10/mengurus-surat-tilang-di-pn-jakarta.html
Gw duduk aja di teras, ngobrol sama orang yg duduk di sebelah gw.
Sekitar 40 menit, nomor gw dipanggil.
Gw masuk ruang sidang tilang, yg ada HAKIM KETUA lengkap dgn palunya.
Tapi ga ada tuh suasana sidang, yg ada barisan antrian orang, yg nunggu dipanggil.
Nama gw dipanggil, gw disuruh bayar 41.000!
SIM dikasih kembali... dan gw pulang jam 11.00 WIB!

See... ga usah pake nyogok, ga usah bayar calo... cuman ilang waktu sekitar 2 jam laah...

Owh... I love this country... :thumbup:

Erik Tapan mengatakan...

Lanjutkan!!!! Lebih cepat lebih baik!!!!

Anonim mengatakan...

Untuk Teman-teman sekalian... bisa mengakses kami di www.pn-jakartatimur.go.id
Website resmi Pengadilan Negeri Jakarta timur.
Thanks...
(IT PN JakTim )

Anonim mengatakan...

pak saya mau nanya alamat PN jak tim dmn y ?? hari ini saya kena tilang di matraman disitu tertulis saya harus ke jalan pulo mas no.18 .. benarkah ??

Anonim mengatakan...

Thanks yah infonya, sayang sekali tabel tilangnya sudah tidak ada. -Rini

dhafin campbell hoppus mengatakan...

om eric doain saya y,tgl 29 juli 2011 saya mau k PN jaktim gara2 tadi saya ga nyalain lampu pas siang hari,padahal motor belakang saya sama samping saya juga pada ga nyalahin lampu loh tp knp cuma saya doang y yg d stopin,lg apes neh hehe..
saran om eric,saya datengnya pas jam 10 aja atau kaya om jam 12.45? ribet apa ga sih om,tkutnya ntar dtanya macem2 lg sama ptugas..
dendanya ga sampe 100ribu kan om?
doain y om smoga lancar trus SIM saya bisa lgsg d ambl,amin..
makasi yee om..

dc gloria mengatakan...

dear dokter erik, mmm ...:
saluuut untuk dokter erik tapan!!!!!
terima kasih sudah berbagi kisah berkarakter! pasti berguna bagi banyak orang dan berguna bagi perubahan indonesia kita ke arah yang lebih oke ... lebih baik dan benar!

btw,
bagi yang terpanggil untuk mengurus kelahiran bayinya sendiri, silakan kunjungi saya di http://dcgloria.blogspot.com/
bila kehamilan tidak bermasalah idealnya bersalin dan melahirkan di rumah bersama suami sebagai rekan co-creator. pro/kontra? tia!
salam dan doa,
dc gloria+

scheila mengatakan...

Terimakasih buat infonya dr.eric..kbetulan kemarin kali ke-2 saya diberhentikan di depan uki cawang ketika hendak berbelok ke tol cikampek.katanya saya melewati garis yang tidak putus2.kali pertama saya dikasihani ama polisinya: hanya dilihat sim saya dan ketika tahu saya orang Cimahi,seperti beliau,saya disuruh lanjut saja.Sayang,kemarin hal itu tidak mempan..Setelah melihat SIM dan STNK saya,dia mulai menawari 'bayar saja ke saya'.Sampai 4x dia pergi-datang(smbil membawa sim&stnk saya)menawarkan damai,saya tolak juga.ketika dia buat surat tilang merah,saya bersikeras minta biru.polisi bilang: yg biru itu denda 1 jt.saya bilang saya org Perhubungan,saya ngaku salah,minta slip biru:tetap ga mempan.(Tp saya ga keluarin karpeg kemenhub saya),jd kayanya (menanggapi komen diatas kl dokter/wartawan dpt free pas) sia-sia saya kasitau saya dokter.. Smoga pas sidang saya tgl.16 nanti saya seberuntung dr.eric ya..:D

Erik Tapan mengatakan...

Benar alamat PN Jakarta Timur di Pulo Mas. Mudah koq nyarinya. Sebelahan (dipisah dengan kali) dari Gerbang Tol

@Rini, coba saya cari lagi tabelnye, terima kasih infonya.

@Dhafin, doa kami semua untuk Anda. Saran saya, datang aja siang / ssdh makan siang. Nggak ribet dan tidak akan ditanyakan macam-macam (pengalaman saya).

@Scheila, nice sharing. Semoga sukses. Sebenarnya mengaku salah saja tidak perlu maksa surat warna merah. Justru (sepengetahuan saya), kalau diberi surat warna biru, kita mesti langsung bayar, tidak perlu ke PN lagi.

im JAZZ mengatakan...

Sebelumnya terimakasih untuk Dr. Erik Tapan atas info nya..

Saya hanya ingin menambahkan info terkini. Hari ini tanggal 17 Feb 2012 jam 14:10 WIB saya mengikuti sidang tilang karena lupa menyalakan lampu di siang hari di Gedung Baru PN Jakarta Timur di Penggilingan seberang kantor Walikota Jakarta Timur yang lokasinya sangat strategis persis di persimpangan.
Banyak calo yang menyambut kedatangan saya di parkiran motor diluar (parkir di dalam juga ada). Tapi saya tolak karena dapat info dari Dr.Erik bahwa bila sidang hari jumat datangnya siang saja. So dengan PeDe jalan dengan gagah lalu tanya sama petugas dimana lokasi sidang. Jadi Lokasi sidang tilang berada di sisi kanan Gedung. Ada banyak ruang sidang kecil . R.Sidang 1 s/d 4. Lalu sebelahnya ada Loket pendaftaran. Saya daftar lalu dapat nomer antrian 551 di R.Sidang 4. Jumlah pasien tilang sekitar 10 orang.

Setelah saya menunggu 2 menit kami langsung dipanggil berdasarkan nomor urut dan yang paling mengejutkan adalah proses "sidang" yang berlangsung hanya 10 detik. "Yak.. nama? SIM atau STNK? Mobil atau Motor? Oke motor denda 50rb biaya sidang 500 rupiah. Sudah selesai..

WOW..!? Sudah ya?. Proses dari kedatangan sampai pulang cuma 10 menit. ga pake lama..
Jadi intinya adalah pengurusan sidang tilang tidak sulit dan cepat bila kita tahu triknya. Say no to calo lah..
Terimakasih untuk Dr. Erik dan rekan rekan atas infonya...

Erik Tapan mengatakan...

@im Jazz, terima kasih atas update infonya. Meskipun kantornya sudah pindah, tapi penanganannya tetap memuaskan, malah lebih cepat. :)

Anonim mengatakan...

pak, kalau mau ambil stnk yang sidangnya sudah lewat 2mingguan gimana caranya dan di mana tempatnya?

Unknown mengatakan...

Saya baru aja ditilang dan sidang tgl 25 april di pn jaktim. Tapi di surat tilang tdk tertera jam kapan harus datang. Sebenernya bisa datang mulai kapan ya? apa pertimbangan pak erik dtg abis jumatan, kenapa ngga sebelumnya aja?