IdBlogNetwork

JCO-ing, Minggu 24 September 2006


Pernah dengan istilah JCO-ing? Istilah ini merupakan kata kerja dari proses memperoleh Donut JCO. Dengan berbekal pengetahuan dari pelbagai mass media, berangkatlah penulis, pada Hari Minggu 24 September 2006 untuk memperoleh Donut yang terkenal tersebut.

Ternyata perjalanannya tidaklah mudah. Diawali dengan masuk ke Mal Kelapa Gading 3, setelah berputar-putar sekitar 20 menitan, akhirnya keluar lagi.

Untunglah pengelola Mal Kelapa Gading sudah mengantisipasi hal ini. Jadi kalau kita sudah keliling-keliling tidak juga memperoleh tempat parkir, biaya parkirnya gratis. Asalkan perbedaan waktu masuk dengan waktu keluar (yang tertera di tiket) tidak melebihi 30 menit.

Setelah keluar dari gedung parkir Mal 3, penulis kembali mau masuk ke Mal 1. Sebelum masuk Mal 1, ternyata telah ada papan petunjuk yang menunjukkan, gedung-gedung parkir mana yang 'penuh' dan mana yang 'tersedia'. Untung juga. Dengan demikian, proses masuk dan nyari-nyari tempat parkir tidak terulang kembali. Bravo untuk pengelola Mal Kelapa Gading.

Akhirnya, penulis memutuskan (setelah melihat papan elektronik tersebut) untuk parkir di belakang La Piazza saja. Masih tersedia, kata papan tersebut.

Dari proses masuk pertama kali hingga memperoleh tempat parkir di lantai 4 (yang beratapkan langit), memakan waktu sekitar 1 jam. Buseeett. (diucapkan seperti Ratu)

Untunglah (untung lagi) antrean di JCO, tidaklah terlalu panjang. Sedang mengantre, tiba-tiba ada yang menawarkan Donut. Wah lumayan, langsung saja Donut tersebut diterima. Gigitan pertama wah mantap. Berbeda dengan donut-donut yang sebelumnya penulis makan, teksturnya sangaaaattt halus. Memang benar-benar rasa donut ini berbeda dengan donut-donut pada umumnya.

Apakah benar-benar sehat sesuai klaimnya?

Sambil menikmati donut tersebut, penulis mulai memikirkan: dengan rasa yang selembut dan semanis ini, apakah klaim sehat yang didengung-dengungkan oleh JCO itu benar adanya?
Mungkin dengan teknologi yang canggih, rasa donat bisa manis (dan pelbagai rasa yang lembut lainnya, bisa tetap masuk dalam kriteria sehat?
Ini tentu menjadi keinginan tahuan yang besar bagi penulis, yang senang mempelajari anti aging.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah melakukan JCO-ing?

Potensi alat-alat kesehatan canggih di Indonesia, masih besar


Terdapat hal yang menarik pada majalah Swa[sembada] no. 18/XXII/7-20September 2006 edisi Swaplus. Pada tulisan yang dimulai sesudah halaman 106, dilukiskan bagaimana "Jagoan-jagoan Bisnis Alat Kesehatan" berkiprah di kancah pelayanan kesehatan Indonesia. Diperkirakan omzet pertahun dari bisnis ini adalah sekitar Rp. 3 - 4 triliun. Dari mana angka itu keluar kalau bukan dari para pemain-pemain besar perumah sakitan. Seakan-akan meng-amini tulisan tersebut, penulis baru saja (Sabtu 9 September 2006) mengikuti peresmian Jakarta Heart & Vascular Center yang berlokasi di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta.

Acara dimulai dengan pemaparan dan harapan dari Presdir Kalbe Group, dr Boenyamin Setiawan PhD. Dalam kesempatan tersebut, dokter berusia 73 tahun melukiskan bagaimana penelusurannya di internet hingga memperoleh angka kekerapan serangan jantung. Menurutnya, di Amerika Serikat diperkirakan terdapat 1,5 juta kasus per tahun yang kalau diaplikasikan di Indonesia menjadi 270.000 kasus pertahun (asumsi penduduk Indonesia adalah 270 juta). Ini adalah suatu segmen pasar yang basar yang layak untuk 'diperebutkan' (dalam arti positif).


Bagaimana 'merebut' kue tersebut, berikut disampaikan beberapa tips dari dr Boen:

  1. Institusi pelayanan harus tumbuh terus menerus
  2. Institusi harus senantiasa memenuhi harapan stake holders
  3. Sumber daya manusia pada institusi tersebut harus berpedoman pada DJITU
  4. Institusi harus bisa memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
  5. Institusi harus menjalankan manajemen partisipatif

Jakarta Heart & Vascular Center
Senter ini memposisikan diri sebagai pusat rujukan untuk Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah dengan mengutamakan kualitas pelayanan dan standar medis terdepan kepada seluruh masyarakat di Indonesia.

Beberapa fasilitas pelengkap yang disediakan oleh JHVC adalah fasilitas diagnostik dan terapi canggih dan termodern, seperti Multi Slice CT, MRI, Laboratorium Kateterisasi, dan Bedah Jantung Terbuka (open heart surgery), baik untuk dewasa maupun anak-anak.
Dibandingkan senter lain -seperti yang diungkap pihak JHVC pada acara Temu Pers- JHVC memiliki keunggulan pelayanan seperti dapat melakukan PCI (Angioplasti koroner) atau yang lebih dikenal dengan tindakan Balonisasi pembuluh koroner termasuk pemasangan sten, PTA (balonisasi pembuluh darah tepi), pemasangan Pacu Jantung Permanen (pacemaker) dan Defibrillator, Studi Elektrofisiologis Jantung dan Terapi Ablasi.

Mencegat pasien-pasien ke luar negeri
Seperti menjawab tulisan dalam majalah Swasembada, pendirian Pusat Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah ini, adalah salah satu sumbangsih dari pemain perumahsakitan Indonesia yang dimaksudkan untuk 'mencegat' pasien-pasien Indonesia berobat ke Malaysia maupun Singapura. Tentu hal ini perlu dibuktikan dengan pelayanan prima dan harga bersaing. Maju terus perumahsakitan Indonesia.

Tak lupa, pada akhir acara, penulis berfoto bersama MC acara Bung Izsur.

Stem Cell banyak diminati orang


Peserta tumpah ruah memenuhi ruangan Aula FKUI yang berkapasitas 400 orang. Panitia sampai kewalahan mengeluarkan kursi cadangan untuk mengantisipasi peserta yang masih terus berdatangan. Acara yang merupakan salah satu simposium stem cell terbesar ini, dimulai dengan presentasi alumnus sekaligus mantan dosen Farmakologi FKUI, dr Boenyamin Setiawan mengenai Pengenalan Stem Cell dan Potensi Komersialnya. Berikutnya, Guru Besar Ali Baziad SpOG, mempresentasikan Aktifitas Penelitian Stem Cell di Makmal yang dilanjutkan dengan isu krusial mengenai Etika Penelitian Stem Cell oleh Prof MK Tadjuddin, Ketua PokJa Stem Cell Komisi Bioetika Nasional.

Selain pembicara dari FKUI, tampil pula pembicara-pembicara dari FK UGM Yogyakarta, FK UNAIR Surabaya dan pembicara tamu dari Singapura.

Perhatian masyarakat terhadap Stem Cell ini juga tercermin dari kerubutan wartawan yang mewawancarai para pembicara saat sesi pertama selesai.

Bertabur puluhan door price

Pada sesi terakhir, sekitar 75% peserta masih memadati ruangan mengikuti topik menarik mengenai Pemanfaatan Stem Cell untuk Awet Muda (anti aging). Usaha menunggu ini tidak sia-sia, karena sebelum penutupan sekitar pukul 15:00 WIB, disebar puluhan door price antara lain: kipas angin, kompor gas, dan 2 buah handphone.

Memanfaatkan Pendaftaran Online
Karena topik blog ini mengenai sistem informasi, maka penulis tak lupa mengisahkan beberapa hal menarik yang terjadi sehubungan dengan teknologi informasi. Pemanfaatan Teknologi Informasi dimulai dari sistem pendaftaran simposium, yang sebagian dilakukan on line via website (total berjumlah 500-an). Dilanjutkan dengan sistem pendaftaran kembali (re-registrasi) hingga pencetakkan Sertifikat bagi peserta yang datang. Promosi acara juga dilakukan via website, blog maupun milis.

Dalam acara yang berlangsung juga dibantu dengan perangkat 1 buah handy cam dan 2 buah notebook sebagai alat presentasi.
Tentu tak lupa kamera digital yang selalu penulis tenteng agar bisa mengisi blog ini.



Materi acara
Materi acara bisa didownload secara on line maupun cetak. Untuk cetak bisa menghubungi Medical Representative terdekat di kota Anda.

Agar selalu ter update informasi terkini dari blog ini, silakan masukkan e-mail Anda (dan lakukan konfirmasi) ke kotak yang terletak di sebelah kanan bawah pada blog ini.