Aktifitas Erik Tapan di tahun 2007

Jilat yukkk....

Artikel yang bisa dibaca pada Kompas hari ini, Minggu 16 Desember 2007, mengingatkan saya saat diskusi dengan teman saya yang bekerja pada salah satu perusahaan IT di Jakarta. Teman saya mengeluh soal situasi di kantornya yang mana prestasi tidak terlalu penting, melainkan bagaimana cara 'menjilat' pimpinan perusahaan mereka menjadi lebih menonjol.

Tanggapan Anda?
Tanggapan saya, sungguh kasihan perusahaan tersebut yang mulai membangun cara kerja berdasarkan jilat-menjilat.

Bagi saya, pimpinan yang baik adalah mereka yang bisa membina anak-anak asuhannya dalam team untuk mencapai tujuan bersama, bukan untuk menjilatnya. Baik pimpinan maupun staff berkembang bersama-sama, tidak terdapat rasa iri dan curiga yang terus menerus.

Teman saya garuk-garuk kepala. Ngomong gampang katanya.

Berikut info yang dimaksud

Jilat Yuk

Samuel Mulia

Yuuukkkk!" teriak teman-teman saya. Langsung ada yang nyeletuk, "Jilat apaan?" Teman yang satu menimpali, "Apa saja, asal yang legit." Suara lain tak mau kalah, "Jilat yang uenak-uenak saja." Begitulah reaksi ketika saya mencetuskan kata jilat.

Kata jilat buat saya sangat mengundang. Dijilat, terjilat, menjilat, kejilat. Saya tak tahu apakah saya yang kemesuman atau tidak, tetapi mendengar kata itu saya langsung berpikir ke hal-hal yang senonoh. Maksudnya, hal-hal yang selama ini dianggap tak senonoh, tetapi sejujurnya sangat senonoh. Sama seperti komentar orang, kalau saya sedang berbicara mengenai alat kelamin, maka mereka berkomentar, "Ih... lo omongnya jorok."

Jorok I

Jadi, buat mereka, berbicara alat kelamin itu sesuatu yang jorok, yang tak senonoh. Saya berpikir itu baru senonoh, belum dua nonoh, apalagi tiga nonoh. Terus saya pikir kalau pembicaraan alat kelamin dianggap jorok, maka alat kelamin sendiri juga dianggap jorok. Maka, saya sebagai manusia dengan IQ jongkok dan kata orang tak senonoh, berpikir saya juga sebuah manusia yang jorok.

Saya bisa hadir di dunia ini, selain anugerah yang Maha Kuasa, tetapi juga merupakan hasil dari pertemuan dua kelamin berbeda yang dianggap jorok itu. Jadi, saya dan manusia di jagat raya adalah manusia jorok, manusia yang tak senonoh. Karena saya tiga bersaudara, maka kami adalah tiga nonoh. "Yaaa… enggak begitu, Mas. Kalau omong yang kayak gitu mbok ya jangan di tempat umum," balas teman saya.

Oooh…. kemudian saya berpikir lagi. Di tempat umum tak boleh omong yang jorok karena tak enak didengar telinga orang lain. Tak berpendidikan kedengarannya, tak santun, dan kelihatan kasar, meski di ruang publik pikiran kotor bisa ke mana-mana karena tak terdengar, tak terlihat, dan tak dapat dirasakan, tak dapat dihakimi kalau tidak berpendidikan.

"Yaa... meski terasa munafik sih… tetapi, kan kelihatan lebih nggenah," lanjutnya lagi.

Oooh… jadi supaya kelihatan nggenah, jangan berbicara jorok. Tetapi, apa sih yang disebut jorok itu?

"Jorok itu porno, cabul," kata teman saya. Saya mengangguk mengerti. "Jorok itu kalau aku dorong Mas ke jurang.

"Saya menjorok Mas," kata teman saya yang satu lagi.

"Jorok itu menonjol," kata seorang teman wanita. "Maksud gue semenanjung itu menjorok ke laut. Enggak usah mikir yang enggak-enggak deh," lanjutnya lagi.

Ada yang nyeletuk, "Jorok dari Jakarta ke Bandung itu adalah seratus delapan puluh kilometer."

"Itu jaraakkk, Neeeng," teriak kami semua.

Bagaimana dengan kata jilat. "Tergantung," kata teman saya yang kurus kerempeng. "Kalau lo menjilat es krim, enggak jorok dan uenak. Kalau lo menjilat anu… itu jorok meski juga uenak," katanya lagi. "Maksudnya anu?" tanya saya balik. "Ahh… Mas, sudah deh. Enggak usah sok goblok begitu," balasnya lagi.

Jorok II

Kemudian saya menjelaskan, teman saya curhat beberapa hari lalu di mana pimpinan di kantornya itu senang sekali dijilat. "Kalau itu bagaimana? Jorok enggak?" tanya saya. Mereka kemudian berebut mau bersuara.

"Tergantung lagi. Kalau bosnya memang suka dijilat dan itu hobinya, yaaa… bagaimana ya, enggak joroklah. Meski kasihan saja, mereka yang harus menjilat. Lidahnya bisa gempor tu, Mas," komentar teman saya.

Nah, teman saya yang curhat di mal suatu senja itu lidahnya sudah gempor, maka ia keluar karena kelelahan tak bisa melayani bosnya yang suka dijilat, meski satu teman prianya sampai hari ini masih saja menjalankan tugasnya sebagai penjilat dalam kesetiaannya, yang telah membuatnya bisa menerima kendaraan roda empat dan jalan-jalan ke negeri Paman Sam. Maka, benarlah kalimat "berjilat-jilat dahulu, bersenang-senang kemudian".

Terjilat memang pernah saya rasakan, meski berlangsung tak terlalu lama. Dan terus terang uenak-nya setengah mati. Bisa melayang ke langit ketujuh. Saya tak tahu apakah memang langit punya lantai sampai ketujuh dan kenikmatan paling puncak adalah di lantai tujuh. Yang jelas, terjilat membuat saya tersanjung, saya dibutakan dengan komentar yang menyenangkan ego saya.

Saya malas mendengar program yang saya jalankan gagal. Saya sakit hati kalau mendengar majalah lain lebih bagus dari majalah di mana saya bekerja. Jadi, saya memerlukan mulut yang bernyanyi manis dan meninabobokkan saya. Kalaupun mereka mengatakan program atau majalah saya tidak lebih bagus, mereka memiliki sejuta pandangan yang melegakan dan masuk akal sehingga saya tak terlalu mengomel-ngomel.

Kata teman saya, punya anak buah penjilat itu sangat nikmat. Minta apa saja mereka akan berusaha memenuhinya untuk memenangkan hati. Tak hanya minta disediakan bakso atau ketupat sayur, minta yang lebih dari itu pun bisa. "Jadi dayang-dayang anak gue saja bisa kalau sedang ke luar negeri," kata teman saya itu.

Jadi siapakah yang paling jorok dalam hal ini? Si penjilat atau yang suka dijilat? "Mas, Mas… sampean ini memang goblok. Kalau sudah sama-sama enak terjilat dan menjilat, jorok itu sudah enggak ada lagi," komentar teman saya si kurus kerempeng itu. "Jorok itu cuma buat mereka yang ogah dijilat," tambahnya lagi.

Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

(dikutip dari: http://finance.groups.yahoo.com/group/management-l/message/1532)

Astronaut pertama Malaysia


Ternyata Malaysia tidak hanya memiliki seorang selebritis penyanyi seperti Siti Nurhaliza. Menurut Menteri Teknologi dan Informasi mereka, Dato' Sri Dr Jamaludin Jarjis (sering dipanggil Dato' JJ), saat ini bangsa Melayu patut berbangga, karena memiliki idola seorang ilmuwan seperti dr. Sheikh Muszaphar Shukor (berbaju hitam), astronout pertama dari Kerajaan Malaysia. Dr Sheik Muszaphar S., adalah ahli bedah tulang.

Berikut kutipan dari Media Indonesia:
MOSKOW--MEDIA: Dua kosmonaut Rusia dan astronaut pertama Malaysia sudah meninggalkan orbit Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS), Minggu (21/10), untuk kembali ke Bumi. Roket Soyuz yang membawa astronaut Malaysia Sheikh Muszaphar Shukor bersama kosmonaut Rusia Yuri Yurtshikin dan Oleg Kotov dijadwalkan tiba di Pusat Peluncuran Luar Angkasa Rusia di Baikonur, Kazakhstan, pukul 10.37 GMT, demikian laporan Pusat Pengendali Luar Angkasa Rusia, Minggu (21/10). Astronaut Malaysia tersebut, yang perjalanannya dibiayai Pemerintah Malaysia, melakukan misi luar angkasa itu pada 10 Oktober lalu bersama astronaut AS Peggy Whitson, komandan baru di ISS, dan kosmonaut Rusia Yuri Malenchenko. (TR/AFP/OL-03)
(sumber: http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=146601)

Puas pake FREN

Beberapa waktu yang lalu saya mengeluh soal akses FREN yang sangat lelet (silakan baca: Lain di iklan, lain di gerai: FRENKU Malang).



Namun sejak beberapa bulan yang lalu, bisa dibilang, saya sudah tidak bermasalah lagi dengan akses internet menggunakan FREN. Di mana saya bisa memperoleh signal FREN, saya dengan lancar bisa mengakses internet menggunakan FREN.

Jadi topik ini hanya untuk meluruskan apa yang saya tulis beberapa waktu yang lalu.

Bravo bagi FREN. Kalau ada yang protes tidak melakukan tebar pesona atau sibuk merespons dengan kata-kata, namun melakukan perbaikan dengan pekerjaan yang nyata.

Sampai saat ini saya tidak pernah dihubungi oleh pihak FREN sehubungan dengan tulisan saya di blog ini, meskipun saya tahu pihak FREN telah membacanya. :-)

Puas pake FREN

Seminar Internasional dengan video conference, Sabtu 3 November 2007

Pernah menghadiri seminar internasional menggunakan video conference? Wuih canggih. Salut untuk penyelenggara Pusat Studi Informatika Kedokteran dengan Perhimpunan Informatika Kedokteran Indonesia (PIKIN). Acara Pertemuan Ilmiah ke-7 dari Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma ini mengangkat tema "The Role of Medical Informatics in Healthcare dan Current Medical Technology".

Dengan dihadiri oleh sekitar 300 peserta, seminar yang menghadirkan pakar-pakar informatika kedokteran internasional berjalan sukses. Dua pembicara dari luar negeri yang memberi presentasi adalah
- Prof KC Lun dari Singapura
- Prof M Paindavoine dari Perancis
Diikuti oleh pembicara tuan rumah: DR NS Salahuddin.

Prof KC Lun membawakan topik mengenai Perkembangan Informatika Kedokteran di Asia (Health Informatics in the Asia Pacific) dan Containing acute disease outbreak.

Acara tanya jawab
Dari sisi partisipasi, acungan jempol pantas diberikan kepada Universitas Brawijaya Malang yang 'berani' melontarkan pertanyaan terlebih dahulu. Padahal jumlah peserta dari Unibraw hanya sekitar 10 orang. Koq dikit amat peminat Informatika Kedokteran di Malang yha?

Dari info yang diperoleh penulis, sebenarnya acara ini bisa disaksikan oleh seluruh universitas negeri di Indonesia menggunakan fasilitas INHERENT yang sudah ada di banyak universitas terutama Universitas Negeri. Sayang kehadiran 2 pakar internasional Informatika Kedokteran kurang dimanfaatkan oleh peminat Informatika Kedokteran di daerah-daerah non Jabodetabek.

Bantuan pemotret profesional untuk membidik layar tv plasma
Penulis seperti biasa, memantau terus simposium ini untuk diinformasikan di blog ini. Beruntung sewaktu penulis ingin memotret tv plasma yang menayangkan video conference, duduk di samping penulis sejawat dokter Wilya dari FKG Moestopo. Awal-awal hasil foto sangat jelek, namun tak kenal lelah, Wilya menuntun penulis 'menggunakan' kamera NOKIA yang canggih. Jadi foto-foto dalam blog ini semuanya hasil jepretan menggunakan kamera handphone Nokia.
Minimal dengan hasil maksimal......


Acara unik dan internasional ini mendapat dukungan penuh dari Departeman Kesehatan dan Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia.

Acara berakhir dengan pembagian door prices dari PT Kalbe Farma Tbk.

Foto mereka yang menerima door prices

E-health, memudahkan pasien

Berbagai topik menarik dijalankan pada tiga track paralel konferensi tersebut. Penulis sempat mencatat beberapa topik menarik, seperti:

(keterangan gambar: Dr Hans van der Slikke, President Society for Internet and Medicine, penyelenggara Mednet)

1. Rekam Medis Elektronik
Topik ini dibawakan oleh Dr Volker Wetekam, CEO of Siemens Medical Solution Health Service Jerman. Menurutnya, suatu saat nanti, e-Health bisa meningkatkan kolaborasi antar penyedia jasa pelayanan kesehatan. Rekam Medis Elektronik merupakan dasar yang penting untuk mencapai situasi tersebut. Internet, ramalnya, bisa memacu perkembangan industri kesehatan secara global dalam 5 - 6 tahun ke depan. Saat ini industri kesehatan umumnya masih bersifat lokal ataupun regional, namun ke depan dengan didukung internet sangat mudah untuk mencapai industri yang global.
Dalam bahasa sehari-hari, jika kita sakit atau ingin memeriksakan diri di rumah sakit mana saja, tidak perlu repot lagi membawa-bawa catatan medik kita atau melakukan pemeriksaan ulang semua pemeriksaan yang pernah kita lakukan di rumah sakit asal kita. Ini tentu sangat menghemat waktu dan biaya bagi pasien.

2. Komunitas Kesehatan Online
Lisa Neal dari Amerika Serikat menyoroti pelbagai komunitas kesehatan online yang saat ini menjamur. Dengan adanya komunitas tersebut, baik pasien maupun keluarganya sangat terbantu dalam hal mempelajari mengenai penyakitnya, mencari bantuan maupun untuk saling mendukung / memberi semangat satu sama lainnya. Lisa Neal selain sebagai Adjunct Assistant Clinical Professor dari Public Health and Family Medicine di Tufts University School of Medicine, juga sudah sudah meraih gelar Doktor pada Computer Science dari Harvard University. Suatu kombinasi gelar yang memang cocok untuk bidang Internet Kedokteran ini.

3. Bagaimana konsumen online menetapkan website kesehatan yang bisa dipercaya
Ternyata dengan semakin berkembangnya Internet Kedokteran, masyarakat makin dipenuhi dengan pelbagai tawaran dari banyak pihak untuk 'menjawab' masalah kesehatan yang mereka alami. Untuk melihat perilaku bagaimana para netter (konsumen online) menetapkan website kesehatan mereka dalam mencari informasi, sebuah riset yang dilakukan oleh P. Briggs dkk. dari Northtumbria University, Newcastle, Inggris.

4. Evaluasi pemanfaatan website-website yang menginformasikan kanker
Banyak pihak telah membangun website yang berisi informasi seputar kanker. Tentu semua ini baik adanya. Mencerminkan kepedulian yang besar dari anggota masyarakat terhadap mereka yang kebetulan kurang beruntung kondisi tubuhnya hingga menderita kanker. Penelitian R. Butera, dari Scientific Institute of Pavia, Pavia, Italia, terhadap 13 website kanker, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
  • 8 website dikelola oleh institusi pelayanan kesehatan (rumah sakit, klinik, dll.)
  • 5 website dijalankan oleh pasien/dokter/peneliti
  • fasilitas searching (pencarian) pada web-web yang diteliti, kurang baik, hanya satu web yang sangat efektif
  • isi website sangat terbatas, hanya sedikit yang berhubungan dengan perkembangan penyakit ataupun topik-topik yang disukai/dibutuhkan pasien. Sementara yang mendominasi web-web tersebut adalah yang berhubungan dengan kultur kedokteran, seperti membaca text book saja.
Pada akhirnya team peneliti menyimpulkan bahwa sekitar 2/3 website yang diteliti, gagal untuk memenuhi keinginan sebagian pasien yang mencari informasi mengenai kanker.
Bagaimana di Indonesia? Perlu penelitian tentunya.

5. Workshop Etik
Dari pelbagai workshop yang digelar pada konferensi tersebut, penulis memilih workshop mengenai "Tantangan Etika pada pelayanan konsultasi kesehatan online". Sayangnya karena workshop tersebut dipandu oleh seorang peneliti (bukan praktisi), jalannya workshop tersebut tidak terlalu aplikatif. Pembahasan lebih terpaku pada buku-buku ajar etik kedokteran internet.

(dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO), Senin 22 Oktober 2007)

Bila Saatnya Tiba, Konsultasi Kesehatan via Internet

Sebut saja namanya Maya. Remaja ini sangat gelisah melihat keadaan Bapaknya yang tidak kunjung sembuh dari sakitnya. Ingin berobat ke dokter, tetapi Bapaknya tidak mau. Akhirnya, Maya mulai mencoba mengakses internet untuk mencari info mengenai penyakit Bapaknya sekaligus bertanya pada salah satu milis kesehatan di Internet. Untunglah dengan pelbagai saran dari dokter internet maupun sesama penderita, pelan-pelan Maya berhasil meyakinkan Bapak dan keluarganya untuk segera menangani penyakit tersebut.

Kejadian yang agak berbeda dihadapi oleh Wulan, mahasiswi salah satu universitas terkenal. Sebagai penganut paham sex bebas, Wulan (bukan nama sebenarnya), sangat risau dengan kondisi organ v-nya. Mau bertanya langsung ke dokter, malu rasanya. Iya kalau benar itu penyakit kelamin, kalau bukan khan bisa terbongkar rahasia kehidupan sexualnya selama ini. Jalan satu-satunya, yha... ke warnet dan melakukan konsultasi dengan dokter internet.

Kisah ini bisa diperpanjang lagi, misalnya Andre, karyawan salah satu perusahaan yang rajin melakukan medical check up. Bung Andre ini cukup bingung dengan hasil pemeriksaan laboratorium beberapa waktu yang lalu. Mau berkonsultasi ke mana? Masa mau ke dokter -tidak ada keluhan- hanya untuk bertanya hasil pemeriksaan laboratorium tersebut? Bagaimana kalau bertanya di internet saja?

Setiap kali menyebut "dokter internet" sebagai profesi penulis, hampir sebagian besar yang bertanya mengernyitkan dahi mereka. Apa pula itu? Bagaimana caranya seorang dokter 'memeriksa' pasien menggunakan internet? Ataukah di masa depan, internet bisa menggantikan peran dokter? Wah enak donk yha, bisa nanya macam-macam tanpa takut yang ditanya menjadi bosan. Apalagi jika menggunakan akses internet dari kantor, bisa gratis.

Tulisan berikut ini mencoba menceritakan mengenai aktifitas dokter-dokter internet di dunia dan di Indonesia. Jikalau selama ini kita hanya berhadapan dengan bagian depannya saja (membaca hasil konsultasi, mengakes web kesehatan, dll.), sebenarnya bagaimana aktifitas di belakang itu semua?

Era Internet
Seperti telah kita ketahui bersama, perkembangan pesat internet menjadikan dunia semakin sempit dan mudah. Hampir semua kebutuhan (barang, jasa, informasi, dll.) bisa diperoleh dari internet. Itulah sebabnya, internet sering disebut dengan dunia maya. Ada isinya (dunianya) namun tidak ada fisiknya. Demikian juga dengan info-info kesehatan maupun kedokteran. Jikalau dahulu hanya bisa ditemui saat berhadapan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan, sekarang ini bisa dengan mudah, 24 jam sehari mengakses dunia maya tersebut.

Istilah Dokter Internet diberikan kepada suatu profesi yang melakukan pelayanan kesehatan menggunakan teknologi informasi khususnya internet. Misalnya saja, seorang dokter yang memberi informasi, menjawab pertanyaan pasiennya melalui e-mail, bisa disebut dokter tersebut telah melakukan apa yang dikategorikan sebagai Dokter Internet. Apabila jawaban atau info tersebut diberikan oleh suatu lembaga dalam satu website, maka istilahnya menjadi lebih luas lagi yaitu: Internet Kedokteran atau Medical Internet. Termasuk di dalamnya segala aktifitas pelayanan kesehatan seperti: Electronic Medical Record, Telemedicine, dll.

Demikian kira-kira garis besar pengetahuan yang penulis peroleh saat mengikuti Konferensi (tahunan) Medical Internet ke-12 yang diselenggarakan oleh organisasi Society for Internet and Medicine (SIM), 8 - 10 Oktober 2007. Konferensi kali ini diselenggarakan di suatu kota kecil (eks) Jerman Timur, Leipzig. Dengan tema "Mednet 2007: eHealth Entrepreunership & Evidence", konferensi ini menghadirkan sekitar 80 pembicara dari seluruh dunia. Pesertanya pun tidak kalah bervariasi. Ada sekitar 220 dari 25 negara, antara lain dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, Brazil, Finlandia, Inggris, Iran, Italia, Jerman, Jepang, Republik Cekoslowakia, Turki, Polandia, Spanyol, Swiss, Ukraina, Yunani serta perwakilan WHO dan EU. Penulis menjadi satu-satunya wakil dari Asia non Jepang. Profesi para peserta bermacam-macam selain dokter, seperti mereka yang berkecimpung dalam bidang teknologi informasi (IT), kesehatan mental / psikologi dan etik, sumber daya manusia, peneliti, perusahaan (farmasi dan alat-alat kedokteran), dan lain sebagainya. Sebelum acara konferensi, diadakan workshop mengenai CASCOM.

Pra Konferensi
Acara konferensi didahului oleh Workshop mengenai Context-Aware Business Application Service Coordination in Mobile Computing Environments (CASCOM). Menurut pemaparan dr Ari Kinnnunen dari Emergency Medical Assistance (EMA), Finlandia, project CASCOM ini sedang dikerjakan bersama-sama di 8 negara meliputi: Jerman, Swedia, Swiss, Portugal, Spanyol, Finlandia, Austria dan Italia. Suatu saat, lanjut dr Ari, Catatan Medik elektonik seluruh dunia (Global Electronic Medical Record) akan menjadi kenyataan. Tentu hal ini menggunakan internet sebagai satu-satunya media yang diterima semua orang. Saat ini, jika hal itu belum terjadi, lebih disebabkan oleh hal-hal yang bersifat politik dibandingkan masalah-masalah teknik.

Teknologi CASCOM sangat cocok untuk dijalankan segera. Bayangkan jika kita jatuh sakit di tempat asing. Bagaimana kita bisa mengetahui dengan segera lokasi rumah sakit terdekat yang bisa merawat penyakit yang kita alami? Lalu bagaimana pula cara kita menceritakan gejala penyakit yang kita alami dengan bahasa (minimal) Inggris agar bisa dimengerti oleh petugas kesehatan yang memeriksa kita? Hal-hal di atas merupakan salah satu dari banyak masalah yang bisa diselesaikan jika unit pelayanan kesehatan telah mengikuti pertukaran data dengan teknologi CASCOM.

Dengan ponsel pintar (smart phone), unit gawat darurat (UGD) dan Rumah Sakit yang telah mengadopsi Teknologi CASCOM bisa ditemui lebih cepat. Dengan demikian perawatan-akhir pasien bisa segera dimulai dan prognosis penyakit yang ditangani akan lebih baik dibandingkan dengan perawatan yang terlambat.

Dukung kewirausahaan
Berbeda dengan di Indonesia, di mana pembukaan acara umumnya dilakukan setelah laporan Ketua Panitia Pelaksana, di konferensi kali ini, pembukaan dilakukan oleh Presiden SIM, dr Hans van der Slikke, seorang ahli Kebidanan dan Kandungan dari negeri Belanda. Sesudahnya baru tampil Ketua Panitia Pelaksana dr Christian Elsner MBA, Direktur Center for Healthcare Management (CHM) pada Leipzig Graduate School of Management. Menurut dr Christian, iklim konferensi kali ini sengaja dibuat kondusif untuk pertemuan para pengusaha dalam bidang medical internet. Tentu tidak dilupakan juga semangat pendekatan berbasis bukti (evidence based) yang memang menjadi motor bagi bidang kedokteran seluruh dunia saat ini.

(dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO), Senin 22 Oktober 2007, judul aslinya: Jika tiba waktunya Anda perlu berkonsultasi kesehatan via internet)

Hari 7: Kesempatan menumpang pesawat Singapore Airline

Dalam perjalanan ke Jakarta, pesawat yang kami tumpangi transit di Singapore. Berhenti sebentar untuk kemudian akan melanjutkan terbang ke Jakarta.
Begitu turun dari pesawat tersebut (sekitar pukul 4 sore waktu Singapura), kami diminta masuk ke gate no 22 di bandara Changi Singapura. Buru-buru kami keluar dari pesawat melalui belalai dan masuk ke gate yang ditunjuk. Banyak dari kami para penumpang sudah tak sabar menunggu tiba di Jakarta mengingat sudah sekitar 15 jam kami berada di udara.

Sebelum memasuki gate, barang bawaan kami diperiksa dengan teliti. Notebook harus dikeluarkan dari tas. Tidak boleh membawa cairan yang melebihi 100 cc (kalau pun mau membawa harus dibungkus dalam kantong plastik transparan).
Jika melewati pintu pemeriksaan (detektor) dan keluar bunyi dari mesin, maka sekujur tubuh kami akan diperiksa dengan teliti.

Penulis meng-akalin dengan memasukkan semua benda yang diperkirakan akan mengeluarkan bunyi: kunci, koin, handphone, dll. ke dalam tas, sehingga saat melewati pintu detektor, tidak menimbulkan bunyi. Dan ini berhasil, penulis pun dengan mulus bisa melewati pintu detektor tanpa diperiksa lagi dengan teliti.Kalau nggak, rese' banget harus diperiksa. Diminta buka ini, buka itu,dst..dst..

Dari ruang tunggu, kami bisa melihat moncong pesawat yang telah dan akan kami tumpangi, amat sangat besar. Jaraknya mungkin hanya sekitar 50m. Posisinya pun tepat di depan (karena kami berada di lantai 2). Level kami sedikit lebih tinggi dari pesawat, sehingga saat akan masuk ke badan pesawat melalui belalai, berjalan ke sedikit menurun.

Tak lama kemudian, sedang asyik-asyiknya menunggu sambil terkantuk-kantuk, ada pengumuman. Kata wanita yang mengumumkan, "Jika Anda menengok sebelah kiri Anda, anda akan melihat bahwa pesawat yang akan anda tumpangi memilik lubang (sebesar bola softball, red) di bagian hidung / moncong pesawat. Untuk itu diminta semua penumpang keluar dan check in kembali ke pesawat Singapore Airlines (SQ). Kita akan berangkat menuju Jakarta menggunakan SQ."

Wah....untung masih bisa mendarat di Changi Airport yha.
Nggak tahu sich bagaimana asal lubang ini (tidak diceritakan), namun kelihatannya dengan lubang sebesar itu di hidung pesawat, mereka tidak berani menerbangkannya.
Jujur amat .....:-(.
Terakhir saya mendengar mereka (dalam pengumumannya) sudah menyebutkan "technical problem" untuk memperhalus masalah ini.

Kemudian buru-buru kami melakukan check in (minta no kursi yang baru) ke Singapore Airlines. Keuntungan dibalik musibah ini, akhirnya saya bisa juga merasakan perjalanan dengan SQ yang sudah terkenal tersebut.

Memang benar, pesawatnya beda. Pada setiap kursi pesawat ada televisi yang bisa dipergunakan untuk menonton ataupun main game ataupun mengakses informasi yang lain (dalam rangka traveling dan latihan bahasa). Pelayanannya pun lebih ramah.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya dengan selamat kami semua mendarat di Bandara Soekarno Hatta, sekitar pukul 20:00 WIB. Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Singapura, adalah satu jam lebih awal.

Hari 5: Tertangkap aktifitas menulis di konferensi


Pekerjaan reportase di mana-mana sama rupanya. Di sela-sela aktifitas mengikuti konferensi, para 'kuli keyboard (d/h kuli tinta)' harus pinter-pinter meluangkan waktu untuk mengirim naskah. Demikian pula dengan penulis. Setiap saat mengirim naskah ke Indonesia dan di-upload dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Ini tentu untuk pembaca yang berada di Indonesia dan masyarakat dokter internet yang berada di luar negeri yang belum terlalu familiar dengan Bahasa Indonesia. Aktifitas ini ditangkap oleh salah satu kantor berita Uni Eropah yang secara tak sengaja menangkap aktifitas kuli keyboard Indonesia (tengah). Btw, kalau saya tahu bahwa kita sama-sama kuli keyboard, pasti sudah saya ajak omong yha. :-)

(gambar diambil dari: http://www.ehealthnews.eu/content/view/774/37/, keterangan gambar: eHealthNews.EU Adminsitrator/Editor has a couple of minutes to publish a new article)


Hari ini, hari terakhir konferensi. Sejak awal kelihatan topik yang disajikan merupakan anti klimaks dari topik hari-hari sebelumnya. Selesai makan siang, kita bisa mengikuti pelbagai workshop secara interaktif. Penulis memilih mengikuti workshop mengenai etik pelayanan kesehatan via internet. Workshop menarik lainnya (yang berjalan paralel) adalah virtual gaming. Dijelaskan secara simulasi keadaan-keadaan darurat dan bencana. Dengan belajar (lebih tepat disebut bermain) menggunakan simulasi layaknya sebuah game, tidak terasa pengetahuan kita dala keadaan bencana sudah ter update.Tidak terasa waktu sudah pukul 5 sore. Kami semua berpisah dengan janji akan ketemu di acara konferensi berikutnya.

Hari 3: Acara Konferensi Mednet 2007 dimulai


Tepat pukul 9:20 waktu setempat (atau pukul 14:20 WIB), Konferensi Mednet dibuka secara resmi. Berbeda dengan situasi di Indonesia, dimana Ketua Panitia Pelaksana melaporkan acara, kemudian pembukaan oleh pejabat yang lebih tinggi, di Mednet 2007, pembukaan dilakukan oleh Presiden Mednet Dr Hans van der Slikke, ahli Kebidanan dan Kandungan dari Negeri Belanda dan kemudian laporan dari Ketua Panitia dr Christian Elsner dari Jerman.

Topik yang akan dibawakan dalam konferensi ini bervariasi sesuai dengan tema yang diusung yaitu: "Mednet 2007: eHealth Entrepreneurship & Evidence".

Sekitar 240 peminat dari 40 negara akan diberikan informasi mengenai:
  • Business Concepts and Systemic Economic Effects
  • Economic Effects of Single Applications
  • Telemedicine
  • Clinical Workflow Support
  • eTrials
  • Web-based Consultation, Health Terminals & Virtual Clinic Online
  • Quality of Information
  • eHealth Architecture and Health Records Online
  • Health Records Online and Patient Empowerment
  • eHealth Interoperability
  • Searching / Mining
  • Knowledge Management and Semantics
  • Virtual Community
  • Virtual Learning

Adapun workshop yang bisa diikuti:
  • RFID
  • Integration of ICW Middleware
  • Semantics/Ontology
  • Simulation and Gaming
  • Business Startup
  • Ethics on the Net

Setelah pembukaan dan presentasi oleh dr Volker Wetekam, Siemens Medical Solution, acara dibagi menjadi 3 track:

  • Track I: membahas pelbagai hal tentang Business Concepts and Systemic Economic Effects (tentang e-health) dan Telemedicine
  • Track II: membahas Clinical Workflow Support dan e-Trail
  • Track III: membahas Web-based Consultation and Health Terminals, Virtual Clinic Online and Quality of Information

Beberapa topik menarik

Berikut ditampilkan beberapa topik bahasa dalam bidang Internet Kedokteran:

  1. Healthbot.net: Patient Education with A Natural Speaking Robot before Catheter Ablation (the speaker from: Boston, USA)
  2. Self-management of self-limiting diseases via a web-based communication system for digital triage in Primary Care (the speaker from: Enschede, Netherlands)
  3. The contribution of different of web-base consultation to the quality of care: Experiences of caregivers and care consumers (the speakers from Enschede, Netherlands)
  4. GCPBASE: a web-based tool for remote data capture in a clinical trial (the speaker from: Milan, Italy)
  5. Internet-based Cholesterol Assessment Trial (I-CAT) (the speaker from: Westmead, NSW, Australia)
  6. Evidence based IT: Adaption of the concept of evidence-based-medicine to eHealth (the speaker from: Berlin, Germany)
  7. Electonic Patient Charts Online: A design perspective (Leipzig, Germany)
  8. The STI outpatient clinic online - The use and efficacy of online Syphilis testing and the development of full-scale STI & HIV testing and notification applications online (Amsterdam, Netherlands)
  9. The Reach and use of an Online Healthy Lifestyle program for pregnant program women (Bilthoven, Netherlands)
  10. Screening hidden and multi-faceted risk groups for infectious diseases: Develpotment of an anonymous hepatitits C screening procedure through the internet (Amsterdam, Netherlands)
  11. Global Healthcare via Integration of Service into Virtual Hospitals (Berlin, Germany)
  12. Teleconsultation in maxillo-facial surgery and stomatology: a 2 years experience (Donetsk, Ukraine)
  13. Telesurgery - Expectations and Realty (Leipzig, Germany)
  14. The Italian Monitoring Center for Pharmacological Clinical Trial: an effective internet-based tool and source of information (Rome, Italy)
  15. Evaluating Cancer Pain Websites (Milan, Italy)
  16. Usability evaluation of cancer websites (Pavia, Italy)
  17. The Quality of cardiovascular Health Websites easily accessible to Australians (Westmead, NSW, Australia)
  18. AQUA (Assisting Quality Assessment): a system based on Semantic web and information extraction technologies to support medical quality labelling agencies (Berlin, Germany)

Hari 2: Berjumpa teman lama yang belum pernah ketemu langsung

Mengunjungi BioCity, tempat acara dilaksanakan penulis lakukan pagi hari. Sesampainya di tempat pelaksanaan acara, ternyata sudah ada satu orang yang tiba duluan sebelum penulis yaitu Mr. Esat dari Turki, yang akhirnya jadi sahabat akrab penulis sehari-hari. Orangnya baik (waktu itu sih belum kenal) dan sangat suka menolong. Beliau adalah Konsultan Sistem Informasi Kesehatan dan IT.

Mengenai materi workshop / konferensi tidak akan dibahas detail di blog ini. Bisa membaca di media online atau media cetak yang biasa memuat tulisan penulis.

Setelah bertemu dengan Ketua Panitia dan Panitia Pelaksana, penulis diberi perangkat konferensi dan diminta untuk bersabar karena workshop baru akan dimulai sesudah makan siang. Buat penulis nggak masalah. Lebih baik berada di tempat pelaksanaan acara dibandingkan di hotel yang tidak punya akses wifi/internet.

Dengan internet, e-mail-e-mail bisa direply dan banyak kerjaan yang bisa dilakukan antara lain mengupdate blog ini.

Penulis memang membawa laptop untuk presentasi nantinya. Jadi dengan akses wifi yang gratis di Biocity, bisa dech selalu up date info-info terkini dari internet. Sayang, selama konferensi, tidak ada waktu mengakses hal ini karena begitu menariknya topik-topik yang dibawakan.

Topik workshop pra konferensi kali adalah mengenai teknologi CASCOM (Context-Aware Business Application Service Coordination in Mobile Computing Environments) yang sudah diadaptasi di 8 negara seperti: Jerman, Swedia, Swiss, Portugal, Spanyol, Finlandia, Austria dan Italia. Lumayan jadi tahu bagaimana caranya klinik/rumah sakit di negara-negara tersebut saling berkomunikasi demi kebaikan pasien-pasiennya.

Selesai workshop jam 5 sore, penulis bersama beberapa teman dari Swiss, Turki, dll., berjalan menuju shelter tram. Di Leipzig ada moda transportasi kereta (train) untuk lintas kota dan trem untuk di dalam kota. Trem ini bisa disebut seperti bus way di Jakarta. Uniknya orang-orang di sini, kalau ditanya train no berapa, mereka selalu menginformasikan jam kedatangan. Misalnya, jika ingin ke daerah A, mesti naik train no berapa? Jawab mereka, yang datang pada pukul 17:15, terus turunnya di jam 18:00. Buset dech....

Kembali meneruskan kisah sore tersebut.
Sesampai kami di shelter (akan menuju ke main railway station, dekat tempat penulis menginap), kami ketemu dengan seorang bule yang ingin menukar koin. Dengan sigap, orang Turki, sahabat baru penulis langsung memberikan koin. Namun karena tidak cukup uangnya si Turki, maka koin tersebut dipinjam ke si bule, dengan janji akan diganti besok di tempat konferensi. Ehhh. tiba-tiba si bule menyapa penulis (waktu itu tag name penuli belum sempat dicopot). "Dr Erik yha?' Wah kaget juga, di daerah yang tidak mengenal satu orangpun, koq ada yang mau menyapa?

"Saya dr Hans dari Belanda", katanya memperkenalkan diri. Wah ini dia, Dokter Internet Belanda yang sudah lama saya kenal. Dr Hans adalah seorang dokter Kebidanan dan Kandungan tapi sangat aktif di bidang Medical Internet di negaranya maupun di dunia. Selama ini, kami hanya berkomunikasi via e-mail dan belum pernah bertemu satu kalipun.

Akhirnya (karena kebetulan hotelnya dekat), kami pulang bersama dan ngobrol. Masih tidak ingin berpisah kami sepakat untuk keluar makan malam bersama. Kami berdua mencari makan (makanan brazil, kalau nggak salah). Dr Hans sangat baik berkenan mentranslate menu (bahasa Jerman) ke bahasa Inggris agar bisa dimengerti penulis.

Rupanya hal ini terlihat oleh pelayan restoran dan langsung menawarkan menu dalam bahasa Inggris. Coba dari tadi kita minta menu dalam bahasa Inggris, khan nggak perlu repot-repot men-translatenya.

Tapi, yha sama saja, meskipun sudah dalam bahasa Inggris, masakan-masakan dalam menu tersebut serba asing buat penulis. Agar aman penulis memilih ayam goreng plus nanas dan beberapa sayur-sayuran. Untung makanannya cukup lezat....(nggak salah pilih).

Siap untuk acara konferensi besok hari. Mudah-mudahan banyak bahan yang bisa dibawa ke Indonesia untuk perkembangan Dokter Internet di Indonesia.

Hari I: Diakalin hotel tempat menginap

Hari pertama mendarat di Leipzig sudah diliputi kekecewaan. Jauh-jauh hari sudah membook hotel, namun saat mendaftar kembali, mereka tidak mau tahu. Biaya breakfast yang tadinya digratiskan harus ditambah bayarannya. Hitung-hitung sih tidak begitu besar dan pantas untuk ukuran di Leipzig (ini saya tahu hari-hari terakhir, namun pada hari pertama, sempat ngotot-ngototan).
Tiba sekitar jam satu siang. Berarti di Jakarta sudah pukul 1 + 5 atau pkl. 6 sore. Lucunya saat stop over (transit) dari Frankfurt (dalam foto) menuju Leipzig, kita mempergunakan pesawat jet kecil. Kapasitas maksimal 80 orang. Terisi penuh semua. Perjalanan sekitar 45 menit. Jalannya di atas awan, begitu mau mendarat barulah pesawat tersebut menembus lapisan awan. Sekitar 10 menit, kami penumpang pesawat tidak bisa melihat apa-apa kecuali putih semua di luar pesawat (jadi ingat lagunya Peter Pan, Di Balik Awan). Begitu keluar lapisan awan ternyata sudah berada di atas run way bandara. Tak lama kemudian, tibalah kita di darat.

Thanks God, akhirnya sampai juga saya di Leipzig. Besok adalah hari-hari yang padat karena acara konferensi akan segera dimulai dari pagi hingga sore hari.

Lucunya bandara Hella tempat mendarat, suasananya sangat-sangat sepi. Selain penumpang, terlihat -mungkin- hanya ada 3 petugas. Yang mendarat pun hanya pesawat yang kita tumpangi. Berbeda dengan Jakarta, Leipzig suasananya relatif sepi.
Terlihat beberapa mobil kecil yang hanya 2 tempat duduk (dari Mercedes, katanya). Juga terlihat Suzuki Karimun (nggak tahu merknya apa di sini, mungkin estillo). Sayang nggak sempat terfoto karena berlalu begitu cepat.


Karena tenaga kerja yang mahal di sini, jadi semuanya harus dikerjakan sendiri. Tidak ada penjaga kamar kecil. Kertas, dll. yang diperlukan harus di ambil sendiri (sudah disediakan banyak sih dekat washtafel). Saya pikir, kalau ini di Jakarta, sudah lama kertas-kertas tersebut hilang/habis.

Oh iya, satu lagi kekecewaan saya dengan hotel tempat menginap. Dalam informasi di internet ditulis tersedia hot spot, ternyata -memang- tersedia NAMUN harus bayar. Kalau mau menggunakan internet harus menggunakan PC yang cuman 1 itu di lobby.
Malangnya, keyboard internetnya berbeda dengan keyboard yang biasa kita gunakan sehingga bisa salah-salah ketik. Contohnya huruf "Y" dan "Z" bertukar tempat. Bayangkan betapa ribetnya mengetik dengan 'pertukaran' tempat huruf tersebut.

Mencari air untuk minum
Ternyata di sini sangat susah untuk mencari air untuk minum. Kalau minta mineral water, maka akan diberikan air soda (?). Nggak enak.....
Namanya (akhirnya saya tahu) buble water..... air yang berbusa.

Namun akhirnya ketemu juga, merk Evian. Mahal juga sekitar 3 Euro. Namun setelah tanya sana tanya sini, ternyata air keran boleh diminum (tap water). Masalahnya keran selalu berada di kamar kecil. Jadi -masalah psikologis saja- mesti ditampung dulu di botol Pristine (air botolan yang saya bawa dari Indonesia), baru di minum.


Begitu dulu laporan saya, nanti akan diteruskan.

HARI 0: Mencoba akses internet telpon

Saat menulis e-mail ini saya berada di Bandara dalam rangka perjalanan menuju Leipzig - Jerman. Saya akan menghadiri Konferensi Dokter Internet Internasional.

Wah apa lagi itu? Tentu muncul pertanyaan diantara pembaca.
Memang benar, kita para dokter internet (dan juga mereka yang senang mencari info kesehatan/berkonsultasi) tidak perlu risau. Di dunia saat ini sudah ada perkumpulan Dokter Internet. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk memperkenalkan kemajuan para dokter internet indonesia. Supaya seluruh dunia tahu (khususnya bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia internet kedokteran) bahwa di Indonesia sudah ada kegiatan di bidang Dokter Internet.

Banyak yang menumpang Luthfansa
Dalam pikiran saya, pasti penumpang Lutfhfansa akan sedikit. Siapa juga dingin-dingin begini akan ke Jerman, khususnya Frankfurt. Ternyata tebakan saya meleset jauh.

Penumpangnya membludak. Sungguh sangat-sangat membludak. Saya datang dari pukul 3 sore (kalau di jadwal pesawat berangkat pkl. 18:55 WIB), ternyata sudah tidak bisa milih tempat. Padahal ini perjalanan yang panjaaaaaaannnggg banget. Total 22 jam.
(Dalam foto tampak suasana buka puasa di Lounge Bar yang rame)

Ada beberapa rombongan tour yang akan ke Eropah Timur. Begitu juga banyak yang akan ke Singapura memilih menumpang operator penerbangan milik Jerman ini.

Katanya tiketnya lebih murah, karena penumpang SQ sudah membludak. SQ sendiri untuk 'peak season' ini tidak memberlakukan children rate katanya. Sudah terlalu penuh. Bisa dimengerti, ini adalah awal liburan yang panjang. Hampir 3 minggu kalau mau dihitung-hitung.

Akses telepon via Handphone
Kemarin saya diberitahu oleh OKENET bahwa ada program mengakses telepon dengan mempergunakan internet. Tentu ini kebetulan sekali. Harga telpon ke Jerman khan mahal. Jadi saat saya di Jerman dan ingin menelpon, tentu cukup mencari hotspot saja. Murah dechhh. Begitu pemikiran saya.

Saya diberitahu oleh pihak Okenet bahwa cukup mengirim SMS ke 9800 dengan isi "SMS E VoIP" maka akan menerima pengesetan otomatis (OTA) via SMS, kemudian langsung save(?) dan di eksekusi/install.

Sampai malam (sekitar pukul 22:00) saya bersama customer/teknisi mengutak-atik hal ini. SMS sudah dikirim, tetapi tidak ada 'kiriman balik' dari Intouch (provider yang menyediakan software).
Boleh juga nich OKEnet, kerja sampai malam!!!
Akhirnya saya sendiri yang memutuskan, Titin (nama customer service-nya), kita

lanjutin besok saja yha......... Ok Pak, begitu SMSnya.
Sudah jam 10 belum selesai juga.

Besok pagi, kembali 'pekerjaan' diteruskan. Akhirnya berhasil juga software tersebut masuk ke Handphone saya. Setelah di-install, masuk password dan berjalan....... eitsss tunggu dulu. Ternyata ada hambatan juga. Si programnya membutuhkan hot spot. Saya bilang ke Titin, apakah bisa menggunakan GPRS saja?
"Bisa dua-duanya Pak!" jawab Titin yakin
"Iya, tapi saya mau menggunakan GPRS"
"Kalau GPRS mahal Pak"
"Biar mahal saya mau, cuman mau ngetest doank, bagaimana menggunakan VoIP.
Masalahnya saat ini tidak ada hotspot. Kalau ada ngapain saya bela-bela-in nanya apakah bisa GPRS?"

Kenapa pertanyaan ini bisa muncul, karena saat membuka software tersebut, rupanya sudah langsung keluar/display WLan yang biasa saya gunakan. Padahal pada saat ini saya tidak berada di hotspot tersebut. Dalam software tersebut tidak ada pilihan menggunakan GPRS.

Akhirnya jawabannya keluar juga, "Bapak mesti mengaktifkan GPRSnya ke provider Bapak", kata Titin via SMS.

$%^)(*&^%^*()_)(*, selama ini khan saya sudah menggunakan GPRS, akses internet, dll.
Ya sudahlah saya mesti bersabar kalau begitu.

Di Bandara
Eh...... saat saya ketemu Hot Spot di Bandara Soekarno Hatta, tiba-tiba handphone saya berdering. Ternyata Titin dengan VoIP mengontak saya.
Pengalaman baru untuk saya melakukan pembicaraan via internet.
Suaranya nyaring sekali, sayang ada delay dan rasanya tidak bisa berbicara bersamaan (duplex). Sering tabrakan.

Yang canggih, handset yang saya gunakan, dalam contact, ada fasilitas telpon internetnya. Jadi begitu nomor telpon internetnya kita masukkan ke field di contact, maka sudah tidak ada bedanya lagi menggunakan telpon biasa maupun telpon internet.
Sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Sayang..........., baru bisa menelpon ke PSTN luar negeri (katanya).

Pengalaman seru ini akan dilanjutkan di topik-topik berikutnya.


Berita ini ditulis dari Bar Lounge Bandara Airport yang termasuk harus menggunakan Kartu Kredit Citibank (di charge lagi).

Dibutuhkan partisipasi Anda dalam "Mencari Solusi Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia"

Kepada teman-teman sejawat dokter seluruh Indonesia/Dunia,

Pelbagai diskusi mengenai pelayanan kesehatan di Indonesia akhir-akhir ini baik di milis maupun seminar / simposium terus menerus saya baca, dengar dan saksikan sendiri.

Sayangnya, sama seperti beberapa tahun yang lalu, wacana sampai sebatas wacana. Tudingan per tudingan dilontarkan. Yang salah pihak ini atau pihak itu. Tak ada habis-habisnya.
Saya koq jadi miris/trenyuh.


Kebetulan saya dan beberapa ts punya kesempatan (tentu mesti didoakan terus) untuk memberi masukan kepada pihak yang berkompeten mengenai hal ini. Cara yang akan saya dan teman-teman se-team tempuh ini memang tidak wajar / baru, namun perlu terobosan untuk hal itu. Mohon maaf belum bisa diungkapkan sekarang.

Untuk itu, saya mengajak kepada teman-teman sejawat dokter agar bisa turut berpartisipasi dalam projek ini.

Kami (team tersebut), mencoba meng-inventarisasi pelbagai masalah pelayanan kesehatan di Puskesmas/posyandu dan pusat-pusat pelayanan kesehatan primer lainnya di daerah terpencil.


Sekiranya teman-teman sejawat memiliki pengalaman yang tidak mengenakan/kurang menyenangkan, mohon bisa dikirim langsung kepada kami via e-mail ke: dr_erik_tapan@yahoo.com.

Tuliskan pengalaman yang kurang menyenangkan tersebut beserta usulan perbaikannya (optional). Tentu tulisan ini menyertakan data yang selengkap-lengkapnya: kejadiannya di mana, kapan, bagaimana, dst....dst.......

Jika teman sejawat memberitahu bahwa nama teman sejawat tidak perlu dipublikasi, maka saya pribadi akan merahasiakannya. Artinya dari awal (mail box saya), nama teman sejawat tidak akan diloloskan.


Intinya, kami mengharapkan tulisan/e-mail dari teman sejawat mengenai:
- pelayanan yang tidak wajar di Puskesmas/Posyandu atau pusat pelayanan kesehatan primer di daerah terpencil
- sebaiknya ditulis juga solusinya (optional)
- harap menyebutkan secara jelas, jika tidak ingin mempublikasi identitas sejawat
- Subject e-mailnya adalah "[PKM] nama_teman_sejawat", tanpa tanda kutip
- date line / batas waktu pengiriman e-mail adalah sesudah lebaran atau tanggal 22 Oktober 2007.

Bagi yang berpartisipasi, akan memperoleh kesempatan disertakan dalam diskusi lebih lanjut guna tercipta usulan yang baik demi perkembangan pelayanan kesehatan primer di negara kita.

Jika cara kerja ini cukup berhasil, maka akan diteruskan dengan topik-topik lainnya.
Untuk itu, kami menghimbau partisipasi dari teman-teman sejawat semuanya.
Secara pribadi, jika teman sejawat mempunyai keinginan memperbaiki pelayanan kesehatan di Indonesia, luangkan waktu sejenak untuk mengikuti program ini.


Kami tunggu pengalaman (dan usulannya kalau ada), demi perbaikan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Tolong juga diinformasikan artikel ini kepada teman sejawat lainnya.

Mari kita sukseskan bersama dengan tindakan dan doa.

Terima kasih.

Jam Dunia yang canggih


Kalau Anda ingin melihat jam yang menunjukkan banyak hal (dalam dunia automotive disebut MID = multiple information display) coba berkunjung ke:

http://www.poodwaddle.com/worldclock.swf

Parameter yang diukur pada jam canggih tersebut antara lain (saking banyaknya):

1. Populasi dunia (di update setiap detik)
2. Kelahiran (juga di update setiap detik)
3. Kematian (juga di update setiap detik)

Kemudian ada:
A. Non communicable Diseases, seperti: jumlah penyakit kardiovaskuler, kanker, Penyakit Pernapasan, Penyakit pencernaan, penyakit kencing manis, dll.

B. Penyakit Infeksi, seperti: jumlah Penyakit Kelamin/HIV/AIDS, mencret, malaria, meningitis, hepatitis, lepra, dll

C. Jumlah kecelakaan, seperti: kecelakaan lalulintas, dll

D. Lain-lain, seperti: jumlah infeksi saluran napas, angka kematian ibu, malnutrisi, dll.

Selain angka-angka di bidang kesehatan, muncul pula:
- jumlah komputer yang diproduksi
- jumlah sepeda dan mobil yang diproduksi
- Internet Access Point,
- jumlah perceraian di Amerika Serikat

Komentar Anda?

Kembali berulang, masalah sistem pelayanan kesehatan di Indonesia


Ribut-ribut soal pelayanan kesehatan, menurut saya ini semua adalah cerita lama. Semua sudah tahu masalahnya (ataupun jawabannya), tetapi tidak ada perbaikan. Dari dulu begitu. Semua cuman sampai sebatas wacana.


Memang ada beberapa kemajuan, tetapi bak menggarami air laut, sangat kecil.
Tercatat, dokter tidak perlu ujian negera, tidak perlu berbakti (PTT), praktek maksimal 3 tempat, apalagi?
Tapi ini semua terlihat sangat-sangat parsial.
Karena 'penyelesaian' baru setengah-tengah, jadilah begini. Setiap ada kasus ribut. Setiap orang memunculkan ide tertentu, ribut lagi dengan tanya jawab yang hampir mirip.

Intinya sich menurut saya, kita semua (paling berat yha pemerintah....siapa lagi), harus mulai membenahi sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Asuransi Sosial, dst. dst.

Di luar negeri
Ini bukan hanya pekerjaan Depkes semata. Lihat bagaimana Singapura dan Malaysia, pelayanan kesehatan mereka jadikan industri (apa ada yang protes?). Health Tourism ini didukung penuh oleh departemen-departemen lain yang terkait seperti pariwisata, perdagangan, dll.
Contohnya agar pelayanan (orang Indonesia) di Malaysia bisa menyaingi pelayanan Singapura, pajak di-nol-kan, dst..dst. Sebaliknya, Singapura sangat gencar memasarkan pelayanan kesehatannya kepada turis-turis di pelbagai web dan bandara.

Di Indonesia
Di Indonesia, dokter & masyarakat saling gontok-gontokan. Seru.
Depkes terlihat ditinggal sendiri. Untung Menkes nggak kehilangan akal, dibuatlah acara B4M di Metro TV. Terlihat upaya -meskipun secara halus- penodongan Bu Menkes kepada pihak-pihak yang diwawancarai. Coba deh sekali-kali nonton acara 'seru' ini.
Bravo, maju terus......

Penutup
Sebagai akhir tulisan ini, saya sampaikan (untuk mengingatkan kembali) tulisan saya mengenai Indepence Day pada tahun 1996. Inti tulisan ini, jika tidak cepat-cepat ditanggulangi maka akan terjadi wabah yang tidak seperti kita kenal. Wabah ini lebih dahsyat, karena menyentuh pihak secara keseluruhan bukan hanya perseorangan/kelompok orang.
Untunglah setelah 11 tahun (baca: sebelas tahun), wabah tersebut baru mulai dicari solusinya.
Itu artinya (analogi), wabah yang sama (pelayanan kesehatan di Indonesia), baru bisa selesai 11 tahun lain alias tahun 2007 + 11 = 2018.

Tentu kita semua bermimpi bisa lebih cepat dari itu. Bukankah semua perlu waktu dan tidak semudah membalikan telapak tangan.

Santai man, baca dulu cerita saya di bawah ini yang kalau mau mengakses langsung bisa menuju ke: http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg02341.html

========================

Independence Day


Pernah nonton Independence Day ? Apa yang bisa disimpulkan dari film tersebut ?
Hermawan Kertajaya menulis di Harian Bisnis Indonesia (Selasa, 15 Oktober 1996) bahwa, film tersebut menceritakan situasi di planet bumi pada saat diserang 15 Piring Terbang (UFO). Tahu-tahu, di atas langit ada UFO "parkir". Maunya apa juga nggak tahu. Diajak damai juga nggak mau. Semua pada panik ketika UFO itu mulai menyerang dengan pesawat tempurnya berupa piring terbang kecil !
Ketika diserang balik, ternyata teknologi kita kalah jauh ! Bahkan pakai senjata nuklir pun nggak bisa. Lalu bagaimana ?
Apa hubungannya dengan dunia kesehatan ? Dengan analogi yang sama (menurut Hermawan), kita sudah harus siap menghadapi era globalisasi.
AFTA akan dibuka paling lambat tahun 2003. Apakah kita - para pelaku di bidang kesehatan - siap menghadapi "senjata" manajemen kesehatan dan profesi kesehatan lainnya dari dunia luar Indonesia ?
Cukupkah waktu kita (dunia kesehatan Indonesia) jika pada saat ini kita masih berkutat pada persoalan : jatah pedidikan spesialis, penempatan dokter baru lulus (termasuk spesialis), ujian persamaan (baik untuk perguruan tinggi swasta dalam negeri maupun mereka yang lulus dari universitas luar negeri), dll.
Karena mau tidak mau akan ada "Piring Terbang" yang parkir di bumi tercinta kita ini.
Bagaimana pendapat Anda jika :
  1. Dokter Asing bisa berpraktek di Indonesia ?
  2. Rumah sakit modal asing / joint ventura bisa beroperasi sampai ke desa-desa ?
  3. Universitas luar negeri bisa membuka sekolah kedokteran di Indonesia ?

Tulisan "Independence day" sangat menarik perhatian saya. Walaupun bukan orang Indonesia dan bukan dokter pula, saya merasa simpati terhadap dilema yang dihadapi dunia kesehatan Indonesia. Dalam pekerjaan saya, sering bergaul dan tukar pikiran dengan para dokter PTT yang bertugas di daerah-daerah terpencil di KTI. Tanpa menjelaskan di sini segala masalah dan penderitaan yang mereka hadapi selama masa PTT (pasti yang pernah menjadi dokter PTT tidak perlu diberi penjelasan) saya juga turut prihatin dengan serangan "piring terbang" dari luar angkasa itu. Berbakti di pedalaman selama 3 tahun, belum tentu jadi PTN. Tidak jadi PTN bagaimana dengan spesialisasi? katakanlah pun jadi PTN, mengambil spesialisasi tidak semudah itu. Kalau semua berhasil dan sang dokter dapat spesialisasi dan sudah siap memetik buah hasil ilmunya dan pengorbanan selama bertahun-tahun... baru dengan tenang-tenang masuklah dokter bule dan merampas semua pasien potensial sang dokter Indonesia (maklumlah masih banyak orang Indonesia yang lebih suka memilih "ilmu" dari luar angkasa). Memang dengan dihadapi skenario seperti itu kalau saya dokter, tentu saja bisa jadi sewot. Dan saya akan menjawab "Tidak" pada ketiga pertanyaan yang di atas ini. Tapi apakah itu realistis? Para politikus sini-sono akan jalan terus dengan agenda-nya tersendiri dan apabila dunia kedokteran tidak cepat ikut nompang perdebatan dari posisi yang kuat, pasti ketinggalan.
Kalau menghadapi serangan globalisasi dunia kedokteran Indonesia merasa nervous, itu wajar saja, tetapi globalisasi itu adalah suatu proses dinamis yang tidak bisa di-stop lagi, meskipun dengan counter-serangan "piring terbang". Tentu saja keluhan pihak pelaku kesehatan Indonesia sangat berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya kalau mulai sekarang, semua hal yang dapat merugikan profesi dokter di Indonesia akibat globalisasi dipaham dengan baik, dirundingkan dengan banyak pihak,dan dirumuskan dengan jelas ke dalam suatu 'paket tawaran' sehingga pada saat tertentu pihak dokter memiliki 'bargaining power' yang kuat dan tidak bisa diserang begitu saja. Kini, bargaining dan bukan 'serangan' adalah the name of the game. Selamat berjuang, you have all my sympathy and respect.
lucifero

Fw.: Syarat menjadi dokter yang mendunia

Mau tidak mau, suka tidak suka, Dokter Indonesia harus mendunia.
Kalau ditanya, apakah Dokter Indonesia, masih kurang mendunia?
Berikut ada diskusi di Mailinglist Dokter Indonesia yang menurut saya cukup menarik:


Niklausdj wrote:
Saya punya pertanyaan nih,
bagaimana caranya agar Indonesia dapat melahirkan dokter-dokter muda kelas dunia dalam jumlah yang banyak agar mutu pelayanan kesehatan di Indonesia ini dapat meningkat pesat.

Karena seperti yang kita tahu, saat ini Indonesia jarang sekali menjadi tujuan dunia untuk mengobati suatu penyakit. Rujukannya kebanyakan selalu di luar negeri.
Ada saran??

Jawab:
Pak Niklaus Yth,

saya kira bukan dokternya (saja) yang tidak berkelas dunia, tetapi standar pelayanan di Indonesia dan Rumah sakit umumnya yagn belum berkelas dunia, dalam product, place, price, dan promotionnya. Dokter Indonesia tidak kalah "jago"nya dengan doktern Singapore atau Malaysia, tapi orang lebih suka berobat di sana. Contohnya, ada seorang dokter senior di Sumatera, beberapa kali seminggu ybs praktek di Malaysia atau Singapore, dan pasiennya yagn orang Indonesia dan tinggal di Sumatera (tentunya yang punya uang), berobat kepada beliau di luar negeri.

Saya punya pengalaman pribadi, dulu ketika masih suka ikut mengantar pasien. Saya mengantar pasien dengan masalah ortopedi, sampai di ME hospital S'pore jam 2 malam, 15 menit kemudian dokter ortopedi senior yagn akan mengoperasi dan merawatnya datang untuk say hello, memastikan semuanya sudah dipersiapkan, dan menceritakan apa akan dilakukan. Sebaliknya, saya antar pasien ke RS di Jakarta siang hari, baru siang hari berikutnya sang dokter senior yang akan merawatnya datang, itupun tidak se "friendly" dan terbuka yang di S'pore.

Cotoh lain, saya stop over di RS S'pore malam hari sebelum ke Tokyo membawa pasien stroke. sambil menunggu di RS S'pore beberapa jam, pasien langsung ditangani petugas, termasuk fisioterapi.

Jadi, kalau mau berkelas dunia, tidak cukup hanya dengan kepandaian dan ketrampilan yang tinggi, tetapi personal approach dan touch sangat diperlukan. Tentu dilengkapi kenyamanan di rumah sakit dan sekitarnya.

Semoga menambah wawasan.
Wass,
Amin Soebandrio

Roti sukun yang bergizi

Pembaca blog yang terhormat,
Saya diundang makan roti sukun (sekaligus diberi oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah).
Bagaimana serunya memperoleh sukun tersebut bisa dibaca di kisah di bawah ini.

Mengenai rasanya.....
Wah benar-benar nikmat dan tiada duanya......
Apalagi dimakan bersama teh hangat yang diolah dari kurma merah plus buah kelengkeng kering.

Banyak terima kasih untuk Mbak Janti yang sudah bela-bela-in membuat roti sukun istimewa yang terdiri dari: garlic, cabe merah keriting, sedikit smoked beef dan seledri, bersama sajian teh hangat ......

Berikut kisah yang dituturkan langsung oleh Mbak Janti via e-mail:

Karena nyari buah Sukun di pasar tradisional dekat rumah gak nemu, pas libur 17-an saya sempetin ke FLONA di Lapangan Banteng dengan harapan ada yang jual buah sukun di bagian tanaman buah; eh ternyata gak ada; wahh penasaran juga wong biasanya sering liat sukun (pas gak butuh), sekalinya lagi butuh kok ya dicari-cari gak nemu.

Akhirnya, harapan terakhir ya ke pasar Cikini, ehh dari luar keliatan sepi banget kayak gak ada yang jualan kecuali abang2 penjual gorengan. Nha, ternyata si abang juga jual sukun potongan yang digoreng, saking senengnya, saya langsung bilang sama penjualnya bahwa saya mau borong sukunnya yang belum digoreng dan belum dibumbuin; syukur2 kalo ada yang masih utuh, kalo gak ya dah potongan juga ok.

Tau gak, abangnya bilang 'beli yang udah digoreng aja, bu, udah tinggal dimakan' - ya saya iyain, saya bilang 'pokoknya saya mau beli semua deh, yang digoreng dan yang masih mentah, tolong diitungin aja berapa harganya semua'. Logikanya, kan beneran ya siang2 ada yang ngeborong dagangan, jadi bisa lebih cepet pulang?? Tapi yang satu ini lain; saya sampe rada jengkel juga sama si abang, masa dibilang 'jangan semuanya, bu - kasihan dong ntar saya gak bisa jualan' -----LHO! Sampe bengong deh saya jadinya; lha wong saya ini mau beli dan bayar semua, bukannya mau minta gratisan kok! ASTAGA! Sampe heboh ngejelasinnya ke si abang bahwa yang mentahpun, tanpa digoreng juga saya bayar sama seperti yang digoreng; malahan dia gak usah cape2 ngegoreng n gak usah ngabisin minyaknya buat ngegoreng sukun2 tsb. Waduhh, untunglah akhirnya dia "ngeh" walaupun masih juga gak boleh diborong, paling tidak saya 'diijinkan' beli 10 potong sukun mentah sebagai pasangan 10 potong sukun goreng (!?). Wis, heboh banget yang namanya nyari buah sukun buat bikin roti-:))

Akhir ceritera, roti sukunnya dah berhasil jadi; saya bikin yang biasa (polos) dan yang special (pake garlic, cabe merah keriting, sedikit smoked beef dan seledri); ternyata putra dan suami saya lebih suka yang special; dimakannya sama selada segar, tinggal olesin saus tomat dan sedikit mustard aja. Bukan berarti yang polos gak enak lho; karena justru ada komentar dari salah satu 'taster' di MLDI bahwa yang polos lebih ok menurutnya.

Nanti saya tulis posting terpisah tentang manfaat lain2 pohon Sukun yang baru saya baca dan pelajari dari beberapa sumber.


Oya, semalam ada 4 buah Sukun Thailand plus 1 bibit pohonnya datang sendiri kerumah saya, kiriman dari kebon teman di Bogor-:) Lagi mikir mau bikin apa aja lagi sebagai kreasi yang unik, sehat dan bermanfaat.

salam saya,
Janti SW

Anti Aging, Komnas Lansia n what next?

Berkecimpung di dunia anti aging (dan terus menerus berusaha memperkenalkan pada masyarakat luas) membuat penulis diajak untuk ikut menghadiri meeting-meeting Komnas Lansia. Meeting yang sering diadakan di Kantor Depsos di Salemba tersebut membahas bagaimana memberi masukan kepada pemerintah 'menangani' para lansia. Yang dimaksud di sini tentu untuk mereka (lebih khusus) yang sekurang-kurangnya berusia 65 tahun dari golongan ekonomi tidak mampu. Jadi sifatnya lebih umum.

Namun tak pelak juga turut dibahas tentang bagaimana caranya agar pada usia lanjut kita tetap aktif dan berkarya alias active ageing.

Lama-lama koq sudah tidak kelihatan bedanya lagi antara gerontologi dan anti aging medicine ya?


Foto ini saat penulis bersama anggota Komnas Lansia lainnya bertemu dengan Wapres RI. Dalam sambutannya Wapres mengusulkan agar aktifitas Komnas Lansia/Depsos tidak hanya mendukung panti-panti jompo saja tapi mengusahakan sosialisasi budaya bangsa kita sendiri seperti: rumah yang dihuni keluarga besar (extended family), pemanfaatan tenaga/pemikiran dari para pensiunan dan lain sebagainya. Prinsipnya mengusahakan bagi mereka yang tergolong lansia untuk tetap aktif berkarya di keluarga dan masyarakat sekitarnya. Justru lanjut Wapres, pihak luar banyak yang saat ini kembali ke konsep extended family dalam satu rumah dibandingkan dengan menitipkan para lansia ke panti-panti jompo. Jadi dalam satu atap ada 3 generasi: anak, bapak/ibu dan kakek/nenek-nya.


Artikel lain mengenai KOMNAS LANSIA:


Dapur UniQ - unique & hygienic cuisine gallery - Kota Jababeka - Cikarang


Atas undangan Janti SW, berkunjunglah penulis ke Dapur UniQ di Jababeka Cikarang. Penulis telah lama mengenal pemiliknya, melalui dunia maya. Sejak awal berdirinya MLDI (Mailing List Dokter Indonesia), sekitar tahun 1996, Janti sebagai member MLDI cukup aktif memposting e-mail di MLDI yang membernya memang selain para dokter, juga banyak yang non dokter. Meskipun bukan dokter, tetapi sebagai pemerhati kesehatan, pengetahuannya tentang nutrisi, kesehatan maupun herbal boleh diadu.

Hobbynya mengkomposisikan bahan2 makanan/minuman menjadi menu-menu unik dan sehat yang bermanfaat bagi tubuh dan bukan hanya 'asal kenyang'. Selama ini, resep-resep canggih Janti hanya bisa dirasakan oleh para keluarga, saudara dan kenalannya yang sempat mampir ke rumahnya di Jakarta Timur.
Baru sekarang ini, karena desakan pelbagai pihak (sahabat serta anaknya, Didit dan suami, Tirta yang berkemeja abu-abu) resep-resep tersebut bisa dicicipi masyarakat luas melalui Dapur UniQ resto cafe gallery.
Resep-resepnya dikomposisikan sedemikian rupa untuk mendapatkan nilai tambah agar tetap awet sehat dan awet muda.

Inilah beberapa menu unik & sehat kreasi Janti:

  1. Bamboo Chicken Rice: nasi ayam yang dikukus dalam buluh bambu dan disajikan untuk dinikmati langsung dalam bambu tsb. Terinspirasikan dari serial Jewel in the Palace (Jang Geum, yang piawai dibidang kuliner juga dibidang kesehatan).
  2. Pasta Oncomia: pasta angel hair dengan taoge, tahu dan saus oncom. Idenya timbul dari taoge goreng Bogor. Nama saus oncom dalam menu ini (ONCOMIA) adalah 'hadiah' dari Dr. Kartono Mohamad (salah satu nara sumber MLDI) yang sangat menyukai rasa pasta unik dan sehat tsb.
  3. Herbs Rice; Garlic Rice dan Hot Chili Rice: nasi berbumbu yang 'tampil beda' dengan dilengkapi sayuran & sepasang 'sate lilit khusus' pada batang sereh.
  4. Snacks istimewa: Brownies anti-aging yang dibuat tanpa telur, tanpa gula dan dikomposisikan dari bahan utama almond serta buah2an dan coklat Belgia.
  5. Ada lagi Tape panggang Keju 3 Negri yang juga tanpa telur, tanpa gula dan kejunya benar-benar dari 3 negara.
  6. Macam2 KombuCha : ini teh hasil fermentasi yang sudah ber-abad2 lalu dikenal sebagai minuman kesehatan di Jepang & Tiongkok dan menyebar sampai ke Rusia, Jerman serta negara2 lainnya. Rasanya memang bukan seperti teh biasa bahkan manfaatnya sangat luar biasa; ada yang refreshing, yang relaxing, yang revitalizing, bahkan yang enhancing the libido dan yang paling disukai ibu-ibu adalah yang reversing the clock alias anti-aging.
  7. Minuman antioksidan seperti Aloe Vera cocktail dan juga Coconut Ginger yang dikombinasikan dari unsur YIN & YANG.

Kembali ke Dapur UniQ; jika anda membaca di spanduk yang tertulis seperti ini : Resto, Cafe, Gallery; memang benar. Dalam Dapur UniQ, selain anda bisa menyantap berbagai makanan & minuman unik dan sehat maupun yang anti-aging ( kreasi sendiri yang tidak akan anda temukan di tempat lain).


Andapun bisa menikmati lukisan2 & patung2 karya seni para seniman Indonesia yang cukup beken.

Tapi bagi anda yang tidak tahan untuk tidak merokok, kalau ingin mampir ke Dapur UniQ harus rela menunda kenikmatan merokok anda sampai keluar dari resto karena cafe anti-aging ini TIDAK MEMPERBOLEHKAN samasekali adanya asap rokok.

Dalam blog ini ditampilkan foto-foto berkesan saya (bersama sahabat saya Yon yang ber-kemeja putih), saat mengunjungi Dapur UniQ yang benar-benar unik.

Jika Anda ingin merasakan suasana yang benar-benar anti aging, segeralah berkunjung ke Dapur UniQ. Temukan pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Alamat:
Dapur UniQ
RestoCafeGaleri
Ruko Roxy Jababeka
Jl. Kasuari Raya blok C-5
Telp.: 021-893.5.893

Siaran Anti Aging di Sonora FM



Gara-gara menulis tentang Anti Aging di Menu Sehat, penulis dipanggil untuk 'mempertanggungjawabkan' tulisan tersebut. Bersama dengan Redaktur Pelaksana, Ibu Lily Wibisono, kami diwanwancarai oleh pihak Sonora, Mas Eddy.

Intinya, ilmu Anti Aging masih perlu terus disosialisasi. Kebanyakan dari kita ingin untuk awet muda terus dan tidak sakit-sakitan di masa tua, namun banyak yang belum tahu, caranya bagaimana. Banyak yang termakan mitos-mitos yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itulah buku Anti Aging terbitan Intisari mencoba memberikan penjelasan mengenai Anti Aging secara menyeluruh. Dalam buku yang dilepas di pasaran seharga Rp. 27.000, berisi lengkap topik-topik anti aging disertai bonus 30 resep masakan anti aging.

Di bawah ini, sesuai janji saya, saya sertakan beberapa tanya jawab (terutama yang belum terjawab) yang dikirim via SMS saat acara berlangsung:


Pertanyaan no. 17:
Ali usia 43th, di Tomang Jakbar, bertanya: Pinggang saya sering sakit karena lama mengendarai mobil setiap hari. Buah apa yang baik untuk pinggang saya, terima kasih.

Jawab:
Pak Ali, untuk 'memperbaiki' sakit di pinggang, kita mesti mengetahui akar permasalahannya. Jika hal itu disebabkan karena ketegangan / kecapaian otot semata, disarankan Pak Ali untuk melakukan strecthing terlebih dahulu sebelum berkendara. Selain itu bisa juga menggunakan bantal penyangga agar posisi tubuh saat duduk lebih ergonomis (sesuai dengan postur yang normal).
Cara lain yang bisa ditambahkan, tambahkan porsi latihan penguatan pinggang saat berolahraga. Semoga dengan demikian keluhan pinggang bisa segera hilang. Jika dengan hal ini belum juga teratasi, segeralah berkonsultasi ke dokter untuk pemeriksaan lanjutan.

Pertanyaan no. 20:
Janti usia 66 tahun di Tomang Jakbar bertanya: Setiap hari sehabis sarapan minum 1 obat pencahar + enzim pencernaan, apakah hal ini baik untuk kesehatan? Selain itu juga saya mngkonsumsi pelbagai vitamin dan glucosamin, bagaimana pendapat dokter? Terima kasih.

Jawab:
Ibu Janti, secara tak sadar, Anda sudah termasuk dalam kelompok praktisi Anti Aging. Namun, seperti yang pernah saya sampaikan, Anti Aging sebaiknya dilaksanakan secara baik dan benar. Contohnya, kenapa Anda mesti minum obat pencahar secara rutin? Apakah hanya sebagai pencegahan saja atau pengobatan karena masalah BAB Anda?
Jika Anda mempunyai masalah BAB, coba Anda lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung banyak serat seperti pepaya dan teman-temannya dan juga minum sereal. Beberapa resep kreatifitas dari bahan yang saya sarankan bisa dibaca di buku Anti Aging terbitan Intisari. Selain itu, Anda juga harus membiasakan diri untuk terus aktif (berjalan) atau olahraga ringan lainnya.
Vitamin dan Glukosamin, sepanjang hal itu memang sudah diketahui kurang, tak masalah untuk dikonsumsi.

Pertanyaan no. 26:
Bpk Iqbal, 60 tahun di Bekasi menanyakan: Saya sehat lahir bathin. Ketika di Jepang dengan suatu perangkat yang ditempelkan ke jari-jari tangan. Dokter Jepang tersebut mengatakan bahwa usia biologis saya seperti 40 tahun. Saya ragu Dok, apa saya bisa ditest lagi di sini. Trims.

Jawab:
Memang saat ini banyak sekali ditawarkan alat-alat pengukur usia biologik. Sampai saat ini saya belum lihat di Indonesia, alat ukur yang cukup komprehensif dan akurat. Kalau Bapak bisa memberikan ke saya model seperti apa yang dilakukan di Jepang, tentu saya bisa mencarinya.

Pertanyaan no. 28:
Elvana, 23 tahun di Caringin bertanya: Apa yang harus saya konsumsi untuk mencegah penuaan? Biasanya orang gemuk suka dianggap lebih tua. Bagaimana pola dietnya? Trims.

Jawab:
Info makanan yang bisa mencegah penuaan dini, silakan membaca buku Anti Aging terbitan Intisari. Dalam buku tersebut, banyak ditampilkan informasi dan menu masakan yang anti aging. Soal kegemukan, dari sisi keindahan itu relatif. Ada yang mengatakan gemuk itu indah dan sedap dipandang, ada juga yang tidak. Namun dari sisi kesehatan, kegemukan itu dipandang sebagai suatu penyakit. Jadi cepat-cepatlah para orang gemuk untuk berusaha menjadi kurus sebelum timbul pelbagai macam penyakit.

Pertanyaan no 29:
Linawati, 29 tahun di Tangerang, bertanya: Diet yang sehat dan baik itu bagaimana? Apakah suplemen makanan itu baik untuk kesehatan tubuh?

Jawab:
Untuk diet yang sehat dan baik, bisa baca buku Menu Sehat edisi Anti Aging terbitan Intisari. Suplemen itu baik jika memang tubuh kita kekurangan. Segeralah cek di laboratorium terdekat apakah Anda memerlukan suplemen atau tidak.

Pertanyaan no. 41:
Lany, 54 tahun di Bekasi bertanya: Tangan kerut-kerut banyak, bagaimana solusinya?

Jawab:
Kekerutan disebabkan ada sesuatu yang kurang dengan kulit Anda. Apakah kurang lembab, zat kolagennya rusak, dll. Segeralah berkonsultasi dengan dokter estetik atau dokter kulit untuk menemukan solusi masalah ini.

Pertanyaan no. 46:
Teddy, 51 tahun di Sunter, menanyakan: saya sering bermasalah dengan pinggang & minum food suplemen. Apa makanan alamiah pengganti yang cocok menurut dokter?

Jawab:
Masalah pinggang, banyak penyebabnya. Dari yang sederhana hingga yang serius. Alangkah baiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan penyebab dan penyelesaiannya. Untuk makanan pengganti alamiah, bisa dibaca di buku Anti Aging terbitan Intisari.
Jika dari hasil tes laboratorium konsumsi makanan tersebut masih kurang, tidak ada salahnya menambah dengan food suplemen.

Pertanyaan no. 49:
Wina, 57 tahun di Kedoya, bertanya: Saya mau tanya, Buku Menu Sehat Anti Aging ini no berapa dan harga berapa?

Jawab:
Terima kasih atas pertanyaannya. Buku Menu Sehat edisi Anti Aging aalah edisi 7/III/07, terbit bulan Juni dengan harga Rp. 27.000. Bisa diperoleh di toko-toko buku Gramedia dll.

Mengurus Surat Kompetensi di KDDKI


Umumnya kalau berurusan dengan pihak yang hanya satu-satunya, kesulitan sudah terbayang di hadapan kita. Seakan-akan pameo "kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah", menjadi spirit kerja mereka.
Mau apalagi? Kalau banyak pihak, memang kita bisa memilih, tetapi kalau hanya dengan mereka kita mesti berurusan? Cukup mengusap-usap dada saja.

Oleh sebab itu, hal yang pertama ada di pikiran saya -sewaktu diminta mendampingi rekan saya- betapa ruwet dan menyebalkan nantinya, jika akan mengurus surat kompetensi, khususnya kompetensi Dokter Umum.

Bayangkan, kita hanya bisa mengurus di satu tempat, yaitu -waktu itu saya belum tahu di mana- di Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). Surat Kompetensi ini, diperlukan teman sejawat saya, guna pembuatan STR (Surat Tanda Registrasi) dari KKI (Konsil Kedokteran Indonesia).


Berbeda 180 derajat
Ternyata, pembaca yang tercinta, bayangan saya itu terbalik 180 derajat. Saat menelpon mereka untuk menanyakan apa-apa saja yang diperlukan, dijawab dengan penuh keramahan. Begitu pula saat memasukkan berkas, senyum ada di mana-mana di ruangan Sekretariat Kolegium Dokter Umum dan Dokter Keluarga Indonesia (KDDKI). Pesan petugasnya, tolong dicek tanggal sekian, kalau sudah jadi atau belum. Waktunya kalau nggak salah sekitar 2 mingguan.
Pas pada tanggal yang ditentukan, belum sempat di-cek, teman saya itu sudah terima SMS yang menyatakan bahwa surat Kompetensinya sudah selesai.
Akhirnya berangkatlah saya bersama teman saya tersebut untuk mengambil Surat Kompetensi Dokter Umum tersebut.

Wah....wah..... sudah beda sekarang yha?

Bravo, begitu donk. Salut untuk KDDKI dan PB IDI.
Sekarang teman saya akan mencoba mengurus surat di KKI dan Dinas Kes. Apakah akan mengalami hal yang sama pula? Mari kita tunggu jawabannya!!!
Tenang saja...... kamera foto terus saya bawa....
Dalam foto terlihat betapa baik dan ramah pelayanan yang diberikan.

Kalau ada pembaca yang punya pengalaman mengurus sesuatu, silakan tulis di kolom komentar blog ini.

Shooting Jendala Dunia, Acara Internet di Metro TV



Hari ini -sesuai dengan perjanjian- datang ke rumah saya, teman-teman dari Metro TV, khususnya team yang memproduksi acara Jendela Dunia.

Ceritanya, karena tertarik dengan aktifitas saya berinternet dan mengenalkan internet kepada para dokter, mereka akan menanyakan segala aktifitas saya untuk mengenalkan internet kepada para dokter/tenaga kesehatan.


Jam 9:00 tepat (buset tepat banget datangnya), Pak Novan, dkk. telah hadir di depan rumah. Acara dimulai dengan beres-beres tempat acara. Kemudian diadakan survei untuk melihat kira-kira di mana tempat yang paling baik untuk dilakukan shooting.

Ternyata yang menjadi pilihan adalah ruang tamu. Dari siaran yang katanya hanya berlangsung 10 menitan, shootingnya itu memakan waktu 1,5 jam lebih. Hasilnya bagaimana belum tahu karena mesti di edit lagi.

Senin, 11 Juni 2007, team dari Indra TV News 'bela-bela-in' mendampingi saya saat mempresentasikan mengenai Informatika Kedokteran di RS Annisa Cikarang. Berikut foto-foto 'kenekatan' mereka hingga akhir acara.

Ternyata untuk menampilkan suatu acara, proses shootingnya tidak mudah juga. Banyak terima kasih untuk Production House dan Metro TV. Mudah-mudahan apa yang diharapkan dari saya bisa terpenuhi. Salut untuk Anda yang kerja dengan semangat dan bersungguh-sungguh (profesional).




Majalah Menu Sehat edisi Anti Aging, telah terbit


Dear pembaca,
Banyak dari kita yang menyamakan Anti Aging dengan produk-produk kosmetik saja. Ternyata tidak demikian, Anti Aging lebih luas dari kosmestik semata. Itulah yang dijelaskan dalam majalah Menu Sehat edisi Anti Aging. Selain berisi info mengenai Usia Kronologik dan Usia Biologik (apa lagi itu?), Menu Sehat kali ini membahas pula hal-hal yang berkaitan dengan anti aging seperti:
  • dari mana istilah anti aging itu berasal
  • bagaimana cara mengukur Usia Biologik kita
  • mengelola stress
  • meraih wajah mulus berseri
  • cara mengirit usia 10 tahun
  • memelihara jiwa muda oleh Ibu Herawati Diah (saat ini berusia kronologik: 90 tahun dan masih aktif)
  • menghindari kejaran umur menurut budaya Jawa dan Cina
  • serba-serbi antioksidan
  • olahraga sebagai salah satu cara anti aging
  • cara pengukuran gizi yang ideal untuk anti aging
  • dll
  • BONUS: 30 resep masakan untuk TETAP AWET MUDA, antara lain: Seafood kuah segar, Ca Jamur Tiram Brokoli, Mixed Vegie Salad dan Roti Hevermout buah
Jika Anda senang memasak, kenapa tidak menyajikan masakan yang membuat orang yang Anda cintai awet muda?

Majalah ini (dicetak terbatas dan full colour) bisa diperoleh di toko-toko buku besar / kecil / loper atau bisa pesan langsung ke Unit Layanan Jual Gramedia Majalah, SMS: 0811-908680 (minimal 2 buku).