IdBlogNetwork

Kebiasaan menurunkan buku

Pada tanggal 7 Februari 2007, saya membaca satu e-mail di milis yang ditulis oleh Henri Perwira Negara, seperti di bawah ini:

Saya adalah mahasiswa kedokteran yang baru kuliah satu semester.
Saya tahu kuliah di kedokteran harus dengan niat tulus, ikhlas dan sungguh-sungguh.
Selain itu, saya dituntut untuk menguasai materi kedokteran secara menyeluruh karena hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak.
Untuk itu saya mohon bimbingan, masukan,nasehat, saran dari senior-senior dalam menjalani kuliah di kedokteran.

Selain itu, saya juga mohon informasi ilmu kedokteran apakah yang harus saya kuasai terlebih dahulu. Juga mengenai buku-buku apa saja yang harus saya miliki.
Atas perhatian senior-senior semua, saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr Wb


Jawaban / komentar saya:
Dear Henri dan rekan-rekan lainnya.
Saya punya pengalaman yang ada hubungannya dengan hal yang ditanyakan.
Sejak SMA hingga FK, saya selalu menerima 'bingkisan' dari kakak kelas.
Kalau di SMA, setiap kali masuk tahun ajaran baru kita diberi sepaket buku. Buku tersebut harus dijaga dan dikembalikan pada akhir tahun ajaran untuk digunakan oleh adik-adik kelas kita.Tentu buku tersebut telah dijilid dan disampul sebaik mungkin.Tetapi intinya, ini merupakan keharusan karena aturan dari SMA saya.

Fakultas Kedokteran
Nah masuk FK, hal ini tidak menjadi keharusan hanya sudah di'ajarkan' sewaktu masa OPSPEK (Plonco). Setiap Cama (begitu disebut), mempunyai satu kakak mentor. Jika ada apa-apa, kita selayaknya bertanya kepada ybs. Biasanya (tidak ada keharusan), kita menerima 'limpahan buku' dari kakak mentor kita.

Yang lucu, adalah kebiasaan saya yang selalu menggaris bawahi (atau memberi tanda/stabilo), pada materi-materi yang keluar pada waktu ujian. Suatu hari, adik kelas saya (yang diberi buku-buku), bertanya kepada saya, koq pertanyaan ujiannya itu sama dengan materi yang saya telah garis bawahi? Setelah saya cerita, apa arti garis-garis bawah tersebut, sejak saat itu di menjadi rajin memperhatikan bahan-bahan yang telah saya garis bawahi / stabilo.
Semoga cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi Henri.
Selamat join.
Erik Tapanhttp://eriktapan.blogspot.com

======
Sebagai catatan:'Mentor' saya saat ini sudah jadi Ahli Kulit sedangkan adik kelas saya sudah selesai pendidikan Spesialis Rehabilitas Medik.
Anda punya pengalaman yang serupa atau hampir mendekati?

5 komentar:

cakmoki mengatakan...

Saya punya Harrison warisan yang saya simpan hingga sekarang.

Yang lebih berkesan adalah warisan ketrampilan. Tingkat I saya sudah bisa pasang infus.
Sekarang kabarnya mau co-as ada yang belum bisa nginfus, apa benar ?

Erik Tapan mengatakan...

Dear TS Cak Moki,
Cerita yang menarik.
Jadi tingkat satu, sudah belajar nusuk-nusuk donk yha.
Koq bisa?

cakmoki mengatakan...

Yth, dr Erik,
Berkat budaya warisan dok.
Yang mbimbing kakak-kakak kelas co-as di klinik-klinik. Mungkin budaya seperti itu perlu digalakkkan kembali, selain buku juga ketrampilan. Dan sekarang ditambah warisan nge-Blog, menginternetkan dokter dan mendokterkan internet.
Siip dok.

grapz mengatakan...

dari dulu memang sudah ada sistem kakak diktat-adik diktat, tapi kalo adik diktatnya nyeleneh diktatnya malah distop hehehe...hmmm attitude yakh???

Erik Tapan mengatakan...

Thank you Grapz (kodok kadut) atas kunjungan dan komentarnya.

Isi blog kamu, boljug yha?

Keep contact, OK?

BTW, jangan lupa baca komentar saya soal teman-teman sejawat yang senang ngeblog di majalah