IdBlogNetwork

Sinetron yang tidak mendidik


Mengamati milis Ginjal akhir-akhir ini, ada diskusi hangat mengenai bagaimana menjadi Donatur Ginjal. Apa-apa saja yang perlu diperhatikan setelah seseorang 'menyumbangkan' ginjalnya.

Tak disengaja saya sempat menyaksikan salah satu sinetron yang menceritakan seorang anak (wanita) mendonorkan ginjalnya kepada ibunya. Kemudian anak tersebut jatuh sakit. Inti ceritanya seperti itu.

Menurut saya -dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang terlibat pembuatan sinetron ini- hal ini sangat berpengaruh terhadap keinginan orang untuk menjadi donatur ginjal. Padahal seperti kita ketahui, ginjal yang paling baik berasal dari orang hidup.

Bagaimana pendapat Anda?

Selamat Hari Ginjal 8 Maret 2007

7 komentar:

Anonim mengatakan...

Dokter Erik,
Saya juga sempat diskusi dengan beberapa orang soal sinetron itu. Kalo nggak salah judulnya Intan. Kebetulan jam siar-nya pas saat saya menunggu orang yang HD siang dicabut dan saya masih menunggu dapat bed. sekitar 18:30 or 19:00 WIB. Jadinya suka ngobrol dengan Ibu-Ibu yang nunggu.

Terus terang saya nggak setuju dengan isi cerita itu. Sepertinya memprovokasi bahwa kalau orang sudah mendonorkan ginjal maka kemungkinan si pendonor jadi sakit ginjal atau bahkan jadi cuci darah.
Inilah kadangkala sinetron.. terlalu mendramatisir.

Sebenarnya saya nggak ngikuti betul ceritanya. Karena saya malas sih melihat sinetron Inonesia. Nggak masuk logika saya. Cuma karena di sinetron Intan ini disinggung singgung tentang orang transplantasi ginjal, mau coba ngikuti.
Eh.. ujung ujung tetap aja cerita yang gak masuk logika. Jadi yang saya ikuti setengah setengah.

Jadi menurut saya, cerita sinetron itu cuma buat nyeneng sponsor saja koq.
Bukan mendidik. Enakan nonton Bajaj Bajuri. Kita bisa tertawa terpingkal-pingkal, jadi perasaan happy terus.

Antonius - Jakarta
(dari milis Ginjal)

ndoro kakung mengatakan...

Saya setuju dengan Bung Anton, bahwa cerita sinetron Intan cenderung kontraproduktif terhadap motivasi calon pendonor ginjal. Untuk menjadi pendonor ginjal
hidup (living donor), dokter harus yakin bahwa:
1. ginjal pendonor harus baik dan sesuai dengan pasien
2. Sang pendonor bukan orang yang berisiko sakit ginjal
Prinsip donor adalah menolong orang lain tanpa mengorbankan diri si pendonor.

ndoro kakung
Milis Ginjal

Dadang mengatakan...

Sedikit info untuk para pendonor.

Alhamdulillah Mbak Nila ada niat untuk mendonorkan ginjalnya, itu satu niat yang sangat mulia yang perlu didukung. Memang banyak info yang agak simpang siur tentang
resiko bagi pendonor setelah merelakan 1 ginjalnya untuk diberikan kepada orang lain, tapi dari bukti empiris dalam kasus yang terjadi di Indonesia saya bisa sampaikan fakta sbb:

1. Pendonor terlama yang masih hidup sampai sekarang sudah 30 tahun mendonorkan ginjalnya (operasi tahun 1977)
2. Recipient terlama yang menerima ginjal yang masih hidup sampai sekarang adalah 29 tahun, yaitu dr. Anon yang tinggal di Semarang
3. Pasien cuci darah terlama yang masih hidup sampai sekarang telah 22 tahun menjalani HD

Informasi ini saya ketahui sewaktu mengikuti acara hari ginjal sedunia tanggal 8 Maret lalu dan mudah2an bermanfaat.

Saya sendiri alhamdulillah mendapatkan donor dari ayah kandung tahun 1989 (kira2 18 tahun lalu), usia ayah saya sekarang 74 tahun dan masih sehat wal afiat.

Wass,
Dadang
(milis Ginjal)

Benny J. mengatakan...

Selamat malam Dok,

Menurut hemat saya, dengan adanya pertemuan yang rutin seperti di acara IKCC beberapa waktu lalu dapat menepis "cerita-cerita seru" seperti di sinetron yang sempat banyak orang yang membahasnya pada beberapa waktu lalu.

Sinetron merupakan bentuk hiburan yang ditayangkan melalui media televisi, namun seringkali menjadi bahan pembicaraan yang seolah serius seperti halnya "sinetron" meruapakan nara sumber dari sebuah bahasan kesehatan.

Saya sangat tidak setuju dengan apa yang diinformasikan tersebut, karena sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah saya rasakan sebelumnya. Menjadi seorang donor ginjal masuk di tahun ke-14 dan masih dalam keadaan baik-baik saja.

Walau memang sinetron seringkali berisikan fiksi, namun tidak ada salahnya bila pembuat menilik kembali sebelum dapat ditayangkan kepada pemirsa.
Mengapa demikian, karena saya sangat prihatin disaat masyarakat belum merasa betapa sangat pentingnya memiliki ginjal yang sehat, setidaknya televisi justru lebih selektif untuk memilah acara sinetron yang berbobot dan mendidik masyarakat. Bukan malah justru membelokkan fakta tanpa ada dasar yang ada.

Semoga bermanfaat.

Salam

Erik Tapan mengatakan...

Dear Benny,
Banyak terima kasih atas meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog saya ini. Saya juga sudah mengujungi Blog Benny. Semangat terus yha Benny, hidup dan nge-blog.

Memang benar Benny, kemarin saya bertemu dengan beberapa keponakan saya. Iseng-iseng saya mencoba bertanya soal sinetron ttg transplantasi ginjal.
Ternyata mereka SUDAH memiliki beberapa pemahaman yang salah:
- kalau kita mendonorkan ginjal, maka ada kemungkinan kita akan kena gagal ginjal juga
- kalau sakit ginjal di perut bagian bawah

Mudah-mudahan testimoni yang diberikan Benny, bisa sedikit mengurangi kesalah pahaman ini.

Salam,
Erik Tapan

erwin mengatakan...

saya seorang yg ingin mendonorkan salah satu dr ginjal saya.umur saya 25 tahun,gol.darah B,172/65.email ke aryasena_9@yahoo.com.

Anonim mengatakan...

Saya pria umur 25th golongan darah B,tinggi 172cm, berat 54kg.Mau jual ginjal untuk orang yang benar2 membutuhkan.Untuk keterangan lebih lanjut, via Email ke aryasena_9@yahoo.com