Ternyata after sales service notebook COMPAQ tidak life time


Bagaimana menceritakan ini yha? Sebenarnya malu juga saya menceritakannya. Sekitar 5 tahun yang lalu (bulan April tepatnya), saya membeli Notebook COMPAQ tipe 1700. Alasannya, tentu karena ingin membeli yang terbaik. Sebelumnya, saya sudah mencicipi notebook merk COMPAL dan sangat puas. Notebook tersebut pensiun karena harddisknya sudah lambat. Saat itu, karena sudah mampu menyimpan uang yang cukup, maka saya mencari merk yang terkenal. Pikir saya kalau COMPAL saja sudah puas, bagaimana dengan COMPAQ ya.

Beberapa alasan saya membeli merk terkenal:
  1. Tidak mau dipusingkan dengan segala kerewelan, karena saya ini adalah pengguna berat notebook/internet.
  2. Ingin mencicipi (kalau bisa) service dari mereka yang benar-benar kompeten.
  3. Percaya akan adanya life time warranty, meskipun saya tidak punya bukti bahwa mereka/vendor menawarkan hal itu.

Apa yang terjadi?
Notebook saya ternyata bermasalah dengan salah satu engselnya (kata teknisi "hinks"). Singkat cerita setelah sekitar 5 tahun penggunaan (waktu tepatnya saya agak ragu, kalau nggak salah pada 14 Maret 2002), notebook saya tidak bisa ditutup lagi. Artinya notebook tersebut hanya bisa dalam kondisi terbuka. Kalau ditutup, maka frame LCDnya bisa robek. Selain itu TIDAK ADA yang rusak. LCD masih bagus, harddisk begitu juga, termasuk keyboard dan segala fungsinya. Jadi satu-satunya keluhannya hanya engsel itu saja.

Ke Service Center HP
Kamis, 10 Mei 2007, berkesempatanlah saya mengunjungi Service Center HP. Setelah diterima dengan ramahnya oleh customer servicenya, saya diberitahu bahwa persediaan engsel sudah tidak ada lagi. Wah, kalau begitu mesti diapain Pak notebook saya?
"Kalau LCDnya diganti berapa?" tanya saya.
Jawabnya, "agak mahal sekitar 6 jutaan rupiah."
Buset... itu sih beli notebook baru. Mungkin nggak niat kali yha.
"Kalau casingnya diganti saja Pak", tawar saya ke teknisinya.
"Sayangnya kita belum punya Pak."
"Kalau begitu, dibuka saja Pak. Dibagi dua saja, siapa tahu besok-besok saya akan cari LCD monitor khan tinggal disambung. Toh, kalau saya presentasi, nggak perlu bawa monitornya, tinggal colok ke LCD projektor", jawab saya yang kecewa dengan nama besar notebook tersebut.


Akhirnya teknisi tersebut membawa notebook saya dengan tak lama kemudian mengembalikan dalam keadaan terpisah antara keyboard dan LCD-nya :-(

Sebelum pergi, saya bertanya lagi, "Pak kalau ada orang yang membawa notebook sejenis ini yang kerusakannya lain, tolong saya diberi tahu ya. Siapa tahu bisa dikanibal."
"Susah Pak", jawab teknisi. "Kebanyakan tipe notebook tersebut rusaknya ya di engselnya"
Oooopssss@!#^&

Pemanfaatan IT pada PIT IKA IDAI 2007


Penulis berkesempatan menghadiri PIT IKA III IDAI 2007, yang acara ilmiahnya mulai dilaksanakan, Senin 7 Mei 2007. Secara umum, acara yang diadakan di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini berlangsung sangat sukses. Peserta yang hadir diluar perkiraan panitia. Menurut panitia, jumlah peserta sampai tgl 6 Mei sore tercatat 2.399 orang, terdiri dari 1.703 dokter spesialis anak/spesialis lain, 343 peserta PPDS, 248 dokter umum dan dokter gigi, serta 62 mahasiswa S1 kedokteran - bidan - perawat.

Kalau ada pembaca yang bertanya-tanya, koq angka-angka yang diberikan begitu detail? Ini disebabkan pihak panitia telah menerapkan -menurut penulis- software pendaftaran yang cukup canggih. Tidak hanya di bagian pendaftaran saja, dalam acara ilmiah sehari-hari pun diterapkan hal itu. Setiap peserta yang ingin memasuki ruang sidang ilmiah, diharuskan meng-scan bar code yang ada pada tag name peserta. Jadi semacam sistem absen elektronik.


Cara ini tentu 'mengharuskan' peserta rajin-rajin meng-scan tag namenya (baca: hadir), sebab kalau tidak menurut rumor yang beredar jika angka absen kurang dari 80%, maka sertifikat tidak akan diberikan. Sertifikat ini penting bagi para dokter untuk memperoleh ijin praktek yang harus diperbaharui setiap 5 tahun.


Perlu diketahui banyak acara yang berlangsung secara paralel, sehingga peserta sebaiknya menentukan terlebih dahulu topik-topik yang sesuai dengan minatnya agar bisa tahu ruangan mana yang harus dimasukinya.
Bayangkan ribetnya kalau hal ini mengandalkan absensi manual.
Selamat untuk panitia dan dunia kedokteran.

Diramaikan oleh peserta pameran
Salah satu acara yang cukup menyegarkan saat menghadiri sidang adalah mengunjungi stand-stand pameran. Stand pameran kali ini selain dari perusahaan farmasi juga diramaikan dengan produsen susu. Maklum peserta sebagian adalah dokter anak.

Begitu mendarat di Bandara, Sari Husada sudah menyambut kita. Banner dan spanduk mereka ada di mana-mana. Maklum menurut cerita, emang Yogya adalah daerahnya produsen susu tersebut.

Cerita lain yang berkesan sewaktu menghadiri acara yang disponsori oleh Kalbe Nutritional. Semua peserta diberi tas kerja (semacam tas notebook) yang cantik.

Tak lupa, penulis menyambangi stand MSD, untuk menanyakan lebih lanjut mengenai GARDASIL yang spektakuler itu.

Di bawah ini, foto penulis bersama salah satu peserta pameran.

Dokter tidak ada keharusan lagi untuk 'mengabdi'

Beberapa waktu yang lalu (teoritis hingga 20 April 2007), seorang dokter yang ingin berpraktek, diharuskan melalui masa peng'abdi'an. Ini berbeda dengan sarjana-sarjana lainnya, yang seharusnya sama-sama tunduk pada UU no. 8/1961 tentang Wajib Kerja Sarjana.
Pelbagai istilah untuk pengabdian yang dilakukan dokter, seperti: INPRES, WKS, Pegawai Tidak Tetap/PTT dll. Sayangnya kalau diteliti lebih lanjut, 'pengabdian' tersebut bisa diartikan sebagai KERJA PAKSA. Meskipun agak kasar, bisa disebut penerapan undang-undang tersebut sebagai salah satu bentuk KERJA PAKSA. Padahal sudah sejak lama ILO (International Labour Organization) mengesahkan konvensi Penghapusan Kerja Paksa. Disebut Kerja Paksa jika suatu pemerintahan memberlakukan secara paksa suatu pekerjaan sebagai alat penekanan politik, alat pengerahan dengan tujuan pembangunan atau sebagai hukuman atas keterlibatan dalam pemogokan dan sebagai tindakan diskriminasi.

Sudah sejak lama dihapus
Yang lucu, sudah sejak lama, selalu disebut-sebut bahwa PTT telah dihapuskan. Para pejabat pemerintahan akan selalu membantah kalau ditanya apakah seorang dokter harus melakukan PTT. Nyatanya di lapangan berbeda. Seorang dokter yang akan menjalankan profesinya (pengurusan Surat Ijin Praktek/SIP), tetap harus menyertakan surat telah menyelesaikan atau sedang dalam masa bakti.

Berita Gembira
Berita gembira. Mulai tanggal 20 April 2007, telah keluar PERMENKES no. 512/MENKES/PER/2007 yang dalam salah satu pasalnya (pasal 2), tidak mengharuskan lagi surat selesai masa bakti untuk pengurusan Surat Ijin Praktik.
Jika hal ini benar-benar (bukan akal-akalan lagi), patut kita para dokter bergembira. Pengalaman penulis sendiri saat menginvestigasi hal ini, pihak yang ditanya penulis (IDI Wilayah maupun DINKES) mengatakan bahwa hingga saat ini belum diterima peraturan pelaksana (peraturan yang di bawah PERMENKES) mengenai hal ini. Baik IDI Wilayah maupun DINKES, masih tetap memberlakukan aturan terdahulu.

Namun dari berita-berita di mailinglist, sudah mulai ada baik kantor IDI maupun Dinas Kesehatan yang sudah mau menerima permohonan SIP tanpa disertai surat selesai masa bakti.

Bagaimana di daerah Anda?

Bagaimana dengan daerah terpencil?
Pertanyaan yang kemudian sering dikemukakan, kalau begitu bagaimana dengan daerah-daerah terpencil? Kasihan khan tidak ada dokter yang melayani?

Jawaban penulis, pelayanan tetap diberikan, hanya saja tidak dalam bentuk Kerja Paksa melainkan mau sama mau. Artinya pemerintah daerah (atau pusat) yang harus membuat peraturan yang menarik sehingga para dokter mau bekerja sama. Tidak harus selalu dalam bentuk materi atau fee/salary semata, tetapi, misalnya:
- diberi kesempatan memperoleh beasiswa untuk sekolah spesialis
- fasilitas daerah terpencil yang OK, seperti akses internet, teleconference untuk update ilmu, dll.

Sebagai catatan, kalau tidak salah (CMIIW) di negara tetangga kita, untuk melayani daerah terpencil mereka membuka kesempatan bagi dokter Indonesia untuk bekerja di sana dengan salary yang lumayan.

Selamat dan Bravo
Selamat untuk para pejuang yang memperjuangan hal ini, yaitu dihapuskannya KERJA PAKSA untuk para dokter dan Bravo untuk Ibu Menteri kita.

Catatan
Selamat dan Bravo akan ditarik kalau ini cuman 'akal-akalan' semata.
Bagaimana tanggapan Anda?

Silakan lihat no. 512/MENKES/PER/2007, pdf file size 769 KB


Silakan lihat Formulir Pengajuan SIP, pdf file size 83 Kb