Jam Dunia yang canggih


Kalau Anda ingin melihat jam yang menunjukkan banyak hal (dalam dunia automotive disebut MID = multiple information display) coba berkunjung ke:

http://www.poodwaddle.com/worldclock.swf

Parameter yang diukur pada jam canggih tersebut antara lain (saking banyaknya):

1. Populasi dunia (di update setiap detik)
2. Kelahiran (juga di update setiap detik)
3. Kematian (juga di update setiap detik)

Kemudian ada:
A. Non communicable Diseases, seperti: jumlah penyakit kardiovaskuler, kanker, Penyakit Pernapasan, Penyakit pencernaan, penyakit kencing manis, dll.

B. Penyakit Infeksi, seperti: jumlah Penyakit Kelamin/HIV/AIDS, mencret, malaria, meningitis, hepatitis, lepra, dll

C. Jumlah kecelakaan, seperti: kecelakaan lalulintas, dll

D. Lain-lain, seperti: jumlah infeksi saluran napas, angka kematian ibu, malnutrisi, dll.

Selain angka-angka di bidang kesehatan, muncul pula:
- jumlah komputer yang diproduksi
- jumlah sepeda dan mobil yang diproduksi
- Internet Access Point,
- jumlah perceraian di Amerika Serikat

Komentar Anda?

Kembali berulang, masalah sistem pelayanan kesehatan di Indonesia


Ribut-ribut soal pelayanan kesehatan, menurut saya ini semua adalah cerita lama. Semua sudah tahu masalahnya (ataupun jawabannya), tetapi tidak ada perbaikan. Dari dulu begitu. Semua cuman sampai sebatas wacana.


Memang ada beberapa kemajuan, tetapi bak menggarami air laut, sangat kecil.
Tercatat, dokter tidak perlu ujian negera, tidak perlu berbakti (PTT), praktek maksimal 3 tempat, apalagi?
Tapi ini semua terlihat sangat-sangat parsial.
Karena 'penyelesaian' baru setengah-tengah, jadilah begini. Setiap ada kasus ribut. Setiap orang memunculkan ide tertentu, ribut lagi dengan tanya jawab yang hampir mirip.

Intinya sich menurut saya, kita semua (paling berat yha pemerintah....siapa lagi), harus mulai membenahi sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Asuransi Sosial, dst. dst.

Di luar negeri
Ini bukan hanya pekerjaan Depkes semata. Lihat bagaimana Singapura dan Malaysia, pelayanan kesehatan mereka jadikan industri (apa ada yang protes?). Health Tourism ini didukung penuh oleh departemen-departemen lain yang terkait seperti pariwisata, perdagangan, dll.
Contohnya agar pelayanan (orang Indonesia) di Malaysia bisa menyaingi pelayanan Singapura, pajak di-nol-kan, dst..dst. Sebaliknya, Singapura sangat gencar memasarkan pelayanan kesehatannya kepada turis-turis di pelbagai web dan bandara.

Di Indonesia
Di Indonesia, dokter & masyarakat saling gontok-gontokan. Seru.
Depkes terlihat ditinggal sendiri. Untung Menkes nggak kehilangan akal, dibuatlah acara B4M di Metro TV. Terlihat upaya -meskipun secara halus- penodongan Bu Menkes kepada pihak-pihak yang diwawancarai. Coba deh sekali-kali nonton acara 'seru' ini.
Bravo, maju terus......

Penutup
Sebagai akhir tulisan ini, saya sampaikan (untuk mengingatkan kembali) tulisan saya mengenai Indepence Day pada tahun 1996. Inti tulisan ini, jika tidak cepat-cepat ditanggulangi maka akan terjadi wabah yang tidak seperti kita kenal. Wabah ini lebih dahsyat, karena menyentuh pihak secara keseluruhan bukan hanya perseorangan/kelompok orang.
Untunglah setelah 11 tahun (baca: sebelas tahun), wabah tersebut baru mulai dicari solusinya.
Itu artinya (analogi), wabah yang sama (pelayanan kesehatan di Indonesia), baru bisa selesai 11 tahun lain alias tahun 2007 + 11 = 2018.

Tentu kita semua bermimpi bisa lebih cepat dari itu. Bukankah semua perlu waktu dan tidak semudah membalikan telapak tangan.

Santai man, baca dulu cerita saya di bawah ini yang kalau mau mengakses langsung bisa menuju ke: http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg02341.html

========================

Independence Day


Pernah nonton Independence Day ? Apa yang bisa disimpulkan dari film tersebut ?
Hermawan Kertajaya menulis di Harian Bisnis Indonesia (Selasa, 15 Oktober 1996) bahwa, film tersebut menceritakan situasi di planet bumi pada saat diserang 15 Piring Terbang (UFO). Tahu-tahu, di atas langit ada UFO "parkir". Maunya apa juga nggak tahu. Diajak damai juga nggak mau. Semua pada panik ketika UFO itu mulai menyerang dengan pesawat tempurnya berupa piring terbang kecil !
Ketika diserang balik, ternyata teknologi kita kalah jauh ! Bahkan pakai senjata nuklir pun nggak bisa. Lalu bagaimana ?
Apa hubungannya dengan dunia kesehatan ? Dengan analogi yang sama (menurut Hermawan), kita sudah harus siap menghadapi era globalisasi.
AFTA akan dibuka paling lambat tahun 2003. Apakah kita - para pelaku di bidang kesehatan - siap menghadapi "senjata" manajemen kesehatan dan profesi kesehatan lainnya dari dunia luar Indonesia ?
Cukupkah waktu kita (dunia kesehatan Indonesia) jika pada saat ini kita masih berkutat pada persoalan : jatah pedidikan spesialis, penempatan dokter baru lulus (termasuk spesialis), ujian persamaan (baik untuk perguruan tinggi swasta dalam negeri maupun mereka yang lulus dari universitas luar negeri), dll.
Karena mau tidak mau akan ada "Piring Terbang" yang parkir di bumi tercinta kita ini.
Bagaimana pendapat Anda jika :
  1. Dokter Asing bisa berpraktek di Indonesia ?
  2. Rumah sakit modal asing / joint ventura bisa beroperasi sampai ke desa-desa ?
  3. Universitas luar negeri bisa membuka sekolah kedokteran di Indonesia ?

Tulisan "Independence day" sangat menarik perhatian saya. Walaupun bukan orang Indonesia dan bukan dokter pula, saya merasa simpati terhadap dilema yang dihadapi dunia kesehatan Indonesia. Dalam pekerjaan saya, sering bergaul dan tukar pikiran dengan para dokter PTT yang bertugas di daerah-daerah terpencil di KTI. Tanpa menjelaskan di sini segala masalah dan penderitaan yang mereka hadapi selama masa PTT (pasti yang pernah menjadi dokter PTT tidak perlu diberi penjelasan) saya juga turut prihatin dengan serangan "piring terbang" dari luar angkasa itu. Berbakti di pedalaman selama 3 tahun, belum tentu jadi PTN. Tidak jadi PTN bagaimana dengan spesialisasi? katakanlah pun jadi PTN, mengambil spesialisasi tidak semudah itu. Kalau semua berhasil dan sang dokter dapat spesialisasi dan sudah siap memetik buah hasil ilmunya dan pengorbanan selama bertahun-tahun... baru dengan tenang-tenang masuklah dokter bule dan merampas semua pasien potensial sang dokter Indonesia (maklumlah masih banyak orang Indonesia yang lebih suka memilih "ilmu" dari luar angkasa). Memang dengan dihadapi skenario seperti itu kalau saya dokter, tentu saja bisa jadi sewot. Dan saya akan menjawab "Tidak" pada ketiga pertanyaan yang di atas ini. Tapi apakah itu realistis? Para politikus sini-sono akan jalan terus dengan agenda-nya tersendiri dan apabila dunia kedokteran tidak cepat ikut nompang perdebatan dari posisi yang kuat, pasti ketinggalan.
Kalau menghadapi serangan globalisasi dunia kedokteran Indonesia merasa nervous, itu wajar saja, tetapi globalisasi itu adalah suatu proses dinamis yang tidak bisa di-stop lagi, meskipun dengan counter-serangan "piring terbang". Tentu saja keluhan pihak pelaku kesehatan Indonesia sangat berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya kalau mulai sekarang, semua hal yang dapat merugikan profesi dokter di Indonesia akibat globalisasi dipaham dengan baik, dirundingkan dengan banyak pihak,dan dirumuskan dengan jelas ke dalam suatu 'paket tawaran' sehingga pada saat tertentu pihak dokter memiliki 'bargaining power' yang kuat dan tidak bisa diserang begitu saja. Kini, bargaining dan bukan 'serangan' adalah the name of the game. Selamat berjuang, you have all my sympathy and respect.
lucifero

Fw.: Syarat menjadi dokter yang mendunia

Mau tidak mau, suka tidak suka, Dokter Indonesia harus mendunia.
Kalau ditanya, apakah Dokter Indonesia, masih kurang mendunia?
Berikut ada diskusi di Mailinglist Dokter Indonesia yang menurut saya cukup menarik:


Niklausdj wrote:
Saya punya pertanyaan nih,
bagaimana caranya agar Indonesia dapat melahirkan dokter-dokter muda kelas dunia dalam jumlah yang banyak agar mutu pelayanan kesehatan di Indonesia ini dapat meningkat pesat.

Karena seperti yang kita tahu, saat ini Indonesia jarang sekali menjadi tujuan dunia untuk mengobati suatu penyakit. Rujukannya kebanyakan selalu di luar negeri.
Ada saran??

Jawab:
Pak Niklaus Yth,

saya kira bukan dokternya (saja) yang tidak berkelas dunia, tetapi standar pelayanan di Indonesia dan Rumah sakit umumnya yagn belum berkelas dunia, dalam product, place, price, dan promotionnya. Dokter Indonesia tidak kalah "jago"nya dengan doktern Singapore atau Malaysia, tapi orang lebih suka berobat di sana. Contohnya, ada seorang dokter senior di Sumatera, beberapa kali seminggu ybs praktek di Malaysia atau Singapore, dan pasiennya yagn orang Indonesia dan tinggal di Sumatera (tentunya yang punya uang), berobat kepada beliau di luar negeri.

Saya punya pengalaman pribadi, dulu ketika masih suka ikut mengantar pasien. Saya mengantar pasien dengan masalah ortopedi, sampai di ME hospital S'pore jam 2 malam, 15 menit kemudian dokter ortopedi senior yagn akan mengoperasi dan merawatnya datang untuk say hello, memastikan semuanya sudah dipersiapkan, dan menceritakan apa akan dilakukan. Sebaliknya, saya antar pasien ke RS di Jakarta siang hari, baru siang hari berikutnya sang dokter senior yang akan merawatnya datang, itupun tidak se "friendly" dan terbuka yang di S'pore.

Cotoh lain, saya stop over di RS S'pore malam hari sebelum ke Tokyo membawa pasien stroke. sambil menunggu di RS S'pore beberapa jam, pasien langsung ditangani petugas, termasuk fisioterapi.

Jadi, kalau mau berkelas dunia, tidak cukup hanya dengan kepandaian dan ketrampilan yang tinggi, tetapi personal approach dan touch sangat diperlukan. Tentu dilengkapi kenyamanan di rumah sakit dan sekitarnya.

Semoga menambah wawasan.
Wass,
Amin Soebandrio

Roti sukun yang bergizi

Pembaca blog yang terhormat,
Saya diundang makan roti sukun (sekaligus diberi oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah).
Bagaimana serunya memperoleh sukun tersebut bisa dibaca di kisah di bawah ini.

Mengenai rasanya.....
Wah benar-benar nikmat dan tiada duanya......
Apalagi dimakan bersama teh hangat yang diolah dari kurma merah plus buah kelengkeng kering.

Banyak terima kasih untuk Mbak Janti yang sudah bela-bela-in membuat roti sukun istimewa yang terdiri dari: garlic, cabe merah keriting, sedikit smoked beef dan seledri, bersama sajian teh hangat ......

Berikut kisah yang dituturkan langsung oleh Mbak Janti via e-mail:

Karena nyari buah Sukun di pasar tradisional dekat rumah gak nemu, pas libur 17-an saya sempetin ke FLONA di Lapangan Banteng dengan harapan ada yang jual buah sukun di bagian tanaman buah; eh ternyata gak ada; wahh penasaran juga wong biasanya sering liat sukun (pas gak butuh), sekalinya lagi butuh kok ya dicari-cari gak nemu.

Akhirnya, harapan terakhir ya ke pasar Cikini, ehh dari luar keliatan sepi banget kayak gak ada yang jualan kecuali abang2 penjual gorengan. Nha, ternyata si abang juga jual sukun potongan yang digoreng, saking senengnya, saya langsung bilang sama penjualnya bahwa saya mau borong sukunnya yang belum digoreng dan belum dibumbuin; syukur2 kalo ada yang masih utuh, kalo gak ya dah potongan juga ok.

Tau gak, abangnya bilang 'beli yang udah digoreng aja, bu, udah tinggal dimakan' - ya saya iyain, saya bilang 'pokoknya saya mau beli semua deh, yang digoreng dan yang masih mentah, tolong diitungin aja berapa harganya semua'. Logikanya, kan beneran ya siang2 ada yang ngeborong dagangan, jadi bisa lebih cepet pulang?? Tapi yang satu ini lain; saya sampe rada jengkel juga sama si abang, masa dibilang 'jangan semuanya, bu - kasihan dong ntar saya gak bisa jualan' -----LHO! Sampe bengong deh saya jadinya; lha wong saya ini mau beli dan bayar semua, bukannya mau minta gratisan kok! ASTAGA! Sampe heboh ngejelasinnya ke si abang bahwa yang mentahpun, tanpa digoreng juga saya bayar sama seperti yang digoreng; malahan dia gak usah cape2 ngegoreng n gak usah ngabisin minyaknya buat ngegoreng sukun2 tsb. Waduhh, untunglah akhirnya dia "ngeh" walaupun masih juga gak boleh diborong, paling tidak saya 'diijinkan' beli 10 potong sukun mentah sebagai pasangan 10 potong sukun goreng (!?). Wis, heboh banget yang namanya nyari buah sukun buat bikin roti-:))

Akhir ceritera, roti sukunnya dah berhasil jadi; saya bikin yang biasa (polos) dan yang special (pake garlic, cabe merah keriting, sedikit smoked beef dan seledri); ternyata putra dan suami saya lebih suka yang special; dimakannya sama selada segar, tinggal olesin saus tomat dan sedikit mustard aja. Bukan berarti yang polos gak enak lho; karena justru ada komentar dari salah satu 'taster' di MLDI bahwa yang polos lebih ok menurutnya.

Nanti saya tulis posting terpisah tentang manfaat lain2 pohon Sukun yang baru saya baca dan pelajari dari beberapa sumber.


Oya, semalam ada 4 buah Sukun Thailand plus 1 bibit pohonnya datang sendiri kerumah saya, kiriman dari kebon teman di Bogor-:) Lagi mikir mau bikin apa aja lagi sebagai kreasi yang unik, sehat dan bermanfaat.

salam saya,
Janti SW