IdBlogNetwork

Kembali berulang, masalah sistem pelayanan kesehatan di Indonesia


Ribut-ribut soal pelayanan kesehatan, menurut saya ini semua adalah cerita lama. Semua sudah tahu masalahnya (ataupun jawabannya), tetapi tidak ada perbaikan. Dari dulu begitu. Semua cuman sampai sebatas wacana.


Memang ada beberapa kemajuan, tetapi bak menggarami air laut, sangat kecil.
Tercatat, dokter tidak perlu ujian negera, tidak perlu berbakti (PTT), praktek maksimal 3 tempat, apalagi?
Tapi ini semua terlihat sangat-sangat parsial.
Karena 'penyelesaian' baru setengah-tengah, jadilah begini. Setiap ada kasus ribut. Setiap orang memunculkan ide tertentu, ribut lagi dengan tanya jawab yang hampir mirip.

Intinya sich menurut saya, kita semua (paling berat yha pemerintah....siapa lagi), harus mulai membenahi sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Asuransi Sosial, dst. dst.

Di luar negeri
Ini bukan hanya pekerjaan Depkes semata. Lihat bagaimana Singapura dan Malaysia, pelayanan kesehatan mereka jadikan industri (apa ada yang protes?). Health Tourism ini didukung penuh oleh departemen-departemen lain yang terkait seperti pariwisata, perdagangan, dll.
Contohnya agar pelayanan (orang Indonesia) di Malaysia bisa menyaingi pelayanan Singapura, pajak di-nol-kan, dst..dst. Sebaliknya, Singapura sangat gencar memasarkan pelayanan kesehatannya kepada turis-turis di pelbagai web dan bandara.

Di Indonesia
Di Indonesia, dokter & masyarakat saling gontok-gontokan. Seru.
Depkes terlihat ditinggal sendiri. Untung Menkes nggak kehilangan akal, dibuatlah acara B4M di Metro TV. Terlihat upaya -meskipun secara halus- penodongan Bu Menkes kepada pihak-pihak yang diwawancarai. Coba deh sekali-kali nonton acara 'seru' ini.
Bravo, maju terus......

Penutup
Sebagai akhir tulisan ini, saya sampaikan (untuk mengingatkan kembali) tulisan saya mengenai Indepence Day pada tahun 1996. Inti tulisan ini, jika tidak cepat-cepat ditanggulangi maka akan terjadi wabah yang tidak seperti kita kenal. Wabah ini lebih dahsyat, karena menyentuh pihak secara keseluruhan bukan hanya perseorangan/kelompok orang.
Untunglah setelah 11 tahun (baca: sebelas tahun), wabah tersebut baru mulai dicari solusinya.
Itu artinya (analogi), wabah yang sama (pelayanan kesehatan di Indonesia), baru bisa selesai 11 tahun lain alias tahun 2007 + 11 = 2018.

Tentu kita semua bermimpi bisa lebih cepat dari itu. Bukankah semua perlu waktu dan tidak semudah membalikan telapak tangan.

Santai man, baca dulu cerita saya di bawah ini yang kalau mau mengakses langsung bisa menuju ke: http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg02341.html

========================

Independence Day


Pernah nonton Independence Day ? Apa yang bisa disimpulkan dari film tersebut ?
Hermawan Kertajaya menulis di Harian Bisnis Indonesia (Selasa, 15 Oktober 1996) bahwa, film tersebut menceritakan situasi di planet bumi pada saat diserang 15 Piring Terbang (UFO). Tahu-tahu, di atas langit ada UFO "parkir". Maunya apa juga nggak tahu. Diajak damai juga nggak mau. Semua pada panik ketika UFO itu mulai menyerang dengan pesawat tempurnya berupa piring terbang kecil !
Ketika diserang balik, ternyata teknologi kita kalah jauh ! Bahkan pakai senjata nuklir pun nggak bisa. Lalu bagaimana ?
Apa hubungannya dengan dunia kesehatan ? Dengan analogi yang sama (menurut Hermawan), kita sudah harus siap menghadapi era globalisasi.
AFTA akan dibuka paling lambat tahun 2003. Apakah kita - para pelaku di bidang kesehatan - siap menghadapi "senjata" manajemen kesehatan dan profesi kesehatan lainnya dari dunia luar Indonesia ?
Cukupkah waktu kita (dunia kesehatan Indonesia) jika pada saat ini kita masih berkutat pada persoalan : jatah pedidikan spesialis, penempatan dokter baru lulus (termasuk spesialis), ujian persamaan (baik untuk perguruan tinggi swasta dalam negeri maupun mereka yang lulus dari universitas luar negeri), dll.
Karena mau tidak mau akan ada "Piring Terbang" yang parkir di bumi tercinta kita ini.
Bagaimana pendapat Anda jika :
  1. Dokter Asing bisa berpraktek di Indonesia ?
  2. Rumah sakit modal asing / joint ventura bisa beroperasi sampai ke desa-desa ?
  3. Universitas luar negeri bisa membuka sekolah kedokteran di Indonesia ?

Tulisan "Independence day" sangat menarik perhatian saya. Walaupun bukan orang Indonesia dan bukan dokter pula, saya merasa simpati terhadap dilema yang dihadapi dunia kesehatan Indonesia. Dalam pekerjaan saya, sering bergaul dan tukar pikiran dengan para dokter PTT yang bertugas di daerah-daerah terpencil di KTI. Tanpa menjelaskan di sini segala masalah dan penderitaan yang mereka hadapi selama masa PTT (pasti yang pernah menjadi dokter PTT tidak perlu diberi penjelasan) saya juga turut prihatin dengan serangan "piring terbang" dari luar angkasa itu. Berbakti di pedalaman selama 3 tahun, belum tentu jadi PTN. Tidak jadi PTN bagaimana dengan spesialisasi? katakanlah pun jadi PTN, mengambil spesialisasi tidak semudah itu. Kalau semua berhasil dan sang dokter dapat spesialisasi dan sudah siap memetik buah hasil ilmunya dan pengorbanan selama bertahun-tahun... baru dengan tenang-tenang masuklah dokter bule dan merampas semua pasien potensial sang dokter Indonesia (maklumlah masih banyak orang Indonesia yang lebih suka memilih "ilmu" dari luar angkasa). Memang dengan dihadapi skenario seperti itu kalau saya dokter, tentu saja bisa jadi sewot. Dan saya akan menjawab "Tidak" pada ketiga pertanyaan yang di atas ini. Tapi apakah itu realistis? Para politikus sini-sono akan jalan terus dengan agenda-nya tersendiri dan apabila dunia kedokteran tidak cepat ikut nompang perdebatan dari posisi yang kuat, pasti ketinggalan.
Kalau menghadapi serangan globalisasi dunia kedokteran Indonesia merasa nervous, itu wajar saja, tetapi globalisasi itu adalah suatu proses dinamis yang tidak bisa di-stop lagi, meskipun dengan counter-serangan "piring terbang". Tentu saja keluhan pihak pelaku kesehatan Indonesia sangat berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya kalau mulai sekarang, semua hal yang dapat merugikan profesi dokter di Indonesia akibat globalisasi dipaham dengan baik, dirundingkan dengan banyak pihak,dan dirumuskan dengan jelas ke dalam suatu 'paket tawaran' sehingga pada saat tertentu pihak dokter memiliki 'bargaining power' yang kuat dan tidak bisa diserang begitu saja. Kini, bargaining dan bukan 'serangan' adalah the name of the game. Selamat berjuang, you have all my sympathy and respect.
lucifero

2 komentar:

imcw mengatakan...

semoga keadaan menjadi lebih baik Pak Erik...

abus mengatakan...

Wah aku jadi teringat pengalaman beberapa Saudaraku di Rumah Sakit. Pertama di RS Fatmawati, kita tidak akan dilayani seandainya belum memberikan uang muka kepada RS. Udah mana perawatnya galak-galak en benar2 tidak ramah. Hal yang sama juga terjadi di RS Cipto, dimana perawat lebih "berkuasa" dibanding dokter. Saudara yang lain di RS Bekasi, dalam keadaan sekarat, tidak ditangani oleh dokter & petugas medis lainnya, dengan alasan belum menyetor deposit. Setelah duit datang, baru dijalankan operasi, dan wafatlah dia, kemungkinan karena terlambat penanganan. Menurut saya semua terjadi karena kebijakan kesehatan, yang pastinya berasal dari dokter2 penguasa di RS, yang benar2 amburadul. Hampir seluruh dokter sepertinya menekankan perlunya tarif untuk dibayar dulu sebelum mereka melayani pasien. Hopeless deh...