E-health, memudahkan pasien

Berbagai topik menarik dijalankan pada tiga track paralel konferensi tersebut. Penulis sempat mencatat beberapa topik menarik, seperti:

(keterangan gambar: Dr Hans van der Slikke, President Society for Internet and Medicine, penyelenggara Mednet)

1. Rekam Medis Elektronik
Topik ini dibawakan oleh Dr Volker Wetekam, CEO of Siemens Medical Solution Health Service Jerman. Menurutnya, suatu saat nanti, e-Health bisa meningkatkan kolaborasi antar penyedia jasa pelayanan kesehatan. Rekam Medis Elektronik merupakan dasar yang penting untuk mencapai situasi tersebut. Internet, ramalnya, bisa memacu perkembangan industri kesehatan secara global dalam 5 - 6 tahun ke depan. Saat ini industri kesehatan umumnya masih bersifat lokal ataupun regional, namun ke depan dengan didukung internet sangat mudah untuk mencapai industri yang global.
Dalam bahasa sehari-hari, jika kita sakit atau ingin memeriksakan diri di rumah sakit mana saja, tidak perlu repot lagi membawa-bawa catatan medik kita atau melakukan pemeriksaan ulang semua pemeriksaan yang pernah kita lakukan di rumah sakit asal kita. Ini tentu sangat menghemat waktu dan biaya bagi pasien.

2. Komunitas Kesehatan Online
Lisa Neal dari Amerika Serikat menyoroti pelbagai komunitas kesehatan online yang saat ini menjamur. Dengan adanya komunitas tersebut, baik pasien maupun keluarganya sangat terbantu dalam hal mempelajari mengenai penyakitnya, mencari bantuan maupun untuk saling mendukung / memberi semangat satu sama lainnya. Lisa Neal selain sebagai Adjunct Assistant Clinical Professor dari Public Health and Family Medicine di Tufts University School of Medicine, juga sudah sudah meraih gelar Doktor pada Computer Science dari Harvard University. Suatu kombinasi gelar yang memang cocok untuk bidang Internet Kedokteran ini.

3. Bagaimana konsumen online menetapkan website kesehatan yang bisa dipercaya
Ternyata dengan semakin berkembangnya Internet Kedokteran, masyarakat makin dipenuhi dengan pelbagai tawaran dari banyak pihak untuk 'menjawab' masalah kesehatan yang mereka alami. Untuk melihat perilaku bagaimana para netter (konsumen online) menetapkan website kesehatan mereka dalam mencari informasi, sebuah riset yang dilakukan oleh P. Briggs dkk. dari Northtumbria University, Newcastle, Inggris.

4. Evaluasi pemanfaatan website-website yang menginformasikan kanker
Banyak pihak telah membangun website yang berisi informasi seputar kanker. Tentu semua ini baik adanya. Mencerminkan kepedulian yang besar dari anggota masyarakat terhadap mereka yang kebetulan kurang beruntung kondisi tubuhnya hingga menderita kanker. Penelitian R. Butera, dari Scientific Institute of Pavia, Pavia, Italia, terhadap 13 website kanker, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
  • 8 website dikelola oleh institusi pelayanan kesehatan (rumah sakit, klinik, dll.)
  • 5 website dijalankan oleh pasien/dokter/peneliti
  • fasilitas searching (pencarian) pada web-web yang diteliti, kurang baik, hanya satu web yang sangat efektif
  • isi website sangat terbatas, hanya sedikit yang berhubungan dengan perkembangan penyakit ataupun topik-topik yang disukai/dibutuhkan pasien. Sementara yang mendominasi web-web tersebut adalah yang berhubungan dengan kultur kedokteran, seperti membaca text book saja.
Pada akhirnya team peneliti menyimpulkan bahwa sekitar 2/3 website yang diteliti, gagal untuk memenuhi keinginan sebagian pasien yang mencari informasi mengenai kanker.
Bagaimana di Indonesia? Perlu penelitian tentunya.

5. Workshop Etik
Dari pelbagai workshop yang digelar pada konferensi tersebut, penulis memilih workshop mengenai "Tantangan Etika pada pelayanan konsultasi kesehatan online". Sayangnya karena workshop tersebut dipandu oleh seorang peneliti (bukan praktisi), jalannya workshop tersebut tidak terlalu aplikatif. Pembahasan lebih terpaku pada buku-buku ajar etik kedokteran internet.

(dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO), Senin 22 Oktober 2007)

Bila Saatnya Tiba, Konsultasi Kesehatan via Internet

Sebut saja namanya Maya. Remaja ini sangat gelisah melihat keadaan Bapaknya yang tidak kunjung sembuh dari sakitnya. Ingin berobat ke dokter, tetapi Bapaknya tidak mau. Akhirnya, Maya mulai mencoba mengakses internet untuk mencari info mengenai penyakit Bapaknya sekaligus bertanya pada salah satu milis kesehatan di Internet. Untunglah dengan pelbagai saran dari dokter internet maupun sesama penderita, pelan-pelan Maya berhasil meyakinkan Bapak dan keluarganya untuk segera menangani penyakit tersebut.

Kejadian yang agak berbeda dihadapi oleh Wulan, mahasiswi salah satu universitas terkenal. Sebagai penganut paham sex bebas, Wulan (bukan nama sebenarnya), sangat risau dengan kondisi organ v-nya. Mau bertanya langsung ke dokter, malu rasanya. Iya kalau benar itu penyakit kelamin, kalau bukan khan bisa terbongkar rahasia kehidupan sexualnya selama ini. Jalan satu-satunya, yha... ke warnet dan melakukan konsultasi dengan dokter internet.

Kisah ini bisa diperpanjang lagi, misalnya Andre, karyawan salah satu perusahaan yang rajin melakukan medical check up. Bung Andre ini cukup bingung dengan hasil pemeriksaan laboratorium beberapa waktu yang lalu. Mau berkonsultasi ke mana? Masa mau ke dokter -tidak ada keluhan- hanya untuk bertanya hasil pemeriksaan laboratorium tersebut? Bagaimana kalau bertanya di internet saja?

Setiap kali menyebut "dokter internet" sebagai profesi penulis, hampir sebagian besar yang bertanya mengernyitkan dahi mereka. Apa pula itu? Bagaimana caranya seorang dokter 'memeriksa' pasien menggunakan internet? Ataukah di masa depan, internet bisa menggantikan peran dokter? Wah enak donk yha, bisa nanya macam-macam tanpa takut yang ditanya menjadi bosan. Apalagi jika menggunakan akses internet dari kantor, bisa gratis.

Tulisan berikut ini mencoba menceritakan mengenai aktifitas dokter-dokter internet di dunia dan di Indonesia. Jikalau selama ini kita hanya berhadapan dengan bagian depannya saja (membaca hasil konsultasi, mengakes web kesehatan, dll.), sebenarnya bagaimana aktifitas di belakang itu semua?

Era Internet
Seperti telah kita ketahui bersama, perkembangan pesat internet menjadikan dunia semakin sempit dan mudah. Hampir semua kebutuhan (barang, jasa, informasi, dll.) bisa diperoleh dari internet. Itulah sebabnya, internet sering disebut dengan dunia maya. Ada isinya (dunianya) namun tidak ada fisiknya. Demikian juga dengan info-info kesehatan maupun kedokteran. Jikalau dahulu hanya bisa ditemui saat berhadapan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan, sekarang ini bisa dengan mudah, 24 jam sehari mengakses dunia maya tersebut.

Istilah Dokter Internet diberikan kepada suatu profesi yang melakukan pelayanan kesehatan menggunakan teknologi informasi khususnya internet. Misalnya saja, seorang dokter yang memberi informasi, menjawab pertanyaan pasiennya melalui e-mail, bisa disebut dokter tersebut telah melakukan apa yang dikategorikan sebagai Dokter Internet. Apabila jawaban atau info tersebut diberikan oleh suatu lembaga dalam satu website, maka istilahnya menjadi lebih luas lagi yaitu: Internet Kedokteran atau Medical Internet. Termasuk di dalamnya segala aktifitas pelayanan kesehatan seperti: Electronic Medical Record, Telemedicine, dll.

Demikian kira-kira garis besar pengetahuan yang penulis peroleh saat mengikuti Konferensi (tahunan) Medical Internet ke-12 yang diselenggarakan oleh organisasi Society for Internet and Medicine (SIM), 8 - 10 Oktober 2007. Konferensi kali ini diselenggarakan di suatu kota kecil (eks) Jerman Timur, Leipzig. Dengan tema "Mednet 2007: eHealth Entrepreunership & Evidence", konferensi ini menghadirkan sekitar 80 pembicara dari seluruh dunia. Pesertanya pun tidak kalah bervariasi. Ada sekitar 220 dari 25 negara, antara lain dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, Brazil, Finlandia, Inggris, Iran, Italia, Jerman, Jepang, Republik Cekoslowakia, Turki, Polandia, Spanyol, Swiss, Ukraina, Yunani serta perwakilan WHO dan EU. Penulis menjadi satu-satunya wakil dari Asia non Jepang. Profesi para peserta bermacam-macam selain dokter, seperti mereka yang berkecimpung dalam bidang teknologi informasi (IT), kesehatan mental / psikologi dan etik, sumber daya manusia, peneliti, perusahaan (farmasi dan alat-alat kedokteran), dan lain sebagainya. Sebelum acara konferensi, diadakan workshop mengenai CASCOM.

Pra Konferensi
Acara konferensi didahului oleh Workshop mengenai Context-Aware Business Application Service Coordination in Mobile Computing Environments (CASCOM). Menurut pemaparan dr Ari Kinnnunen dari Emergency Medical Assistance (EMA), Finlandia, project CASCOM ini sedang dikerjakan bersama-sama di 8 negara meliputi: Jerman, Swedia, Swiss, Portugal, Spanyol, Finlandia, Austria dan Italia. Suatu saat, lanjut dr Ari, Catatan Medik elektonik seluruh dunia (Global Electronic Medical Record) akan menjadi kenyataan. Tentu hal ini menggunakan internet sebagai satu-satunya media yang diterima semua orang. Saat ini, jika hal itu belum terjadi, lebih disebabkan oleh hal-hal yang bersifat politik dibandingkan masalah-masalah teknik.

Teknologi CASCOM sangat cocok untuk dijalankan segera. Bayangkan jika kita jatuh sakit di tempat asing. Bagaimana kita bisa mengetahui dengan segera lokasi rumah sakit terdekat yang bisa merawat penyakit yang kita alami? Lalu bagaimana pula cara kita menceritakan gejala penyakit yang kita alami dengan bahasa (minimal) Inggris agar bisa dimengerti oleh petugas kesehatan yang memeriksa kita? Hal-hal di atas merupakan salah satu dari banyak masalah yang bisa diselesaikan jika unit pelayanan kesehatan telah mengikuti pertukaran data dengan teknologi CASCOM.

Dengan ponsel pintar (smart phone), unit gawat darurat (UGD) dan Rumah Sakit yang telah mengadopsi Teknologi CASCOM bisa ditemui lebih cepat. Dengan demikian perawatan-akhir pasien bisa segera dimulai dan prognosis penyakit yang ditangani akan lebih baik dibandingkan dengan perawatan yang terlambat.

Dukung kewirausahaan
Berbeda dengan di Indonesia, di mana pembukaan acara umumnya dilakukan setelah laporan Ketua Panitia Pelaksana, di konferensi kali ini, pembukaan dilakukan oleh Presiden SIM, dr Hans van der Slikke, seorang ahli Kebidanan dan Kandungan dari negeri Belanda. Sesudahnya baru tampil Ketua Panitia Pelaksana dr Christian Elsner MBA, Direktur Center for Healthcare Management (CHM) pada Leipzig Graduate School of Management. Menurut dr Christian, iklim konferensi kali ini sengaja dibuat kondusif untuk pertemuan para pengusaha dalam bidang medical internet. Tentu tidak dilupakan juga semangat pendekatan berbasis bukti (evidence based) yang memang menjadi motor bagi bidang kedokteran seluruh dunia saat ini.

(dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO), Senin 22 Oktober 2007, judul aslinya: Jika tiba waktunya Anda perlu berkonsultasi kesehatan via internet)

Hari 7: Kesempatan menumpang pesawat Singapore Airline

Dalam perjalanan ke Jakarta, pesawat yang kami tumpangi transit di Singapore. Berhenti sebentar untuk kemudian akan melanjutkan terbang ke Jakarta.
Begitu turun dari pesawat tersebut (sekitar pukul 4 sore waktu Singapura), kami diminta masuk ke gate no 22 di bandara Changi Singapura. Buru-buru kami keluar dari pesawat melalui belalai dan masuk ke gate yang ditunjuk. Banyak dari kami para penumpang sudah tak sabar menunggu tiba di Jakarta mengingat sudah sekitar 15 jam kami berada di udara.

Sebelum memasuki gate, barang bawaan kami diperiksa dengan teliti. Notebook harus dikeluarkan dari tas. Tidak boleh membawa cairan yang melebihi 100 cc (kalau pun mau membawa harus dibungkus dalam kantong plastik transparan).
Jika melewati pintu pemeriksaan (detektor) dan keluar bunyi dari mesin, maka sekujur tubuh kami akan diperiksa dengan teliti.

Penulis meng-akalin dengan memasukkan semua benda yang diperkirakan akan mengeluarkan bunyi: kunci, koin, handphone, dll. ke dalam tas, sehingga saat melewati pintu detektor, tidak menimbulkan bunyi. Dan ini berhasil, penulis pun dengan mulus bisa melewati pintu detektor tanpa diperiksa lagi dengan teliti.Kalau nggak, rese' banget harus diperiksa. Diminta buka ini, buka itu,dst..dst..

Dari ruang tunggu, kami bisa melihat moncong pesawat yang telah dan akan kami tumpangi, amat sangat besar. Jaraknya mungkin hanya sekitar 50m. Posisinya pun tepat di depan (karena kami berada di lantai 2). Level kami sedikit lebih tinggi dari pesawat, sehingga saat akan masuk ke badan pesawat melalui belalai, berjalan ke sedikit menurun.

Tak lama kemudian, sedang asyik-asyiknya menunggu sambil terkantuk-kantuk, ada pengumuman. Kata wanita yang mengumumkan, "Jika Anda menengok sebelah kiri Anda, anda akan melihat bahwa pesawat yang akan anda tumpangi memilik lubang (sebesar bola softball, red) di bagian hidung / moncong pesawat. Untuk itu diminta semua penumpang keluar dan check in kembali ke pesawat Singapore Airlines (SQ). Kita akan berangkat menuju Jakarta menggunakan SQ."

Wah....untung masih bisa mendarat di Changi Airport yha.
Nggak tahu sich bagaimana asal lubang ini (tidak diceritakan), namun kelihatannya dengan lubang sebesar itu di hidung pesawat, mereka tidak berani menerbangkannya.
Jujur amat .....:-(.
Terakhir saya mendengar mereka (dalam pengumumannya) sudah menyebutkan "technical problem" untuk memperhalus masalah ini.

Kemudian buru-buru kami melakukan check in (minta no kursi yang baru) ke Singapore Airlines. Keuntungan dibalik musibah ini, akhirnya saya bisa juga merasakan perjalanan dengan SQ yang sudah terkenal tersebut.

Memang benar, pesawatnya beda. Pada setiap kursi pesawat ada televisi yang bisa dipergunakan untuk menonton ataupun main game ataupun mengakses informasi yang lain (dalam rangka traveling dan latihan bahasa). Pelayanannya pun lebih ramah.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam, akhirnya dengan selamat kami semua mendarat di Bandara Soekarno Hatta, sekitar pukul 20:00 WIB. Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Singapura, adalah satu jam lebih awal.

Hari 5: Tertangkap aktifitas menulis di konferensi


Pekerjaan reportase di mana-mana sama rupanya. Di sela-sela aktifitas mengikuti konferensi, para 'kuli keyboard (d/h kuli tinta)' harus pinter-pinter meluangkan waktu untuk mengirim naskah. Demikian pula dengan penulis. Setiap saat mengirim naskah ke Indonesia dan di-upload dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Ini tentu untuk pembaca yang berada di Indonesia dan masyarakat dokter internet yang berada di luar negeri yang belum terlalu familiar dengan Bahasa Indonesia. Aktifitas ini ditangkap oleh salah satu kantor berita Uni Eropah yang secara tak sengaja menangkap aktifitas kuli keyboard Indonesia (tengah). Btw, kalau saya tahu bahwa kita sama-sama kuli keyboard, pasti sudah saya ajak omong yha. :-)

(gambar diambil dari: http://www.ehealthnews.eu/content/view/774/37/, keterangan gambar: eHealthNews.EU Adminsitrator/Editor has a couple of minutes to publish a new article)


Hari ini, hari terakhir konferensi. Sejak awal kelihatan topik yang disajikan merupakan anti klimaks dari topik hari-hari sebelumnya. Selesai makan siang, kita bisa mengikuti pelbagai workshop secara interaktif. Penulis memilih mengikuti workshop mengenai etik pelayanan kesehatan via internet. Workshop menarik lainnya (yang berjalan paralel) adalah virtual gaming. Dijelaskan secara simulasi keadaan-keadaan darurat dan bencana. Dengan belajar (lebih tepat disebut bermain) menggunakan simulasi layaknya sebuah game, tidak terasa pengetahuan kita dala keadaan bencana sudah ter update.Tidak terasa waktu sudah pukul 5 sore. Kami semua berpisah dengan janji akan ketemu di acara konferensi berikutnya.

Hari 3: Acara Konferensi Mednet 2007 dimulai


Tepat pukul 9:20 waktu setempat (atau pukul 14:20 WIB), Konferensi Mednet dibuka secara resmi. Berbeda dengan situasi di Indonesia, dimana Ketua Panitia Pelaksana melaporkan acara, kemudian pembukaan oleh pejabat yang lebih tinggi, di Mednet 2007, pembukaan dilakukan oleh Presiden Mednet Dr Hans van der Slikke, ahli Kebidanan dan Kandungan dari Negeri Belanda dan kemudian laporan dari Ketua Panitia dr Christian Elsner dari Jerman.

Topik yang akan dibawakan dalam konferensi ini bervariasi sesuai dengan tema yang diusung yaitu: "Mednet 2007: eHealth Entrepreneurship & Evidence".

Sekitar 240 peminat dari 40 negara akan diberikan informasi mengenai:
  • Business Concepts and Systemic Economic Effects
  • Economic Effects of Single Applications
  • Telemedicine
  • Clinical Workflow Support
  • eTrials
  • Web-based Consultation, Health Terminals & Virtual Clinic Online
  • Quality of Information
  • eHealth Architecture and Health Records Online
  • Health Records Online and Patient Empowerment
  • eHealth Interoperability
  • Searching / Mining
  • Knowledge Management and Semantics
  • Virtual Community
  • Virtual Learning

Adapun workshop yang bisa diikuti:
  • RFID
  • Integration of ICW Middleware
  • Semantics/Ontology
  • Simulation and Gaming
  • Business Startup
  • Ethics on the Net

Setelah pembukaan dan presentasi oleh dr Volker Wetekam, Siemens Medical Solution, acara dibagi menjadi 3 track:

  • Track I: membahas pelbagai hal tentang Business Concepts and Systemic Economic Effects (tentang e-health) dan Telemedicine
  • Track II: membahas Clinical Workflow Support dan e-Trail
  • Track III: membahas Web-based Consultation and Health Terminals, Virtual Clinic Online and Quality of Information

Beberapa topik menarik

Berikut ditampilkan beberapa topik bahasa dalam bidang Internet Kedokteran:

  1. Healthbot.net: Patient Education with A Natural Speaking Robot before Catheter Ablation (the speaker from: Boston, USA)
  2. Self-management of self-limiting diseases via a web-based communication system for digital triage in Primary Care (the speaker from: Enschede, Netherlands)
  3. The contribution of different of web-base consultation to the quality of care: Experiences of caregivers and care consumers (the speakers from Enschede, Netherlands)
  4. GCPBASE: a web-based tool for remote data capture in a clinical trial (the speaker from: Milan, Italy)
  5. Internet-based Cholesterol Assessment Trial (I-CAT) (the speaker from: Westmead, NSW, Australia)
  6. Evidence based IT: Adaption of the concept of evidence-based-medicine to eHealth (the speaker from: Berlin, Germany)
  7. Electonic Patient Charts Online: A design perspective (Leipzig, Germany)
  8. The STI outpatient clinic online - The use and efficacy of online Syphilis testing and the development of full-scale STI & HIV testing and notification applications online (Amsterdam, Netherlands)
  9. The Reach and use of an Online Healthy Lifestyle program for pregnant program women (Bilthoven, Netherlands)
  10. Screening hidden and multi-faceted risk groups for infectious diseases: Develpotment of an anonymous hepatitits C screening procedure through the internet (Amsterdam, Netherlands)
  11. Global Healthcare via Integration of Service into Virtual Hospitals (Berlin, Germany)
  12. Teleconsultation in maxillo-facial surgery and stomatology: a 2 years experience (Donetsk, Ukraine)
  13. Telesurgery - Expectations and Realty (Leipzig, Germany)
  14. The Italian Monitoring Center for Pharmacological Clinical Trial: an effective internet-based tool and source of information (Rome, Italy)
  15. Evaluating Cancer Pain Websites (Milan, Italy)
  16. Usability evaluation of cancer websites (Pavia, Italy)
  17. The Quality of cardiovascular Health Websites easily accessible to Australians (Westmead, NSW, Australia)
  18. AQUA (Assisting Quality Assessment): a system based on Semantic web and information extraction technologies to support medical quality labelling agencies (Berlin, Germany)

Hari 2: Berjumpa teman lama yang belum pernah ketemu langsung

Mengunjungi BioCity, tempat acara dilaksanakan penulis lakukan pagi hari. Sesampainya di tempat pelaksanaan acara, ternyata sudah ada satu orang yang tiba duluan sebelum penulis yaitu Mr. Esat dari Turki, yang akhirnya jadi sahabat akrab penulis sehari-hari. Orangnya baik (waktu itu sih belum kenal) dan sangat suka menolong. Beliau adalah Konsultan Sistem Informasi Kesehatan dan IT.

Mengenai materi workshop / konferensi tidak akan dibahas detail di blog ini. Bisa membaca di media online atau media cetak yang biasa memuat tulisan penulis.

Setelah bertemu dengan Ketua Panitia dan Panitia Pelaksana, penulis diberi perangkat konferensi dan diminta untuk bersabar karena workshop baru akan dimulai sesudah makan siang. Buat penulis nggak masalah. Lebih baik berada di tempat pelaksanaan acara dibandingkan di hotel yang tidak punya akses wifi/internet.

Dengan internet, e-mail-e-mail bisa direply dan banyak kerjaan yang bisa dilakukan antara lain mengupdate blog ini.

Penulis memang membawa laptop untuk presentasi nantinya. Jadi dengan akses wifi yang gratis di Biocity, bisa dech selalu up date info-info terkini dari internet. Sayang, selama konferensi, tidak ada waktu mengakses hal ini karena begitu menariknya topik-topik yang dibawakan.

Topik workshop pra konferensi kali adalah mengenai teknologi CASCOM (Context-Aware Business Application Service Coordination in Mobile Computing Environments) yang sudah diadaptasi di 8 negara seperti: Jerman, Swedia, Swiss, Portugal, Spanyol, Finlandia, Austria dan Italia. Lumayan jadi tahu bagaimana caranya klinik/rumah sakit di negara-negara tersebut saling berkomunikasi demi kebaikan pasien-pasiennya.

Selesai workshop jam 5 sore, penulis bersama beberapa teman dari Swiss, Turki, dll., berjalan menuju shelter tram. Di Leipzig ada moda transportasi kereta (train) untuk lintas kota dan trem untuk di dalam kota. Trem ini bisa disebut seperti bus way di Jakarta. Uniknya orang-orang di sini, kalau ditanya train no berapa, mereka selalu menginformasikan jam kedatangan. Misalnya, jika ingin ke daerah A, mesti naik train no berapa? Jawab mereka, yang datang pada pukul 17:15, terus turunnya di jam 18:00. Buset dech....

Kembali meneruskan kisah sore tersebut.
Sesampai kami di shelter (akan menuju ke main railway station, dekat tempat penulis menginap), kami ketemu dengan seorang bule yang ingin menukar koin. Dengan sigap, orang Turki, sahabat baru penulis langsung memberikan koin. Namun karena tidak cukup uangnya si Turki, maka koin tersebut dipinjam ke si bule, dengan janji akan diganti besok di tempat konferensi. Ehhh. tiba-tiba si bule menyapa penulis (waktu itu tag name penuli belum sempat dicopot). "Dr Erik yha?' Wah kaget juga, di daerah yang tidak mengenal satu orangpun, koq ada yang mau menyapa?

"Saya dr Hans dari Belanda", katanya memperkenalkan diri. Wah ini dia, Dokter Internet Belanda yang sudah lama saya kenal. Dr Hans adalah seorang dokter Kebidanan dan Kandungan tapi sangat aktif di bidang Medical Internet di negaranya maupun di dunia. Selama ini, kami hanya berkomunikasi via e-mail dan belum pernah bertemu satu kalipun.

Akhirnya (karena kebetulan hotelnya dekat), kami pulang bersama dan ngobrol. Masih tidak ingin berpisah kami sepakat untuk keluar makan malam bersama. Kami berdua mencari makan (makanan brazil, kalau nggak salah). Dr Hans sangat baik berkenan mentranslate menu (bahasa Jerman) ke bahasa Inggris agar bisa dimengerti penulis.

Rupanya hal ini terlihat oleh pelayan restoran dan langsung menawarkan menu dalam bahasa Inggris. Coba dari tadi kita minta menu dalam bahasa Inggris, khan nggak perlu repot-repot men-translatenya.

Tapi, yha sama saja, meskipun sudah dalam bahasa Inggris, masakan-masakan dalam menu tersebut serba asing buat penulis. Agar aman penulis memilih ayam goreng plus nanas dan beberapa sayur-sayuran. Untung makanannya cukup lezat....(nggak salah pilih).

Siap untuk acara konferensi besok hari. Mudah-mudahan banyak bahan yang bisa dibawa ke Indonesia untuk perkembangan Dokter Internet di Indonesia.

Hari I: Diakalin hotel tempat menginap

Hari pertama mendarat di Leipzig sudah diliputi kekecewaan. Jauh-jauh hari sudah membook hotel, namun saat mendaftar kembali, mereka tidak mau tahu. Biaya breakfast yang tadinya digratiskan harus ditambah bayarannya. Hitung-hitung sih tidak begitu besar dan pantas untuk ukuran di Leipzig (ini saya tahu hari-hari terakhir, namun pada hari pertama, sempat ngotot-ngototan).
Tiba sekitar jam satu siang. Berarti di Jakarta sudah pukul 1 + 5 atau pkl. 6 sore. Lucunya saat stop over (transit) dari Frankfurt (dalam foto) menuju Leipzig, kita mempergunakan pesawat jet kecil. Kapasitas maksimal 80 orang. Terisi penuh semua. Perjalanan sekitar 45 menit. Jalannya di atas awan, begitu mau mendarat barulah pesawat tersebut menembus lapisan awan. Sekitar 10 menit, kami penumpang pesawat tidak bisa melihat apa-apa kecuali putih semua di luar pesawat (jadi ingat lagunya Peter Pan, Di Balik Awan). Begitu keluar lapisan awan ternyata sudah berada di atas run way bandara. Tak lama kemudian, tibalah kita di darat.

Thanks God, akhirnya sampai juga saya di Leipzig. Besok adalah hari-hari yang padat karena acara konferensi akan segera dimulai dari pagi hingga sore hari.

Lucunya bandara Hella tempat mendarat, suasananya sangat-sangat sepi. Selain penumpang, terlihat -mungkin- hanya ada 3 petugas. Yang mendarat pun hanya pesawat yang kita tumpangi. Berbeda dengan Jakarta, Leipzig suasananya relatif sepi.
Terlihat beberapa mobil kecil yang hanya 2 tempat duduk (dari Mercedes, katanya). Juga terlihat Suzuki Karimun (nggak tahu merknya apa di sini, mungkin estillo). Sayang nggak sempat terfoto karena berlalu begitu cepat.


Karena tenaga kerja yang mahal di sini, jadi semuanya harus dikerjakan sendiri. Tidak ada penjaga kamar kecil. Kertas, dll. yang diperlukan harus di ambil sendiri (sudah disediakan banyak sih dekat washtafel). Saya pikir, kalau ini di Jakarta, sudah lama kertas-kertas tersebut hilang/habis.

Oh iya, satu lagi kekecewaan saya dengan hotel tempat menginap. Dalam informasi di internet ditulis tersedia hot spot, ternyata -memang- tersedia NAMUN harus bayar. Kalau mau menggunakan internet harus menggunakan PC yang cuman 1 itu di lobby.
Malangnya, keyboard internetnya berbeda dengan keyboard yang biasa kita gunakan sehingga bisa salah-salah ketik. Contohnya huruf "Y" dan "Z" bertukar tempat. Bayangkan betapa ribetnya mengetik dengan 'pertukaran' tempat huruf tersebut.

Mencari air untuk minum
Ternyata di sini sangat susah untuk mencari air untuk minum. Kalau minta mineral water, maka akan diberikan air soda (?). Nggak enak.....
Namanya (akhirnya saya tahu) buble water..... air yang berbusa.

Namun akhirnya ketemu juga, merk Evian. Mahal juga sekitar 3 Euro. Namun setelah tanya sana tanya sini, ternyata air keran boleh diminum (tap water). Masalahnya keran selalu berada di kamar kecil. Jadi -masalah psikologis saja- mesti ditampung dulu di botol Pristine (air botolan yang saya bawa dari Indonesia), baru di minum.


Begitu dulu laporan saya, nanti akan diteruskan.

HARI 0: Mencoba akses internet telpon

Saat menulis e-mail ini saya berada di Bandara dalam rangka perjalanan menuju Leipzig - Jerman. Saya akan menghadiri Konferensi Dokter Internet Internasional.

Wah apa lagi itu? Tentu muncul pertanyaan diantara pembaca.
Memang benar, kita para dokter internet (dan juga mereka yang senang mencari info kesehatan/berkonsultasi) tidak perlu risau. Di dunia saat ini sudah ada perkumpulan Dokter Internet. Tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk memperkenalkan kemajuan para dokter internet indonesia. Supaya seluruh dunia tahu (khususnya bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia internet kedokteran) bahwa di Indonesia sudah ada kegiatan di bidang Dokter Internet.

Banyak yang menumpang Luthfansa
Dalam pikiran saya, pasti penumpang Lutfhfansa akan sedikit. Siapa juga dingin-dingin begini akan ke Jerman, khususnya Frankfurt. Ternyata tebakan saya meleset jauh.

Penumpangnya membludak. Sungguh sangat-sangat membludak. Saya datang dari pukul 3 sore (kalau di jadwal pesawat berangkat pkl. 18:55 WIB), ternyata sudah tidak bisa milih tempat. Padahal ini perjalanan yang panjaaaaaaannnggg banget. Total 22 jam.
(Dalam foto tampak suasana buka puasa di Lounge Bar yang rame)

Ada beberapa rombongan tour yang akan ke Eropah Timur. Begitu juga banyak yang akan ke Singapura memilih menumpang operator penerbangan milik Jerman ini.

Katanya tiketnya lebih murah, karena penumpang SQ sudah membludak. SQ sendiri untuk 'peak season' ini tidak memberlakukan children rate katanya. Sudah terlalu penuh. Bisa dimengerti, ini adalah awal liburan yang panjang. Hampir 3 minggu kalau mau dihitung-hitung.

Akses telepon via Handphone
Kemarin saya diberitahu oleh OKENET bahwa ada program mengakses telepon dengan mempergunakan internet. Tentu ini kebetulan sekali. Harga telpon ke Jerman khan mahal. Jadi saat saya di Jerman dan ingin menelpon, tentu cukup mencari hotspot saja. Murah dechhh. Begitu pemikiran saya.

Saya diberitahu oleh pihak Okenet bahwa cukup mengirim SMS ke 9800 dengan isi "SMS E VoIP" maka akan menerima pengesetan otomatis (OTA) via SMS, kemudian langsung save(?) dan di eksekusi/install.

Sampai malam (sekitar pukul 22:00) saya bersama customer/teknisi mengutak-atik hal ini. SMS sudah dikirim, tetapi tidak ada 'kiriman balik' dari Intouch (provider yang menyediakan software).
Boleh juga nich OKEnet, kerja sampai malam!!!
Akhirnya saya sendiri yang memutuskan, Titin (nama customer service-nya), kita

lanjutin besok saja yha......... Ok Pak, begitu SMSnya.
Sudah jam 10 belum selesai juga.

Besok pagi, kembali 'pekerjaan' diteruskan. Akhirnya berhasil juga software tersebut masuk ke Handphone saya. Setelah di-install, masuk password dan berjalan....... eitsss tunggu dulu. Ternyata ada hambatan juga. Si programnya membutuhkan hot spot. Saya bilang ke Titin, apakah bisa menggunakan GPRS saja?
"Bisa dua-duanya Pak!" jawab Titin yakin
"Iya, tapi saya mau menggunakan GPRS"
"Kalau GPRS mahal Pak"
"Biar mahal saya mau, cuman mau ngetest doank, bagaimana menggunakan VoIP.
Masalahnya saat ini tidak ada hotspot. Kalau ada ngapain saya bela-bela-in nanya apakah bisa GPRS?"

Kenapa pertanyaan ini bisa muncul, karena saat membuka software tersebut, rupanya sudah langsung keluar/display WLan yang biasa saya gunakan. Padahal pada saat ini saya tidak berada di hotspot tersebut. Dalam software tersebut tidak ada pilihan menggunakan GPRS.

Akhirnya jawabannya keluar juga, "Bapak mesti mengaktifkan GPRSnya ke provider Bapak", kata Titin via SMS.

$%^)(*&^%^*()_)(*, selama ini khan saya sudah menggunakan GPRS, akses internet, dll.
Ya sudahlah saya mesti bersabar kalau begitu.

Di Bandara
Eh...... saat saya ketemu Hot Spot di Bandara Soekarno Hatta, tiba-tiba handphone saya berdering. Ternyata Titin dengan VoIP mengontak saya.
Pengalaman baru untuk saya melakukan pembicaraan via internet.
Suaranya nyaring sekali, sayang ada delay dan rasanya tidak bisa berbicara bersamaan (duplex). Sering tabrakan.

Yang canggih, handset yang saya gunakan, dalam contact, ada fasilitas telpon internetnya. Jadi begitu nomor telpon internetnya kita masukkan ke field di contact, maka sudah tidak ada bedanya lagi menggunakan telpon biasa maupun telpon internet.
Sungguh pengalaman yang menyenangkan.

Sayang..........., baru bisa menelpon ke PSTN luar negeri (katanya).

Pengalaman seru ini akan dilanjutkan di topik-topik berikutnya.


Berita ini ditulis dari Bar Lounge Bandara Airport yang termasuk harus menggunakan Kartu Kredit Citibank (di charge lagi).