IdBlogNetwork

E-health, memudahkan pasien

Berbagai topik menarik dijalankan pada tiga track paralel konferensi tersebut. Penulis sempat mencatat beberapa topik menarik, seperti:

(keterangan gambar: Dr Hans van der Slikke, President Society for Internet and Medicine, penyelenggara Mednet)

1. Rekam Medis Elektronik
Topik ini dibawakan oleh Dr Volker Wetekam, CEO of Siemens Medical Solution Health Service Jerman. Menurutnya, suatu saat nanti, e-Health bisa meningkatkan kolaborasi antar penyedia jasa pelayanan kesehatan. Rekam Medis Elektronik merupakan dasar yang penting untuk mencapai situasi tersebut. Internet, ramalnya, bisa memacu perkembangan industri kesehatan secara global dalam 5 - 6 tahun ke depan. Saat ini industri kesehatan umumnya masih bersifat lokal ataupun regional, namun ke depan dengan didukung internet sangat mudah untuk mencapai industri yang global.
Dalam bahasa sehari-hari, jika kita sakit atau ingin memeriksakan diri di rumah sakit mana saja, tidak perlu repot lagi membawa-bawa catatan medik kita atau melakukan pemeriksaan ulang semua pemeriksaan yang pernah kita lakukan di rumah sakit asal kita. Ini tentu sangat menghemat waktu dan biaya bagi pasien.

2. Komunitas Kesehatan Online
Lisa Neal dari Amerika Serikat menyoroti pelbagai komunitas kesehatan online yang saat ini menjamur. Dengan adanya komunitas tersebut, baik pasien maupun keluarganya sangat terbantu dalam hal mempelajari mengenai penyakitnya, mencari bantuan maupun untuk saling mendukung / memberi semangat satu sama lainnya. Lisa Neal selain sebagai Adjunct Assistant Clinical Professor dari Public Health and Family Medicine di Tufts University School of Medicine, juga sudah sudah meraih gelar Doktor pada Computer Science dari Harvard University. Suatu kombinasi gelar yang memang cocok untuk bidang Internet Kedokteran ini.

3. Bagaimana konsumen online menetapkan website kesehatan yang bisa dipercaya
Ternyata dengan semakin berkembangnya Internet Kedokteran, masyarakat makin dipenuhi dengan pelbagai tawaran dari banyak pihak untuk 'menjawab' masalah kesehatan yang mereka alami. Untuk melihat perilaku bagaimana para netter (konsumen online) menetapkan website kesehatan mereka dalam mencari informasi, sebuah riset yang dilakukan oleh P. Briggs dkk. dari Northtumbria University, Newcastle, Inggris.

4. Evaluasi pemanfaatan website-website yang menginformasikan kanker
Banyak pihak telah membangun website yang berisi informasi seputar kanker. Tentu semua ini baik adanya. Mencerminkan kepedulian yang besar dari anggota masyarakat terhadap mereka yang kebetulan kurang beruntung kondisi tubuhnya hingga menderita kanker. Penelitian R. Butera, dari Scientific Institute of Pavia, Pavia, Italia, terhadap 13 website kanker, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
  • 8 website dikelola oleh institusi pelayanan kesehatan (rumah sakit, klinik, dll.)
  • 5 website dijalankan oleh pasien/dokter/peneliti
  • fasilitas searching (pencarian) pada web-web yang diteliti, kurang baik, hanya satu web yang sangat efektif
  • isi website sangat terbatas, hanya sedikit yang berhubungan dengan perkembangan penyakit ataupun topik-topik yang disukai/dibutuhkan pasien. Sementara yang mendominasi web-web tersebut adalah yang berhubungan dengan kultur kedokteran, seperti membaca text book saja.
Pada akhirnya team peneliti menyimpulkan bahwa sekitar 2/3 website yang diteliti, gagal untuk memenuhi keinginan sebagian pasien yang mencari informasi mengenai kanker.
Bagaimana di Indonesia? Perlu penelitian tentunya.

5. Workshop Etik
Dari pelbagai workshop yang digelar pada konferensi tersebut, penulis memilih workshop mengenai "Tantangan Etika pada pelayanan konsultasi kesehatan online". Sayangnya karena workshop tersebut dipandu oleh seorang peneliti (bukan praktisi), jalannya workshop tersebut tidak terlalu aplikatif. Pembahasan lebih terpaku pada buku-buku ajar etik kedokteran internet.

(dimuat di Harian Seputar Indonesia (SINDO), Senin 22 Oktober 2007)

2 komentar:

Istiti-Kandarina mengatakan...

Mas Erik,
saya sudah baca blogshot, tapi balasnya sulit. Ini memang kemajuan dokter internet
namun hanya untuk konsumsi masyarakat kota, bagaimana dengan mereka yang nun
jauh di sana. Apakah Simkes di Puskesmas mendapatkan perhatian? dimana untuk
mendapatkan dokter PTTpun sulit.
salam,

Istiti-Kandarina
(japri 1 November 2007)

Tony mengatakan...

Dokter Erik saya sudah punya website seperti kata dokter di www.bedahumum.com gimana cara memasyarakatkannya