IdBlogNetwork

Ber-bahaya-kah generator ozone itu?

Saat ini ramai ditawarkan mengenai satu alat penghasil Ozone. Bentuknya portable dan bisa berfungsi dengan 2 cara. Yang pertama, secara langsung bisa menghasilkan ozone yang memenuhi ruangan kita dan cara yang lain adalah membersihkan bahan mentah yang akan kita olah untuk dikonsumsi, seperti: daging, sayur-sayuran dan buah-buahan. Tentu dengan perantara air bersih yang kita 'ozonisasi' langsung.

Penulis, mungkin sama seperti Anda-anda sekalian, pernah ditawarin alat ini.

Mereka menawarkan seperti ini:
  1. Jika para dokter membeli alat ini, beli satu dapat dua.
  2. Satu digunakan untuk pribadi dokter dan yang satu lagi diletakkan di tempat praktek sebagai alat demo.



Untuk mendukung hal tersebut, mereka / penjual akan melakukan mempertunjukkan:
  1. alat-alat demo
  2. surat penelitian dari pelbagai institusi (dalam dan luar negeri)
  3. daftar pembeli sebelumnya (yang ini benar ada nggak yha? Maklum saya hadir di acara dokter-dokter waktu itu, dan ditunjukkan para 'dokter' yang membeli)

Yang menarik, salah satu / banyak yang diperlihatkan adalah:
  1. Paha ayam yang telah direndam pada air yang telah di-ozone-isasi melalui 'ozon' yang keluar dari slang kecil. Menurut mereka, kadar hormon pada ayam ini telah dihilangkan akibat dicuci dengan air ber-ozone tersebut
  2. Buah-buahan dan sayuran yang -sekali lagi- direndam pada air yang telah di-ozone. Lapisan lilin pada buah (biasanya apel) hilang dan sayur kelihatan lebih segar, katanya.

Tertarik?
Sejak kita tahu bahwa perlindungan kita di Indonesia terhadap apa yang kita konsumsi lemah (terdapat / terkontaminasi baik sengaja maupun tidak dengan formalin dan polutan yang lain), maka tentu saja saya menjadi tertarik.


Namun ada satu hal yang mengganggu pemikiran saya. Bukankah Ozone itu berbahaya?
Hal inilah yang menyebabkan saya mencari tahu via internet mengenai alat tersebut.
Hasilnya sangat-sangat mencengangkan.

Dari situs-situs resmi (kredibel) saya memperoleh informasi yang pada kesimpulannya sbb:


  1. http://www.epa.gov/iaq/pubs/ozonegen.html
  2. http://www.rhtubs.com/indoor-ozone-danger.htm

Whether in its pure form or mixed with other chemicals, ozone can be harmful to health. When inhaled, ozone can damage the lungs. Relatively low amounts of ozone can cause chest pain, coughing, shortness of breath and, throat irritation. It may also worsen chronic respiratory diseases such as asthma as well as compromise the ability of the body to fight respiratory infections.

Some studies show that ozone concentrations produced by ozone generators can exceed health standards even when one follows manufacturer’s instructions. Many factors affect ozone concentrations including the amount of ozone produced by the machine(s), the size of the indoor space, the amount of material in the room with which ozone reacts, the outdoor ozone concentration, and the amount of ventilation. These factors make it difficult to control the ozone concentration in all circumstances.

Available scientific evidence shows that, at concentrations that do not exceed public health standards, ozone is generally ineffective in controlling indoor air pollution. The concentration of ozone would have to greatly exceed health standards to be effective in removing most indoor air contaminants. In the process of reacting with chemicals indoors, ozone can produce other chemicals that themselves can be irritating and corrosive.



Beberapa URL lain yang saya peroleh (situs terpercaya):

  1. Health Fraud and AIDS, http://www.fda.gov/oashi/aids/rwtest.html
  2. American Cancer Society, http://www.cancer.org/docroot/ETO/content/ETO_5_3X_Oxygen_Therapy.asp?sitearea=ETO
  3. An FDA Guide to Choosing Medical Treatments, http://www.fda.gov/oashi/aids/fdaguide.html
  4. Ozone Generators Generate Prison Terms for Couple, http://www.fda.gov/fdac/departs/1999/699_irs.html


Masih tertarik juga?
Bagaimana pendapat Anda?
Untuk lebih jelasnya saya sertakan foto-foto dari ozone generator yang saya peroleh dari internet.

Sewa atau Beli Software?

Rekan-rekan pembaca,
Mungkin ada yang bisa menjelaskan kepada saya, statemen yang saya ambil dari Harian Seputar Indonesia, Senin 14 Maret 2007, halaman 14.
Dengan tajuk "Pemerintah Pilih Sewa Sistem TI" berita tersebut menulis:

JAKARTA (SINDO) - Pemerintah mempertimbangkan untuk menggunakan peranti lunak (software) sewaan dalam rangka pengaplikasian sistem teknologi informai (TI) di instansi pemerintah. Penyewaan dinilai lebih menguntungkan dibandingkan membeli karena perkembangan teknologi sangat cepat. [cut]...

Sebenarnya sewa atau beli yha?
Asumsi saya -yang awam- kalau kita membeli sesuatu, artinya barang itu milik kita. Kalau menyewa artinya kita perlu membayar dalam jangka waktu tertentu, misalnya setahun.
Untuk bidang software (yang ini yang saya belum mengerti), kalau kita membeli satu jenis software, kita tetap harus membayar uang setiap tahun untuk lisensinya.
Sebenarnya ini menyewa atau membeli?

Ada yang bisa bantu?

Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) FKUI, 17 - 18 Maret 2007

Sewaktu memperoleh undangan untuk menghadiri acara KPPIK, terbesit keraguan di hati penulis. Di long weekend begini (libur selama tiga hari), apakah acara KPPIK akan berlangsung ramai?
Ternyata perkiraan penulis meleset. Sejak hari pertama (Sabtu) hingga hari Minggu, tak kurang 1.300 dokter (sebagian besar dokter umum) datang dan mengikuti kuliah yang dibawakan oleh sekitar 70 pembicara yang terbagi atas 3 kuliah umum, 24 simposium (72 topik) dan 6 temu ahli serta memorial lecture.

Sebelum KPPIK ini, sebagai pendahuluan telah dilangsungkan 6 kursus yang dihadiri oleh sekitar 250 peserta, yang terdiri dari kursus:
- Value Based Medicine
- Medical Journal Writing
- Inhalation Therapy
- Rontgen, USG & Multislice CT (MSCT)
- Urinary Incontinence
- Electrocardiogram (ECG)
Mewakili Menkes Kesehatan RI, membuka acara ini adalah Staf Ahli Menkes bidang Pendayagunaan Keuangan dan Komunitas, Dr Eddie Naydial Roesdal, MSc PH, FICD.
(tampak dari ki-ka: Iwan Asmara, Djoko Widodo, Eddie Naydial, Menaldi Rasmin)

Topik

Acara yang dikomandani oleh Dr Iwan Asmara Achmad, SpB, SpU(K) ini menghadirkan beberapa topik yang penting dan sangat bermanfaat bagi para dokter umum sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan, seperti:
- Penanganan Batuk Berulang
- Penanganan Penyalahgunaan Obat
- DBD
- Paradigma Baru Probiotik
- Nyeri / kolik Abdominal
- Osteo Artritis dan Pengobatan Terbaru
- Deteksi Dini dengan Radiologi
- Penatalaksanaan Migren dan Stroke
- Gangguan Kulit dan Penampilan
- Hipertensi dan Gangguan Ginjal
- Penanganan Perdarahan via vagina
- Penanganan Obesitas dan Dislipidemia
- Penanganan Tuberkulosa
- Penanganan Gagal Jantung
- dll

KPPIK
KPPIK adalah suatu acara tahunan yang sudah diadakan oleh Unit Pendidikan Kedokteran - Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan / Continuing Medical Education - Professional Development Unit (UPK-PKB/CME-DPU) FKUI yang sudah diadakan sejak tahun 1998. Pada tahun 2003, KPPIK pernah diikuti peserta sekitar 5.000 dokter. Pada tahun 2007, tema yang diangkat adalah " Early Diagnosis & Prompt Treatment in Medicine: Improving Quality Assurance (Diagnosa Dini dan Penatalaksanaan Segera) ". Tema ini dipilih dengan harapan dokter-dokter praktek akan mendapat banyak informasi bagaimana mengenal penyakit secara dini dengan menggabungkan data klinik dan laboratorium sehingga penatalaksanaan yang tepat segera bisa diberikan.

Dalam sambutannya Dekan FKUI, Dr Menaldi Rasmin menghimbau agar para dokter umum tidak boleh ketinggalan dengan masyarakat awam / pasien dalam mengakses informasi.

Iya, jangan mau kalah donk, kita para dokter dengan masyarakat non dokter.
Channel akses informasi sangat terbuka bagi kita yang rajin mencarinya. Contohnya via internet seperti ini.

Menunggu Dialisis Gratis


Hari ini, penulis diundang menghadiri acara Indonesian Peritoneal Dialisys College 2007. Acara yang berlangsung selama 2 hari tersebut dihadiri sekitar 450-an dokter-dokter yang berkecimpung dalam bidang ginjal dari seluruh Indonesia. Ada dokter spesialis penyakit dalam, dokter bedah dan dokter-dokter umum yang bekerja dan meminati bidang nefrologi (ilmu yang mempelajari ginjal).

Tampak hadir dalam acara yang bergengsi ini, Ketua Umum PERNEFRI (Perhimpunan Nefrologist Indonesia), dr Suhardjono, pakar CAPD, dr Tunggul D Situmorang dan pembicara tamu, dr Zaki Morad bin Mohamad, Elected President Asia Pacific Nephrologist Association dari Malaysia.

Hal yang menarik yang bisa ditiru Indonesia, di banyak negara Asia/Australia, ternyata biaya dialisa (baik hemo maupun peritoneal), ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah, sebut saja Malaysia, Hongkong, dll.
Kapan yha di Indonesia?
Nggak usah muluk-muluk deh, pembebasan (keringanan) pajak alat-alat dialisis saja, sudah lumayan meringankan penderita para penyandang Penyakit Ginjal Terminal.

Kelompok Pasien Penderita
Hal menarik lainnya, adalah pertanyaan dari salah seorang dokter (dari Bali) atas sharing pengalaman dari dr Zaki, bahwa di Malaysia ada kelompok pasien/penderita yang 3 bulan sekali mengadakan pertemuan dan tamasya bersama.
Tampaknya banyak yang belum mengenal IKCC yha?
IKCC adalah organisasi nir laba dari para penderita ginjal dan mereka yang peduli, yang aktif mengadakan pertemuan sebulan sekali dan mengadakan tamasya (outing), setahun sekali.

Untunglah ada dr Tunggul yang langsung mempromosikan organisasi IKCC ini.
Bravo....

Sinetron yang tidak mendidik


Mengamati milis Ginjal akhir-akhir ini, ada diskusi hangat mengenai bagaimana menjadi Donatur Ginjal. Apa-apa saja yang perlu diperhatikan setelah seseorang 'menyumbangkan' ginjalnya.

Tak disengaja saya sempat menyaksikan salah satu sinetron yang menceritakan seorang anak (wanita) mendonorkan ginjalnya kepada ibunya. Kemudian anak tersebut jatuh sakit. Inti ceritanya seperti itu.

Menurut saya -dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada mereka yang terlibat pembuatan sinetron ini- hal ini sangat berpengaruh terhadap keinginan orang untuk menjadi donatur ginjal. Padahal seperti kita ketahui, ginjal yang paling baik berasal dari orang hidup.

Bagaimana pendapat Anda?

Selamat Hari Ginjal 8 Maret 2007

Problem kran yang canggih / unik




Memiliki barang yang unik (tidak biasa), tak selamanya enak. Baru-baru ini kran wastafel di kamar-kecil-untuk-tamu di rumah saya rusak. Penyebabnya adalah sang tamu belum familiar bagaimana caranya agar kran tersebut berfungsi mengeluarkan air.
Daripada memutar ke kanan (searah jarum jam), sang tamu malah mengangkat (paksa) ke atas.
Akibatnya....., kran tersebut lepas dari dudukannya.
Kira-kira pembaca punya saran, ke depan, apa yang saya harus lakukan agar tidak mengalami kejadian yang sama (berulang)?

Apa perlu dibuat semacam pengumuman di atas wastafel?
(Wah....sudah kaya' di kantor-kantor saja.)
Atau ada ide lainnya?
Di tunggu saran-sarannya, paling lambat 1 April 2007.
Saran yang paling baik dan aplikatif akan diberi hadiah menarik.