IdBlogNetwork

Jilat yukkk....

Artikel yang bisa dibaca pada Kompas hari ini, Minggu 16 Desember 2007, mengingatkan saya saat diskusi dengan teman saya yang bekerja pada salah satu perusahaan IT di Jakarta. Teman saya mengeluh soal situasi di kantornya yang mana prestasi tidak terlalu penting, melainkan bagaimana cara 'menjilat' pimpinan perusahaan mereka menjadi lebih menonjol.

Tanggapan Anda?
Tanggapan saya, sungguh kasihan perusahaan tersebut yang mulai membangun cara kerja berdasarkan jilat-menjilat.

Bagi saya, pimpinan yang baik adalah mereka yang bisa membina anak-anak asuhannya dalam team untuk mencapai tujuan bersama, bukan untuk menjilatnya. Baik pimpinan maupun staff berkembang bersama-sama, tidak terdapat rasa iri dan curiga yang terus menerus.

Teman saya garuk-garuk kepala. Ngomong gampang katanya.

Berikut info yang dimaksud

Jilat Yuk

Samuel Mulia

Yuuukkkk!" teriak teman-teman saya. Langsung ada yang nyeletuk, "Jilat apaan?" Teman yang satu menimpali, "Apa saja, asal yang legit." Suara lain tak mau kalah, "Jilat yang uenak-uenak saja." Begitulah reaksi ketika saya mencetuskan kata jilat.

Kata jilat buat saya sangat mengundang. Dijilat, terjilat, menjilat, kejilat. Saya tak tahu apakah saya yang kemesuman atau tidak, tetapi mendengar kata itu saya langsung berpikir ke hal-hal yang senonoh. Maksudnya, hal-hal yang selama ini dianggap tak senonoh, tetapi sejujurnya sangat senonoh. Sama seperti komentar orang, kalau saya sedang berbicara mengenai alat kelamin, maka mereka berkomentar, "Ih... lo omongnya jorok."

Jorok I

Jadi, buat mereka, berbicara alat kelamin itu sesuatu yang jorok, yang tak senonoh. Saya berpikir itu baru senonoh, belum dua nonoh, apalagi tiga nonoh. Terus saya pikir kalau pembicaraan alat kelamin dianggap jorok, maka alat kelamin sendiri juga dianggap jorok. Maka, saya sebagai manusia dengan IQ jongkok dan kata orang tak senonoh, berpikir saya juga sebuah manusia yang jorok.

Saya bisa hadir di dunia ini, selain anugerah yang Maha Kuasa, tetapi juga merupakan hasil dari pertemuan dua kelamin berbeda yang dianggap jorok itu. Jadi, saya dan manusia di jagat raya adalah manusia jorok, manusia yang tak senonoh. Karena saya tiga bersaudara, maka kami adalah tiga nonoh. "Yaaa… enggak begitu, Mas. Kalau omong yang kayak gitu mbok ya jangan di tempat umum," balas teman saya.

Oooh…. kemudian saya berpikir lagi. Di tempat umum tak boleh omong yang jorok karena tak enak didengar telinga orang lain. Tak berpendidikan kedengarannya, tak santun, dan kelihatan kasar, meski di ruang publik pikiran kotor bisa ke mana-mana karena tak terdengar, tak terlihat, dan tak dapat dirasakan, tak dapat dihakimi kalau tidak berpendidikan.

"Yaa... meski terasa munafik sih… tetapi, kan kelihatan lebih nggenah," lanjutnya lagi.

Oooh… jadi supaya kelihatan nggenah, jangan berbicara jorok. Tetapi, apa sih yang disebut jorok itu?

"Jorok itu porno, cabul," kata teman saya. Saya mengangguk mengerti. "Jorok itu kalau aku dorong Mas ke jurang.

"Saya menjorok Mas," kata teman saya yang satu lagi.

"Jorok itu menonjol," kata seorang teman wanita. "Maksud gue semenanjung itu menjorok ke laut. Enggak usah mikir yang enggak-enggak deh," lanjutnya lagi.

Ada yang nyeletuk, "Jorok dari Jakarta ke Bandung itu adalah seratus delapan puluh kilometer."

"Itu jaraakkk, Neeeng," teriak kami semua.

Bagaimana dengan kata jilat. "Tergantung," kata teman saya yang kurus kerempeng. "Kalau lo menjilat es krim, enggak jorok dan uenak. Kalau lo menjilat anu… itu jorok meski juga uenak," katanya lagi. "Maksudnya anu?" tanya saya balik. "Ahh… Mas, sudah deh. Enggak usah sok goblok begitu," balasnya lagi.

Jorok II

Kemudian saya menjelaskan, teman saya curhat beberapa hari lalu di mana pimpinan di kantornya itu senang sekali dijilat. "Kalau itu bagaimana? Jorok enggak?" tanya saya. Mereka kemudian berebut mau bersuara.

"Tergantung lagi. Kalau bosnya memang suka dijilat dan itu hobinya, yaaa… bagaimana ya, enggak joroklah. Meski kasihan saja, mereka yang harus menjilat. Lidahnya bisa gempor tu, Mas," komentar teman saya.

Nah, teman saya yang curhat di mal suatu senja itu lidahnya sudah gempor, maka ia keluar karena kelelahan tak bisa melayani bosnya yang suka dijilat, meski satu teman prianya sampai hari ini masih saja menjalankan tugasnya sebagai penjilat dalam kesetiaannya, yang telah membuatnya bisa menerima kendaraan roda empat dan jalan-jalan ke negeri Paman Sam. Maka, benarlah kalimat "berjilat-jilat dahulu, bersenang-senang kemudian".

Terjilat memang pernah saya rasakan, meski berlangsung tak terlalu lama. Dan terus terang uenak-nya setengah mati. Bisa melayang ke langit ketujuh. Saya tak tahu apakah memang langit punya lantai sampai ketujuh dan kenikmatan paling puncak adalah di lantai tujuh. Yang jelas, terjilat membuat saya tersanjung, saya dibutakan dengan komentar yang menyenangkan ego saya.

Saya malas mendengar program yang saya jalankan gagal. Saya sakit hati kalau mendengar majalah lain lebih bagus dari majalah di mana saya bekerja. Jadi, saya memerlukan mulut yang bernyanyi manis dan meninabobokkan saya. Kalaupun mereka mengatakan program atau majalah saya tidak lebih bagus, mereka memiliki sejuta pandangan yang melegakan dan masuk akal sehingga saya tak terlalu mengomel-ngomel.

Kata teman saya, punya anak buah penjilat itu sangat nikmat. Minta apa saja mereka akan berusaha memenuhinya untuk memenangkan hati. Tak hanya minta disediakan bakso atau ketupat sayur, minta yang lebih dari itu pun bisa. "Jadi dayang-dayang anak gue saja bisa kalau sedang ke luar negeri," kata teman saya itu.

Jadi siapakah yang paling jorok dalam hal ini? Si penjilat atau yang suka dijilat? "Mas, Mas… sampean ini memang goblok. Kalau sudah sama-sama enak terjilat dan menjilat, jorok itu sudah enggak ada lagi," komentar teman saya si kurus kerempeng itu. "Jorok itu cuma buat mereka yang ogah dijilat," tambahnya lagi.

Samuel Mulia Penulis mode dan gaya hidup

(dikutip dari: http://finance.groups.yahoo.com/group/management-l/message/1532)

Astronaut pertama Malaysia


Ternyata Malaysia tidak hanya memiliki seorang selebritis penyanyi seperti Siti Nurhaliza. Menurut Menteri Teknologi dan Informasi mereka, Dato' Sri Dr Jamaludin Jarjis (sering dipanggil Dato' JJ), saat ini bangsa Melayu patut berbangga, karena memiliki idola seorang ilmuwan seperti dr. Sheikh Muszaphar Shukor (berbaju hitam), astronout pertama dari Kerajaan Malaysia. Dr Sheik Muszaphar S., adalah ahli bedah tulang.

Berikut kutipan dari Media Indonesia:
MOSKOW--MEDIA: Dua kosmonaut Rusia dan astronaut pertama Malaysia sudah meninggalkan orbit Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS), Minggu (21/10), untuk kembali ke Bumi. Roket Soyuz yang membawa astronaut Malaysia Sheikh Muszaphar Shukor bersama kosmonaut Rusia Yuri Yurtshikin dan Oleg Kotov dijadwalkan tiba di Pusat Peluncuran Luar Angkasa Rusia di Baikonur, Kazakhstan, pukul 10.37 GMT, demikian laporan Pusat Pengendali Luar Angkasa Rusia, Minggu (21/10). Astronaut Malaysia tersebut, yang perjalanannya dibiayai Pemerintah Malaysia, melakukan misi luar angkasa itu pada 10 Oktober lalu bersama astronaut AS Peggy Whitson, komandan baru di ISS, dan kosmonaut Rusia Yuri Malenchenko. (TR/AFP/OL-03)
(sumber: http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=146601)

Puas pake FREN

Beberapa waktu yang lalu saya mengeluh soal akses FREN yang sangat lelet (silakan baca: Lain di iklan, lain di gerai: FRENKU Malang).



Namun sejak beberapa bulan yang lalu, bisa dibilang, saya sudah tidak bermasalah lagi dengan akses internet menggunakan FREN. Di mana saya bisa memperoleh signal FREN, saya dengan lancar bisa mengakses internet menggunakan FREN.

Jadi topik ini hanya untuk meluruskan apa yang saya tulis beberapa waktu yang lalu.

Bravo bagi FREN. Kalau ada yang protes tidak melakukan tebar pesona atau sibuk merespons dengan kata-kata, namun melakukan perbaikan dengan pekerjaan yang nyata.

Sampai saat ini saya tidak pernah dihubungi oleh pihak FREN sehubungan dengan tulisan saya di blog ini, meskipun saya tahu pihak FREN telah membacanya. :-)

Puas pake FREN