IdBlogNetwork

Renungan di Tahun Baru, koq pada sakit semua yha?


Baru saja kami (saya bersama teman-teman) berkumpul di Tahun Baru. Dari cerita kanan dan kiri, saya bisa merangkum penyakit dari beberapa teman, kerabat maupun kenalan kita.


  1. Dua hari yg lalu, wanita agak berumur, meninggal akibat kanker paru.
  2. Wanita usia sekitar 50 tahun, menderita gagal ginjal akibat sidroma nefrotik.
  3. Wanita usia sekitar 30-an, menderita Anemia Aplastik
  4. Wanita usia 50-an, sedang kanker usus fase terminal
Dan masih banyak lagi.

Sesampainya di rumah, saya jadi berpikir, kira-kira apa penyebabnya sehingga saat ini makin sering saja saya mendengar orang-orang yang kita kenal terkena musibah.
- Apakah karena usia kita sudah lanjut (waduh)?
- Apakah karena kita hidup di lingkungan yang sudah tidak sehat?
- Atau apa?

Secara tak sengaja, saya membaca artikel ini:

=================
(Erabaru.or.id) - Adalah suatu kemalangan yang besar jika memiliki cacat fisik atau mempunyai penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sementara melihat orang lain sehat dan penuh semangat, orang-orang ini hanya dapat menahan rasa sakit yang sangat menyiksa yang disebabkan oleh penyakit mereka. Orang-orang seringkali mengeluh kepada Tuhan atas ketidakadilan yang mereka alami. Mereka bertanya, "Mengapa saya harus mengalami kemalangan ini."

Berhubungan dengan "ketidakadilan" ini, orang yang percaya pada reinkarnasi berpikir bahwa hal itu merupakan hasil dari perbuatan iblis yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Dengan kata lain, orang-orang hidup di banyak kehidupan dan karma mereka dihubungkan dengan kesengsaraan dan penyakit di masa kehidupan yang sekarang ini. Di negara Barat, banyak dokter dan sarjana telah dapat mendeteksi kehidupan masa lalu pasien dan juga dapat menentukan penyebab sebenarnya dari rasa sakit dan penyakit mereka pada masa kehidupan ini.

Didalam buku Many Mansions: The Edgar Cayce Story on Reincarnation, Dr. Gina Cerminara membuat daftar contoh-contoh perawatan pasien melalui pembacaan kehidupan mereka sebelumnya dengan Edgar Cayce (1877-1945), seorang cenayang Amerika yang terkenal. Edgar Cayce mempunyai kemampuan untuk "membaca" pasien yang berada ribuan mil jauhnya setelah ia masuk ke dalam kondisi tidur.

Di antara banyak kasus yang "dibaca" oleh Edgar Cayce, beberapa ditelusuri sampai ke masa kerajaan Romawi Kuno. Beberapa pasien di dalam kasus ini ternyata ikut di dalam penganiayaan orang Nasrani, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Salah satu dari mereka adalah seorang wanita berusia 45 tahun. Ia menderita kelumpuhan oleh karena polio pada usia 36 dan harus mengandalkan kursi roda untuk bepergian. Setelah mencoba banyak perawatan (pengobatan) yang tidak berhasil, ia menemukan Cayce dan memintanya untuk membaca kehidupan masa lalunya. Ia mengetahui bahwa penyebab kelumpuhannya pada masa kehidupan ini adalah apa yang telah ia lakukan pada masa Romawi kuno. Antara tahun 37-68 sesudah Masehi, ia adalah seorang anggota pengadilan kerajaan di masa Kaisar Nero menganiaya orang Nasrani. Ia tidak hanya tidak simpatik kepada orang-orang Nasrani yang dikurung di stadion besar, tapi juga mencemooh mereka. Harga yang harus dibayar atas cemoohnya adalah mendapatkan kelumpuhan pada masa kehidupan sekarang ini.

Pasien lain adalah seorang gadis. Ia adalah seorang bangsawan pada kehidupan lalunya di masa Kaisar Nero, dan ia senang menonton orang-orang Nasrani yang disiksa di stadion besar. Ia bahkan tertawa keras ketika ia melihat tubuh seorang gadis muda tercabik-cabik oleh singa. Bangsawan ini yang menikmati kesenangannya di dalam penderitaan orang lain harus membayar balik atas dosanya dengan penyakit TBC (tuberkulosis).

Kasus lain yang melibatkan seorang produser film yang menderita polio pada umur 17. Ia agak pincang karena kakinya yang rusak. Melalui pembacaan masa kehidupan lalunya, Cayce mendapati bahwa orang ini juga ikut di dalam penganiayaan terhadap kaum Nasrani. Ia adalah seorang serdadu pada masa itu dan diperintahkan untuk menganiaya Nasrani. Dosanya tidak hanya dari menaati perintah sebagai seorang serdadu, tapi juga mencemooh orang-orang yang teguh di dalam keyakinan mereka. Cacat fisiknya pada masa kehidupan ini bermaksud menyadarkannya.

Pasien terakhir adalah seorang anak laki-laki. Punggungnya terluka akibat kecelakaan mobil ketika ia berusia 16 tahun, dan ia kehilangan rasa pada tulang belakang kelima belas. Ia tidak dapat bergerak dan hanya mengandalkan pada kursi roda. Tujuh setengah tahun kemudian, ketika ia berumur 23 tahun, ibunya meminta Cayce melakukan pembacaan, dan dua dari kehidupan masa lalunya berhasil dibaca. Salah satunya adalah memperlihatkan bahwa ia merupakan seorang serdadu di masa kerajaan Romawi kuno masa penganiayaan Nasrani. Ia sangat sombong dan senang dengan penderitaan orang-orang Nasrani. Ia juga secara langsung ikut di dalam penganiayaan, dan sehingga ia harus menderita kesakitan pada masa kehidupan ini.

Pembacaan orang-orang ini menunjukkan bahwa penyebab sebenarnya rasa sakit dan penderitaan mereka ialah mereka biasa menertawai orang dan menganiaya orang yang teguh pada keyakinan spiritualnya. Pada waktu yang sama, pembacaan ini juga memperlihatkan bahwa di balik dari unsur penyebab penyakit, sebuah kekuatan yang tidak terlihat berada di suatu tingkat yang tidak diketahui dan lebih dalam di mana sedang mengontrol nasib seseorang. Ini juga mendukung peribahasa China kuno, "kebaikan diganjar dengan kebaikan, kejahatan akan dibalas dengan kejahatan." Ini bukan hanya berupa kata-kata.

Walaupun pasien pada kasus kedua secara tidak langsung ikut menganiaya, mereka tidak mendukung kebaikan. Maka mereka harus membayar dengan penderitaan atas ketidaktahuan dan ketidakmaluan mereka di masa kehidupan lalu mereka. Bagi mereka yang secara langsung terlibat di dalam penganiayaan, seperti yang ditunjukkan oleh pasien keempat, mereka harus menderita kesakitan yang luar biasa bahkan pada usia muda. Hukum timbal balik karma tidak akan pernah lolos bahkan sehelai rambut pun.

Oleh : Zi Jun
(Sumber: http://www.clearwisdom.net/)
=========


Mungkin saja artikel di atas nggak ada hubungannya, namun bagaimana kalau di tahun yang baru ini, kita mulai menghormati semua kehidupan yang ada di sekitar kita?
Mulai dari yang terdekat (keluarga inti, keluarga dekat) hingga teman-teman di kantor. Belajar untuk tidak menyakiti orang.

Perasaannya, apa yang mengalami ketidakseimbangan, suatu waktu pasti akan mencari keseimbangan baru. Bukan begitu?

Selamat tahun baru. Sukses, Bahagia dan Sehat untuk kita semua..................

3 komentar:

Ronald T.Gultom mengatakan...

Tahun baru? ada apa rupanya?..... apanya yang baru yah....tentulah hanya angka Tahunnya saja yang baru. Situasi dan kondisi tidak akan pernah berbeda dgn tahun-tahun sebelumnya. Orang selalu saja berharap bhw tahun baru akan memunculkan situasi dan kondisi yg baru dan khususnya kondisi yg positif dan menguntungkan. Siapa sebenarnya yg benar-benar sanggup mewujudkan kondisi tersebut?

Saya tertarik dgn kutipan artikel yang pak Erik tulis di atas : "Pada waktu yang sama, pembacaan ini juga memperlihatkan bahwa di balik dari unsur penyebab penyakit, sebuah kekuatan yang tidak terlihat berada di suatu tingkat yang tidak diketahui dan lebih dalam di mana sedang mengontrol nasib seseorang."

Saya sih berpikir bhw ada suatu "unlimited dimension" yg berada di luar dimensi manusiawi yang mengontrol "mikro kosmos" dan "makro cosmos" atau alam semesta ini sehingga pada dimensi ruang dan waktu manapun dan kapanpun kita tidak mampu berharap banyak selain daripada pasrah sambil berupaya semampu kita dalam batas dimensi manusiawi - demikian juga halnya dgn harapan semu pada setiap tahun baru.

Salam,
Ronald T.G

Erik Tapan mengatakan...

Dear Sahabatku Ronald yang baik,
Banyak terima kasih atas komentarnya...

Setiap saat kita selalu hidup dalam keadaan baru. Bahkan satu detik yad pun adalah baru dibandingkan satu detik yang lalu.

Mengenai pengharapan, rupanya kita sudah salah mengartikan. Begitu banyak sinetron-sinetron yang bercerita:
1. tiba-tiba menang lotere
2. datang peri penolong atau jin pengabul apapun keinginan kita
3. ada orang yang tiba-tiba memberi uang atau memperoleh warisan
4. dll. yang serba instant.

Akibatnya, kita secara tidak sadar mengharapkan sesuatu yang serba instan pula.

Padahal menurut saya, sangat sukar untuk memperoleh yang instan-instan. Semua harus diperhitungkan dan dilakukan. Dengan perhitungan pun masih sering salah, apalagi hanya pengharapan tanpa berusaha apa-apa.
Umat manusia (khsususnya di Indonesia), harus belajar segala sesuatu harus mulai dari nol, satu, dua, tiga, empat dan dan seterusnya. Tidak bisa langsung 1.000.

Contohnya, saya sering mendengar banyak rekan-rekan kita yang mengomel tidak berkepanjangan kalau kena macet. Kata mereka, "bagaimana nich, katanya dengan adanya bus way di Jakarta, kemacetan bisa dikurangi, koq sekarang makin macet?".

Ini yang saya heran. Teman kita sendiri itu naik mobil, tapi ngomel-ngomel. Kalau semua pengendara mobil melakukan hal ini. Lha....siapa yang naik busway donk?

Erik Tapan mengatakan...

Tambahan:

Ada satu iklan yang saya dengar. Kalau nggak salah iklan radio. Seseorang melamunkan untuk memiliki sesuatu (mobil atau motor atau rumah, lupa saya). Terus - masih menurut iklan tersebut- ngapain hanya menghayal? Beli dong produk A (misalnya). Dengan membeli ada kemungkinan memperoleh hadiah mobil/motor (hadiah utama).

Kalau ditanya, wajarkan iklan ini? Kemungkinan hampir semua pembaca akan menjawab wajar!! Kalau nggak beli produk tersebut, mana mungkin bisa memperoleh mobil tersebut?

Menurut saya, ini salah satu pembodohan juga.
Bukankah itu berarti dari khayalan satu ke khayalan yang lain?
Semuanya diusahakan dengan serba cepat dan instant (yang sekarang seakan-akan sudah disebut sebagai 'berusaha').