Ini dia, New Corolla Altis 1.800 CC (Februari 2008)

Setelah lama ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Banyak orang yang sudah menunggu-nunggu sedan Toyota di kelas antara 1.500 cc hingga 2.000 cc. Untuk kelas 1.500 cc sudah ada sedan New VIOS, sedangkan kelas di atasnya adalah sedan New Camry 2.400 cc. Dua tipe sedan tersebut sudah keluar versi terbaru pada tahun 2007 yang lalu.

Sedan Corolla Altis bisa menjadi pilihan saat itu (tahun 2007). Sayangnya yang ada di pasaran adalah Corolla Altis generasi ke-9 yang mulai diproduksi tahun 2001. Artinya sudah sekitar 6 tahun, Corolla tidak mengeluarkan generasi yang baru. Rupanya harapan banyak orang baru terpenuhi tahun 2008 ini.

Tepat bulan Februari 2008 ini, Toyota akhirnya meluncurkan Corolla Altis generasi terakhir (ke-10 atau X-Gen). Mobil anyar ini dikemas dengan tagline "The Real Star" atau Bintang yang Sebenarnya.

Dibandingkan generasi terdahulu, dari sisi luar mobil ini sudah menampilkan perbedaan yang bermakna. Jika sebelumnya Corolla Altis keluar dengan bodi yang mulus berisi (montok), sekarang ini tampak lekukan/guratan manis layaknya urat-urat (nadi) yang menonjol di antara otot pada mereka yang senang berolahraga. Manis dan kekar tetapi tetap sensual.

Ciri khas ini menurut Toyota akan menjadi ciri khas sedan-sedan Toyota masa depan. Diharapkan -meskipun hanya dengan melihat sekilas- setiap orang sudah bisa langsung mengenali sedan ini keluaran Toyota.

Melongok ke kabin mobil, dashboard dan kemudi dibalut dengan corak kayu (wood) menambah kemewahan sedan ini. Yang unik, meniru tipe Vios, Yaris dan Camry terbaru, mobil ini menggunakan Smart Entry & Start. Tidak perlu kunci konvesional agar bisa membuka pintu mobil. Letakkan tangan Anda di handel/gagang pintu mobil, otomatis mobil akan mengenali Anda dan kunci terbuka. Tinggal ditarik saja pegangan pintunya untuk memasuki ruangan dalam mobil yang nyaman dan senyap.
Begitu pula untuk meng-start mobil, cukup menekan tombol start.


Keamanan tidak hanya milik mereka yang berada dalam mobil

Sudah menjadi standar bagi mobil-mobil sekelasnya, tersedia fasilitas keamanan seperti: ABS (anti-lock braking system), Dual SRS Airbags System, sensor belakang dan depan (mempermudah parkir). Namun mobil ini mempunyai kelebihan dibandingkan itu.

Jika kita memperhatikan dengan lebih teliti design mobil yang unik ini, maka bisa disimpulkan bahwa Toyota dengan mobil ini tidak hanya memperhatikan keamanan penumpang mobil semata, melainkan memperhatikan dan peduli kepada mereka yang -kurang beruntung- bersenggolan dengan mobil ini. Tuk..tuk...tuk... jangan sampe dech. :-(

Orang -yang kurang beruntung- tertabrak atau tersenggol mobil ini, kemungkinan besar tidak akan tersungkur/terjungkal ke depan/jalanan/aspal/beton melainkan terlempar ke arah mobil dan mendarat di hidung mobil. Mengantisipasi hal ini, hidung mobil New Corolla Altis (tempat mendarat orang yang malang tersebut) dibuat se'user/victym friendly" mungkin. Tidak ada satupun sudut yang membahayakan (tajam atau menonjol) di permukaan hidung sedan ini. Bahkan saluran untuk menyemprot air ke kaca depan mobilpun tidak tampak (tersembunyi di dalam). Benar-benar tempat yang "nyaman" untuk mendarat, meskipun sangat diharapkan tidak akan terjadi kecelakaan.

Drive Safely-lah.

Berbicara mengenai pembersih kaca, ternyata mobil ini memiliki sensor air hujan di kaca depan. Dengan demikian jika kaca sudah basah, maka secara otomatis wiper akan bergerak. Kalau kering, wiper akan berhenti. Ini menjawab permintaan pengendara yang sering merasa sebel harus menghidupkan dan matikan wiper saat hujan rintik2.

Satu-satunya nilai negatif yang penulis rasakan setelah meng-explore New Corolla Altis, adalah sistem autolock pintu.

Umumnya -seperti Kijang- pintu akan mengelock sendiri setelah mobil berjalan dengan kecepatan 20km (dari awal start). Namun sama seperti New Vios, pintu pengendara tidak ada fasilitas autolock tersebut. Menurut pihak Toyota hal ini disebabkan karena mobil ini sudah standar seluruh dunia, di mana pengendara di pelbagai negara tidak menyukai feature autolock ini.

Kalau begitu, siapa yang menciptakan sistem ini yha?

Perlawanan Siti Fadilah Supari


Duh....bangganya punya Menteri seperti ini. Berani berkata benar, sesuai dengan keyakinan, meskipun banyak yang menentang... :-)

Selamat juga untuk penulis berita Sdr. Asro Kamal Rokan, yang bisa mengembangkan tulisan sebaik ini. Ditunggu karya-karya lainnya dari para jurnalis dengan mengetengahkan prestasi manusia-manusia Indonesia yang bisa memberi inspirasi.
=================

Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit warga dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah dominasi badan resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.

Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist (10 Agustus 2006).

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong?

Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.

Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times Singapura, 27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi.

Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas ketidakadilan. Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti Fadilah, yang berjuang untuk keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan. Ia inspirasi untuk bangsa yang bangkit.
(Asro Kamal Rokan )

dikutip dari Harian Republika, Rabu 13 Februari 2008

Mengembalikan Fungsi PUSKESMAS


Saat ini di salah satu milis (dokter Indonesia) sedang hangat-hangatnya diskusi mengenai Pelayanan Kesehatan di Indonesia. Para dokter dan masyarakat awam member milis tersebut berdiskusi menunjukkan keprihatinan mereka akan pelayanan dokter kepada pasien. Ada yang membandingkan dengan pelayanan di luar negeri atau di rumah sakit para expatriate (di Indonesia) hingga pelayanan para dokter di puskesmas.

Yang satu mengatakan, mana cukup memeriksa 50 pasien hanya dengan waktu 3 jam (dari pukul 09:00 hingga pukul 12:00). Hal inilah penyebab kenapa para pasien tidak puas dengan pelayanan para dokter.
Begitu pula dengan rendahnya biaya konsultasi yang diterima para dokter yang hanya Rp. 5.000 per pasien.

Selanjutnya salah satu member memberi usulan, kalau memang praktek di Puskesmas 3 jam tidak cukup, kenapa tidak ditambah saja jam prakteknya? Bukankah dengan demikian lebih banyak waktu para dokter untuk melayani pasien Puskesmas yang notabene masyarakat menengah ke bawah?

Penulis ingin memberi komentar (sekaligus mengajak untuk berdiskusi di blog ini).
Kita selayaknya mesti mengerti, bahwa dokter adalah manusia juga. Manusia..manusia dan manusia. Artinya punya kebutuhan akan karir dan pengembangan ilmu untuk masa depan. Namun sebaliknya, PUSKESMAS sebagai lini terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, tidak boleh dihilangkan fungsi maupun fisiknya. Indonesia begitu besar, tidaklah mungkin semuanya dilayani oleh rumah-rumah sakit hingga ke daerah-daerah.

Lalu bagaimana solusinya?

Apakah tidak sebaiknya kegiatan Puskesmas itu lebih bersifat preventif (katakanlah 70%) daripada kuratif (30% sisanya). Dengan demikian dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, PUSKESMAS bisa dikelola oleh tenaga paramedis (sebagai edukator kesehatan masyarakat) maupun sarjana kesehatan lainnya. Dokter bisa berpraktek hanya sebagai pemberi pelayanan kuratif saja, katakanlah 3 jam saja sehari. Selebihnya, para tenaga paramedis atau bahkan masyarakat sekitarnya yang menyusun program kesehatan demi kebaikan bersama.

Dokter senang, tenaga paramedis senang dan tentu masyarakat sekitarnya bisa memperoleh waktu diskusi yang lebih panjang.

Suatu program yang bottom up, pastilah lebih diterima masyarakat dibandingkan program top down. Contohnya sekarang aktifitas menjaga kelestarian lingkungan yang sudah mulai dilakukan banyak orang. Masing-masing pihak punya kegiatan sendiri-sendiri yang disusun bersama-sama.

Hal ini rasanya sangat mungkin dilakukan oleh para ahli kesehatan masyarakat dibandingkan oleh dokter fresh graduate.
Tengok saja perbandingan materi Kesehatan Masyarakat pada kurikulum kedokteran vs kurikulum bidang kesehatan masyarakat.

Bagaimana dengan pendapat Anda?