IKCC invited by Mas Kepra at Trijaya FM (Mr Chairman)

Was not supposed, selebritis of the same class Mas Kepra evidently wanted also to promote the "heavy" topic in his agenda, Mr Chairman: failure of renal function. Frankly, it was very rare right. The salute for Mas Kepra!!

The invitation received because at this time the writer became the member (the medical consultant) the organization that was erected by the sling, the family and the observer of the disturbance of the kidney. In fact the writer only accompanied, because both Mrs Indah (Chairman of IKCC) and Mrs Tuti Korina (the writer of the Delicious Menu book for the Health of the Kidney) according to the writer of his capacity already above in general the layman's other knowledge. Even might be counted, if meeting the doctor (just), so knowledge the two of them especially in practical matters.


Tidak disangka, selebritis sekelas Mas Kepra ternyata mau juga mengangkat topik "berat" dalam acaranya, Mr Chairman: Gagal Ginjal. Terus terang sangat jarang lho. Salut buat Mas Kepra!!

Undangan penulis terima karena saat ini penulis menjadi anggota (konsultan medis) organisasi yang didirikan oleh penyandang, keluarga maupun pemerhati gangguan ginjal. Sebenarnya penulis hanya sekedar menemani saja, karena baik Ibu Indah (Ketua IKCC) maupun Ibu Tuti Korina (penulis buku Menu Lezat untuk Kesehatan Ginjal) menurut penulis kemampuannya sudah di atas rata-rata pengetahuan orang awam lainnya. Malah boleh dibilang, kalau ketemu dokter (baru), bisa jadi pengetahuan mereka berdua lebih terutama dalam hal-hal yang praktis.

Bayangkan saja, setiap bulan IKCC mengadakan seminar awam mengenai bagaimana menjaga kesehatan ginjal, hidup bersama dialisis, dll. Seminar ini gratis bagi anggota.

Seperti biasanya, acara di Hari Sabtu tersebut berjalan dengan sangat santai dan penuh canda. Cuman kalau nampak di foto, pada tegang semua, itu karena sampai sekarang, penulis masih kagok jika menggunakan kamera E90. Ditekan tidak langsung nyala, begitu didiamin, bisa nyala sendiri. Akibatnya, senyum baik (dari kanan - kiri) Mas Kepra, Ibu Indah maupun Ibu Tuti, sudah kering pas dijepret.Mungkin ada informasi dari yang mengetahui, bagaimana cara menggunakan kamera ini.


Berikut beberapa pertanyaan yang masuk via SMS:


1. Apa gejala awal dari penyakit ginjal?

Jika berhubungan dengan organ yang satu ini, tidak ada gejala awal. Adanya gejala akhir. Jika sudah nampak gejalanya (badan bengkak, sering sakit mag, pusing-pusing, lemas, dll.), maka itu berarti sudah tingkat lanjut. Sudah hampir dipastikan, proses hemodialisis (sering disebut dengan cuci darah), harus segera dilakukan.


2. Kalau begitu, bagaimana cara mengetahuinya?

Satu-satunya cara adalah melakukan medical check up yang teratur terutama untuk mereka yang berisiko seperti: menderita penyakit kencing manis, tekanan darah tinggi, berusia di atas 40 tahun, dll. Berdasarkan hasil medical check up yang dikombinasi dengan pemeriksaan lainnya dari dokter bisa terdiagnosa, apakah kita sudah menderita gangguan ginjal dan sudah berapa parahnya.


3. Bagaimana menjaga kesehatan jika ginjal kita sudah mulai bermasalah?

Banyak hal yang bisa dilakukan. Terlalu banyak untuk dijelaskan pada kesempatan kali ini. Pesan penulis, jangan percaya dengan pengobatan-pengobatan alternatif khususnya yang dimakan/minum. Dengan ginjal yang rusak, akan tambah parah jika mengkonsumsi bahan/cairan yang tidak jelas asal-usulnya. Silakan join dengan kami di milis ginjal dengan cara mengirim e-mail kosong ke ginjal-subscribe@yahoogroups.com . Untuk membantu anggota keluarga menyiapkan makanan yang tidak memberatkan ginjal, silakan membaca buku di atas.

4. Bagaimana tanggapan Dokter mengenai Terapi Air?

Bagi orang normal mengkonsumsi sekaligus air dalam jumlah yang banyak, mungkin saja tidak bermasalah. Tetapi alangkah baiknya konsumsi air dilakukan saat tubuh kita memang membutuhkan seperti pada saat bekerja, pada ruangan AC dan lain-lain. Jangan hanya minum (banyak) di pagi hari atau di malam hari.
Bagi mereka yang sudah ada gangguan ginjal, konsumsi air harus dibatasi sesuai petunjuk dokter.


5. Apakah di Indonesia sudah bisa dilakukan operasi transplantasi ginjal?

Operasi transplantasi ginjal sudah sering dilakukan di Indonesia terutama di rumah-rumah sakit besar di Jakarta. Ketrampilan dokter Indonesia untuk melakukan operasi (termasuk memelihara hasil transplantasi pasien) sudah teruji dan tidak kalah dengan dokter-dokter di luar negeri. Masalahnya hanya di Indonesia, donornya sangat sukar dicari karena harus dari keluarga sendiri.


6. Bagaimana jika ingin mendonorkan ginjal?

Jual beli organ dilarang tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh dunia. Untuk itu agar kebutuhan organ ginjal bisa terpenuhi, Pemerintah perlu membentuk badan yang bersedia menampung organ ginjal kemudian diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Sama seperti PMI, prinsip dari dari aktifitas ini, adalah sukarela dan tidak ada pertemuan antara yang memberi (donor) dan yang menerima. Bagi mereka yang terpanggil untuk mendonorkan ginjal, silakan mendaftar dan pada suatu saat jika sudah meninggal, bisa diambil ginjalnya. Begitu pula kalau ada yang ingin mendonorkan ginjal (satu saja), bisa melakukan kemurahan hatinya tersebut (amal) via badan bentukan pemerintah tersebut.

7. Bagaimana cara join dengan IKCC?

Bisa akses web IKCC di http://www.ikcc.or.id/ atau daftar di milis ginjal di http://groups.yahoo.com/group/ginjal

Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)


Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)

  • PDKI adalah Kepanjanganya adalah “Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia”

  • Saat ini seluruh anggotanya adalah Dokter Praktik Umum (DPU) yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Jumlah anggota yang telah mendaftar sekitar 3000 orang. Semua anggota PDKI adalah anggota IDI.

  • PDKI merupakan organisasi profesi dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer.

    Ciri dokter layanan primer adalah: (Goroll, 2006)

    1. Menjadi kontak pertama dengan pasien

    2. Membuat diagnosis medis dan penangannnya,

    3. Membuat diagnosis psikologis dan penangannya,

    4. Memberi dukungan personal bagi setiap pasien dengan berbagai latar belakang dan berbagai stadium penyakit

    5. Mengkomunikasikan informasi tentang pencegahan, diagnosis, pengobatan, dan prognosis, dan

    6. Melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit kronik dan kecacatan melalui penilaian risiko, pendidikan kesehatan, deteksi dini penyakit, terapi preventif, dan perubahan perilaku.


  • Setiap dokter yang menyelenggarakan pelayanan seperti di atas dapat menjadi anggota PDKI.

  • Anggota PDKI adalah semua dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer baik yang baru lulus maupun yang telah lama berpraktik sebagai Dokter Praktik Umum.
    Untuk mudahnya coba perhatikan Tabel-1 di bawah ini:
  • Tabel-1: Indikator seorang Dokter Layanan Primer

    • No


      Tugas/wewenang


      Pelaksanaan


      1


      Kontak pertama dengan pasien?


      Y/T


      2


      Kontak langsung dengan pasien?


      Y/T


      3


      Menangani semua macam penyakit?


      Y/T


      4


      Menangani semua gejala penyakit?


      Y/T


      5


      Menangani semua usia dan jenis kelamin?


      Y/T


      6


      Menyelengarakan pencegahan secara umum?


      Y/T


      7


      Melayani prosedur klinis layanan primer saja?


      Y/T


      Jika jawabnya semua “Y” maka anda sebenarnya adalah Dokter Pelayanan Primer yang dibenarkan dan dianjurkan menerapkan prinsip kedokteran keluarga.


      Khusus untuk dokter perusahaan/UGD/dsb mungkin perlu tambahan ilmu dan keterampilan menangani penyakit okupational/keadaan khusus yang sesuai.



      • Dokter penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat primer termasuk


        • Dokter (Praktik Umum) yang praktik pribadi

        • Dokter Keluarga yang praktik pribadi

        • Dokter layanan primer lainnya termasuk:


          • Dokter Praktik Umum yang praktik solo

          • Dokter (praktik umum) praktik bersama

          • Dokter perusahaan

          • Dokter bandara

          • Dokter pelabuhan

          • Dokter kampus

          • Dokter pesantren

          • Dokter haji

          • Dokter Puskesmas

          • Dokter yang bekerja di unit gawat darurat

          • Dokter yang bekerja di Poliklinik Umum RS

          • Dokter Praktik Umum yang bekerja di bagian pelayanan khusus misalnya Unit Hemodialisis, PMI, dsb.


      Sejarah PDKI


      • PDKI pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok Studi Dokter Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah IDI. Anggotanya beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis.

      • Pada tahun 1986, menjadi anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA).

      • Pada tahun 1990, setelah Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan Kongres Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese Dokter Keluarga Indonesia (KDKI), namun tetap sebagai organisasi dokter seminat.

      • Pada tahun 2003, dalam Kogres Nasional di Surabaya, ditasbihkan sebagai perhimpunan profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter praktik umum, dengan nama Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun saat itu belum mempunyai kolegium yang berfungsi.

      • Dalam Kongres Nasional di Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga (KIKK) dan telah dilaporkan ke IDI dan MKKI.

      1. KIKK


      • Kepanjangannya adalah: Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga, dipilih dalam Kogres Nasional VII di Makassar 30 Agustus – 2 September 2006, dan telah dilaporkan ke PB IDI Pusat dan MKKI.

      • Kolegium memang harus ada dalam sebuah organisasi profesi. Jadi PDKI harus mempunyai kolegium yang akan memberikan pengakuan kompetensi keprofesian kepada setiap anggotanya

      • Dalam PDKI lembaga ini yang diangkat oleh kongres dan bertugas:


        • Melaksanakan isi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga serta semua keputusan yang ditetapkan kongres

        • Mempunyai kewenangan menetapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

        • Mengkoordinasikan kegiatan kolegium kedokteran.

        • Mewakili PDKI dalam pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga

        • Menetapkan program studi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga beserta kurikulumnya

        • Menetapkan kebijakan dan pengendalian uji kompetensi nasional pendidikan profesi kedokteran keluarga

        • Menetapkan pengakuan keahlian (sertfikasi dan resertifikasi)

        • Menetapkan kebijakan akreditasi pusat pendidikan dan rumah sakit pendidikan untuk pendidikan dokter keluarga

        • Mengembangkan sistem informasi pendidikan profesi bidang kedokteran keluarga


      • Angota KIKK terdiri atas anggota PDKI yang dinilai mempunyai tingkat integritas dan kepakaran yang tinggi untuk menilai kompetensi keprofesian anggotanya

      • Atas anjuran dan himbauan IDI sebaiknya KIKK digabung dengan KDI karena keduanya menerbitan sertifikat kompetensi untuk Dokter Pelayanan Primer (DPP). Setelah melalui diskusi yang berkepanjangan akhirnya deuanya digabung dengan nama Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga (KDDKI) yang untuk sementara melanjutkan tugas masing-masing, unsur KDI memberikan sertifikat kepada dokter yang baru lulus sedangkan unsur KIKK memberikan sertifikat kompetensi (resertifikasi) kepada DPP yang akan mendaftar kembali ke KKI.

      2. Dokter (Dokter Praktik Umum, DPU, ”General Practitioner”)


      • Dokter sering disebut ”Dokter Praktik Umum” (General Practitioner) yang disalah-kaprahkan menjadi ”Dokter Umum”

        Sebutan “Dokter Umum” sudah tidak digunakan lagi dan diganti dengan “Dokter Praktik Umum” (DPU) sesuai dengan keputusan Muktamar IDI di Malang tahun 2000

      • Dokter adalah gelar profesi bagi lulusan Fakultas Kedokteran dan atau Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD), yang menggunakan KIPDI I, II, dan sebelumnya

      • Pendidikan dokter sejak tahun 2005 telah berubah metodenya dari “Content Based Curriculum” yang bersifat “teacher centered” menjadi “Competency based Curriculum (KBK)” yang bersifat “student centered”. Isi kurikulum (bahan bahasan) tetap sama yaitu Ilmu Kedokteran Pelayanan Primer beserta kemajuan yang dicapai.

      • Seluruh isi KIPDI III selanjutnya menjadi bagian utama dan disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia sebagai “Standar Nasional Kurikulum Pendidikan Dokter”. Standar ini harus menjadi acuan utama kurikulum FK/PSPD dan menjadi 80% is kurikulum setiap FK/PSPD. Yang 20% lainnya berupa muatan local.

      • Kurun waktu pendidikan dokter juga berubah menjadi 5 tahun ditambah internsip 1 tahun.

      • Gelar dokter ini juga diberikan kepada lulusan Fakultas Kedokteran dan atau Program Studi Pendidikan Dokter yang menggunakan KBK sebelum dan sesudah internsip.

      • Dengan demikian, definisi “Dokter” adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien di fasilitas/sistem pelayanan kesehatan primer untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi – tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin – sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan holistik, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan, serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral”. Layanan yang diselenggarakannya (wewenang) sebatas kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar.

      • Secara singkat definisi “Dokter” adalah praktisi medis yang berpraktik sebagai DPU, dengan kewenangan sebatas pelayanan primer.

      • Khusus untuk lulusan KBK yang dalam praktinya menerapkan pendekatan kedokteran keluarga, boleh disebut “dokter keluarga” sekalipun belum bergelar profesi sebagai “Dokter Keluarga”.

      • Dengan kata lain, dalam praktiknya dokter menyelengarakan pelayanan kesehatan tingkat primer sebagai generalis atau Dokter Praktik Umum. Kewenangannya sebatas ”Basic Medical Doctor” versi ”World Federation of Medical Education 2003” yang di Indonesia diberi gelar ”Dokter” yang memperoleh sertifikat kompetensi dari Kolegium Dokter Indonesia dan dalam praktik bergelar DPU (Dokter Praktik Umum).

      3. Dokter Keluarga (DK), Magister Kedokteran Keluarga atau Magister Famili Medisin (MKK/MFM), dan Spesialis Kedokteran Keluarga atau Spesialis Famili Medisin (SpFM)


      • Dokter Keluarga adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien (di fasilitas/sistem pelayanan kesehatan) untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi – tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan jenis kelamin – sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan holistik, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral”. Layanan yang diselenggarakannya (wewenang) sebatas kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar ditambah dengan kompetensi dokter layanan primer yang diperoleh melalui CME/CPD atau program spesialisasi.

      • Seperti juga ”Dokter”, Dokter Keluarga menyelengarakan pelayanan kesehatan tingkat primer sebagai generalis atau Dokter Praktik Umum. Cakupan layanan lebih luas dan dalam daripada ”Dokter” tetapi tetap dalam lingkup pelayanan primer. Ilmu dan keterampilannya sebagai penyelenggara layanan primer lebih lengkap dibandingkan ”Dokter”.

      • Seperti telah dikatakan di atas, sekalipun mampu menerapkan pendekatan kedokteran keluarga, seorang ”Dokter” mempunyai keterbatasan karena keterbatasan waktu pendidikan di fakultas kedokteran atau program studi pendidikan dokter. Oleh karena itu seorang ”Dokter” harus menambah ilmu dan keterampilannya dalam lingkup pelayanan primer melalaui program CME/CPD terstruktur atau pendidikan spesialisasi untuk mencapai predikat DK atau SpFM.

      • Dengan demikian dokter yang bergelar profesi “DK” dapat didefinisikan secara singkat sebagai ”Dokter” (Praktik Umum) yang memperoleh pendidikan tambahan khusus melalui program CME/CPD dan menerapkan pendekatan kedokteran keluarga dalam praktiknya di tempat pelayanan kesehatan primer.

      4. Anggota PDKI


      • Sesuai dengan AD/ART PDKI angota nya terdiri atas DPU, DK, SpFM

      • PDKI sedang bergiat menganjurkan DPU untuk menjadi anggota PDKI.

      5. Tugas PDKI


      • Menyusun Program CPD dan jalur lainnya untuk memperoleh SKP IDI dlam rangka resertifikasi

      • Menyelenggarakan CPD bagi anggota dan calon anggotanya untuk memperoleh sejumlah SKP IDI yang disyaratkan untuk resertifikasi.

      • Mendirikan cabang PDKI di setiap propinsi

      • Membantu setiap DPP untuk memperoleh setifikat kompetensi

      6.Syarat menjadi anggota PDKI


      • Sehat jasmani dan rohani

      • Mempunyai sertifikat kompetensi sebagai DPP

      • Bagi yang berpraktik harus mempunyai SIP yang masih berlaku

      • Mengisi borang pendaftaran

      • Membayar uang pangkal sebanyak Rp50.000,-

      Untuk informasi lebih lengkap, silahkan menghubungi Ibu Linda, Sekretariat PDKI Pusat, (021) 3908435. Alamat PDKI Pusat : JL. GSSY Sam Ratulangi No. 29 Jakarta Pusat.


      Links

      1. Dokter Keluarga: welcome !!
      2. Perlukah memiliki Dokter Keluarga?
      3. Indonesia segera miliki Dokter berpredikat Dokter Keluarga
      4. Pakar Kedokteran Keluarga
      5. Dokter Keluarga, bisa jadi tempat curhat

      Apa itu Informatika Kedokteran?


      Penulis mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu pembicara dalam acara Seminar & Teleconference "Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran". Acara ini diselenggarakan oleh Program Hibah Kompetisi Teknologi Informasi & Komunikasi (PHK TIK) K-1 2008, di Auditorium Universitas Gunadarma Kampus Depok.

      Sebagai wakil dari organisasi Perhimpunan Informatika Kedokteran Indonesia (PIKIN), penulis mempresentasikan apa itu Informatika Kedokteran dan apa-apa yang telah dicapai Informatika Kedokteran Indonesia. Sangat menarik, karena ditengah keringnya acara Informatika Kedokteran, Universitas Gunadarma berusaha mencari / Identifikasi Kebutuhan Model Sistem Informatika Kedokteran yang paling ideal.


      Selain penulis tampil pula pakar Informatika Kedokteran Indonesia lainnya dari Universitas Gunadarma yaitu Pak Eri Prasetyo dan wakil dari salah satu portal berita di Indonesia yaitu Bpk Nurfajri Budi Nugroho dari http://www.okezone.com/.



      3 "eri"

      Suatu kebetulan ternyata dalam Seminar tersebut ada 3 orang yang bernama Eri. Yaitu Pak Eri dari Universitas Gunadarma (pembicara kedua), kemudian Ibu Eri (tidak ada hubungannya/bukan isteri dari Pak Eri) sebagai ketua panitia pelaksana acara ini. Tidak melewatkan kesempatan langka ini, kami bertiga (yang kebetulan juga adalah anak-anak kolong) berfoto bersama.
      Bagaimana teman-teman pembaca blog ini, sering kah Anda menemui nama yang sama dengan Anda hingga 3 orang?

      Presentasi Introduction to Anti Aging Medicine pada acara Dokter Keluarga Jawa Barat

      Menempuh perjalanan dari Jakarta tepat pukul 11:30, akhirnya rombongan kami tiba di Bandung Trade Center (BTC) Mall, tepat pukul 2 siang. Ternyata tidak sukar menemukan baik gedung maupun tempat parkir. Mungkin ini salah satu bedanya jika mencari tempat parkir di mal-mal Jakarta. Sewaktu memarkir mobil di lantai atas, ternyata pintu masuknya langsung menuju tempat pelaksanaan acara.

      Presentasi saya dimulai tepat pukul 3 siang. Sayangnya moderator yang memandu acara, terlalu ketat pada aturan. Ini menyebabkan presentasi yang sudah saya buat untuk 30 menit (sesuai dengan waktu yang diinformasikan ke saya) ternyata sudah dipotong menjadi 20 menit saja (tanpa pemberitahuan). Karena ada masalah teknis yang memakan sekitar 5 menit. Jadilah presentasi yang saya lakukan hanya 15 menit saja.

      Akibatnya -menurut saya- banyak materi yang missed. Tapi masih untung, para pembicara berikutnya bisa melengkapinya. Hanya sayang saja, sang moderator yang kaku ini tidak berdaya jika ada pembicara yang tidak memperdulikan 'peringatan' moderator alias nakal.

      Tanya jawab yang seru
      Diskusi seru pun terjadi saat tanya jawab. Beberapa isu yang timbul:
      1. Apakah benar intervensi anti aging medicine (AAM) dimulai pada saat usia tua? Seperti pada foto-foto yang diperlihatkan saat presentasi, semuanya orang-orang tua (> 90-an tahun) yang masih segar bugar?
      Jawab: Intervensi AAM sudah bisa dimulai dari usia berapapun. Makin muda makin baik. Foto-foto yang diperlihatkan tersebut sebagai bukti bahwa jika menerapkan AAM sejak awal maka pada usia -bahkan- 90 - 100 tahun pun masih segar bugar layaknya mereka yang berusia 35 tahunan.

      2. Bagaimana tanggapan Dokter mengenai Diet Berdasarkan Golongan Darah, apakah masuk dalam Anti Aging Medicine?
      Jawab: Diet adalah salah satu metode dalam AAM. Namun kalau sudah menyangkut salah satu metode yang ditanyakan tersebut, maka jawabannya adalah: seperti yang sudah saya presentasikan, salah satu konsep AAM adalah metode yang diperkenalkan tersebut harus -minimal- masuk dalam journal ilmiah dan direview oleh ahli-ahli yang sebidang. Bahwa sudah banyak buku yang ditulis oleh penemu diet ini bukanlah berarti sudah memenuhi syarat di atas.
      Kita sebagai dokter harus pinter-pinter menilai suatu metode/obat. Gunakanlah ilmu yang kita miliki untuk mencari journal-journal yang ada hubungannya dengan metode tersebut.

      3. Berapa tahun usia paling muda menerapkan konsep anti aging medicine?
      Jawab: Yang termasuk dalam cakupan Anti Aging Medicine itu sangat luas. Perawatan wajah yang rutin agar tidak menimbulkan jerawat misalnya, adalah intervensi anti aging. Begitu pula dengan berolahraga secara baik, terukur guna mempertahankan kesehatan.
      Jadi tidak harus menunggu seseorang jatuh sakit atau sudah berumur.

      4. Apa-apa saja intervensi AAM yang dilakukan saat ini?
      Sebagai seorang praktisi AAM tentulah harus melakukan metode AAM. Mulai dari yang sederhana seperti sangat berhati-hati dalam memilih metode/produk yang mengklaim diri masuk golongan AAM, kemudian selalu berpikir positif dan menyempatkan waktu untuk meditasi/berdoa, berolahraga (jalan kaki/treadmill, bersepeda, berenang, latihan beban), penggunaan sun screen maupun suplemen sesuai kebutuhan, dll.
      Untuk diet, pagi hari makan sereal + susu, siang hari vegetarian, malam hari usahakan untuk tidak makan lagi 2 jam sebelum tidur.
      Bagaimana kita bisa menjadi konsultan bagi orang lain, jika kita sendiri tidak sanggup melakukannya? Inilah yang membedakan seorang dokter AAM dengan yang lain. Dokter AAM umumnya menerapkan ilmu yang diperolehnya pada dirinya sendiri juga. Karena memang bisa diterapkan pada diri sendiri, siapun dia.

      5. Bagaimana seseorang yang berpenyakit (katakanlah DM/kencing manis) melaksanakan aktifitas Anti Aging Medicine?
      Apakah bisa, sebab yang dipaparkan adalah contoh-contoh pada orang sehat saja.
      Jawab: Konsep AAM adalah pencegahan. Jika menemukan penyakit, silakan berkonsultasi dahulu kepada dokter bidang lain yang lebih kompeten. Setelah penyakit tersebut terkontrol, barulah dilaksanakan program-program AAM.
      Tidak jarang dengan melakukan program AAM, sangat membantu pengobatan konvensional. Contohnya pada mereka yang menderita DM II, ketergantungan terhadap OAD bisa menjadi berkurang saat kita menerapkan AAM.

      Seminar & Workshop Dokter Keluarga Jabar di BTC Mall

      Bagi Teman Sejawat yang berlokasi di Jawa Barat, ada acara yang layak diikuti.
      Perhimpunan Dokter Keluarga Jawa Barat (PDKI Jabar) menggelar Seminar dan workshop yang diberi tajuk "Pendidikan Dokter Layanan Primer Berkelanjutan".
      Acara yang dilaksanakan di BTC Mall tersebut dimulai dari tanggal 21 hingga 23 Agustus 2008. Dengan SKP yang bernilai cukup tinggi (18 SKP), sungguh sayang jika teman sejawat tidak mengikuti acara di Jl. Dr Djunjunan no. 143 - 149 ini.
      Ditunggu kehadirannya.
      Bagi dokter-dokter Jakarta dan sekitarnya, bisa menggunakan Cipaganti Shuttle Bus. Tepat berhentinya di BTC Mall. Seru khan!!

      Topik-topiknya, antara lain:

      1. Peresepan Obat Rasional pada Pelayanan Primer dan Sekunder
      2. Konversi Dokter Umum menjadi Dokter Keluarga
      3. Komunikasi dan Advokasi yang efektif
      4. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak serta penangannnya jika terdapat Kelainan
      5. Peranan Suplemen (probiotik) pada Tumbuh Kembang Anak
      6. Introduction to Anti Aging Medicine
      7. Pemanfaatan Teknologi IT dalam PKB
      8. Vaksinasi & Current Update Ca-Cervix
      9. Pathogenesis Osteoarthritis dan Penanganan Terkini
      10. Peranan EFAC dalam terapi Osteoarthritis
      11. Dasar-dasar dan Aplikasi Klinik Stem Cell
      12. Workshop Pelatihan Diabetes dan Komplikasinya

      Tunggu apalagi, segera hubungi:

      • Sekretariat PDKI: 022-4266547
      • Dr Maria: 0818-09701485 atau 022-91555205
      • Teguh: 0899-6102161

      MORE (Mobile Rewards Exchange) dari Intouch

      Bingung membelanjakan point-point yang terkumpul dari pelbagai vendor? PT inTouch, pengembang aplikasi bergerak di Indonesia sejak bulan April 2008 telah membuka mall terbesar di dunia dalam ponsel Anda. Aplikasi yang diberi brand name MORE merupakan singkatan dari Mobile Rewards Exchange.


      Menurut Dharmaparanaya, Sales Manager MORE Indonesia, MORE adalah layanan mobile inovatif yang menghadirkan sistem rewards yang memberikan keuntungan, kendali, kebebasan dan kemudahan bagi pelanggan dengan manfaat koalisi rewards poin yang disedikan oleh perusahaan-perusahaan mitra.

      Untuk pertama kalinya, pelanggan di Indonesia dapat mengumpulkan poin yang lebih banyak dengan cepat karena bisa menggabungkan poin dari berbagai perusahaan dan antar anggota keluarga, saudara atau teman. Sistem rewards yang ideal seharusnya tidak membingungkan dan menyulitkan pelanggan untuk mengetahui poin yang sudah diperoleh, apa yang bisa didapat dan bagaimana cara menukarkan poin yang telah dikumpulkannya. MORE menghadirkan kemudahan mulai dari cek saldo poin, mengkonversi poin dari sistem poin mitra ke MORE-Point, dan memilih katalog barang yang bisa ditukarkan melalui ponsel yang menjalankan aplikasi MORE dimana dan kapan saja secara aman.

      MORE merupakan aliansi 20 lebih perusahaan terbesar dari masing-masing industri seperti:
      • industri seluler: Nokia dan Indosat
      • otomotif: Toyota dan V-Kool
      • industri travel: Garuda Airlines, Saphire dan Golden Rama
      • industri keuangan: Alto dan Bank BRI
      • industri retail: Metro, Ranch Market, ToysCity dan BookCity
      • industri hiburan: XXI / Mtix, SonyBMG, SeaWorld dan Senayan Bowling
      • industri wireless internet dan online shop: BizNet, CBN, IM2 dan Bhinneka.com
      • industri F&B: Dunkin Donuts dan KFC
      • industri fotografis: King Foto, Gloss dan Bridal Image
      (perusahaan Anda belum terdaftar? silakan masukkan ke comment blog ini)

      Iya dech, dengan informasi yang sebanyak itu, penulis langsung menancapkan software MORE di E-90. Lumayan... point dari Indosat selama ini khan bisa dipergunakan juga. Nunggu Jaguar nggak menang-menang. Mudah-mudahan ke depan, point yang penulis peroleh dari Citibank juga bisa dimanfaatkan. Hayo Bang Dharma, kapan bisa terealisasi? Mohon bisa di-cek perusahaan-perusahaan yang hobi menyediakan point namun agak 'pelit' menyediakan penukaran point dengan barang/jasa yang sesuai dengan kebutuhan kita sehari-hari.



      How to get MORE ?
      Selain rajin mengikuti informasi di mana MORE sedang berpameran (seperti penulis yang mengunjungi di Mal Kelapa Gading 2), bagi Anda yang tidak berkesempatan mengunjungi pameran, bisa mendapatkan aplikasi MORE secara cuma-cuma dengan mengirim SMS “MORE” (tanpa tanda petik) ke 9800 untuk mendapatkan URL yang dapat digunakan untuk mendownload aplikasi ke berbagai tipe dan merk ponsel yang menggunakan layanan dari semua operator utama (Indosat, Telkomsel, XL, 3, Telkom Flexi, Esia). Atau kunjungi www.more.co.id dari PC atau wap.more.co.id dari ponsel anda. Kalau ada yang kurang jelas, silahkan hubungi customer support MORE di 0800-123-MORE (6673).


      Foto di atas adalah penulis bersama Bang Dharma dan M' Yessy dari Golden Rama yang sudah manawarkan point yang penulis peroleh untuk ditukar dengan salah satu paket tour. Wah harus rajin mengumpulkan poin juga nich.
      Bagaimana dengan Anda, sudahkah Anda ber-MORE ria?

      Naik kereta Gondola Ancol

      Berada di tempat tinggi, melihat ke bawah merupakan pengalaman yang selalu penulis nanti-nantikan. Rasanya bebas sebebasbebasnya.

      Penulis pernah mengunjungi Tower 101 di Taipei Taiwan. Menurut yang punya gedung, tower ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Penulis juga pernah berada di Menara Kembar Petronas Malaysia. Sayang hanya sampai pada jembatannya saja, tidak sampai di puncak menara.

      Sudah ada rencana untuk mengunjungi Grand Canyon, namun sayang seribu sayang, karena mesti mengurus salah satu proyek, sehingga belum bisa terlaksana. Padahal pengurusan tiket, visa, dll., sudah dilakukan lho. :-(

      Sebenarnya mengenai hal tersebut, tidak fanatik-fanatik banget sih. Hanya saja, jika ada kesempatan penulis selalu mencari lokasi yang tinggi.


      Kena Dech!!

      Ada kejadian lucu yg penulis alami dgn keinginan yang aneh ini. Lebih tepat disebut dengan seruan, "kena deh!!".

      Sewaktu bertugas meliput pelaksanaan Mukernas IDI di Semarang, penulis berkesempatan menginap di hotel Santika Semarang. Seperti biasa, begitu sampai di bagian pendaftaran, penulis langsung meminta kamar yang paling tinggi. Diberikanlah kamar tingkat 3. Sayang seribu sayang, karena hotel tersebut adalah hotel lama, maka tidak ada fasilitas lift dalam hotel tersebut. Jadilah penulis naik turun tangga. :-(

      Beruntung penulis tidak diberi kamar yang lebih tinggi dari itu.


      Mengunjungi Kereta Gondola di Ancol
      Berikut foto-foto penulis bersama keluarga sewaktu naik Kereta Gondola di Ancol. Seperti biasa kamera mungil dari Communicator E90 selalu dengan setia menemani penulis, selain Nokia 5310 dari isteri penulis.

      Ada kejadian lucu juga pada kesempatan ini. Saat memasuki menara antara, tepat seperempat perjalanan (rasanya tidak perlu dijelaskan lebih detil, karena pasti sebagian besar pembaca sudah pernah naik kereta yang sudah dioperasikan sejak tahun 2004 ini), kita dibawa memasuki ruang gelap seakan-akan berada di angkasa luar. Secara 3 dimensi, terdapat banyak benda-benda angkasa luar seperti: batu-batu meteor, planet, pesawat apolo berbendera merah putih serta tak lupa orang/boneka berpakaian angkasa luar yang bergerak naik turun. Saking riil gambaran yang diciptakan sehingga kita serasa berada di angkasa luar. Sayang seribu sayang, imajinasi tersebut buyar seketika karena ada seseorang (teknisi?) yang berjalan melintasi kereta kami. Tanpa baju angkasa luar lagi.
      Teman-teman pembaca setia blog ini,
      apakah Anda memiliki juga pengalaman berada di ketinggian?
      Bagaimana perasaan Anda?

      Andakah Blogger yang kami cari?

      Teman-teman blogger yang saya hormati,
      Seperti kita ketahui bersama, rekan kita Sdr Ari Wibowo, pengelola blog http://abgnet.blogspot.com/ sudah tidak bersama kita lagi.

      Namun semangat dan cita-cita beliau tetap harus diteruskan.

      Saat ini blog ABGnet membutuhkan Anda dengan kriteria:

      • berjiwa penulis baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris
      • mempunyai pengetahuan yang luas
      • mau bekerja paruh waktu
      • berdomisili di Jakarta
      • terbuka terhadap informasi-informasi baru terutama dalam bidang Life Science (Any of the science disciplines that studies living things: biologi, kedokteran, ekologi, antropologi, dll. )
      Jika tertarik, bisa kiranya mengirim e-mail (japri) ke saya erik.tapan@yahoo.co.id, yang berisi CV (beserta pasfoto) dan yang penting contoh blog yang dikelola.

      Pendaftaran ini dibuka hingga lowongan ini terisi.

      Workshop Bio-Identical Hormone Replacement Therapy


      Teman-teman sejawat dan para pembaca blog ini yang berbahagia,

      Baru saja saya mengikuti Workshop Bio-Identical Hormone yang dibawakan oleh pembicara anti aging medicine internasional, S. Ali. Mohamed MD dari The Clinic for Graceful Aging, Houston, Texas.
      Acara ini dihadiri oleh sekitar 50 peserta, terutama para dokter yang sedang menempuh pendidikan S2 (Master) Anti Aging Medicine.
      Dr Ali memulai presentasinya dengan bercerita sekilas mengenai Anti Aging Medicine. Bagi yang sudah sering mengikuti aktifitas AAM, tentu hal ini sudah sering didengar. Untunglah, informasi ini hanya diulas sekilas.

      Suasana makin hangat, ketika dokter pendiri Organisasi Anti Aging Medicine di India ini memaparkan mengenai Bio-Identical Hormone Replacement Therapy (BHRT). Hormon, menurut Dr Ali, layaknya seorang petugas pembersih ruangan ini. Saat ini semua dalam keadaan rapi. Lampu-lampu dalam ruangan ini nyala dengan baik, meja ditutup dengan taplak yang rapi. Gelas dan permen tersusun rapi di atas meja. Bagaimana kalau suatu saat, sang pelayan yang mengatur hal ini, ngambek atau ambil cuti, misalnya saat Hari Kemerdekaan?

      Tentunya semuanya akan kacau balau. Proses cuti pelayan tersebut-lah yang disebut dengan proses aging, analogi sang dokter.

      Selama ini banyak yang berpikir, bahwa usia-lah penyebab penurunan fungsi-fungsi tubuh manusia. Ternyata sebaliknya, penurunan kadar hormon-lah yang menyebabkan gangguan pada usia lanjut. Dengan adanya suplemen hormon dari luar tubuh, tentu kondisi/penyakit yang umumnya dialami oleh mereka yang sudah lanjut usia, tidak akan dialami lagi.
      Jenis hormon yang paling baik menurut dr Ali adalah Bio-Identical. Bio-idential means that the hormones are an exact atom-to-atom match to the hormones produced by the human body (dalam bahasa aslinya agar tidak salah).

      Tubuh akan mengenali molekul BHRT dan memperlakukannya sama seperti hormon yang diproduksi oleh kelenjar manusia (ovarium, tiroid ataupun kelenjar adrenal).

      Penyebutan Hormon berdasarkan cara kerja

      Agar lebih mudah mengingat, Dr Ali memperkenalkan gelar-gelar tertentu kepada beberapa hormon seperti:


      1. Tiroid = The metabolic Hormone
      2. Estrogen = The primary Female Hormone
      3. Progesteron = The Hormone of Pregnancy
      4. Testosteron = The Hormon of Desire
      5. DHEA = Immune System Booster Hormone
      6. Melatonin = The Sleep Hormone
      7. Human Growth Hormone = in Childhood: Growth Hormone, in Adult = Healing Hormone
      8. Cortisol = The Stress Hormone


      Acara sesudah makan siang

      Sesudah makan siang, para peserta dikejutkan dengan pertanyaan menantang dari dr Ali,
      "What do these ladies (Princess Diana, Broke Shields, Marie Osmond and Andrea Yates) have in common?".
      Dr Ali kemudian menjelaskan bahwa mereka yang disebutkan itu, menderita apa yang disebut dengan Post Partum Depression. Sayangnya, saat itu belum banyak yang mengetahui bahwa sindrom tersebut bisa diatasi dengan Bio-Identical Hormone Replacement Therapy. Akibatnya para dokter menangani gejala sindroma tersebut dengan pelbagai obat-obat depresi / anti stress. (baca link Baby Blues di bawah).


      Beberapa kondisi/keadaan/penyakit yang bisa diterapi dengan BIHRT
      Menurut pembicara Anti Aging Medicine International tersebut, kekurangan level hormon dalam tubuh manusia bisa menyebabkan gangguan yang berarti baik pada wanita maupun pria. Beberapa di antaranya adalah:

      • Pada wanita:
        Pre-menstrual Syndrome (PMS), Fibrocystic breast disease, Uterine fibroids, Endometriosis, Polycystic ovarian syndrome (PCOS), Post Partum Depression, Premature ovarian failure (POF), Infertility, Allergies, Hypo-thyroidism peri and post-menopause

      • Pada pria:
        Hypo-thyroidism, Allergies, Sexual Dysfunction, Andropause and Mood Disorders


      Contoh-contoh kasus
      Pada sesi terakhir dari workshop ini dipaparkan contoh-contoh kasus yang pernah ditangani oleh Dr Ali. Hal ini disambut dengan antusias oleh para peserta yang sebagian besar sudah berpraktek dan menerapkan anti aging medicine. Diskusi seru pun terjadi.
      Begitu serunya diskusi yang terjadi, hingga tak terasa workshop yang steril dari sponsor product manapun ini sudah harus berakhir sekitar pukul 5 sore. Wajah puas nampak dari para peserta dokter-dokter anti aging medicine.

      Catatan:
      Workshop sehari ini terselenggara berkat kerjasama American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M), Center for Study of Anti-Aging Medicine (CSAAM) FK Udayana bersama dengan Perkumpulan Kedokteran Anti-Penuaan Indonesia (PERKAPI/ISAAM). Selain di Jakarta, workshop ini juga akan diadakan di Surabaya (12 Agustus) dan Bali (14 Agustus).

      Artikel-artikel mengenai Baby Blues (Post Partum Depression):
      1. Membebaskan isteri dari Baby Blues
      2. Post-Partum Depression: Bila Bahagia berubah menjadi Benci
      3. Nita (mantan penderita Baby Blues menulis kisahnya)
      4. Buku Broke Shields

      Workshop Bio-Identical Hormone Replacement Therapy

      Teman sejawat yth,

      Seperti kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor (yang paling berpengaruh) pada penuaan (aging) adalah penurunan kadar hormon dalam tubuh manusia. Makin tua seseorang, makin berkurang jumlahnya. Hal ini bisa
      mengakibatkan banyak masalah.
      Menanggulangi "penyakit" penuaan hanya dari sisi kosmetik semata bukanlah cara yang cukup bijak. Karena itu sangatlah penting adanya suplementasi hormon dari luar tubuh.

      Kita menyadari bahwa hormon-hormon yang sudah tersedia di pasaran, berasal dari zat-zat kimiawi yang sering dihubungkan dengan side efe-knya. Padahal sich sebenarnya asalkan diberikan secara kontrol, side efek-nya sangat minimal.
      Namun, saat ini ada terobosan baru dalam dunia kedokteran. Diperkenalkan dengan Bio Identical Hormon atau zat-zat yang secara biologis identik dengan hormon, dengan efek side efek yang sangat minimal bahkan nyaris tidak ada (CMIIW).

      Informasi lebih lanjut mengenai hal tersebut, para dokter bisa mengikuti Workshop:
      "BHRT Revolution + Clinical Solutions,Live Cases Presentation Workshop on Bio-Identical HRT for your Daily Practise"

      Sunday, Aug. 10, 2008 di Hotel Borobudur Jakarta
      Tuesday, Aug. 12, 2008 di Hotel Sheraton Surabaya
      Kamis, Aug. 14, 2008 di Victus Life Bali

      This Workshop will cover the following clinical practical steps:
      - treating adult hormone deficiencies
      - lab testing
      - blood, urine and genetic predisposition- how to prescribe
      - algorithms for hormone optimization
      - which hormones, when and at what dosages

      - what to do when problem arise
      Untuk keterangan lebih lanjut, bisa menghubungi:
      Mel Tjandra di: +62-813-3812-0008 atau +62-888-110-6588

      Links:

      1. Daftar Acara & Formulir Pendaftaran bisa akses di sini.
      2. Profil Pembicara seperti tampak pada foto di atas, S. Ali Muhamed MD: http://www.prolibraries.com/a4m/?select=speaker&speakerID=34
      3. Bioidentical Hormone Replacement Therapy in Anti-Aging Clinical Setting:
        An Official Position statement from the A4M
      4. ABC TV: http://www.abc.net.au/tv/secondopinion/txt/s1412707.htm
      5. The HRT Dilemma: Natural vs Synthetic, What the Media Forgot to tell you

      Bazar makanan Vegetarian Yayasan Buddha Tzu Chi


      Salah satu materi yang bisa dilihat pada DVD An Inconvenient Truth-nya Al Gore adalah, ternyata penyebab terbesar dari global warming BUKANLAH gas buangan (karbondioksida) dari kendaraan bermotor. Menurut informasi para ahli lingkungan hidup yang dikutip Al Gore, peternakan-lah penyebabnya.

      Terdorong niat untuk mengurangi pemanasan global (prinsip: mulai dari hal yang kecil, diri sendiri dan sekarang ini), berkunjunglah saya ke Bazar makanan vegetarian yang diselenggarakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Pengunjung rame sekali. Makin siang, makin banyak. Tempat parkir tidak muat lagi, sehingga banyak mobil di parkir di luar lapangan parkir Kantor Marketing The Golf Pantai Indah Kapuk.

      Pelbagai macam makanan vegetarian tampak di bazar yang super rame tersebut. Semuanya mirip-mirip dengan makanan non vegetarian. Selain makanan vegetarian, kita juga bisa melihat aksi para anak-anak yang memperagakan bahasa isyarat tangan (sou yu).

      Dalam gambar tampak saya berfoto dengan Bpk. Ji Shou dari Malaysia. Orangnya bersahaja & sederhana banget. Dari beliau saya belajar banyak mengenai usaha-usaha mengurangi Global Warming. Bisa nggak yha?

      Teknologi vs Informasi (pengalaman dengan Halo Telkomsel)

      Kata "teknologi" selalu disandingkan dengan "informasi". Di mana-mana kita melihat 2 kata ini selalu berjalan bersama-sama. Bagaimana pendapat Anda jika dua kata ini tidak lagi beriringan jalannya?

      Ceritanya begini:
      Tertarik dengan kebesaran nama Telkomsel, saya pun meng-apply kartu Halo via kantor (Corporate). Pada awalnya karena saya bermaksud menjadikan Telkomsel sebagai primary number, saya memberanikan diri untuk meminta no yang unik. Maksudnya nomor unik (bukan nomor cantik tapi) adalah nomor yang ada hubungannya dengan inisial atau nama saya, misalnya terdapat angka 3745 (ERIK) atau 343745 (DRERIK) atau 82726 (TAPAN) atau salah satu kombinasi dari angka-angka di atas.
      Ternyata setelah hampir sebulan menunggu dan belum keluar juga nomor yang dimaksud, akhirnya saya menyerah. Nomor apa saja deh.

      Akhirnya datang juga
      Hari yang dinantikan pun tiba. Kartu Halo sudah tergeletak di meja kerja. Setelah Diteliti dengan saksama, membolak-balik petunjuk yang ada di dalamnya, ternyata tidak ada penjelasan sama sekali mengenai fasilitas apa saja yang saya peroleh.

      Saya pun berusaha mengontak PIC (person in charge) di Telkomsel yang sekiranya bisa memberi tahu kepada saya: apakah ada biaya bulanan, berapa harga SMS, dll., dll.
      Berkali saya menghubungi PIC tersebut, namun tidak pernah mendapat balasan. Ditelpon tidak pernah diangkat, di SMS juga begitu. Akhirnya karena ketidaksabaran, saya langsung call Veronica saja.

      Dari keterangan Mbak Veronica akhirnya saya bisa tahu fasilitas apa yang saya peroleh, seperti free biaya bulanan asalkan penggunaan > Rp. 25.000 / bulan. Setiap bulan memperoleh 100 SMS gratis dan yang penting saya baru tahu bahwa billing saya datangnya pada pertengahan bulan. Sayangnya, paket Telkomflash unlimit belum termasuk pada fasilitas tersebut, padahal sejak awal saya sudah me-request hal tersebut.

      Terus terang, jika saya bisa memperoleh nomor unik + paket telkom flash unlimited, so pasti no HP dari Telkomsel ini yang akan saya jadikan nomor telepon utama saya.

      Dan karena menurut Mbak Veronica untuk mengaktifkan paket unlimit Telkomflash harus menghubungi sang PIC tersebut, kembali saya meng-SMS yang bersangkutan. Rupanya pepatah "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah" sudah menular ke orang-orang Telkomsel. Setelah berkali-kali saya SMS (kalau voice memang tidak pernah diangkat), akhirnya keluar jawaban, bahwa untuk mengaktifkan paket tersebut, saya perlu mengisi formulir yang akan dikirim via e-mail. E-mail pun saya SMS kepada ybs dan diberi jawaban via SMS bahwa formulir sdh dikirim. Perlu diketahui bahwa proses menjalankan kegiatan dalam alinea ini, memakan waktu sekitar 3 hari.

      Nyatanya 1 minggu telah berlalu, saya sama sekali belum menerima e-mail yang dimaksud. Karena sudah tak sabar, saya langsung menuju Grapari dengan harapan bisa menyelesaikan masalah ini.
      Dengan semangat 45, saya bersama beberapa teman kantor mengunjungi Grapari Telkomsel di Jalan Pemuda.
      Ternyata antara nomor antri yang kami peroleh dengan customer yang sedang dilayani, terdapat perbedaan 40 nomor. Kalau saja setiap orang dilayani 15 menit dengan meja layanan rata-rata ada 4, berarti saya harus menunggu sekitar 10 x 15 menit alias 150 menit.

      Ya sudahlah, kami putuskan untuk mengantri lain hari saja. Akhirnya saya bersama rekan-rekan lainnya (yang tertarik juga meng-apply Telkomsel, tetapi mau langsung saja tanpa via corporate), memutuskan untuk memencet-mencet layar touchscreen yang tersedia. Siapa tahu ada jawaban yang bisa ditemui di situ.

      Betapa kagetnya saya, ada content yang belum di upadate sejak 1 Mei 2004. Pantas saja tarif SMS Postpaid Hybrid Rp. 250 / SMS.

      Kesimpulan
      Ternyata penggunaan teknologi canggih belum diikuti baik oleh SDM maupun informasi. Ada perbedaan antara teknologi yang diterapkan dengan informasi (dan sumber daya) yang tersedia.

      Bagaimana komentar atau pengalaman Anda?