IdBlogNetwork

The success story of little frog

In a kingdom of the frog, King held the climbing race tower that the height 100 m. The race gift was not half-hearted, his child personally, the Daughter of the Kingdom. The king hoped for only strongest frogs that won, since his tower the height asked for the pardon (for the frog certainly). Handed over the management of the kingdom in strong, certainly was the best matter.

During that was waited for then arrived. There were hundreds of frogs that has registered and want to fought proposed to the Daughter of the Kingdom, including one of the emaciated frogs. Saw the frog that was different from other solid participants was muscular, there was not any that championed him.
The race was then begun. The queen of the king (the wife of the king of the frog that geblek that) fired his pistol to air.

Brrrrrrrr, frogs then jumped up and down fought tried led. The spectator's cheering (the frog all certainly) all the time. Only did not give the spirit, the cheer dropped bounced the opponent who was championed then canned be heard. However, because of his storm almost was ascertained was not any participants in the race that could hear what was shouted by the spectators.

==================

Di
suatu kerajaan katak, Sang Raja mengadakan lomba memanjat tower yang tingginya 100 m. Hadiah lomba tidak tanggung-tanggung, anaknya sendiri, Puteri Kerajaan (catatan penulis: rajanya geblek 'kali, puterinya sendiri koq diperlombakan, tapi begitulah cerita yang sering saya baca di komik-komik HC Andersen). Raja mengharapkan hanya katak yang paling kuatlah yang menang, sejak menaranya itu tingginya minta ampun (bagi katak tentu). Menyerahkan pimpinan kerajaan pada sang kuat, tentu adalah hal yang terbaik.

Saat yang dinantikan pun tiba. Ada ratusan katak yang sudah mendaftar dan ingin berebut mempersunting sang Puteri Kerajaan, termasuk salah satu katak yang kurus kering. Melihat katak yang berbeda dengan peserta lain yang kekar berotot (ingat nggak waktu praktikum di Semester 1, tubuh katak khan terdiri dari otot semua), tidak ada satu pun yang menjagokannya.

Perlombaan pun dimulai. Sang permaisuri raja (isteri raja katak yang geblek itu) menembakkan pistolnya ke udara.

Brrrrrrrr, katak-katak pun melompat-lompat berebut mencoba memimpin. Sorak-sorai penonton (katak semua tentu) tak henti-hentinya. Tak hanya memberi semangat, sorak menjatuhkan mental lawan yang dijagokan pun terdengar. Namun, saking ributnya hampir dipastikan tidak ada satupun peserta lomba yang bisa mendengar apa yang diteriakkan oleh para penonton.

Pada meter ke-10, keadaan masih normal-normal saja. Memasuki meter ke-50, 25% peserta sudah mengundurkan diri, jatuh kembali ke tanah.

Memasuki meter ke-75, peserta tinggal 5 ekor katak saja (eh apa katak punya ekor yha?). Saat ini teriakan mulai jelas. Jika yang berhasil meloncat adalah katak yang diunggulkan, maka para penonton akan bertepuk tangan, sebaliknya jika yang melompat adalah lawannya, teriakan wuuuuuhhhh pun bergema.
Memasuki meter ke-95 hanya tinggal dua katak saja yang bertahan. Yang kekar dan yang kurus kerempeng. Tepuk tangan bergema setiap kali katak yang berotot meloncat. Seakan-akan para penonton sudah menemukan pemenangnya yang nanti akan menjadi raja mereka kelak. Sebalik, loncatan katak yang kurus kering tertinggal beberapa meter di belakang dengan loncatan yang pendek-pendek. Setiap kali katak kecil ini meloncat, teriakan wuuuuuuhhhh menggema. "Tak mungkin..tak mungkin...nyerah saja...nyerah saja", begitu penonton menghukum sang katak kecil tersebut."Mana bisa? Ngabisin tenaga.....!!"

Pas meter yang ke-99, menyerahlah sang katak yang kekar. Dengan perlahan dan perasaan penuh kecewa, sang katak kekar tersebut melorot perlahan-lahan ke bawah, menyisahkan lendir-lendirnya.

Penonton pun terdiam. Tersisa katak yang kurus kering, ngos-ngosan di meter ke-97.
Pasar taruhan pun menjadi terbuka. Ada yang pro dan ada yang kontra, tapi yang kontra lebih banyak."Bayangkan, sudah ototnya kekar pula, nggak mungkin mencapai puncak, apalagi ini yang tidak bertenaga, mana mungkin!"

Bukan hanya itu saja, kata-kata nada ejekan terus bergema. Wuhhhhhh...wuhhhh, begitu penonton berteriak setiap katak kecil ini melompat. Lompatannya pun tidak setinggi katak-katak yang lain. Kecil-kecil saja.

Akhirnya......(apakah katak ini akan mengikuti nasib katak yang kekar?) Tidak ternyata tidak.
Katak tersebut tidak jatuh mengikuti katak lawannya yang sudah lebih dahulu melakukan hal tersebut, melainkan sampai juga pada puncak menara.
Tidak ada tepuk tangan. Semua kecewa dengan hasil yang diluar harapan. Penonton kuciwa.

Saat konferensi pers, Katak pemenang lomba pun membuka rahasianya. Katak ini tahu, bahwa sebagai katak yang tidak diunggulkan, adalah tidak mudah mencapai puncak tersebut. Saat kehabisan tenaga, bisa saja tergoda oleh katak-katak lain yang sudah lebih dahulu mendarat di tanah. Belum lagi jika mendengar pandangan, ejekan dan ketawa memandang sinis dari para lawan-lawannya maupun dari para penonton. Mental bisa jatuh.

Karena itu, persiapan yang dilakukan adalah menutup telinganya rapat-rapat. Matanya hanya ditujukan ke tujuan akhir yaitu puncak menara.


Pesan Moral dari cerita ini adalah:
  1. Jika kita tahu tujuan kita baik adanya, jangan terlalu memperhatikan apa kata/pandangan orang.

  2. Tetap selalu memacu semangat agar -meskipun pelan- cita-cita kita bisa tercapai.
(seperti yang saya pernah dengar dari seorang mantan Medrep yang sekarang jabatannya Preskom)

2 komentar:

manipi mengatakan...

salam kenal dari kab sinjai sul-sel

Erik Tapan mengatakan...

# manipi
Salam kenal juga.
Blog/webnya Anda cukup informatif.
Bravo