Pengalaman bersama Garuda ke Perth, bagaimana pendapat Anda?

Memperoleh tugas mengikuti workshop di negara Kangguru Australia adalah suatu tugas yang patut dijalankan sebaik mungkin. Workshop dengan topik Telemedicine, adalah hal yang menarik, sehubungan dengan aktifitas penulis saat ini, boleh dibilang (meskipun masih tradisional, hanya via e-mail) termasuk dalam kategori Telemedicine juga. Apalagi dilaksanakan di negara yang terkenal karena aktifitas telemedicinenya, Flying Doctors. Sungguh tidak salah lagi.

Meskipun beberapa pihak menyarankan untuk mempercayakan moda transportasi ke Perth, menggunakan salah satu perusahaan penerbangan luar negeri yang profesional / tingkat dunia, namun jiwa/semangat patriot penulis, membuat penulis telah membulatkan tekad untuk terbang bersama Garuda Indonesian Airlines (GIA). Saat dunia dilanda krisis seperti sekarang, apalagi yang bisa penulis perbuat selain berusaha untuk "membantu" (meskipun kecilllll) bangsa dan negara ini.

Ternyata, seperti apa yang telah penulis dengar dari pelbagai pihak, beberapa hal terjadi sebelum keberangkatan penulis. Jadwal penerbangan kepulangan penulis dari Perth ke Jakarta (via Bali), di re-schedulle hingga 4 (empat) kali. Untung pihak travel agent yang mengurus hal ini, sering mengupdate ke penulis. Kalau tidak, mungkin saja penulis bisa terkatung-katung di negeri orang.


Pertanyaan "apakah jadwalnya bisa berubah Pak?" yang berkali-kali sampai via HP penulis, menurut penulis sebenarnya tidak bertanya melainkan memberitahu. Apakah bisa penulis mengatakan, "Tidak bisa!"
Lucunya, masih menurut sang travel agent, merekalah yang harus aktif mencari tahu perubahan tersebut.

Akhirnya, tibalah saat yang dinantikan tersebut. Dengan masih menyimpan sejuta unek-unek di hati, penulis pun berjalan sepanjang belalai pesawat di Bandara Sukarno-Hatta. Setibanya dalam kabin pesawat, langsung saja penulis mengutarakan kekesalan tersebut kepada salah satu pramugari (yang terdekat).

Dengan wajah prihatin, sang pramugari menjelaskan bahwa, memang benar pada saat ini banyak jadwal penerbangan yang dibatalkan. "Koq bisa?", jiwa wartawan penulis pun keluar. "Bukankah dari Paman Google, disebutkan bahwa penumpang penerbangan dari Australia ke Bali, sudah penuh hingga Desember 2008?", kata penulis yakin.
Ternyata -menurut info pramugari tersebut secara berbisik-bisik- banyak turis yang membatalkan niatnya untuk berkunjung ke Bali akibat Travel Advisory.

O....ou.., ternyata ini lebih serius dari yang diperkirakan penulis. Kekesalan penulis (terhadap perubahan jadwal penerbangan yang berubah terus tanpa pemberitahuan), pupus sudah. Perasaan penulis, kasihan juga membayangkan betapa prihatinnya keadaan di airline kebanggaan bangsa Indonesia ini.

Tentu akibat cancel-nya beberapa jadwal penerbangan, banyak awak pesawat yang harus mengurangi jam terbangnya. Bukan tidak mungkin, ada di antara mereka yang terpaksa dirumahkan sementara.

Menurut analisa amatiran penulis, penyebab berkurangnya jumlah mereka yang bepergian menggunakan pesawat udara, tidak hanya dari travel warning semata. Bisa jadi karena keadaan krisis ekonomi yang sedang melanda dunia saat ini.

Ada perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata (belum menemukan kata/kalimat yang tepat) bahwa, tindakan penulis untuk tetap terbang bersama GIA, benar adanya.

Pelayanan di kabin pesawat pun sangat ramah. Hanya sepertiga (perkiraan penulis) kapasitas pesawat yang terisi. Minuman jenis juice (jeruk) datang menghampiri penulis. Tak lupa juga dengan temannya, yaitu Kacang Tanah Panggang Rasa Asin (Roasted Salted Peanuts).

Iseng-iseng penulis membaca tulisan pada snack tersebut, bunyinya:
Diproduksi di Singapore oleh SENG HUA HNG FOODSTUFF PTE. LTD.