IdBlogNetwork

Pengobatan Herbal untuk Kanker Serviks, apa ada yang salah?

Saat sedang berolahraga, saya sempat sekilas melihat acara Herbal di salah satu station televisi. Kalau nggak salah acara yang dimulai pada pukul 9 pagi ini dipandu oleh artis cantik, Arzeti Bilbina.

Topik yang dibahas adalah Kanker Leher Rahim. Acara dimulai dengan tayangan mengenai situasi berapa banyak wanita menderita kanker leher rahim. Ada gambar-gambar/film 3D yang cukup baik mengenai organ kewanitaan tersebut. Lalu masuklah narasi betapa sedihnya saat ini para wanita Indonesia yang selalu datang berobat jika kankernya sudah stadium lanjut.

Ditunjukkan pula bagaimana ramainya suatu pelayanan kesehatan melayani pelbagai macam orang (terakhir saya menduga itu adalah gambar yang diambil dari tempat praktek sang nara sumber yang adalah seorang herbalist).

Saya sendiri bukanlah orang yang anti memanfaatkan tanam-tanaman untuk menjaga kesehatan. Malah sebelum memanfaatkan bahan-bahan kimiawi, saya lebih senang memanfaatkan tanaman untuk keadaan seperti saat cape', diare bahkan untuk menjaga level lemak darah, dll.

Tapi apakah bijaksana melakukan terapi herbal pada penyakit seperti kanker?



Dalam salah satu pemaparannya, sang herbalist tersebut mengatakan, bahwa herbal itu sangat aman, jika konsumsinya tidak cocok atau berlebihan, maka tidak ada bahayanya. Satu-satunya kerugian dideritanya hanyalah pemborosan karena tidak bermanfaat, kalau tidak salah seperti itu pesan yang disampaikan.
Meskipun saya kurang sependapat, namun namanya orang berpromosi, ya tentu boleh-boleh saja.

Selanjutnya ditampilkan seorang dokter wanita dari Yayasan Kanker Indonesia (YKI).
Wauw keren, gumam saya. Tumben acara beginian ada dokternya (biasa dokter jadi pemandu acaranya, hik...hik..hik.., becanda). Pasti dokter tersebut meskipun tidak akan mengkontra terang-terangan, namun minimal bisa memberikan informasi yang berbeda (dari sudut pandang bidang kedokteran tentu), agar bagi siapa saja yang melihat acara tersebut bisa memperoleh informasi yang seimbang. YKI gitu lho!!

Ternyata harapan saya meleset. Sang dokter sama sekali tidak menyinggung mengenai pengobatan. Yang dibahas hanyalah: apa itu kanker serviks (akhirnya membuat bingung Arzeti dengan mulut atau leher rahim), apa perbedaan tumor dan kanker, dst...dst..

Apakah ini berarti secara tidak langsung YKI mendukung pengobatan herbal untuk kanker serviks?

-------------------------------------------------------------
Ingin CANTIK tapi tetap SEHAT? Klik ini: http://bit.ly/LMelia 
-------------------------------------------------------------

Mungkin banyak yang belum tahu apa "bahaya" menggunakan "herbal" untuk mengobati penyakit kanker. Herbal yang saya maksud di sini tentu (sesuai dengan yang saya lihat di acara tersebut) berasal dari tanam-tanaman yang diolah sedemikian rupa dengan takaran seadanya (ukurannya hanya berupa satu tangkai daun, dst..dst). Apalagi mengharapkan riset terhadap metode pengobatan sejenis itu.

Bahayanya memang (mungkin) tidak akan mematikan langsung pasien yang menderita TETAPI menunda pengobatan yang semestinya bisa dilakukan. Hasilnya pasien akan kembali ke tenaga medis dengan keadaan yang lebih parah dan lebih sukar lagi disembuhkan.

Semoga ke depan, baik pengelola TV, apakah Yayasan Kanker Indonesia, mau lebih peduli lagi untuk memberi informasi yang baik dan benar berdasarkan keilmuan dan tanggung jawab masing-masing.

Atau mungkin saya yang salah yha? Mungkin saja, begitu ampuhnya herbal tersebut sehingga YKI mau mengakomodasi menjadi salah satu alternatif pengobatan kanker serviks. Mudah-mudahan benar dugaan saya.

51 komentar:

Anonim mengatakan...

Teman-teman pembaca ysh,
Banyak komentar dari And (pada pelbagai media) mengenai topik yang saya posting ini.
Untuk mudahnya, saya rangkum di blog ini. Tujuannya diskusi ini adalah informasi yang seimbang sehingga masyarakat bisa menilai sendiri dan mengambil keputusan sendiri mana yang cocok dengan keadaan sendiri.

Sekiranya ada yang kurang berkenan (namun saya rasa tidak akan karena semuanya saya ambil dari forum diskusi yang terbuka), bisa memberi tahu saya, nanti saya delete komentarnya.
Atas perhatian dan partisipasinya diucapka banyak terima kasih

Erik Tapan

Winarto mengatakan...

Sdr Erik Tapan

1. Dari uraian Sdr saya tahu bahwa anda bukan seorang dokter. Seorang dokter tidak akan berpandangan begitu negatif terhadap pengobatan herbal. Selain itu seorang dokter apalagi onkolog tidak akan berharap terlalu besar terhadap keberhasilan pengobatan kanker.

2. Sebaiknya anda tahu juga bahwa Departemen Kesehatan telah mengadopsi pengobatan herbal di pelayanan medis dengan sebutan pengobatan komplementer. Baca Kepmenkes 1109/Menkes/Per/IX/2007 Tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer Alternatif di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Kemekes 1076/ Menkes/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional. Standar Pelayanan Medik Herbal - Depkes 2007.

3. UI sedang mempersiapkan Fakultas Kedokteran Herbal (Komplementer) yang akan dibuka tahun 2012.

4.Jika semua penyakit bisa diobati secara medis konvensional tentu tidak perlu ada pengobatan lain.

5. Obat herbal Indonesia adalah obat asli yang mampu menghidupkan dan memelihara kelestarian manusia Indonesia sampai dengan tahun 1904 yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda mengadopsi pengobatan barat dengan didirikannya STOVIA di Jakarta.

6. Sejak manusia diciptakan, Tuhan tidak lupa menciptakan obat bagi manusia. Bukan hanya makanan, minuman dan pakaian yang Ia sediakan tetapi juga obat bagi manusia. Jadi obat sudah ada sejak awalnya.

Terimakasih.
Winarto - Karyasari

Phaidon L Toruan mengatakan...

Saudara Winarto,
Saya dr Phaidon L Toruan, lulusan fakultas kedokteran universitas padjajaran bandung tahun 2000. Saya kenal dr Erik Tapan dengan baik dan menurut saya apa yang dikemukakannya adalah benar. Cara pandangnya lurus sebagai dokter.

Anda tidak memperhatikan tulisannya. Yang dia tidak setuju adalah ketika mengobati seseorang, tidak ada yang namanya evidence based. Mengukur dosis yang tidak tepat dengan mengatakan sepotong dan seutas. Saya penganut gerakan kembali ke alam, akan tetapi ketika sampai pada pengobatan alami seharusnya yang disampaikan adalah penelitian, bukan pengalaman. Pengalaman boleh sebagai referensi.

Pernyataan dr Erik tentang penyampaian yang misleading yang harusnya jadi pertimbangan yaitu ketika herbalist menyatakan bahwa herbal aman asal tidak berlebihan.. Apakah ini sama dengan bicara bahwa nasi aman asal tidal berlebihan?

Pernyataan bahwa herbal pasti aman bisa menyesatkan. Cukup banyak tumbuhan yang mempunyai efek racun tubuh. Dan lagi..ketika menyangkut kata alternatif, artinya bisa sembuh dan bisa tidak. Kalau tidak sembuh walau dengan herbal berarti Tuhan yang berkehendak demikian. Berarti sama saja mencari peluang bisnis.
Kami dokter tidak menentang herbal sama sekali. Hanya saja ketika menyangkut pengobatan dan dipiblikasikan pada masyarakat, sebaiknya ada bukti ilmiah.
Terakhir, saya jamin seratus persen bahwa Erik Tapan adalah dokter asli. Salam

Pambudi W mengatakan...

Mohon maaf, pak winarto. dokter Erik Tapan memang bukan dokter, tetapi beliau dokter internet (he, he, becanda dok...) Saya simak pendapat dr. Erik ada benarnya. Dokter erik juga tidak menentang adanya pengobatan alternatif atau komplementer (istilah di masyarakat lebih banyak yang menyebut alternatif). Buktinya dr. Erik (pernah/masih?) menggunakan bahan alami seperti pernyataannya: (Saya sendiri bukanlah orang yang anti memanfaatkan tanam-tanaman untukmenjaga kesehatan. Malah sebelum memanfaatkan bahan-bahan kimiawi, saya lebih senang memanfaatkan tanaman untuk keadaan seperti saat cape', diare bahkan untuk menjaga level lemak darah, dll.)

Sepertinya, yg disoroti dr. Erik (mungkin ya) masalah takarannya. Bisa saja 1 gram atau 1 kilo daun jambu biji (klutuk) bisa untuk obat diare. Lalu, yang efektif berapa banyak untuk atasi diare. Bisa saja, seseorang yang memakan 2 lembar daun jambu biji, sudah "stop pret".

Dan, mengenai obat herbal atau alternatif atau apalah istilahnya "aman" alias tak ada efek samping (kecuali yang mengonsumsi purwaceng yg dipercaya sbg afrodisiak "efeknya maju ke depan", he, he. benarkah?) juga mesti ada berbagai uji. Efek samping tidak serta merta muncul di hari yang sama, bisa saja jangka panjang munculnya. Jika dikatakan obat herbal tak ada efek samping, mengapa juga ada yang menyatakan bahwa wanita hamil tidak dianjurkan mengonsumsi bawang putih (allium sativum).

thanks
Pambudi W

Aru Sudoyo mengatakan...

Saya sependapat dgn dr Toruan. Para herbalist tdk perlu terlalu defensif dan cepat mengadakan "aggressive defense". Sebagai seorang dokter pun saya setuju dgn penggunaan herbal bila ada bukti atau bila pengobatan "konvensional" tidak bisa dipakai lagi.

Kita amat kaya dgn tanaman obat dan harus dikembangkan agar tidak diambil orang lain. Namun pasien kanker yang ke Guangzhou pun mendapat obat modern dan dibekali herbal cina sebagai supplemen.

Jadi kuncinya dalam adakan polemik ini adalah membedakan antara pengobatan komplementer dan alternatif. Mukernas IDI yl juga mebahas ini. Saya pun memakai bahan2 herbal untuk menjaga kesehatan saya sendiri, namun amat prihatin melihat pasien2 saya yg dgn diagnosis kanker stadium 2 lalu menghilang dan kembali dgn stad 4 setelah "mencoba" obat herbal.

Mari kita gali dan majukan pengobatan herbal milik kita sendiri, dan naikkan ia setinggi ayurvedha di India.

Tapi maaf tidak untuk kanker sampai ada bukti. Kasihan paien2 saya.

Aru Sudoyo, dokter, ahli onkologi medik

Andre Karema mengatakan...

Kalau menurut saya, mungkin tanaman herbal bisa bermanfaat tapi data klinis dan data penelitian mungkin harus dilakukan dengan menggunakan penelitian efek obat dimulai dengan hewan coba sampai dengan pada manusia sehat apa itu tidak toksik dan pada orang yang sakit tapi hal itu sulit untuk dilakukan butuh jangka waktu yang lama dan dana yang besar serta multi center. kalau menurut saya pengobatan modern sudah terbukti menurunkan angka mortalitas dan harapan hidup pasien dengan kanker cerviks deteksi dini dengan PAP SMEAR dan operatif terbukti bermanfaat pada psien dengan stadium I dan IIa kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi. banyak yang berhasil dan jarang yang residif.

Bahar Azwar mengatakan...

Di negara ini apa yang tidak mungkin Rik. Jangankan herbal pengobatan penyakit apapun dapat dilakukan dari kamar siaran. He he he

Rohprabhowo mengatakan...

mas erik, bener yang dibilang mas bahar itu ..... apa sih yang gak bisa? beberapa temen sejawat kita saja, seringkali melakukan pradok kecil2an cukup dengan duduk manis di stasiun tv sambil sesekali guyon sex, padahal yang dibicarakan bukan sesuatu yang lucu. implementasi yang "evidence based" seringkali dijadikan acara yang dipertontonkan secara umum. tidak heran kalau sekarang ini, klien dari kalangan "bawah" saja sudah fasih dengan kalimat2 hpv, patofisiologi, metodologi pengobatan, dll, hanya berdasarkan "referensi" dari "oknum" sejawat kita yang melakukan pradok-taintment, padahal esensi pradok lebih sakral. jangan lagi cuma bicara urusan herbal2an, lebih seru lagi, pasti! mestinya masing2 dari kita, dokter (U-G-S) bisa memilah2 mana hal2 kedokteran yang masuk domain masyarakat awam, dan mana yang untuk kalangan terbatas.tapi yaaaa namanya hubungan ekonomi-kedokteran yang semakin sulit diurai, jadinya muncul kegetiran seperti yang mas erik sampaikan.

Handrawan Nadesul mengatakan...

Halo Erik,
Sudah lama mencemaskan hal itu. Lebih satu stasiun TV membiarkan tayangan pembodohan yang merugikan masyarakat. Kerugian bukan saja tak menyembuhkan, melainkan terlambatnya kasus kanker diterapo medik sebab pasien mampir dulu di orang pinter.
WHO mengakui adanya terapi alternatif (Complementary alternative medicine,CAM). Namun tidak setiap apa saja yang bersifat terapi non-medik tentu bisa diterima akal sehat medik. Di situ masalahnya.
Masyarakat butuh informasi medik yang benar. Internet juga penuh dengan info medik yang bohong (hoax) dan menyesatkan pembacanya. Saran saya, Depkes melakukan sensor tayangan sejenis itu.
Herbal dan semua bahan simplicia tentu saja bisa ada yang berkhasiat. Buat kita dunia medik tak cukup hanya berkhasiat, karena perlu protokol uji tonxicity. Ini yang tidak dilakukan bahan berkhasiat. Berkhasiat tapi tak aman, tidak dianjurkan dikonsumsi.
Ya, perlu lebih banyak memasyarakatkan kerisauan sejawat Erik. Saya tak henti melakukannya lewat tulisan.

Bahar Azwar mengatakan...

Namun Mas Erik, Mas Roh dan Mas Han orang pintar kita lebih jago di semua lapangan. Di Amrik misalnya CAM itu dibawahi oleh NCCAM - National Center for Complementary and Alternative Medicine bagian dari NIH (National Institutes of Health). Di negeri ini kalaupun ada mungkin namanya saja. Di Amrik, healer dididik dalam suatu sekolah tinggi dengan kurikulum yang jelas. Di negeri ini langsung mengobati. Di Amrik, healer harus memiliki sertifikat dan bayar pajak. Disini cukup dengan izin Depkes. Hanya dokter yang harus bersertifikat, terregistrasi, izin praktek dan dikejar petugas pajak. Honor doa dan zikir orang pintar memindahkan penyakit ke kambing adalah 10 jutaan plus kambing guling tanpa pajak apalagi tuntutan malpraktek. Satu kali konsult tanpa tindakan paling 100 ribuan, dikejar pajak dan harus siap membayar pengacara. Obat? Obat mereka cukup dengan izin Depkes dan boleh dispensing. Mana tahaaaaaaaaaaan

Icho Ahmad mengatakan...

Emang obat herbalnya apa dok ?

Andry Edwin mengatakan...

betul penundaan bisa fatal,bbrp kasus yg sy refer keluar jg krn mrk mencoba alternatif dl..kalo sdh begini siapa yg salah? informasi preventif yg kurang kah ? deteksi dini yg telat kah ? komunikasi dokter yg kurangkah ? sehingga alternative med cenderung jadi prioritas utama

Ventura Elisawati mengatakan...

Kalau untuk pencegahan, apa obatnya dok?

Judi Januadi Endjun mengatakan...

Hi Boss, masih ingat saya ? Terapi alternatif memang banyak menjanjikan mimpi. Kita juga berperan dalam hal tidak segera memintarkan masyarakat apalagi kontrol pemerintah terhadap produk herbal tsb masih kurang. Bila melihat patofisiologinya, virus HPV tsb belum pernah ada uji klinis maupun laboratorik thd zat herbal. Yg plg penting adalah ...pencegahannya, saat ini sdh ada vaksin yg harganya dikurangi hingga sekitar 550.000 rupiah per suntik, hal lain..jangan free sex. Jadi...kita harus rajin nulis utk bikin pinter masyarakat. mari berjuang, smoga Tuhan YME menolong kita semua. amien. JJE

Ning Harmanto mengatakan...

Slamat pagi para dokter dan pemerhati kesehatan. Kebetulan saya seorang herbalis yang punya klinik herbal namun tetap menggunakan tenaga dokter sebagai konsultan medis. Memang sangat memprihatinkan beberapa tayangan televisi yang mengekspose beberapa pengobat yang pola pengobatannya tidak masuk akal. Saya setuju harusnya ada sensor untuk acara sejenis agar masyarakat tidak terjebak oleh praktek pengobatan yang merugikan.

Dari pengalaman saya menekuni herbal selama sepuluh tahun, sebenarnya potensi pemanfaatan herbal untuk aneka penyakit kanker/kronis sangat membantu penyembuhan. Saya memiliki data pasien yang cukup lengkap dengan proses penyembuhannya dan tentunya juga ada yang gagal. Dibantu LIPI saya terus melakukan penelitian UJI KLINIS PRAGMATIS, sehingga kedepan akan bermanfaat untuk kalangan medis dan masyarakat,mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan pengobatan herbal. Saya sangat berharap herbal Indonesia bisa mendapat perhatian pemerintah untuk penelitian lebih lanjut

sommerset mengatakan...

Nice site you have here..
Thanks for the info..I'll use this a lot

dr. Wilbert.S.MD. SSi mengatakan...

tidak ada perbedaan signifikan antara herbal atau kimia. Tergantung tepat sasarannya. Herbal bagus? tidak juga. Ganja, coccain termasuk kategori herbal, tapi bila digunakan tidak pada tempatnya sangat berbahaya. Begitupun parasetamol, yg bahkan kita berikan pada anak bayi, dapat menjadi sangat merugikan bila diberikan tidak mengikuti aturan yg ada.

dr. Wilbert.S.MD. SSi

Dr. Faustinus Wirasadi T. SE mengatakan...

saya sendiri berpendapat kita harus terbuka terhadap apapun yang dapat menyembuhkan penyakit kita.
ilmu kedokteran (barat) memang banyak dikritik tentang zat-zat kimia, efek samping, dlsbnya. saya pikir ini benar. tapi kita bisa bedakan risk / benefit atas obat-obatan kimia ini. (kecuali kita - sebagai dokter - malas mempelajari efek samping atau memberikan terapi tidak sesuai dengan teori). bila demikian, kita tahu apa manfaat dan risiko obat-obatan kimia ini.

ilmu kedokteran, khususnya bedah, juga sangat berperan untuk penyakit-penyakit tertentu. bila anda menderita appendicitis, apakah mau herbal ? mau obat kimia ? atau lebih baik operasi ..... saya pikir, semua akan bilang lebih baik operasi. jadi dalam hal ini, mau herbal, mau obat kimia, toh tetap "kalah" dengan operasi.

jadi siapa yang menang ? herbal, obat kmia, bedah, akupunktur, acupressure, chiropractic. . dll.. dll...

kembali ke atas, saya pikir kita akan gunakan apapun yang bisa menguntungkan (mengobati) pasien kita. bila kedokteran (barat) okay, mengapa kita pilih herbal sebagai pilihan utama ? bila dua-duanya bisa... maka ya pilih yang paling aman.

saya pikir, jika herbal bisa di standardisasi, dibuat uji toksikologi, uji efektifitas, dlsbnya... maka ya okay.
bukankah banyak obat kedokteran (barat) asalnya dari herbal ? seperti obat kanker - vincristine (tapak dara), quinine (kina) .. ??? bahkan menurut salah satu pakar (lupa buku mana), bilang bahwa air kencing kuda juga dijadikan obat..... (benar gak sih ????)

Dr. Faustinus Wirasadi T. SE

Raafqi Ranasasmita, S.Si mengatakan...

Yth Peserta milis dokter Indonesia,

Penggunaan obat herbal secara legal di RS? Saya kira akan banyak yang
alergi karena tidak percaya akan keamanannya juga khasiatnya. Namun,
obat herbal berlabel fitofarmaka sebenarnya sudah sangat layak
disejajarkan dengan obat sintetik karena mereka, obat herbal ybs,
melalui tahapan penapisan yang sama dengan obat biasa (populer sebagai
"obat modern"), seperti uji pra klinis (in vitro, juga in vivo pada
mencit, tikus, kera, dll) serta uji klinis (fase 1-4).

Kebetulan, saya bekerja di Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (TFM),
LAPTIAB, BPPT yang memiliki pekerjaan dalam hal pengujian obat herbal.
Kenapa memilih meneliti obat herbal dan bukan senyawa murni? Hal ini
juga pernah saya tanyakan pada atasan saya. Pemilihan fokus kerja ini
memperhitungkan kekuatan Indonesia. Untuk pengujian, lembaga
pemerintah bisa saja membiayai dengan sokongan APBN. Namun, sintesis
bahan alam (senyawa yang secara alami terkandung dalam tanaman)
merupakan pekerjaan yang sulit, padahal bahan alam yang terkandung
dalam tanaman (namun berkhasiat) jumlahnya (lazimnya) sedikit sehingga
perlu dilakukan sintesis organik (kimia) dan biokimia.

Selain hal diatas, obat herbal memiliki kelebihan lain. Ia--obat
herbal--teruji secara toksisitas karena sudah digunakan secara turun
temurun dan tidak menunjukkan efek toksik (kalau toksik, pasti sudah
ditinggalkan sejak lama). Hal ini tentu ada pengecualian untuk obat
herbal oral yang secara tradisional tidak digunakan secara oral pada
masyarakat.

Ia juga memiliki efek sinergis, dimana kombinasi dua atau lebih
senyawa (bahan alam) yang terkandung dalam suatu tanaman akan membuat
khasiat keduanya lebih baik, dibandingkan jika kedua senyawa digunakan
secara terpisah (semisal, dikonsumsi pada waktu berbeda di hari yang
sama). Senyawa-senyawa di dalamnya juga memiliki side effect
eliminating system, yakni sistem yang bisa mengurangi atau
mengeleminisasi efek komponen lain. Pada obat sintetik hanya single
compound, terdiri atas senyawa. Efek obat alam tidak secepat obat
sintetik. Obat alam dipakai dalam jangka waktu lama. Obat retroviral
anti HIV menunjukkan fenomena ini, dimana HIV lebih efektif jika
diperangi dengan lebih dari satu macam senyawa (kita kerap menyebutnya
coctail). Saya kebetulan sedang fokus pada penelitian mengenai senyawa
anti kanker dimana kami menguji ekstrak berbagai pelarut (yang sudah
dan masih berjalan adalah ekstrak etanol dan heksana dari daun tanaman
tsb) pada lini sel (cell line) kanker dan pada tikus dengan tumor
(hasil induksi karsinogen) pada payudara. Kalau kita baca beberapa
jurnal kanker, ada yang menunjukkan bahwa pengobatan sedang berkembang
ke arah pengobatan kanker menggunakan satu atau lebih senyawa karena
kanker lazim terjadi karena lebih dari satu hal (misal, mutasi di
beberapa gen, seperti keberadaan gen BRCA1 dan gen BRCA 2 untuk kanker
payudara). hal ini belajar pada kasus HIV diatas.

Kelebihan lain, pengembangan dan pemakaian obat herbal (fitofarmaka,
herbal terstandar, dan jamu) secara meluas akan ikut mensejahterakan
petani Indonesia karena tentu kebutuhan akan tanaman tsb akan
meningkat. Jadi, bukan sekedar jargon seperti bapak Prabowo?

Hal ini berbeda dengan senyawa sintetis dimana proses pembuatannya
dimiliki pihak luar, kalaupun dilakukan di indonesia mungkin harus
bayar paten (kecuali kalau kita mampu mengembangkan sendiri). Bila
senyawa tersebut merupakan produk samping organisme yang direkayasa
secara genetik, penggunaannya di Indonesa tentu juga harus memberikan
biaya tertentu. Belum lagi berbicara tentang teknologi produksinya
(isolasi, transformasi, pengepakan, dll).

Sejauh ini sudah ada 5-7 obat fitofarmaka yang sesuai standar farmasi
moden, antara lain Stimuno (peningkat sistem imun), Nodiar
(antidiare), Rheumaneer (pengurang nyeri), Tensigard Agromed
(hipertensi) , X-Gra (peningkat gairah seksual lelaki). Cirinya ada
logo fitofarmaka, dimana pada kemasan terdapat tanda "akar hijau"
(mirip ikon salju) berlatar belakang warna kuning muda, dikelilingi
lingkaran berwarna hijau muda. Ikon cantik unik ini adalah tanda
sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).

Banyak juga kok bahan alam yang kemudian dibuat obat (kadang, dengan
sedikit modifikasi kimia/biokimia gugus fungsinya). Ambil contoh
kanker (yang menjadi fokus riset saya di tempat kerja). Ada empat
kelas obat kanker yang berasal dari tumbuhan (berbentuk ekstrak maupun
sintesis senyawa aktifnya) yang digunakan secara umum di Amerika
Serikat. Kelas itu antara lain epipodophyllotoxins , taxanes, alkaloid
Caranthus (Vinca), dan turunan campthothecin. Etoposida, etoposida
fosfat, dan teniposida merupakan contoh epipodophyllotoxins .
Paclitaxel (Taxol ) dan docetaxel tergolong taxanes. Yopotecan dan
irinotecan termasuk turunan campthothecin. Alkaloid Caranthus (Vinca)
terdiri atas vinblastine, vincitrine, dan vinorelbine. Semua senyawa
diatas telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika
Serikat untuk digunakan sebagai obat kanker dan telah dijual di
Amerika Serikat (Kinghorn et al. 1999). Berbagai obat ini memiliki
kelemahan yang cukup besar dari segi efektivitas dan efek samping
sehingga pencarian akan obat jenis baru masih terus berlanjut. Taxol,
sebagai contoh, menyebabkan perasaan mual, muntah, kerusakan rambut,
sakit di persendian, pendarahan di sekitar daerah injeksi obat, sakit
dada, demam, flu, dan pusing. Meski demikian, obat herbal yang tidak
melalui tahapan seperti ini tentu beresiko. Ada beberapa kasus seperti
itu, seperti misalnya ekstrak buah merah yang ketika diuji di jurusan
memiliki toksisitas tinggi (entah, bagaimana cara maserasi dan apakah
fakta ini layak di ekstrapolasi kepada manusia).

Pertanyaannya, apakah para dokter sudah mau dan percaya menggunakan
fitofarmaka? Hal ini tentu menjadi PR bersama. Ada beberapa rumah
sakit di Indonesia yang sudah memiliki klinik obat herbal, meski info
detailnya saya tidak begitu tahu.

Demikian pendapat saya yang bukan dokter, namun berminat amat sangat
pada bidang kedokteran. Kebetulan, waktu kuliah S1 di Biokimia IPB
saya mengambil keahlian Biokimia Medis. Departemen (Jurusan) biokimia
IPB memiliki keahlian dalam uji khasiat secara in vivo untuk beberapa
penyakit, terutama (yang saya tahu) obat terkait kerusakan hati, sama
urat, dan kelainan metabolisme lipid (yang bisa membuat
ateroskelorisi) . Rencananya, pertengahan tahun ini saya akan
memperdalamnya di almamater saya.

Silahkan menghubungi email saya jika mau berdiskusi. Kita juga bisa
bekerjasama untuk melakukan penelitian terkait, in vivo maupun in
vitro. Proyek lain yang sedang berjalan adalah uji efek KB ekstrak
tanaman pada mencit.

Mudah-mudahan bermanfaat,

Salam hangat,

Raafqi Ranasasmita, S.Si
Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (TFM)
Laboratoria Pengembangan Teknologi Industri Agro & Biomedika(LAPTIAB)
Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi
Ruang Farmakologi, Gd LAPTIAB 1, Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang

Referensi:
Kinghorn et al. 1999. Novel strategies for the discoveries of plant
derived anticancer agents. Pure Applied Chemistry 71 (9): 1611-1618

Erik Tapan mengatakan...

Dear all,
Banyak terima kasih atas tanggapan teman-teman sejawat dan masyarakat lainnya.
Hanya untuk mengingatkan saja (mungkin ada yang lebih pakar mengenai hal ini), salah satu pedoman bagi para dokter (barat) dalam menerima metode/cara pengobatan adalah evidence based medicine.
Kebetulan saya menemukan "LEVEL of EVIDENCE" di:
http://www.essentialevidenceplus.com/concept/ebm_loe.cfm?show=oxford

Suatu metode/cara/pengobatan yang paling kuat levelnya (level 1a) adalah:

1a: Systematic reviews (with homogeneity) of randomized controlled trials
dst..hingga sampai yang paling lemah (tapi masih tetap diakui oleh bidang kedokteran), yaitu:

5: Expert opinion without explicit critical appraisal, or based on physiology, bench research or 'first principles'

Jadi -ini menurut saya- adalah sangat bijaksana para dokter menerapkan hal ini dalam mengadopsi hal-hal yang akan diberikan kepada pasiennya. Kasihan khan kalau pasien-pasien kita dicoba-coba dengan metode yang menurut kata orang, menurut orang pandai, dll.

KECUALI
memang tidak ada bahayanya sama sekali.

Lalu, yang menjadi kepedulian saya (sehingga saya membuat tulisan tersebut) adalah dengan tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh sang herbalist pada acara tersebut, berarti -mungkin tidak disengaja- dokter (dari lembaga kanker yang cukup kompeten tersebut) telah "mendukung" pemanfaatan herbal (yang metode pemberiannya sangat sederhana raw material) bagi pasien-pasien kanker.

Bahayanya adalah penundaan terapi kanker serviks awal (atau mungkin) akan terjadi interaksi dedaunan dengan metode pengobatan kanker serviks ala kedokteran barat yang kita ketahui bersama bahwa 5 years surivival rate kanker serviks, bisa mencapai hingga 99% pada tahap awal.
http://cancer.about.com/od/cervicalcancerbasics/a/survivalrates.htm

Pada akhirnya, banyak terima kasih atas respons teman-teman sejawat dan anggota milis lainnya. Mudah-mudahan diskusi ini bisa memberi pencerahan bagi kita semua, bagaimana harus bertindak terhadap metode-metode pengobatan yang saat ini banyak beredar di masyarakat. Jika ada kesalahan dalam menyampaikan hal ini, mohon kiranya bisa dimaafkan. Tiada sesuatu hal yang sempurna di dunia ini, termasuk juga saya sendiri yang hanya ingin belajar dan belajar terus.

Anthony mengatakan...

Dear rekan rekan,

Tertarik membaca tulisan dokter Eric berjudul "Pengobatan Herbal untuk
Kanker Serviks, apa ada yang salah?"
Saya ingin mendapat masukan tentang hal tersebut karena pengobatan
Herbal sampai saat ini masih diragukan apakah benar dapat menyembuhkan
semua penyakit.

Saat ini dunia pengobatan Indonesia sudah sangat bervariasi dan tidak
melulu mengacu kepada satu macam pengobatan medis/kedokteran yang
diwariskan oleh Socrates.
Tentunya pengobatan dengan cara ini adalah pengobatan melalui
pemberian obat obatan kimia buatan pabrik.
Bahwa dunia pengobatan yang moderat saat ini terbuka dengan bentuk
pengobatan alternatif lain sudah dimungkinkan dan bisa diterima di
Indonesia, terlepas apakah benar sudah ditemukan bukti bukti medis
yang mendukung bahwa terapi herbal tersebut benar benar berhasil dan
mengalahkan atau setidaknya menyamai pengobatan medis biasa.

Pengobatan alternatif melalui herbal tidak saja dilakukan oleh orang
awam seperti saudara Hembing yang populer dengan program Hidup sehat
bersama Hembing dan juga tokoh lainnya atau orang yang dulu mendapat
sebutan sebagai Dukun atau Shinse atau Medicine Men/Women.
Bahkan sekarang seorang dokter yang berijazah resmi dari Fakultas
Kedokteran pun ada juga yang mencampurkan antara pengobatan medis
dengan pengobatan herbal. Seperti halnya rekan dokter ZMDN di bilangan
Lebak bulus, Jakarta Selatan, semula hanya praktek dokter umum, namun
sejak tahun 2007 selain praktek pengobatan biasa juga ada pengobatan
herbal. Lalu ada rekan dokter SC dibilangan prapanca yang selain
memasang plang dokter umum juga memasang plang sebagai seorang
Herbalist. Jadi pasien diberi option mau diobati obat obatan biasa
(kimiawi) atau obat obatan yang berasal dari Herbal(natural), dan
masih banyak lagi rekan rekan dokter yang menyatakan dirinya sebagai
seorang Herbalist. Tanpa bermaksud apriori mungkin saja ada dokter
yang mencampurkan kedua metoda pengobatan tersebut. Apakah sebutan
yang sifatnya stereotip buat mereka sebagai TERKUN (dokter dukun)
masih berlaku atau sudah tidak dikenal lagi istilah tersebut.

Pengobatan herbal secara nasional juga diakui dan diterima oleh
DepKes, oleh karena itu kita dapat menemukan ada bagian yang khusus
mempelajari pengobatan dengan cara Herbal di RSCM.
Bahkan telah berdiri dengan resmi sejak tahun 2003 "Asosiasi Pengobat
Tradisional Ramuan Indonesia (ASPERTI)" didirikan berdasarkan Undang-
Undang No. 23 tahun 1992 pasal 47 tentang pengobatan tradisional dan
Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No. 1076/Menkes/SK/VII/
2003 tentang penyelenggaraan obat tradisional.
Semua dokter yang telah bergabung di Asosiasi itu boleh memberikan
resep herbal kepada pasiennya.

Kalau saya baca sejarah pengobatan Herbal yang pertama kali dilakukan
oleh dokter Indonesia adalah dalam kasus kontroversial dokter Gunawan
Simon yang mengobati Alm. Adam Malik yang meracik sendiri obat-obatan
yang diberikan pada pasiennya. Ini yang dinilai Pengurus Besar Ikatan
Dokter Indonesia (PB IDI) melanggar kode etik kedokteran. Dari hasil
analisa, racikan obat yang diberikannya itu mengandung opium,
sitostatika (pencegahan pembelahan sel kanker), preparat
kortikosteroid (obat yang memiliki beberapa khasiat untuk beberapa
penyakit), antibiotik, dan beberapa obat lain yang umumnya tergolong
obat-obatan daftar G.
PB IDI kemudian menjatuhkan vonis padanya: rekomendasi izin praktek
dokternya dicabut. ''Ia masih bisa praktek, mungkin sebagai sinse,''
ujar Kepala Kantor Wilayah Depkes Jawa Barat, dr. Rustandi.

Saya tidak tahu persis berapa prosentase rekan dokter yang pro
pengobatan cara ini sebagai suatu kemajuan dalam dunia ilmu kedokteran
atau malah ada prosentase dokter yang menganggap ini sebaliknya
sebagai suatu kemunduran, karena kembali kepada pengobatan tradisional.

Kembali kepada topik pengobatan kanker, saya mendukung prosedur dan
prinsip dasar pengobatan kanker melalui operasi - radiasi - kemoterapi
- imunoterapi.
Namun apabila pasien tetap memilih untuk dilakukan pengobatan
alternatif seperti Herbal atau dia merujuk kepada seorang dokter yang
Herbalist dan minta penyakit kankernya diterapi dengan cara Herbal,
seperti contoh kasus kanker servix tersebut.

Saya masih belum dapat referensi seberapa banyak atau prosentase kasus
pengobatan kanker dengan cara herbal bisa disembuhkan demikian pula
dengan jumlah pengobatan herbal yang tetap berujung dengan kematian
pasien.

Malah dalam suatu promosi obat Herbal dikatakan bahwa ginseng adalah
tanaman herbal yang mampu melawan kanker khususnya jenis RH 2 yang
diberi nama kimia sebagai [20 ®- roto-Panaxadiol-3-0-B-D- Glucopyra
nosida].

Saya masih mencari tahu apakah ini benar atau cuma hoax informasi bahwa:
Ginseng Rh2 adalah obat alami yang baru ditemukan untuk mengobati
Kanker karena efeknya yang kuat dalam mencegah metastasis sel kanker
dan meningkatkan jumlah sel darah putih. Ginseng Rh2 juga mempercepat
penyembuhan luka operasi, mempercepat proses pemulihan, dan
mengembalikan kekuatan fisik. Konsumsi Ginseng Rh2 selama radioterapi
dan kemoterapi bisa mempertahankan level sel darah putih, meningkatkan
imunitas, dan mempercepat proses penyembuhan tubuh. Disana dipaparkan
prosentasi efektifitas pengobatan ini mulai dari yang tinggi hingga
yang tidak membawa hasil sama sekali. Namun saya belum menemukan dalam
paparan tersebut prosentase keberhasilan atau pernyataan pasien kanker
yang bisa disembuhkan lewat pengobatan ginseng ini. Jadi ingat dulu
pernah ada hoax serupa bahwa tempe (yang terbuat dari kacang kedele)
dapat juga mengobati kanker, tapi akhirnya tidak ada kelanjutan dan
tidak ada penelitian kearah tersebut.

Salam kesehatan
Anthony

Muhamad Kartono mengatakan...

Ikut nimbrung karena sewaktu Dr G dihadapkan ke MKEK kebetulan saya ikut
hadir. Ketua PB IDI waktu itu adalah Prof DR Mahar Mardjono. Dokter Gunawan
didampingi oleh Badan Pembelaan Anggota IDI karena dia adalah anggota IDI.
Masalah dokter G bukan penggunaan obat herbal. Sama sekali dia tidak
menggunakan obat herbal tetapi menggunakan obat modern dengan cara dan
alasan yang tidak dapat dia jelaskan dari segi ilmu kedokteran. Dari masalah
penggunaan obat yang sembarangan dan tidak dapat ia jelaskan alasan medis
atau ilmiahnya itulah terjadi efek samping pada alm Adam Malik. Tetapi
pembelaan dia hanya mengatakan bahwa yang terjadi bukan efek samping tetapi
karena Adam Malik menderita penyakit lain tetapi ia tidak dapat menjelaskan
penyakit apa yang dia maksud. Dia hanya menjawab kalau kadar pengetahuan dia
hanyalah 70, profesor 90 dan Tuhan 100.
Jadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan obat herbal.
KM

Nickolai Bayu mengatakan...

Sebetulnya menurut saya, ini yang menakutkan di Indonesia. Betapa pengobatan alternatif, herbal (saya mengacu ke herbalis yang mengaku bisa mengobati segala penyakit) dan perdukunan diberikan tempat secara luas, sehingga secara signifikan mengubah tata pandang sebagian masyarakat Indonesia.
Jangan salah, saat saya mengabdi di Kab.Tangerang dulu, saya mendorong berkembangnya fitofarmaka, namun tidak memperoleh dukungan dari Kadinkes pada waktu itu. Saya setuju pad apendapat bahwa fitofarmaka lebih aman, bertanggungjawab (karena telah melalui uji) dan memberikan efek domino yg baik bagi petani Indonesia. Tetapi saya selalu tidak setuju bila para herbalis (yg sebagian diantaranya medis & paramedis) brani mengklaim dapat menyembuhkan berbai penyakit yg belum diperoleh bukti dari uji bahan aktif apalagi klinis. Apa yg menyebabkan pengobatan timur tetap menjadi alternatif? karena kita tidak berkompetisi dg cara barat juga, tetap saja seperti berjualan jamu, anda bisa lihat, list penyakit yg dapat diobati oleh 1 jenis tanaman obat bisa lebih dari 5.
Saya sendiri mengalami, pasien2x yg datang dg cancer, lalu kami putuskan utk chemotherapy, bahkan ada yg telah 5 cure, 1 cure lagi dia selesai, pergi ke alternatif, menggunakan herbal dll, hasilnya? 1 thn kemudian Beliau kembali dg metastase paru & meninggal, pada kasus ini apakah herbalisnya mau bertanggungjawab? Padahal cancer mammae yg Beliau derita secara signifikan telah berkurang sejak pertama dilakukan chemotherapy.
Saya mendukung herbalis kita utk didorong menuju fitofarmaka, lebih menguntungkan utk pasien, menguntungkan petani Indonesia dan devisa dalam negri.
Saya mendukung pengobatan alternatif yg bertanggungjawab, ayo buktikan secara ilmiah bahwa pengobatan tersebut memberikan efek positif.
Bila itu semua telah dilakukan, bukan tdk mungkin, herbal & alternatif lain akan mjd SOP therapy di Indo.

Anta mengatakan...

Analogi pertanyaan tersebut adalah: Dapatkah ulama Falak mengalahkan Teleskop untuk melihat Rukyat atau dibalik: apakah teleskop dapat mengalahkan ulama Falak dalam melihat Rukyat; dalam menentukan Hilal?

Sebaiknya pertanyaan mengenai Obat Herbal dan Obat Modern tidak perlu diperdebatkan. Kedua obat tersebut muncul dari filosofi pengobatan yang berbeda.
Ini semua perkara UANG. Maka dengan akalnya, orang-orang dari dunia modern memunculkan: sesuatu yang diangap jembatan: Obat herbal diperlakukan sebagai obat modern dalam tata cara uji nya .. bukankah ini hanya akal-akalan saja; yaitu menggiring tata cara mereka ke dalam dunia yang bertentangan secara filosofinya (obat modern = Specific; obat tradisional = holistik).

Kemudian kaerna uang dunia modern begitu hebatnya; maka di pelopori oleh China mengadakan penelitian Terminologi Holistik untuk menjawab permasalahan spesifik. Walau belum terlihat kemana obat China tersebut akan digolongkan; yang jelas mereka melakukan penelitian untuk me-modern-kan obat tradisional untuk mencari pasar yang lebih luas.

Sejarah di republik ini juga telah mencatat; misal: berapa banyak bayi yang mati akibat infeksi ketika placenta dipotong dengan sembilu? Menurut catatan: tidak ada.
Atau berapa banyak jiwa yang sudah ditolong dengan pengobatan tradisional? Harusnya banyak sekali, mengingat obat modern belum bisa mencakup ke seluruh wilayah di Indonesia.
Juga kalua dilihat, sepertinya pemerintah ada intensi untuk memasukkan obat tradisional kepada sisten kesehatan nasional; yaitu dengan membuat jembatan-jembatan produk: herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Mengenai efektivitas: tidak perlu jauh-jauh melakukan analisa. Pertanyaan tersebut dapat dijawab hasil penelitian modernakan % efek plasebo yang menyembuhkan. Jadi ada bahan berkhasiatnya atau tidak; suatu obat akan tetap menjadi obat; dan pada saatnya akan tetap bermanfaat. Juga bagi penganut obat modern.. kemana mereka akan pergi ketika vonis Obat modern tidak bisa mengatasi permasalahannya... tentunya kepada dasar dari dasar obat modern, yaitu pengobatan holistik; dengan obat tradisional sebagai salah satu komponennya.

Semua tinggal kemauan politik; apakah akan memasukkan obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional.


salam, anta

Erik Tapan mengatakan...

Teman-teman pembaca yang budiman,
Karena penasaran akan manfaat herbal untuk penyakit kanker, berikut disampaikan salah contoh bahwa Tanaman/herbal bisa dijadikan terapi kanker dan sudah digunakan oleh banyak dokter.

Hanya saja, proses ini tidak sederhana dan bukan hanya memasukan bahan mentah (daun, akar, dll.) ke dalam secawan air lalu dididihkan (seperti pada tayangan tersebut).

Mari kita baca bersama:

Paclitaxel merupakan salah satu zat golongan taxane yang yang mulai banyak digunakan sejak tahun 90-an sebagai alternatif kemoterapi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa Paclitaxel jauh lebih unggul dibandingkan kemoterapi yang telah ada sebelumnya untuk beberapa jenis kanker tertentu. Oleh karena itu Paclitaxel kini menjadi kemoterapi pilihan pertama untuk kanker payudara, kanker paru dan kanker ovarium baik kemoterapi tunggal maupun kombinasi dengan golongan antrasiklin atau platinum.
Paclitaxel berasal dari ekstrak kulit pohon pinus Taxus brevifolia. Teknik yang berkembang sekarang untuk menghasilkan ekstrak yang memiliki efektivitas sebagai anti tumor ini adalah dengan menggunakan teknologi kultur sel. Sebelumnya, untuk memproduksi paclitaxel menjadi zat aktif dilakukan secara semi sintetik dari sejumlah besar pohon. Diperlukan 6 pohon Taxus brevifolia tertentu demi mendapatkan paclitaxel 2 gram untuk 1 pasien. Dengan proses ekstraksi dan pemurnian yang demikian kompleks ini mengakibatkan harga jual paclitaxel mahal dan dari segi lingkungan tentu akan mengganggu sistem ekologi.

Teknologi Kultur Sel
Teknik produksi yang kompleks tersebut akhirnya dapat dikembangkan oleh salah satu perusahaan farmasi Korea (Samyang Coorporation) tahun 1995 dari jenis pinus yang berbeda, yaitu Taxus chinensis. Metode produksi biakan dari kalus (sejumlah kecil sel kulit pohon pinus) dari satu jenis pohon kemudian dilakukan kulturisasi dan pemurnian. Dengan cara yang baru pertama kali dan satu-satunya di dunia ini, dapat diperoleh paclitaxel dengan skala produksi yang besar dan bisa dijual dengan harga lebih ekonomis.

Selain itu, karena dikultur, bisa diperoleh kualitas yang relatif stabil serta memiliki kemurnian yang tinggi karena berasal dari sumber yang sama. Metode demikian kemudian dikenal dengan nama kultur sel tanaman. Pada tahun 1999 zat aktif paclitaxel dengan metode kultur sel akhirnya diakui pertama kali oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dan tahun 2001 Paclitaxel dengan kultur sel tanaman disetujui menjadi kemoterapi untuk berbagai jenis kanker.

Warung Jamu Online mengatakan...

Perlu di jelaskan juga bahwa herbal yang dimaksud adalah herbal obat.....Duren juga herbal tapi kan buat seneng2 aja..biar mabuk bro...!!!heheee222

Herbal obat nah...ini ni kata yang tepat,Org Indo sering sembarang pake kata seenaknya,kelirumologinya banyak,sampai yang ngaku dokter aja seenaknya ngumbar kata menyesatkan...kaya Ahli Agama yang di MUI.

Dukungan berat saya buat Herbal JAMu obat alami sebagai alternatif pengobatan terbaik daripada bunuh diri...ni warisan budaya dan intelektual yang patut di kaji ama n'te2 yang pakar farma,jangan sampe di klaim ama Malaysia nah baru deh Ngributin...sekali lagi tidak ada yang Salah dengan Herbal Jamu Obat Alami...n'te2 aja yang pade keliru kasih komentar.!!!!!

ivonne mengatakan...

hi dr.erik,
tulisannya menarik..
singkat saja saya ingin menambahkan, waktu saya sedang menjalani radioterapi dan kemoterapi beberapa bulan lalu, ayah saya pernah berkata, "lega ya kita sudah di jalan yang benar dengan berobat begini, mudah2an hasilnya baik sesuai yang kita harapkan.. terapi berdasarkan hasil riset jutaan dolar ini tidak akan kita ganti dengan minum air rebusan daun yang hanya berdasarkan testimonial dan belum terbukti kebenarannya kan?" :)

Erik Tapan mengatakan...

Ivonne yg sedang menjalani Radio terapi & Kemo terapi.
Kami semua turut mendoakan bagi kesembuhan Ivonne.
Tetap semangat ya.

ivonne mengatakan...

iya terima kasih dok, tetap semangat dan gembira tentunya.. :)
sukses untuk dr.erik.

nda mengatakan...

nice info...

jenal mengatakan...

oh gitu yach boleh juga tips nya...

Lala Arief mengatakan...

Dr. Erik Tapan...
Terima kasih atas pencerahannya.

yunita mengatakan...

salam.. dr Erik
sy berusia 26 tahun, minggu lalu didiagnosa kanker serviks stadium awal dan disarankn untuk operasi pengangkatan rahim radikal. yg kemudian diralat oleh dokter bahwa sy bs hanya melakukan operasi pengangkatan serviks sj, mengingat sy belum mempunyai anak. Yg ingin sy tanyakn krn sy kemudian menjadi bingung prosedur apa yg paling tepat buat sy. banyak pula yg mnyarankan herbal, tetapi sy jg takut mncoba2. dmana dgn latar belakang pendidikn sy yg merupakan mahasiswa kedokteran gigi, sy mngetahui bhwa pengobatan kanker serviks smakin awal stadiumnya maka smakin radikal. ttp bgmana dgn keinginan sy yg tetap ingin mempunyai anak. mohon pencerahannya
terima kasih..

Erik Tapan mengatakan...

M' Yunita,
Tetap semangat ya.

saya turut prihatin dengan apa yang dialami oleh Mbak.

NAMUN, jangan takut, berdasarkan riset dan pengalaman, makin cepat kanker serviks ditemukan, makin besar kemungkinan untuk sembuh (diukur dengan berapa persen bisa bebas kanker yang sama selama 5 tahun ke depan).

Khususnya untuk stadium IA, angka bertahan selama 5 tahun adalah 96 - 99 persen

Untuk Stadium IB, angka bertahan selama 5 tahun adalah 80 - 90 persen. Terapinya berupa bedah, kemoterapi dan radiasi.

Selengkapnya bisa akses ini:
http://cancer.about.com/od/cervicalcancerbasics/a/survivalrates.htm atau berkonsultasi dengan dokter Obsgyn.

Adalah sangat dianjurkan untuk berkonsultasi ke beberapa dokter ahli (second opinion), sehingga bisa diambil yang terbaik.

Namun perlu diingat, proses berkonsultasi dan pengambilan keputusan jangan terlalu lama.

Semoga lekas sembuh, dan kalau perlu konsultasi lebih lanjut bisa kirim email ke saya.

Semoga lekas sembuh, doa saya untuk M' Yunita.

yunita mengatakan...

terima kasih untuk doanya dok

sebagai catatan hasil PA sy adalah carsinoma in situ serviks. yg sy baca itu merupakan tahap pra kanker atau stadium 0.
mudah2an msh bs hanya serviksx sj yg diangkat.

yg ingin sy tanyakn dok, brp lama sy bs tunda pembedahannya? krn sy dlm proses mnyelesaikan studi sy alias kejar wisuda. ataukh sy tdk bs mnunggu lg dn wisuda sy yg hrus dtunda??

terimakasih

Atha Parfum mengatakan...

salam,

maaf mau tanya dok.. apakah wanita yg sudah diangkat rahimnya bs kena kanker serviks???

terima kasih

Hari Budiman mengatakan...

Terimakasih, informasinya sangat menarik dan bermanfaat.

Obat Herbal Xamthone Plus mengatakan...

Terimakasih infonya dok, sangat membantu.

Anonim mengatakan...

Hanya menunggu mukjizat..
Ibu saya saat ini berusia 60 th, pada pertengahan tahun 2008 divonis mengidap ca cervix stadium IIb dan menjalani perawatan kemotherapy dan sinar. pada saat semuanya selesai, kami sekeluarga sangat bersyukur karena telah mengambil langkah yang tepat dan cepat untuk mengobati ibu. tetapi alangkah terkejutnya kami, setelah menjalani pengobatan tersebut kembali ibu saya harus menjalani pengobatan yang sama di akhir tahun 2010 padahal dari rangkaian pengobatan tersebut ibu saya aktif memeriksakan secara berkala sesuai perintah dokter. Pengobatan yang kedua pun tidak membuat kami berlega hati, karena setelah beberapa bulan ibu dinyatakan selesai menjalani pengobatan, ternyata ibu saya masih belum terbebas dari rasa sakitnya. hingga akhirnya memilih pengobatan herbal. walaupun sama2 belum menunjukkan hasil..Ibu saya merasa trauma untuk kembali menjalani kemotherapy, karena di kemo itu sakit sekali kata ibu saya. Kini kami sekeluarga hanya menunggu mukjizat semoga Ibu saya diberikan jalan untuk penyembuhannya.

cara menjadi agen xamthone plus mengatakan...

wah,,, makasih banget soal pencerahannya,,,

obat almi asam urat mengatakan...

biasanya gejala kanker serviks, jarang terditeksi dari awal,,,

xamthone plus mengatakan...

jangan putus asa,,, penyakit kanker serviks bisa di sembuhkan,,,

obat kanker payudara herbal mengatakan...

apa benar obat alami bisa sembuhkan penyakit kanker? seberapa efektif kah?

obat penyakit stroke mengatakan...

maaf dok,,, saya mau tanya apakah penyakit kanker serviks bisa di sebabkan faktor keturunan?

kenthut mengatakan...

Saya penderita ca paru std 4 dg penyebaran di tlg blkg, bahu kanan, leher & kaki. Sdh 3 th jalani kemo, radiotheraphy & targeted terapi. Tdk pernah pake herbsl, sbb tdk logis bgmn semua herbal yg msk mulut & dicerna lambung bs perbaiki sel kita yg rusak/ built in programnya error! Sy msg bs ke ktr & stir mobil sendiri dan full time 8-5 sore Senin sd Jumat. Satu hal org takut teraphy adl kisah2 efek terapi. Sy sdh jlni semua efek itu & kuncinya adl berusaha tetap makan normal, lbh byk & lbh sehat. Tdk ada yg sy pantang kevuali daging mentsh, telur mentah, dan setengah matang. Herbal bagus tp tdk utk mengobati kanker. Lagipuls obat kanker tisp org beda walaupun sama2 penderita kanker paru, sbb sel tubuh dia yg berubah jd kanker tentu sj tdk sama dg sel saya. Jd jadilah pasien yg cerdas. Oya, jenis sel saya adl neuroendrocyne adenocarcinoma klg small cell. Tq

Obat tbc herbal mengatakan...

Dari pengalaman saya menekuni herbal selama sepuluh tahun, sebenarnya potensi pemanfaatan herbal untuk aneka penyakit kanker/kronis sangat membantu penyembuhan. Saya memiliki data pasien yang cukup lengkap dengan proses penyembuhannya dan tentunya juga ada yang gagal. Dibantu LIPI saya terus melakukan penelitian UJI KLINIS PRAGMATIS, sehingga kedepan akan bermanfaat untuk kalangan medis dan masyarakat,mengukur tingkat keberhasilan maupun kegagalan pengobatan herbal.

obat maag kronis mengatakan...

terimakasih gan buat infonya bermanfaat sekali :)

Transfer Factor mengatakan...

Sekarang Kanker dapat disembuhkan, hasil Uji Kilnis lebih dari 50 tahun dan lebih dari 60 Negara. Dan saya punya Clinical Abstract hasil studi Prof.Clinical WHO thd 20 penderita Kanker Stad.4 dalam waktu 6 bulan 16 org dinyatakan sembuh(80%).
Harapan bagi semua Penderita Kanker.

Erik Tapan mengatakan...

@transfer factor. Thanks infonya. Sebaiknya diposting URL dari riset tersebut sehingga kita bisa lihat kredibilitas hasil riset tersebut.

Obat Maag Kronis mengatakan...

makasih atas infonya semoga bermanfaat gan

obat tbc mengatakan...

mantap artikel yang menarik, terimakasih gan semoga bermanfaat