IdBlogNetwork

Cerita tentang Kloning Manusia

Kloning manusia? Secara teori sih bisa saja terjadi. Kalau domba, anjing, dll., berhasil di kloning, apa susahnya mengkloning manusia.

Hi....amit-amit jabang bayi.
Film-film science fiction, bisa segera menjadi kenyataannya. Tidak lama kemudian kita bisa saja bertemu di jalan (atau di suatu tempat) dengan seseorang yang mengaku dirinya adalah kita.

Pada tahun 1978, David Rorvik, journalist dan novelist Amerika dalam bukunya yang berjudul "In His Image: the Cloning of a Man", mengklaim menjadi bagian dari usaha membuat kloning manusia. Sayangnya dalam pengadilan Mr David ini tidak berhasil meyakinkan juri akan klaimnya ini.

Selanjutnya pada November 2002, seorang ahli kandungan dan embriologi Itali, Severino Antinori, mengumumkan mengenai projek yang dikerjakan bersama teman-temannya telah berhasil dengan sukses. Orang pertama yang berhasil di klon, telah lahir pada bulan Januari 2003 (sesuai foto). Sayang banyak yang masih skeptis mengenai klaimnya ini.

Februari 2004, ilmuwan Korea dan Amerika juga mengklaim terobosan ini. Woo Suk Hwan dari Seoul National University di Korea mengklaim bahwa mereka telah membuat embrio manusia yang diambil dari stem cell embrionik dan membesarkan embrio tersebut pada tikus. Seminggu sebelumnya Dr Panos Zavos juga mengumumkan bahwa timnya telah berhasil "memproduksi" bayi2 klon yang sehat.

Terlepas dari urusan klon-klon manusia yang bagi sebagian besar umat manusia belum menerimanya, saat ini telah berkembang ilmu yang disebut kloning terapeutik, yaitu mengklon -misalnya- sel-sel hati, pankreas, dll. guna terapi bagi penyakit liver dan gula darah misalnya. Ilmu pengetahuan bidang Stem Cell (bentuk yang "lebih sederhana" dari kloning) sangat cepat berkembang, terutama diluar AS seperti Korea, Jepang, China, Australia, Singapore. Amerika -setelah Presiden Obama terpilih- tentu tidak tinggal diam mengejar ketinggalannya.

Indonesia apakabar?
Jangan sedih, sentra-sentra riset seperti di Surabaya, Semarang, Bandung, Yogyakarta dan Jakarta sendiri sudah mulai bergeliat dalam bidang Sel Punca (bahasa Indonesia dari Stem Cell). Contoh-contoh yang saat ini sedang dikerjakan seperti: terapi kanker darah, terapi jantung, terapi luka bakar, terapi stroke, terapi luka pada pasien diabetes hingga bahan pengisi lemak payudara (yang dibutuhkan bagi pasien-pasien pasca operasi payudara). Semuanya berada pada suatu semangat yang besar agar tidak ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Mumpung ini ilmu yang belum lama berkembang, sehingga ada harapan untuk bisa mengungguli sentra-sentra penelitian di luar negeri.

Bagaimana pendapat Anda?
Mungkinkan lahir peneliti-peneliti hebat dari Indonesia?
Ataukah kembali Indonesia hanya menjadi follower saja, menjadi konsumen bagi produk-produk dari luar negeri?
Apapun pendapat Anda, akan kami hargai. Ditunggu yha.

24 komentar:

Iwan Santosa mengatakan...

Mungkin krn terbentur biaya penilitian yang sangat besar makanya di Indo agak lambat, tapi saya dengar beberapa seminar Jantung Koroner sudah menlakukan penelitian sel Punca ini untuk memperbaiki otot jantung yang mengalami infark. Kelihatanya hasil cukup memuaskan tapi sekali lagi biaya pengobatanya sangat sulit terjangkau masyarakat kebanyakan.

Bahar Azwar mengatakan...

Saat ini tidak mungkin lahir peneliti di Indonesia.
UUD atau ujung-ujung duit adalah sumber dari petaka ini.
Peneliti di Indonesia tidak bisa tekun hidup di laboratorium dari jam 0700 sampai jam 1600 karena gajinya tidak cukup.

Andry Edwin mengatakan...

sayang ya..padahal peneliti kita gak kalah ngulik lho pak..menurut story nya periset stem cell pertama adalah org indonesi..betul gak pak erik ?

George Wowor mengatakan...

Selama ada demand, bagaimanapun supply akan bergerak bagai udara, tidak peduli hambatannya seperti apa.
Hanya waktu yang akan bicara.

Inventor, developer, follower, applicant, user, de-el-el, even observer & news writer, sekedar istilah dan pengkotakan keterlibatan.
Intinya apakah sbg masyarakat kita siap to channeling such progress
dalam berbagai kerangka tatanan yang selama ini sudah exist.

Agus Mulyono mengatakan...

Ini tidak bisa dihindari pak,men finally become God for themselves

als mengatakan...

Para peneliti sel punca Indonesia janganlah sampai berputusasa karena kekurangan biaya. Pabrik farmasi besar dan pabrik "pembunuh" rokok raksasa tentu akan membukakan pintu bantuan jika pintunya diketuk keras-keras. Hayo, siapa yang ingin jadi sukarelawan pengetuk pintu? :-)

Halangan terbesar kemajuan riset sel punca mungkin tidak datang dari kurangnya biaya, tetapi berasal dari pola pikir mayoritas petinggi agama yang salah kaprah dalam menafsirkan keberhasilan kloning manusia yang akan dihubungkan dengan moto negatif "playing God". Dari sinilah dapat dilihat pentingnya sosialisasi riset sel punca sebagai suatu riset yang hasilnya akan bermanfaat bagi kemanusian dan kehewanan pada umumnya. :-)

imcw mengatakan...

Coba konsultasikan dulu dengan baik kepada para pemuka agama agar besok tidak capek capek meneliti kemudian dicap haram.

Saya tertarik dengan penelitian ini ketika membaca di sebuah artikel Intisari tentang kemajuan teknologi Stem Cell di negara negara tetangga kita bahkan Singapura. Beberapa percobaan penggunaan pada manusia juga menunjukan hasil yang memuaskan. Tentu saja hal ini merupakan harapan baru bagi penderita penyakit 'akhir hidup' yang saat ini banyak diderita di Indonesia yang menggeser posisi penyakit infeksi.

Mudah mudahan kemajuan peneltian ini di Indonesia segera dapat kita manfaatkan.

fikra yudha mengatakan...

Menurut saya, upaya memanipulasi stuktur genetik untuk menghasilkan manusia dengan sifat dan jenis kelamin tertentu adalah tindakan berlebihan, tepatnya melawan kodrat manusia. Manusia terlahir hendaknya melalui proses perkawinan. Sangat miris rasanya bila kloning seorang manusia dilakukan untuk tujuan riset. Bisa jadi seseorang diciptakan untuk diambil organ tubuhnya, atau bahkan untuk dicabut jiwanya sebagai pengganti organ orang lain yang membutuhkan. Bayangkan suatu waktu bila seorang penderita gagal ginjal dijanjikan mendapatkan donor ginjal dari seseorang yang dikloning hanya untuk tujuan itu. Begitu mudahnya kita mempermainkan jiwa anak manusia. Sulit memang mengawinkan pandangan ilmiah modern dengan religiusitas dan moralitas. Semoga bermanfaat untuk bahan renungan.

charma13 mengatakan...

Sama seperti beberapa komentar sebelumnya, penelitian stem cell di Indonesia mungkin akan sulit berkembang karena kekurangan biaya dan sumber daya manusia.

Mungkin juga karena takut kalau penelitian stem cell ini berujung pada kejadian menyerupai kisah "The Boys from Brazil" atau "The Island". Agak mengerikan, memang. :)

Suprijanto Rijadi mengatakan...

Sebenarnya konsep dasarnya sudah lama kita lihat, fertilisasi buatan pada hewan, lalu mulai Program fertilisasi in vitro pada sel telur dan sperma manusia, lalu stem sel yg bisa berfungsi sebagai sel organ apapun juga, kita tahu kloning hewan percobaan, lalu ketemunya mapping DNA, jadi tahap selanjutnya ya kloning manusia, terus tahap berikutnya manusia yang gagah, cantik, pinter, DNA nya sempurna tak punya penyakit keturunan...seperti impian Hitler akan bangsa Arya yang Uber Alles, atau menciptakan kombinasi robot dan manusia sbg serdadu yg tangguh....waah Jurasic Park akan terjadi kalau begini...Memang yang akan menghancurkan manusia ya manusia sendiri dengan segala keininginan yang tak ada batasnya. Ya Allah...tunjukilah kami jalanmu yang lurus dan benar.....

Joseph Tardjan mengatakan...

Di zaman Mahabhrata ,3500 th sebelum Yesus, Karna,Putra Sang Surya ,lahir dari telinga dewi Kunti,dengan jalan di Cloning,tanpa sexualitas..
Nampaknya,Sosok Angel,yang oleh ajaran Veda disebut Dewa Surya,dengan empowermentnya,menciptakan jabang Bayi Karna < Maka Karna,disebut juga Surya Putra.Di zaman Dwapara Yuga, keterlibatan Makhluk2 Devanic dan Angelic masih dengan nyamannya memasuki atmofir Planet Bumi.
Planet bumi yang sekarang dikotori oleh Tindakan dan Pikiran manusia,menjadikan mereka alergi untuk masuk . Rasa2nya ,mereka merasa gerah dan kurang nyaman
untuk masuk ke planet manusia.

Akan kah Dec 2012 menjadi periode untuk menyaring makhluk Manusia?
(menurut kalender Mayan,merupakan Kiamatnya Dunia?).
Joseph T

Deddy Andaka mengatakan...

Klo ga salah hasil cloning pada domba dolly akhirnya mati karena penyakit ya? Entah gimana pada binatang2 yang lain. Pada manusia? Hmm... Saya lebih suka ide-nya tentang kloning terapiutik dibandingkan kloning manusia secara utuh...

Citra Fitri Agustina mengatakan...

Suatu hasil penemuan atau peneliatian sesungguhnya bebas nilai. Ilmu pengetehuan dapat ditelaah tanpa batasan baik nilai dan etika yang berlaku di masyarakat. Namuin seiring dengan penerapan ilmu tersebut tentu harus diperhatikan bagaimana penerimaannya di masyarakat, karena akan ada banyak sekali yang terkait, baik itu unsur agama, moral, hak asasi dan sebagainya.

Kajian tentang Klonging sel punca sebagai salah satu alternatif terapi, menurut saya tidak terlalu bermasalah karena peneliti dengan segala keterbatasannya sebagai manusia, bukanlah bermaksud "menciptakan" suatu organisme baru namun hanya merakit salah satu bagian dari suatu makhluk hidup yang berguna untuk penatalaksanaan penyakit. Namumn tentunya dalam meng-klon organ, harus jelas alasannya dan perjalanan penyakit serta terapi yang telah didapat.

Harapan saya semoga wacana ini dapat berkembang, baik untuk penelitian selanjutnya maupun dikembangkan agar dapat berguna bagi masyarakat nasional dan internasional

Kristiawan mengatakan...

Kasus kloning akan tetap menjadi perdebatan antara kalangan ilmuwan dengan kalangan agamawan dan etikawan. Dan masing-masing akan tetap berpegang pada sudut pandangnya. Jalan tengah yang perlu dibuat adalah kesepakatan logis bahwa seyogyanya agamawan tidak mengesampingkan akal budi, dan ilmuwan tidak mengesampingkan etika. Diperlukan kearifan dan etika untuk memahami dan menginterpretasikan “ijin Tuhan” untuk melakukan eksplorasi alam semesta ini. Kasus kloning merupakan ujian atas bagaimana kalangan agamawan dan ilmuwan harus bersikap satu sama lain. Kasus kloning adalah kasus yang ada di permukaan bumi, sehingga akan lebih mudah diinterpretasi.
Kembali ke permasalahan : apakah Indonesia akan memunculkan ahli-ahli atau peneliti hebat di bidang ini ? Dalam kapasitas pribadi ataupun karena dukungan swasta atau lembaga asing, saya yakin akan muncul ahli-ahli tersebut, karena banyak potensi orang jenius di Indonesia. Namun bila mengharapkan fasilitas dari Pemerintah, rasanya masih akan jauh... Tapi siapa tahu akan ada perubahan di masa mendatang ??

Benvie mengatakan...

Saya kira sangat menarik mencermati keberadaan tekhnologi kloning di zaman kita sekarang ini... masih banyak pro dan kontra mengenai masalah ini... namun, kita perlu melihat juga, bagaimana pemanfaatan tekhnologi kloning ini... tidak selamanya kloning itu baik, namun tidak selamanya pula tekhnologi itu buruk... misalkan, diperlukan organ sebagai terapi, tentulah sangat bermanfaat bagi yang membutuhkan... yang penting bagaimana niat dan tujuan yang kita lakukan dan tidak menyalahi norma2 yang ada...

Yudhi Gejali, dr. mengatakan...

Kalo kloning organ OK. Kalo kloning manusia? NO.
Saya cenderung masih skeptis dengan keberhasilan para peneliti asing yang sudah mengklaim mereka berhasil mengkloning manusia utuh.
Dan kalau berhasil pun, harus dilihat lagi perkembangan manusia tersebut...tidak menjamin normal kan?
Karya TUHAN, Sang Pencipta tidak semudah itu ditiru.

@ Fikra Yudha: Kalo organ replacement..tidak harus diklon seorang manusia utuh terus dibunuh dan diambil organnya untuk ditransplantasikan. Yang diklon hanyalah organ yang bersangkutan, dan diklon dari stem cell pasien yang bersangkutan (yang telah disimpan di stem cell bank).

Anthony Bachtiar mengatakan...

Teman teman sekalian,
Menurut pendapat saya cloning manusia itu dalam waktu cepat akan lambat dapat terjadi juga.
Terlepas apakah secara agama atau budaya melarang. Dunia ilmu pengetahuan yang tiada batasnya akan terus mempelajari dan mengembangkan kemungkinan manusia membuat clone manusia. Tentunya kita tidak perlu khawatir bahwa manusia dapat mengalahkan Tuhan, karena apa yang dibuat oleh manusia adalah copy atau tiruan dan tidak pernah dapat membuat yang asli.

Kehadiran cloning manusia memang memberi pekerjaan rumah yang besar buat manusia dari berbagai aspek, misalnya:

- Aspek kedokteran: Apakah manusia hasil clone itu juga membawa Gen induk sehingga identik dengan manusia asli yang di clone atau mengalami mutasi dan membentuk stuktur Gen tersendiri.
Lalu apakah clone manusia itu boleh dijadikan sumber donor bagi manusia aslinya. Setiap manusia tentunya dilahirkan dengan sidik jari yang berbeda dan yang kedua dengan stuktur gigi (sidik gigi) yang berbeda dan terakhir sedang dikembangkan didunia medis adalah sidik retina yang juga setiap manusia akan berbeda dan tidak ada yang sama.
Apakah Clone itu akan serupa dengan aslinya atau berbeda sama sekali sehingga menjadi suatu manusia baru.

- Aspek legal: apakah clone itu benar benar dianggap sebagai manusia asli atau cuma copy atau tiruan dari aslinya. Dan status kependudukannya apakah masuk kategori saudara kembar, anak, atau apa? dari manusia asli yang di clonenya.

- Aspek agama: Apakah roh atau spiritual yang hidup dalam manusia clone itu juga copy atau bagian dari manusia yang asli atau mungkin suatu roh lain atau bahkan tidak punya roh, jadi hidup tanpa roh dan tumbuh tanpa kepribadian

- Aspek budaya dan spiritual: Setiap manusia lahir secara khusus atau special dengan pengaruh bulan, tahun, dilengkapi pengalaman yang harmonis dengan ibu kandung, apakah juga manusia hasil clone akan punya sensitifitas seperti manusia normal atau sekedar Zombie (hidup tapi mati).

Anonim mengatakan...

Memang Peneliti2 handaL di Indonesia tergolong sedikit dibandingkan dng negara Maju Lainnya. Tapi apabila kita selalu mengeluh dan mengeluh tentunya mustahil bisa trjadinya perubahan yang signifikan. oleh sebab itu mari kita tingkatkan kualitas SDM di Negara kita.
tapi apakah kita bisa?
(mengapa tidak..?)
Tanpa kita sadari LuLusan2 Tenaga Medis dan analis di Negara kita Lebih terdoktrin ke arah Marketing dan target, jarang sekali ada yang kearah scientist. hal itu di sebabkan pada dunia kerja yang nyata dimana industri2 di Negara kita Lebih Memprioritaskan Marketingnya dibanding RnD-nya. tak heran mengapa Tenaga Scientist kurang mndapat apresiasi.
"mungkin anda Semua tahu mengapa demikian"
oleh sbb itu mariLah kita mngawali perubahan ini dengan "action".

Saya Sangat terinspirasi dng prof.Ferry (ahli Stem CeLL di Indonesia) beLiau seLau Menyemangati Mahasiswanya, bahwa dunia ini tdk sesempit apa yang ada d benak kita..
mari kita mulai dari tahap pendwasaan berfikir dari tanga medis dan analis. mari kita bantu banga kita agar Meperluas cakrawala brfikirnya. tentunya banyak cara untuk meningkatkan hal itu, yaitu dengan cara memberikan penyuluhan, seminar dan diskusi2 dari kampus ke kampus, instansi ke instansi, daerah ke daerah yang bersifat terbuka, awam dan umum..
salah satunya mngkin dengan Membuka diskusi tentang "pentingnya Stem Cell di Negara kita untuk masa yang akan datang" dibuktikan dng beratus2 orang di negara kita yang sudah menabung Umbilical cord blood di salah satu Industri Farmasi terkemua di indonesia. itu hanya salah satu contoh konkrit diantara contoh2 lainnya.
dari contoh2 tersebut diharapkan dpt meningkatkan animo generasi muda kita yang lebih ke arah scientist.
kita bakar api semangat mereka untuk jangan pernah puas dng apa yang telah kita dapat, gali terus ILmu pngetauan..
Mungkin dng cara spt itu akan bermuncuLan Para scientist2 baru yang sangat dibutuhkn di dunia Stem ceLL yang sangat prospektif ini..
"Mereka" adalah dasar atau pondasi dari perubahan ini.
untuk stem CeLL, jnglah terpaku pada regulasi lokaL dan keterbatasan yang bersifat materi, yang terpnting adalah Bagaimana kita mendayagunakan generasi Muda kita untuk memperluas Cakrawala berfikirnya..
Saya menuangkan ide ini karena Saya sangat terinspirasi dng prof.Ferry yang selalu memberi Semangat kpd Teman2 semua tentang hal ini..
Thanx to prof. Ferry.
Thanx to Pak Tapan Erik untuk Forumnya.

Mardian.

Anti Login mengatakan...

wih serem cloningan... kalo amerika bikin cloningan josbus 4 aja. bisa berabe tuh hehehe

salam kenal
Hot Trends Today

nursingclub mengatakan...

walaupun bisa diklon akhirnya umur si anak dan indukan hampir sama. karena proses penuaan itu tidak ada obatnya.
jika suatu saat program ini di jadikan suatu trobosan memperbanyak populasi suatu spesies, bisa jadi itu adalah awal dari kepunahan mereka.

Erik Tapan mengatakan...

@Anti, iya kita mesti hati-hati.
@NursingClub, mudah-mudahan ke depan ada terobosan baru lagi sehingga bisa lebih canggih. :-)

liker mengatakan...

manusia clon pertama tu bernama eve lahir pada 26-27 desember 2002
itu menurut yang saya baca dan dari dosen saya,
untuk clone itu emang butuh biaya yang tidak sedikit bisa menghabiskan bermilyar-milyar,
dan human clone tu masih pro dan kontra,
ada yang setuju dan ada yang tidak,
saya sendiri sie tidak setuju,
bayangkan aja kalau bnyak nantinya semua manusia menjadi sama?
gmn kita bedain antara yang satu dan yang lain?
kl manusia yang sama tidak tahan dengan suatu penyakit, bisa punah manusia ini karna penyakit itu,
bahkan saya pernah baca ada yang memiliki gagasan untuk meng-clon manusia dan membuatnya menjadi mayat hidup atau manusia setengah hidup (tidak berkembang seperti orang mati tapi tetap tumbuh dan hidup) dan nantinya akan dibantai untuk di ambil organnya sebagai bank organ buat yang membutuhkan donor organ,
hal ini sangat menyalahi hak asasi manusia walaupun manusia clon itu tidak berkembang tp mereka tetap manusia,
dan sangat mengerikan sekali apabila manusia di clon....
di indonesia sendiri sudah banyak yang meneliti namun bukan pada manusia akan tetapi pada tumbuhan,
akan tetapi biasanya hanya sebatas penelitian dan tidak dilepas ke publik...

Erik Tapan mengatakan...

@liker Terima kasih infonya. Menambah pengetahuan bagi saya dan pembaca blog ini tentunya. Saya jadi ingat salah satu film yang menceritakan kehidupan para clon. Di mana saat diperlukan, mereka dibilang akan menuju ke pulau impian (padahal akan diambil organnya). Ceritanya menjadi seru saat salah dua dari mereka berhasil keluar dan mencari belahan clon (manusia asli)nya.

Obat jantung mengatakan...

yah daripada cloning manusia,, mending berpikir caranya menyembuhkan penyakit kanker dll...
jangan buang energie...