IdBlogNetwork

Dokter, MLM dan Wanita Percobaan


Dalam salah satu milis dokter, tersebut kisah seorang dokter yang telah sukses membagi-bagi tips dan trik bagaimana caranya agar bisa sukses seperti yang bersangkutan. Threadnya berjudul "Rahasia Menjadi Dokter Kaya".

Hmm..... sebagai seorang dokter, menurut pemahaman penulis, apa salahnya menjadi seorang dokter yang kaya. Bukankah telah ada stigma yang melekat di masyarakat kita bahwa dokter itu adalah orang yang hidupnya berkecukupan?
Era krisis moneter global seperti saat ini, tentu impian tersebut agak menjadi sukar, namun bukan tidak bisa.

Tips dan trik menjadi Dokter Kaya
Sang dokter yang sukses tersebut pun memberi sedikit bocoran mengenai tips dan triknya, antara lain:

  1. Royalti, bisa dari buku POPULER.. Bukan textbook.

  2. Property, kontrakan

  3. MLM, tapi hanya yang sistem binary, terdaftar di bursa saham, dan sudah eksis minimal 10 tahun.

  4. Internet marketing.. Anda bisa menjual e book anda, bisa jual space iklan di web anda kalau situs "kesehatan" anda dikunjungi oleh banyak orang.



Lalu kemudian beberapa tanggapan yang masuk antara lain seperti ini:

1. Tanggapan pertama:
Banyak produk MLM yang sudah terdaftar di BPOM dan banyak kesaksian hasil yang bagus untuk kesehatan yang mungkin dengan obat akan lama. Yang saya nggak tahu kenapa dokter Barat nggak mau menelitinya sehingga tahu betul kasiatnya... ... dan produk MLM itu bukan hanya Nutrisi/Suplemen tetapi ada xxxxx (merek gelang magnetik), Ada pembalut ada magnet dan lain sebagainya.. ..

2. Tanggapan kedua:
Ingat, dunia kedokteran yang kita anut : evidence based medicine bukan
testimonial yang banyak diagungkan oleh produk MLM.

3. Tanggapan penulis:
Dear teman-temin semilis yang saya cintai,
Salam diskusi.

Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pakar kita yang telah bersedia membagi-bagi ilmunya, yang menurut saya (karena kompetensi beliau), tentu mahal nilainya dan beliau bersedia membagi secara percuma kepada sahabat-sahabatnya di milis yang kita cintai bersama ini. Salut dan bravo.

Yang kedua, berbicara mengenai MLM (salah satu topik yang tertarik untuk dikomentari), produk, merek & jenisnya sangat banyak. Jadi saya menghindari berkomentar secara general (generalisasi).

Sebagai contoh (karena sistem MLM itu seperti rangkaian outlet yang punya banyak produk), ada produk-produk yang memang bagus dan secara scientific sudah terbukti (approved). Saya sendiri menggunakan salah satu produknya, tapi bukan berarti saya ikut bermain MLM, karena saya hanya sebagai user saja.

Bahwa pernyataan "nggak tahu kenapa dokter Barat nggak mau menelitinya sehingga tahu betul kasiatnya.", menurut saya YANG SEBENARNYA HARUS MEMBUKTIKAN adalah produsen produk itu sendiri, BUKAN DOKTER.

Kalau ada produsen yang berkata seperti itu (saya yakin tidak ada), artinya produk tersebut dipastikan GAGAL untuk membuktikan berkhasiat berdasarkan Science Kedokteran. Jadi khasiatnya hanya berdasarkan evidence semata (yang menurut kata produsennya yang saya jamin pasti tidak berdasarkan "evidence based kedokteran" yang kita pahami bersama, mirip-mirip testimoni-lah atau pseudoscience).

Dan ini tidak hanya pada produk-produk suplemen, bahkan produk-produk secanggih Sel Punca (stem cell) pun banyak yang hanya berdasarkan testimoni (bahwa telah ter-evidence). Jika ditanya mana literatur ilmiah yang bisa dibaca (via journal kedokteran yang sudah dikenal), maka yang keluar adalah buku -misalnya- karangan guru besar dari universitas yang perlu kita teliti kesahihannya juga.

Untuk teman-teman dokter yang berkenan membaca tulisan ini, harap bisa berhati-hati dan waspada. Bukan tidak ada produk-produk yang bagus dan telah terbukti dan dipasarkan via MLM, namun ada juga produk-produk yang non proven yang dipasarkan via MLM. Ilmu-ilmu yang kita gunakan selama di bangku kuliah, tetap kita gunakan, sampai ada ilmu yang lebih baru yang telah teruji secara EBM. Jangan kita -sebagai dokter- dijadikan sebagai salah satu alat legitimasi dari produk yang belum terbukti secara ilmiah kedokteran tersebut.

Kembali ke produk-produk yang hanya terbukti via pseudoscience.
Begitu terbukti (jikalau ada pihak yang begitu rajin/ngotot untuk membuktikannya, menanyakan kesahihannya, dst...dst) bahwa produk tersebut tidak bisa diterima oleh bidang kedokteran, umumnya produsen produk tersebut sudah balik modal (baca: sudah untung).

Contoh pseudoscience adalah cara promosi pembalut wanita yang pernah saya baca. Lupa mereknya, maaf.
Awal-awal berbicara mengenai kanker, lalu dihubungkan dengan dioxin penyebab kanker kemudian tiba-tiba terjun ke produk yang tidak mengandung dioxin.
Pertanyaan:
1. Apakah pernah dibuktikan kanker yang disebutkan penyebabnya adalah pembalut DAN
(kalau ada mohon bisa diberi URL, penelitian mengenai pembalut dan kanker, karena saya ingin tahu juga).

2. apakah pernah dibuktikan pula bahwa penggunaan pembalut tersebut bisa MENCEGAH KANKER?


Kembali ke inti permasalahannya (menyambung komentar pertama), selayaknyalah produsen tersebutlah yang harus membuktikan keampuhan produknya. Bukan para dokter atau bahkan para wanita pengguna pembalut (koq mau saja dijadikan wanita percobaan ya?). :-(

Akhir kata, mudah-mudahan informasi yang sekilas ini bisa membuat kita para dokter (dan termasuk masyarakat peminat kesehatan yang membaca tulisan ini), untuk lebih berhati-hati menerima pelbagai tawaran dalam berbisnis agar menjadi kaya.


Salam sehat selalu,
Erik Tapan

1 komentar:

Ilmu Kesehatan mengatakan...

Matur nuwun pak erik tapan. Evaluasi yang cukup kritis. Bukan sekedar jadi "target", saya lihat seringkali dokter dijadikan "alat" karena dianggap punya authoritative power secara pengetahuan untuk mempromosikan. Setuju banget kita harus berhati-hati. Hidup Evidence Based Medicine!