IdBlogNetwork

Klinik yang bisa menyembuhkan pelbagai penyakit

Pembaca blog ysh,
Mohon pendapat Anda mengenai diskusi yang terjadi mailinglist Ginjal ini.

=======
Dear all,
Ada yang tahu mengenai klnik Ch*ng S*n yang ada di Kebun Jeruk Jakarta Barat?
Sekarang lagi marak iklan nya di K*mp*s. Katanya mereka bisa menyembuhkan penyakit ginjal dan kanker.

Ada yg bisa memberikan informasi mengenai hal ini?

Thanks

=========
Iya saya juga baca juga advertorialnya di K*mp*s, tetapi tanggal 15 Mei 2009, iklan tersebut mendapat tanggapan dari Prof Dr Suhardjono dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia.
Intinya menurut beliau "Iklan tersebut menyesatkan karena tidak disertai oleh bukti-bukti dan penelitian,"

salam
============
Setelah saya melihat iklan tersebut, keesokan harinya langsung menuju TKP ke klinik Ch*ng s*n daerah Meruya Kebon Jeruk.

Saya mencoba liat2 disana semua dokter2nya (dokter herbal, lulusan cina) memang tidak ada yang bisa berbahasa indonesia. Saya didampingi dgn penerjemah (orang medis bukan yha/minimal pengetahuanya = "dokter"nya)

Saya membawa hasil laboratorium ibu saya yang bisa langsung konsultasi dengan mereka. (kapan klinik dan rumah sakit di Indonesia seperti ini ?)
Tapi kok sepertinya kurang memuaskan penjelasannya ya?
(kenapa? apa mungkin karena ketidakmampuan translatornya atau ada hal lain?)
Sebab untuk pengobatan mereka menggunakan ramuan2 yang notabene ada grade2nya, karena mereka menawarkan 3 paket.

Dari mulai yang 9 juta rupiah, 7 juta dan 4 juta. Itu semua untuk 1 periode 10 hari. Kalau masih belum baik ya lanjut lagi ke periode2 berikutnya dengan harga yang sama.
(kalau belum baik/sembuh juga bagaimana?)

Berdasarkan hasil lab Ibu saya, kami disarankan mengambil paket obat yang paling bagus (baca: paling mahal), yaitu yang paket 9 juta. Metode pengobatan mereka adalah model diinfus, diijeksi di syaraf2, diminum dan ditempel seperti koyo di kaki.

Setelah mendengar penjelasan semua dokter2 di sana, saya jadi kurang tertarik.

(hebat, satu pasien dilayani secara team)

Tks,

Tulisan terkait: http://www.eriktapan.com/2012/05/quo-vadis-iklan-klinik-alternatif.html

39 komentar:

OnggoW mengatakan...

Dear All,

Ilmu Kedokteran yang etis tidak mengiklankan diri dalam surat kabar apapun setenar K*mp*s. Para ilmuwan kedokteran mengiklankan diri hanya ,melalui artikel yang dapat dipertanggungjawabk an isi dan kebenaran yang dapat dibuktikan dalam majalah kedokteran. Iklan yang demikian dalam koran yang mengklaim menyembuhkan seribu satu macam penyakit,sebaiknya dianggap sebagai bahan hiburan saja. Titik.

Salam,
OnggoW.

Benny Hermanto mengatakan...

Memang service yang luar biasa

Pingkan mengatakan...

dr.Erik , mirip Praktek Pengobatan Diabetes di Tebet ya? yg mengklaim "Diabetes bisa sembuh" dgn ramuan (yg blm t'uji scr ilmiah). Ironisnya pasien bejubel disana walaupun m'byr lbh mhl.....???? : ((

Handrawan Nadesul mengatakan...

Halo teman-teman
Layanan medik seperti itu yang sejak dulu saya cemaskan. Bukankah sejumlah TV kita juga masih menayangkan terapist atau healer yang tidak jelas evidence-base-nya. Tapi masyarakat kita memang masih tidak mampu bersikap kritis terhadap tawaran semacam itu, karena saya kira lantaran keterbatasan penalaran medik, selain masih kuatnya ... Read Morepengaruh mistis, magis dalam kultur kita. Kalau yang mistis magis saja masih lekat dan diyakini, apalagi yang kelihatannya medik modern, namun sebagai orang medik kita tahu kalau itu tak punya evidence-base-nya.
Sebagai dokter saya tidak punya kuasa untuk melarang, kecuali membuat masyarakat lebih pintar memilih terapis dan healer yang benar, sehingga tawaran yang menjanjikan itu tidak akan bersambut lagi. Lewat tulisan, dan buku saya melakukannya.

Filinna Mok mengatakan...

sayur dan buah aja dijaga, apalgi jamu2an, yg tidak jelas ingredients nya. Menurut teman sy yg sdh kesana, translatornya sama sekali tidak paham ttg GGK, creatinine aja dia ga bisa translate ke sinshe. Parah deh..

Mohamad Kartono mengatakan...

Seharusnya layanan komplementer/alternatif seperti itu diketahui oleh pejabat kesehatan yang berwenang. Kalau terjadi apa-apa pada pasien, ke mana harus mengadu? Sayangnya masyarakat kita cenderung akan diam kalau dikecewakan oleh layanan alternatif tetapi berteriak ketika kecewa terhadap layanan dokter

Anonim mengatakan...

Masalahnya informasi dari Prof Suhardjono hanya sekali dimuat, sedangkan
iklannya setiap hari dimuat.

Bukan hanya ginjal, tapi semua penyakit..kit....kit...( ada echonya).

Abu Dhani mengatakan...

Masalahnya informasi Prof Suhardjono kurang gede dok ... mustinya satu halaman
penuh seperti iklan para lawyer kita ... Lagipula informasinya dalam bahasa
Indonesia, bukan bahasa mereka ... ya nggak nyambung ... he he he ...

Lain kali diterjemahkan dalam bahasa Mandarin supaya mereka tahu ... bahwa kita sudah makin pinter ...

Salam hangat dan semoga bermanfaat.

Anonim mengatakan...

Saya jadi ingat teman saya yang menawarkan produk suplemen dengan cara MLM.
Pokoknya beli dulu, coba, kalau nggak manjur beli lagi, coba lagi. Nggak
manjur lagi beli lagi coba lagi ... begitu seterusnya sampai stok mereka
habis. Begitu stok mereka habis, duit kita juga habis ...

Sepertinya klinik Chong San seperti itu juga ... pokoknya beli dulu yang
termahal, kalau nggak sembuh beli lagi yang lebih mahal .... lama-lama kalau
nggak sembuh juga kita dibawa ke Cina untuk transplatasi, bayarnya lebih
mahal lagi ....

Salam hangat dan semoga bermanfaat.

Wassalam

Erik Tapan mengatakan...

Dear all,
saya dapat info dari internet seperti ini (jadi ingat cerita blue energy-nya kita nich):
=====================================================

Satu LAGI ...! Pengobatan Terbaru Penderita Diabetes dan Gagal Ginjal

Penyakit Diabetes dan Gagal Ginjal adalah penyakit dengan seribu masalah,
percaya atau tidaknya sudah bisa dibuktikan oleh para ahli. Menurut ilmu
Kedokteran, penyebabnya antara lain karena pasien hipertensi atau diabetes
selalu mengkonsumsi obat penurun tekanan darah atau obat diabetes dalam jangka waktu yang lama sehingga membuat dan merusak kinerja organ ginjal.

(maksudnya kalau sakit hipertensi dan darah tinggi, sebaiknya tidak perlu minum obat gitu?)

Selain faktor lain yang disebutkan diatas adalah adanya faktor keturunan,
makanan dan kebiasaan hidup ( hebit) juga berperan. Apabila Kreatin (Asam
Organik Bernitrogen) dan BUN (Nitrogen Urea Darah) meninggi maka zat toksin
dalam tubuh tidak dapat dikeluarkan sehingga mengakibatkan tubuh keracunan dan hal ini yang disebut gagal ginjal.


Pada saat ini para dokter umumnya mengobati pasien gagal ginjal dengan dua cara yaitu cangkok ginjal dan cuci darah dan kedua cara tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sedangkan CARA pengobatan terbaru adalah dengan mengeluarkan dan menetralisir toksin, mempermudah buang air kecil, dan memperkuat fungsi ginjal melalui titik akupuntur. Dari ketiga cara tersebut dapat membasmi toksin atau racun dalam tubuh.
(setuju kalau benar, cuman mekanismenya bagaimana yha? apakah sudah ada uji kepada binatang/manusia?)

Jangka waktu yang dibutuhkan dalam proses pengobatan tersebut antara 7
(tujuh) sampai 14 (empat belas) hari, ini terbukti dari hasil penurunan
kreatin dan BUN dan kondisi pasien yang mulai membaik. Perlu diketahui
bahwa gejala umum penderita Diabetes dan gagal Ginjal adalah
berkurangnya nafsu makan, tidak bertenaga, gelisah, eneg, muntah,
bengkak dan lain-lain.Dengan cara pengobatan diatas mudah-mudahan
pasien bisa tertolong, mendapatkan harapan baru dan kehidupan baru.

Ghozan mengatakan...

hmmmmm...

- banyak juga yah model2 pseudoscience, belum lama ada yang model online untuk menangani anak-anak gifted.

- pak erik dkk
sebenarnya ada ndak sih regulasi tentang hal ini?

- maaf balik nanya
habis yg jadi korban pasien melulu..

salam prihatin
bapakeghozan

Ivan P mengatakan...

Diskusi ini sebaiknya dibicarakan di millis dokter atau sejenisnya, kalau
dibaca orang awam tdk akan klop apalagi kalau dibaca penderita GGK.

Jadi kalau madih coba coba sebaiknya jangan dipasarkan di millis ini, kasihan
kan kalau hasil nya tdk sesuai dgn harapan.

Hery M mengatakan...

DH,

CARA pengobatan terbaru adalah dengan mengeluarkan dan menetralisir toksin, mempermudah buang air kecil, dan memperkuat fungsi ginjal melalui titik akupuntur. Dari ketiga cara tersebut dapat membasmi toksin atau racun dalam tubuh.

Boleh diberikan informasi detailnya, dimana dan caranya...

Terima kasih.

Erik Tapan mengatakan...

Dear Pak Hery ysh,
Mohon maaf saya hanya membantu mengforward, soalnya saya penasaran sama cara
kerja dari "terapi terbaru tersebut".
Jika ada info lebih lanjut, nanti saya informasikan.

Yang perlu kita perhatikan adalah adanya psedo science.
Ngaku2nya ilmiah tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan di lingkungan ilmiah
atau bahkan dalam ilmu traditional chinese (TCM) medicine tersebut.

TCM itu sendiri ada ilmunya lho.
Mereka berusaha mengangkat derajat ilmu-ilmu timur agar bisa sejajar dengan
ilmu-ilmu kedokteran barat.
Tentu praktek2 tersebut harus bisa dibuktikan secara ilmu barat, minimal dari
sisi evidence base medicine-nya.

Salam ingin tahu,
Erik Tapan

Erik Tapan mengatakan...

Setuju,
Kalau masih coba-coba, jangan dipasarkan di media (milis atau pun koran).
Lagipula dari sisi ilmu kedokteran itu sendiri, coba-coba dilarang menggunakan
pasien (apalagi yang mau dicoba perlu membayar).

Oleh karenanya saya menyarankan, bagi kita yang ingin menikmati pelayanan
mereka, tanya dulu:
1. sudah sejauh mana coba-coba itu dilakukan (agar tidak terjebak jadi ajang
coba-coba)
2. hasilnya, bagaimana: antara yang berhasil dengan yang tidak

Ini yang saya sebut dengan evidence based medicine.

Kalau di bidang kedokteran, coba-coba tersebut (setelah pada binatang kemudian
manusia), ada sistemnya. Setelah berhasil (dengan kriteria tertentu, HARUS/KUDU
dipresentasikan ke dalam salah satu simposium atau ditulis di majalah kedokteran
yang kredibel).

Ini yang perlu kita cari tahu dari metode tersebut.

Salam coba-coba,
Erik Tapan

Tony W mengatakan...

Iya bener,

sepertinya informasi Prof Suhardjono kurang besar.

Minimal sebesar iklan mereka, apalagi kalau terlihat seperti menyesatkan orang2
pemberitahuan cara pengobatan mereka tersebut.

Kenapa dari team kedokteran kita ngga ada yg keluarin statement yg lebih jelas
mengenai hal ini ya?

Thanks

Royke B mengatakan...

Apakah klinik ybs memiliki ijin resmi, baik untuk institusinya maupun untuk dokternya? Jika ya, saya kira tidak merupakan masalah. Para dokter di Indonesia tentu saja memiliki standard profesi yang seharusnya diikuti oleh siapapun yang menjalankan profesi medik di wilayah RI, termasuk memberi informasi kepada pasien mengenai penyakitnya, metode pengobatan yang diberikan baik medika mentosa berupa bahan kimia sintetik, natural/suplemen, tindakan medis dll, serta memiliki medical record yang baik. Yang patut dipertanyakan dari sudut etika kalau sekiranya benar mereka beriklan dengan memberi "garansi" bisa menyembuhkan.

Erik Tapan mengatakan...

Saya sependapat dengan Bung Roy.
Jika:
1. Terapi yang dilakukan sudah ada bukti-bukti klinisnya
2. Klinik tersebut sudah ada ijinnya

Silakan...... ini ilmu baru yang perlu kita sosialisasikan bersama.

orang awam mengatakan...

tadinya ayah saya dri bandung mau terapi juga di klinik chog san karena katanya sdh terknal dan biayanya mahal..pasti keren tp stlah baca artikel ini kudu cari2 lg infonya...coba ada artikle yang dibuat oleh pasien yang sudah pernah terapi...pengen tau hasilnya gmn?

orang awam mengatakan...

bapa saya baru angkat batu ginjal kanan sampai skrng knodisinya cungkring...jgn sampai cangkok dan cuci darah..mahhal...ayoo para dokter indonesia buat metoda baru yang ada evidence base medicine-nya and murah...ditunggu yah

Hendra Haryadi mengatakan...

mungkin dari IDI harus bikin Forum Kesehatan Masyarakat dan mempunyai tugas / hak untuk mem- Ferivikasi pendirian tempat praktek / klinik & ijin praktek yg berkaitan dgn ilmu kedokteran & altenatif

Riris Irawati S mengatakan...

media pemuat iklannya gak bisa diminta selektif ya (plg tdk krn ini menyangkut kesehatan manusia)?...mungkin memang gak karena it's all about money...tp bgmanapun tetap hrs ada upaya perlindungan thdp konsumen (khususnya pengguna jasa klinik tsb.)...jika media tdk bs membantu--tdk usah menjadi pelaku utama, cukup membantu saja--dlm melakukan perlindungan itu, mestinya ya hrs ada lembaga/otoritas lain yg melakukannya...

William Adi Teja mengatakan...

Iklan klinik itu juga pernah saya lihat di koran kompas, dan sangat mengganggu sekali pikiran saya. Saya S3 dari beijing univ, of chinese medicine. Selama saya di beijing pun belum pernah ada satu dokter pun disana kasih jaminan bisa menyembuhkan gagal ginjal dan kanker. Suku dinas kesehatan harusnya turun tangan menegur klinik itu. 2 minggu yang ... Read Morelalu saya dipilih oleh IKNI untuk ikut menyeleksi "dokter chinese medicine" yang akan praktek di Indonesia (tempat seleksi di DepKes) tapi terus terang cara seleksinya tidak memuaskan menurut saya. Kualitas "dokter chinese medicine" yang datang tidak baik.
Kita kembali ke klinik diatas. Pasien juga tahu ngak mungkin, tapi iklan itu sebuah harapan, pasien itu sudah divonis oleh RS misalnya, dia dan keluarga pasti akan cari jalan keluar, walaupun itu tidak masuk akal. Sehingga ini menjadi sebuah dilema, disatu pihak kedokteran konvensional tidak bisa memberikan jaminan kesembuhan, di satu pihak ada pengobatan alternatif yang memberikan harapan.

William Adi Teja
praktisi TCM

Rohprabhowo M mengatakan...

ini cerita yang bagus untuk direnungkan: siapa yang salah kalau sampai pelayanan kesehatan model begini bisa meraja lela di tanah air tercinta sementara pelaksana fungsional pelayanan kesehatan, dhi dokter milik indonesia sendiri, digoyang kanan kiri dengan segala macam tetek bengek aturan, yang menurut sebagian besar pejabat, memang kita harus ... Read Moreberubah kalau tidak mau dilibas orang lain, tapi kenyataannya toh tetep babak belur. untuk sejawat asli indonesia, penentu kebijakan mudah membuat aturan2 main yang bervariasi, tapi kepada pemberi layanan negeri seberang, yang berlindung dengan aturan departemen lain, bisa dengan bebas mondar-mandir seraya memberikan layanan home delivery!!! mari sama2 kita merenung, asal jangan terlalu lama ya?

Afrianti Takaful mengatakan...

Banyaknya alternatif pengobatan seperi itu karena banyaknya kekecawaan masyarakat atas pelayanan kesehatang yang ada di rumah sakit atau klinik2 kesehatan kita..

Anonim mengatakan...

saya berencana mau liat klinik chongsan besok. tp bukan utk mengobati gagal ginjal, utk asma. setiap hari pake inhaler dan minum obat. ada yg punya referensi nggak pengobatan alternatif macam apa yg bisa saya coba?

Erik Tapan mengatakan...

bisa coba olahraga penapasan sejenis satria nusantara. semoga cepat sembuh.

Anonim mengatakan...

Saya setuju apa kata mas William AT.
Kadang dokter sudah memvonis "gagal ginjal" dan solusi nya hanya 2... cangkok atau cuci darah.
Bagi pasien yang tidak ingin melakukan 2 hal tsb (karena faktor biaya atau lsbg), tentu akan mencari jalan keluar lain...dan akan melihat iklan ini sebagai sebuah harapan. Dan mungkin pasien akan berpikir untuk tidak ada salahnya mencoba...selagi biaya nya terjangkau...Walaupun mungkin pasien jg sadar sangat kecil kemungkinan sembuh...drpd tidak sama sekali.
Dilema.

Dimyati Nangju mengatakan...

Berobat di Klinik Chong San

Setelah berkali kali membaca iklan di Kompas tentang pengobatan di
klinik Chong San, istri saya memutuskan berobat di klinik yang
terletak di Jalan Arteri Kelapa Dua, Jakarta Barat, itu. Istri saya
tertarik sesudah membaca iklan itu, yang mengisahkan keahlian dokter -
dokter dari China menyembuhkan penyakit ginjal, kanker, jantung dan
lain - lain.
Istri saya menderita diabetes dan hipertensi selama 20 tahun. Sudah
berobat dengan dokter spesialis di Jakarta, istri saya malah menderita
ginjal yang semakin parah. Saat ini efisiensi kedua ginjalnya hanya 30
persen. Kemudian di berobat di Klinik Chong San. Disitu dijanjikan
bahwa ginjalnya akan sembuh kembali seperti semula tanpa operasi
cangkok. Setelah dua bulan berobat dan menghabiskan lebih dari 30
juta, istri dan saya pesimistis bahwa klinik Chong San dapat
meningkatkan efisiensi ginjal.
Dokter China yang praktek disana hanya bisa bahasa mandarin. Bahasa
Indonesia atau Inggris sama sekali asing bagi mereka. Pasien yang
datang harus berkomunikasi melalui penerjemah, yang terjemahannya
belum tentu akurat. Beberapa istilah kedokteran sulit diterjemahkan
karena penerjemah tidak berlatar belakang pendidikan kedokteran.
Obat - obat herbal yang diberikan tak jelas kualitas dan subtansinya.
Harga obat disini sangat mahal: Rp. 6 juta sampai Rp. 8 juta untuk
pengobatan selama 2 minggu. Sudah banyak keluar uang, pasien masih
seperti yang dulu.
di Klinik Chong san hanya tersua dokter, tempat penyuntikan dan bilik
tempat beli obat. Peralatan untuk diagnosis dan terapi tak terrsedia.
Yang dilihat dokter dengan mata semata adalah mata dan lidah pasien.
Yang dirasai hanya denyut nadi.
Istri saya terpaksa harus melakuan pemeriksan darah di rumah sakit
untuk mengetahui apakah obat herbal itu efektif. Setelah darah
berulang - ulang diperiksa di rumah sakit, tak ada tanda bahwa
penyakit diabetes dan ginjal berkurang.

Dimyati Nangju
Jalan Mertilang, Bintaro
Sektor IX, Tangerang

(surat pembaca harian KOMPAS, 4 September 2009)

Tunggul Situmorang mengatakan...

Rekan2 Yth,
Iklan tsb (di Kompas dan Media Indonesia) yang menyangkut pengobatan gagal ginjal sudah pernah saya kirimkan tulisan bantahan pada Kompas dan menyatakan
bahwa statement: "gagal ginjal karena memakan obat2an untuk hipertensi dan obat2an untuk gula pada jangka lama" sangat merugikan masyarakat karena obat2 untuk mengendalikan hipertensi sampai target yang ditentukan dan mengontrol gula sampai kadar normal justru upaya untuk melindungi ginjal.

Bantahan itu tidak pernah dimuat dengan alasan bahwa bantahan tentang hal tsb yang akan dimuat adalah dari PERNEFRI (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) yang dibuat oleh Prof Suharjono, sebagai Ketua Pernefri.

Pada hal substansi yang kami kemukakan tidak sama. Jadi masyarakat harus hati2 dan sebaiknya konsultasi pada dokter ahli di bidang tsb. Sebagai dokter, tujuan utamanya adalah mengobati dan menolong pasien dengan cara ilmiah dan bukti2 yang sudah terbukti (Evidence base medicine). Masyarakat yang merasa dirugikan tentu berhak mengajukan keberatannya melalui sistem/ mekanisme hukum yang ada, namun media yang baik juga harus turut
bertanggung jawab secara moral dan tidak berlindung hanya masalah iklan saja. Iklan tentang menjual mobil dll, tentunya tidak sama dengan iklan yang menyesatkan, dengan taruhan nyawa manusia. Orang sakit/keluarga,sangat peka dan berusaha untuk mencari pertolongan, apapun bahkan rela mengorbankan apapun yang
dimilikinya. Memanfaatkan situasi seperti ini,adalah "kejahatan
kemanusiaan".Kiranya mereka2 yang melakukannya cepat2 bertobat dan diampuni dosa2nya.

Anonim mengatakan...

Saya mengerti biaya pendidikan kedokteran sangat mahal, namun alangkah baiknya mempertahankan tradisi dari orang tua mengenai obat tradisional. Bisa ada yang murah dapat menyembuhkan mengapa harus yang mahal.....Masalah ini kembali ke hati nurani masing-masing orang.

hanamasa mengatakan...

Dear Bpk Erik

Saya punya keponakan usia 7 tahun divonis gagal ginjal.kabar ini mengejutkan saya dan keluarga. hidupnya tergantung cuci darah 2 kali seminggu.(kata dokter bisa dipasang alat tanpa cuci darah tapi harus dijaga kebersihannya dan kontrol sebulan sekali apa betul ?) awalnya saya tertarik dengan klinik chong san,tapi saya jadi pesimis bila dirawat diklinik tsb. baru2 ini saya dengar ada obat namanya Criptomonadales(kalo ga salah sejenis GAnggang hijau laut)yg bisa mengobati gagal ginjal. mohon tanggapan bapak. terima kasih. (havino di sby)

Erik Tapan mengatakan...

Pak Hanamasa yg baik. Kami turut prihatin dengan apa yang dialami oleh keponakan Bpk. Apalagi usianya baru 7 tahun.
Tentu suatu kondisi yang sangat tidak mengenakan bagi Bapak dan orangtua serta orang-orang yang mencintainya. Doa kami menyertai Bapak dan sang keponakan tercinta.

Untuk alat yang dimaksud (tidak cuci darah) namanya CAPD. Saya kenal beberapa orang (anak-anak) yang menggunakan CAPD dan bisa beraktifitas seperti normalnya anak lainnya. Tentu perhatian dari orang tua / yang mencintainya sangat diperlukan.

Mengenai obat/herbal atau apapun itu, sepengetahuan saya, belum ada yang bisa menyembuhkan penyakit gagal ginjal tingkat lanjut.

Untuk jelasnya bisa kita lanjutkan diskusi di milis ginjal. Cara daftarnya, kirim email kosong ke ginjal-subscribe@yahoogroups.com.

Semoga bermanfaat.

Ibu Yasmin mengatakan...

Selamat mlm Bpk Eric, saya mau tanya dokter itu tahu fungsi ginjal pasien tinggal berapa persen darimana ? suami saya di vonis dokter skt ginjal kronis yg hrs cuci darah 2x seminggu dan fungsi ginjalnya tinggal 15% lg. awal di vonis cuci darah, ureum dan kreatinin suami saya 179 dan 13. setelah 2 hr berturut2 cuci darah turun ureum dan kreatininya menjadi 33 dan 3. 3 hari tdk cuci darah naik lg ureum kreatininya menjadi 91 dan 8,1. serta HB 10,7. Sampai saat ini, vol,buang air seni suami saya byk (400 ml-650 ml) sekali buang air seni. kalau minumnya banyak, sering dan byk pula buang air seninya. Sehingga dokter tdk membatasi minum suami saya sampai saat ini disamping itu juga, kaki dan tangan suami saya tdk bengkak. Suami saya punya niat utk mencoba pengobatan akupuntur (cuci darah tetap ). Tapi blm tau dimana tempat akupuntur yg baik di jakarta ( ada yg bisa bantu infokan ?)..kira2 menurut Pak Eric benar fungsi ginjal suami saya tinggal 15 % ( suami sdh kena diabetes selama 10 thn ) dan apakah menjalani akupuntur itu ada manfaatnya ? tq sebelumnya..

Erik Tapan mengatakan...

Dear Ibu Yasmin yg baik. Kami turut prihatin dengan apa yang dialami oleh suami Ibu tercinta. Mudah-mudahan cepat memperoleh solusinya dan aktif seperti teman-teman sesama yang mengalami cuci darah.

Untuk melakukan akupunktur, silakan saja. Meskipun tidak mempengarahui secara langsung, mudah-mudahan bermanfaat untuk menambah kebugaran secara keseluruhan. Sayangnya kami belum mempunyai rekomendasi tempat akupunktur yang diminta. Saat ini sudah ada dokter yang mendalami akupunktur sehingga ada baiknya berkonsultasi ke dokter tersebut.

Anonim mengatakan...

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah menanggapi hal ini, silakan akses:

http://www.kpi.go.id/component/content/article/12-umum/30564-imbauan-iklan-qklinik-tong-fangq-seluruh-stasiun-tv

Anonim mengatakan...

saya agak curiga dengan iklan TCM Chong San Surabaya
semua 'pasien' yang melakukan testimony, gerakan bahasa tubuh dan kata-katanya hampir sama semua ( mengacungkan kepalan tangan, jari tangan dsb), saya 'mengenal' salah satu 'pasien' yang ternyata adalah Host SBO TV (televisi lokal do surabaya), bernama agnes santoso, saya tanya ke ybs di twitter,apakah ia memang 'menderita gagal ginjal', lalu ia menjawab bahwa ia hanya 'meneruskan' keluhan penderita...(?)
Bukankah ini penipuan? tidak sakit dibilang sakit??? padahal Agnes ini aktivis gereja (dan dalam iklan itu dia tampil seolah seorang muslimah dengan mengenakan kerudung), pemirsa yang lugu dan naif mungkin beranggapan, wah ada orang muslim yang berobat ke klinik tradisional china dan ternyata sembuh, maka ini akan membuat daya tarik tersendiri ( 'pasien' yang lain juga diibaratkan orang2 muslim --> memakai kopiah) dan di iklan TCM yang lain 'testimony' nya juga dengan model berjilbab...

saya tak tau harus berkomentar apa? jika mencari uang dengan janji akan menyembuhkan orang sakit naamun dgn cara yg tdk pantas, bukankah ini malah menambah derita mereka yang sakit?

Anonim mengatakan...

Berikut tanggapan dr Kartono Mohamad seperti yang diposting di salah satu milis.

Inilah akibat birokrasi Indonesia. Semua saling mengalihkan tanggung jawab.

Saya pernah sampaikan ke menkes (yang dulu) mengenai iklan pengobatan "tradisional" baik yang terbuka maupun yang terselubung di teve. Beliau bilang "saya juga kesal melihat ini, tetapi depkes tidak bisa melarang. Ini wewenangnya Komisi Penyiaran".

Tapi kalau KPI dilapori, mereka bilang seharusnya BPOM menegur atau member tahu kami dulu. Kata BPOM, kami tidak dapat melarang iklan, hanya produknya yang dapat kami awasi. Kalau produknya tidak terdaftar, atau diklaim tidak sesuai dengan ketika ijin diberikan, kami bisa memerintahkan untuk menariknya dari peredaran.

Tapi kalau itu soal pengobatan, kami tidak dapat berbuat banyak. Kami akan mencari dulu perturan-peraturan yang dilanggar. Jadi siapa yang berwenang melindungi rakyat dari penipuan-penipuan di balik berbagai cara pengobatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya?

PB IDI seharusnya dapat berbuat sesuatu. Ke KPI dan perusahaan teve agar tidak ikut membodohi rakyat, meskipun ada uangnya. Ke pemerintah, minta bertindak lebih tegas. Ke masyarakat, memberikan informasi dan edukasi.

Tetapi di sisi lain: IDI juga harus berani tegas kalau ada dokter yang berbuat serupa. Membodohi rakyat demi mencari uang sebanyak-banyaknya, meskipun tidak melalui iklan teve.

KM

Anonim mengatakan...

1. Melihat ''kesuksesan'' iklan Klinik T*ng F*ng menarik perhatian banyak org, sy jadi teringat seorang teman jurnalis...
2. Gara-gara pengobatan alternatif ia berhenti jadi jurnalis, dan pilihannya ''tepat'': dia jadi miliuner!
3. Ketika jd jurnalis, dia ke mana-mana mengggunakan motor dan angkutan umum
4. Sekarang, dia memiliki beberapa mobil mewah dan rumah mewah di perumahan terpandang
5. Mengapa bs terjadi? DUlu dia banyak meliput dan menulis pengobatan alternatif dan para dukun
6. Lalu dia melihat ''peluang bisnis'' yg dahsyat. Ia kemudian ''memenejeri'' para pengobat alternatif/dukun tsb
7. Ia prmosikan pengobatan alternatif/dukun itu di berbagai media, termasuk membeli slot di sta2 TV
8. Hasilnya? Jauh lbh dahsyat drpd memenejeri penyanyi/pemain sinetron
9. Ia bahkan kini punya sejumlah pabrik jamu untuk melayani pasien pengobat alternatif tersebut
10. Ini sebuah gambaran saja, jgn menganggap remeh ''perputaran uang'' untuk pengobatan alternatif/herbal ''sekelas'' Tong
11. Ketika produk-produk lain berhati2 dlm beriklan, klinik tersebut malah sangat ekspansif
12. Dan dlm waktu singkat, hampir tdk ada penonton tv yg tidak kenal Klinik T*ng F*ng
13. Mendengar ada anak kecil yg bs menyembuhkan dgn batu atau sekedar celupkan tangan ke dlm air saja pasien rela antri
14. Bagaimana dgn serbuan iklan sejenis Klinik Ton Fang yg ''dilengkapi'' dengan ''TESTIMONI'' segala
15. Apalagi di banyak talkshow ''blocking time'' ttg pengobatan alternatif jg menghadirkan selebriti yg siap berikan''testimoni''
16. Bgt ada artis yg sakit dan dinyatakan parah dan sulit disembuhkan, para pengobat alternatif berebut utk menyembuhkannya
17. Dan bbrp mengundang secara khusus media untuk meliput sang pengobat alternatif saat ''menangani'' selebriti itu #bokis
18. Sejumlah pengobat alternatif yg sy temui, mengaku cara spt itu sangat efektif untuk mendtgkan pasien
19. Pola beriklan dlm bentuk ''testimonial'' semacam itu dimanfaatkan betul oleh klinik2 sejenis T*ng F*ng
20 Jangan kaget kl kelak pengobatan2 sejenis T*ng F*ng dr LN menyerbu Indonesia, dan kt kembali jd ''tamu'' di negeri sendiri