IdBlogNetwork

Sang Inspirator sejati, Bpk Karmaka Surjaudaja, Chairman Emeritus PT Bank OCBC - NISP


Sungguh beruntung penulis bisa bertemu dan mendengarkan kisah menakjubkan langsung dari Bpk Karmaka Surjaudaja, the real inspirator. Kenapa penulis menyebut beliau, inspirator yang sebenarnya? Bayangkan karena stress yang terus menerus menimpa bankir Bank NISP ini, pada usia 44 tahun (1978), divonis terkena sirosis liver tingkat lanjut dan sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Pada tahun 1980, oleh Prof Fenton Shaffner dari RS Mount Sinai New York, dinyatakan hanya bisa bertahan paling lambat 5 tahun lagi. Namun berkat kegigihan, keuletan dan support dari keluarga (isteri dan anak-anak), Pak Karmaka bisa bertahan sampai sekarang. Mengurus "penyakit"nya dan mewujudkan cita-cita untuk menjadikan Bank NISP sebagai 5 bank top di Indonesia terus saja dilakukan.

Pada tahun 1982, Pak Karmaka "dianugerahi" diagnosis "primary biliary cirrosis" oleh tim dokter yang dipimpin oleh Prof Shaffner tersebut. Saran dokter untuk mengatasi penyakit yang tidak ada obatnya ini adalah hidup dan istirahat lebih baik serta menunggu saat datangnya kematian dengan menggembirakan diri. Artinya jangan sampai seseorang yang sudah seperti ini harus mengakhiri hidup yang tidak lama lagi itu dengan menderita. Jadi kualitas -proses- matinya harus dibuat seindah mungkin.

Selama menunggu datangnya kematian dan matangnya generasi penerus Bank NISP, Pak Karmaka diajak isterinya mencoba pengobatan di China, seperti olah napas Qigong dan Tai Qi Quan.

Ajaib, dengan semangat yang besar dari Pak Karmaka, 5 tahun sudah berlalu dan belum ada tanda-tanda kematian menjelang. Pak Karmaka masih tetap aktif sebagai Presiden Direktur NISP. Pada tahun 1997 (15 tahun sesudahnya) terjadi regenerasi di pucuk pimpinan Bank NISP. Anak-anak Pak Karmaka duduk dijajaran direksi sedangkan Pak Karmaka menjadi Komisaris Utama bank tersebut.

Pada bulan Juli 1997, saat semua management Bank NISP sedang siaga 1 karena gonjang-ganjing perekonomian di Indoesia, Pak Karmaka mengalami muntah darah dan pingsan (pecahnya varices esofagus). Segera saja Pak Karmaka dilarikan kembali ke New York untuk transplantasi yang sayangnya belum bisa segera terlaksana seketika karena harus antri. Dalam penantian tersebut (di mana keadaan ekonomi di Indonesia tidak begitu baik), Pak Karmaka sempat melakukan penghentian alat-alat bantunya selama di rumah sakit. Slang infus dan oksigen pun dicabut. Terang saja, kepanikan pun melanda para perawat dan dokter hingga mereka mengikat Pak Karmaka di bed (tempat tidur). Selang 3 hari kemudian, berkat doa dari semua pihak, Pak Karmaka bisa melakukan transplantasi hati dengan sukses. Pada Desember 1997, Pak Karmaka pulang ke Indonesia disambut bak pahlawan oleh jajaran direksi dan karyawan Bank NISP.

Kembali kesulitan mendera Pak Karmaka, pada tahun 2002, Pak Karmaka harus menjalani transplantasi ginjal. Hingga saat ini Pak Karmaka -meskipun menurut pengakuannya, masih menderita kanker yang lain, yaitu kandung kemih dan sudah metastase ke prostat- masih aktif membagi kisah-kisah inspirasionalnya yang kali ini dibawakan di hadapan Komunitas Warga Senior (KOWAS), Sabtu 6 Juni 2009.

Links:
- Jawa Pos 1 - 2 - 3

5 komentar:

Wilda mengatakan...

sungguh menakjubkan..saya juga sudah membaca buku yg dikarang oleh dahlan Iskan. Sepatutnyalah kita semua mencontoh beliau berdua dalam menghadapi hidup terutama dalam menghadapi penyakit yang dititipkan Tuhan.
Tiada penderitaan yang abadi dimuka bumi
ini.
Tetap semangat dan jangan pernah berputus asa. Semoga
Allah,SWT senantiasa memberi keberkahan kepada kita semua.amien.

wilda

dyagnozinfo mengatakan...

wooohoo, dokter erik memang canggih

Syaiful Fatah, MD mengatakan...

maaf dr. erik, barangkali menurut saya ulasannya terlalu dangkal. Kalau kita berbicara teknologi informasi, tentu akan berhubungan dengan dua hal yaitu teknologi dan informasi. Yang diulas dr erik mungkin bisa dikembangkan bagaimana mengemas informasi yang ada menjadi ide-ide kreatif kita semua. tidak hanya internet, tapi termasuk didalamnya elktronika, biologi dan komprehensifitas dari ide kreatif tersebut.
Barangkali bisa menambahkan bahwa teknologi informasi dalam pelayanan kesehatan bisa kita artikan kemandirian dokter dan pasien terhadap pengobatan. Karena hakekatnya semakin banyak informasi maka semakin tinggi pula pengetahuan seseorang sehingga mampu menganalisa jenis penyakit dan memberikan solusinya baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Kalau dibilang internet akan menjangkau seluruh wilayah di Indonesia itu hanyalah alat, namun yang terpenting adalah pemanfaatan informasi-informasi yang ada untuk peningkatan pengetahuan.
Demikian, terima kasih.

http://fulfat.wordpress.com

Erik Tapan mengatakan...

# Wilda & Diagnozinfo, banyak terima kasih atas komentarnya. Sukses selalu.
# Syaiful Fatah, kelihatannya komentarnya salah kamar yha? :-)

qiqi mengatakan...

saya juga tamat baca bukunya.. memang top markotop bapak karmaka itu, sangat hebat! saya sampai nangis berkali-kali membacanya. gak akalh sama laskar pelangi.