IdBlogNetwork

Pengalaman berkendara dengan Toyota Prius

Sebagai sosok yang mengaku peduli dengan lingkungan hidup, penulis senantiasa berusaha untuk mengerjakan hal-hal yang hemat enersi dan mengurangi dampak pemanasan global / global warming. Mulai dari pemisahan sampah rumah tangga (yang bisa di daur ulang dan yang tidak). Mengurangi sebisa mungkin menggunakan (misalnya), kantong kresek, sumpit, dll. Kemudian, banyak menanam tanaman di pot (soalnya halaman di rumah penulis hanya seupil, jadi terpaksa nanam di pot, termasuk pohon mangga dan pisang).

Dalam mempergunakan sesuatu pun, penulis akan mengusahakan yang hemat enersi. Salah satu yang sangat vital di era mobilitas saat ini, adalah berkendara. Mau tak mau penulis berusaha untuk melongok mobil-mobil Hybrida (hybrid), mobil yang menggabungkan mesin berbahan bakar petrol dengan motor listrik. Konsekuensi mobil dual power ini, tentu harus efisien sehingga bisa menjadi irit.

Pada hari Sabtu 25 Juli yang lalu, penulis diberi kesempatan menjajal Toyota Prius Generasi kedua. Menurut pihak Toyota Astra Motor (TAM), sebenarnya saat ini, sudah keluar dan dipasarkan di Indonesia Prius generasi ke-3, namun dari dua mobil yang masuk (resmi dari TAM), satu sudah terlanjur di beli orang, satunya lagi sedang dipamerkan di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2009 yang berlangsung di Kemayoran. Nggak lucu khan, kalau peserta pameran tidak bisa melihat mobil yang telah terjual 1,2 juta unit (1997-2008), hanya untuk diujicoba kepada sekelompok orang.
Pengalaman dengan Toyota Prius generasi II (1.500cc)

1. Start yang sepi
Saat penulis memasuki Toyota Prius Gen-II. Handle pintu tidak ada sensor tangan pengemudi. :-(
Saat memasuki kabin mobil yang dijuluki "the most selling hybrid car in the world" tersebut -dengan ditemani Mas Harry (TAM), penulis diharuskan memasukan box kunci ke dalam kompartemen yang disediakan. Langsung timbul pertanyaan di benak penulis yang saat ini mulai menggemari mobil-mobil keluaran Toyota, wah ke mana smart key yang canggih itu yha? Dengan kunci bersistem smart key (umumnya sudah ada di mobil Yaris, Vios, Corola, Camri, bahkan mungkin Lexus -yang ini mesti penulis cek dulu beberapa hari lagi), pengendara hanya perlu memasukan jari tangan ke sensor handle pintu untuk membuka. Begitu juga untuk start mobil, hanya perlu menekan tombol start, sedangkan kunci, biasanya disimpan di kantong atau di tas. Sungguh praktis.

Perhatikan porsneling di sebelah kiri stir dan tombol START/POWER yang berada di sebelah kanan stir. Sesuai dengan kebiasaan menyetir orang Indonesia (untuk tombol START-nya). Mobil-mobil sedan Toyota sebelumnya, tombol START/POWER ada di sebelah kiri stir.
Sesudah memasukkan dengan hati-hati key box tersebut (sempat loncat sekali), penulis mencari tombol START di sebelah kiri. Ternyata -ini patut diberi apresiasi- tombol START/POWER sudah ada di sebelah kanan stir sama seperti kebiasaan saat kita meng-start mobil2 di Indonesia pada umumnya, dengan tangan kanan.
Lalu... tanpa bunyi, mobil langsung hidup, yang bisa kita lihat di display (lihat film/gambar). Terlihat dalam LCD seukuran 8inch tersebut, beberapa parameter, berupa prosentase enersi yang tersisa di baterei, proses pengisian listrik, dll. Dengan LCD tersebut, kita bisa mengetahui saat menjalankan mobil, proses apa yang terjadi. Apakah sedang mengisi baterei, menggunakan baterei/listrik untuk menjalankan mobil atau menggunakan bensin.
Wuih canggihnya, mobil Prius yang dalam bahasa latin mempunyai arti "first" atau "to go before".
Perbedaan lainnya dengan mobil berbahan bakar petrol lainnya, saat start, mobilnya tidak mengeluarkan bunyi. Terbayang saat penulis menyalakan notebook dari posisi Standby. Menyala begitu saja, tanpa ada proses booting. Ya...lah, yang on khan mesin listriknya. :-)



2. Menjalankan
Sebelum mulai menjalankan mobil yang mendominasi 80% market share kendaraan hybrid di dunia tersebut, terlebih dahulu pengemudi harus "menendang" rem tangan. Iya, rem tangan yang umumnya digerakkan dengan tangan, pada Prius, kaki mengambil alih operasinya. Rem tangan sudah tidak terletak dalam jangkauan tangan pengemudi lagi, tetapi diletakkan pada sudut yang paling kiri, di sebelah pedal rem. Jadi "rem tangan" tersebut harus ditekan dulu (dengan kaki tentunya) kemudian baru diangkat, dan terlepaslah rem tangan tersebut. Barulah memindahkan porsneling ke D. Caranya pun cukup unik. Berbeda dengan mobil-mobil pada umumnya, tuas porsneling Prius akan selalu kembali ke posisi awal ke mana pun kita menggerakannya. Jadi kita hanya perlu menggerakkan (dengan sentuhan ringan) ke titik D (geser ke kanan), lalu tuas porsnelingnya kembali ke posisi semula. Untuk posisi parkir, cukup dengan satu sentuhan saja. Karena tuas porsneling tidak berbeda pada semua posisi (N, D, R maupun P), maka mengetahui posisi tuas saat itu, hanyalah bisa dengan melihat dashboard mobil yang sudah ter-display secara elektronik.
Semua kondisi mobil bisa terlihat dari display digital. Ketahuan deh, mobilnya lagi diam... :-(.
Namanya juga dipotret, safety driving-lah.


Beberapa posisi mesin yang penulis amati pada pelbagai keadaan yang umum dijumpai
Untuk melihat kerja canggih dari Prius, penulis memperhatikan LCD 8" yang memperlihatkan penggunaan sumber daya mobil antara mesin (berarti menggunakan bensin) dan motor listrik.


  1. Berhenti
    Saat mobil berhenti (misalnya macet), mesin dan motor listrik dalam posisi tidak aktif. Sistem pendingin AC tetap berfungsi meskipun tidak menyalakan mesin.

  2. Start Awal
    Saat menjalankan kendaraan, motor listrik langsung aktif sebagai daya utama.

  3. Kecepatan Normal, jalan rata
    Pada kecepatan yang normal, mobil akan digerakkan oleh tenaga motor listrik dengan mesin sebagai penunjang. Mesin kadangkala berfungsi untuk mengoptimalisasi.

  4. Jalan menanjak
    Mesin dan motor listrik bekerja penuh untuk menambah performa kendaraan dan penulis tidak merasakan adanya suatu hentakan (atau apapun) saat mesin dan motor listrik bekerja bergantian ataupun bersamaan. Istilahnya baik pada kecepatan rendah, sedang tinggi, sama saja dengan menjalakan mobil Toyota lainnya, tentu hanya perbedaan kesenyapan (bunyi mesin mobil tidak kedengaran) saat motor listrik berfungsi penuh. Hal inilah -menurut pihak Toyota- belum dimiliki oleh mobil-mobil hybrid lainnya di dunia.

  5. Jalan menurun
    Saat pengereman, mesin akan tidak aktif dan dikendalikan oleh motor listrik. Hebatnya, enersi kinetik dari pengereman mobil akan diubah menjadi daya listrik dan baterei mengisi ulang sendiri. Jadi ingat saat mengendarai sepeda yang mempunya dinamo untuk menjalankan lampu sepeda.

  6. Saat kecepatan tinggi
    Terus terang penulis tidak bisa melaporkan kondisi apa yang terjadi pada saat kecepatan tinggi karena, jalan yang dilalui penulis tidak terlalu panjang dipacu. Penulis hanya mencoba memacu kendaran dari 0 hingga 100, namun itupun belum sampai kecepatan 100, jalannya sudah mau habis.

Kesimpulan yang bisa penulis peroleh dari beberapa situasi di atas, untuk saat ini hybrid masih tetap menggunakan tenaga mesin (bensin) sebagai tenaga utamanya, sedangkan tenaga listrik dari baterei digunakan dalam situasi dan kondisi yang "ringan" guna menghemat bahan bakar. Efisiensi diperoleh dari perubahan tenaga kinetik guna mengisi baterei. Bedanya mobil hybrid Prius dengan yang lain (menurut pihak Toyota), pada suatu waktu, motor listrik bisa bekerja sendiri. Kondisi ini pun bisa kita "paksa" dengan menekan halus tombol EV (Electric Vehicle) disesuaikan dengan gaya mengemudi kita.

Bahan bakar
Dengan berbahan bakar RON minimum 95 unleaded (Shell Super Extra, Pertamax Plus dan Petronas Primax 95), menurut pihak Toyota, rata-rata konsumsi bahan bakar Prius adalah 1:23 dalam kota Jakarta (di Jepang, katanya bisa mencapai 1:27). Untuk tol luar kota, mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk mencobanya, sekaligus untuk melaporkan apa yang terjadi di mesin ramah lingkungan ini saat mobil dipacu dengan kecepatan tinggi.

Toyota Hybrid System
Bagi Anda sudah terlanjur senang dengan model-model mobil keluaran Toyota lainnya (Vios, Corola, Camri dan Lexus), ada rencana pihak Toyota akan membenamkan Toyota Hybrid System (THS) ini dalam waktu dekat ini. Kalau nggak salah tahun 2020 . Mudah-mudahan pihak yang berkompeten mendukung gerakan ramah lingkungan dengan (contohnya di luar negeri) memberi insentif kepada hal-hal yang bisa menghemat enersi.

8 komentar:

happy mengatakan...

waaah ... dr. Erik gak pernah ketinggalan yah dengan launching mobil baru ... yang fotoin siapa dok ? apa mobilnya dilengkapi juga dg kamera otomatis dan CCTV ? ;D

Sunarly SK mengatakan...

nice sharing, pak Erik..
dari pengamatan saya di IIMS 2009 mobil Toyota Prius ini menarik perhatian byk pengunjung pameran..

Siber Medik mengatakan...

Semoga teknologi ramah lingkungan ini harganya bisa turun lagi.. :D

Erik Tapan mengatakan...

# Happy, ha...ha...ha.. Happy memang bisa saja. Saya difoto bukan dengan kamera CCTV (lagi pula untuk apa ada kamera tersebut), namun oleh sahabat saya Mr Harry, selaku instruktur, menjaga/memperhatikan kalau ada yang saya tidak tahu.
Ternyata menyetir Prius tidak susah koq. Asalkan sudah biasa menyetir mobil (kebetulan mobil saya dari Toyota), tidak ada hal yang perlu dipelajari lama. Paling lima menitan, sudah bisa jadi pakar.

Erik Tapan mengatakan...

# Sunarly, memang benar Pak, jadi kerumunan banyak orang. Mungkin ini mobil hibrida pertama di Indonesia ya (maksudnya yang dipasarkan via distributor resmi).

Erik Tapan mengatakan...

# Siber Medik, mudah-mudahan bisa. Sekarang ini pajaknya 300%, jadi harga mobil yang kurang dari 600juta itu, sebenarnya "hanya" berharga 150 juta. Bandingkan dengan mobil2 lain yang sekitaran itu. Tentu saya akan memilih mobil yang ramah lingkungan. :-)

♥♥☆ KireyNaDien ☆♥♥ mengatakan...

woowwww... dokter yang satu ini hebad banget bisa test drive prius
keren... aku juga pengen. udah tau mulai dari prius gen 1 berapa tahun yang lalu sampe sekarang harganya masih ga terjangkau juga hahaha....
mobil ramah lingkungan tapi ga ramah pajak.. aneh y

penulislepas mengatakan...

Keren banget ya mobilnya, walau mungkin belum memiliki sensor untuk membuka pintu seperti yang bapak ceritakan. Mudah-mudahan saja satu saat kebeli mobil ini.. hahhaha.. Tapi saya setuju saja jika pajak mobil tinggi pak, terutama ketika pembeliannya, jadi mobil benar-benar dibeli hanya oleh mereka yang mampu, tapi setidaknya pemerintah harus memperhatikan pula kondisi mass transportation di Indonesia.

Monggo mampir di blog saya pak