IdBlogNetwork

Nat Geo Channel - Megacities Jakarta

By 2030, two out of three people will live in an urban world, with most of the explosive growth occurring in developing countries. For a preview of the future, the last in the Challenges for Humanity series explores São Paulo, Brazil; Lagos, Nigeria; Bangkok, Thailand; and Hyderabad, India and Jakarta Dec. 3rd 2010. Jakarta is Indonesia's economic, cultural and political centre. Faced with a population overload, increasing pollution and clogged sewers and waterways, the city is tackling its problems head on. Next Showing: Wednesday 8 December at 3.30pm. Repeats: Sunday 12 December at 8:30am and Saturday 18 December at 8:30pm

Jakarta masuk acara Megacities di National Geographic Channel
Pada tahun 2030 diperkirakan dua dari tiga orang akan bermukim di daerah urban, yang mana merupakan suatu daerah yang paling cepat perkembangannya. Karena itu, National Geographic Channel (NGC) mengangkat kota-kota penghuni para urban antara lain kota Jakarta. Selain di NGC, acara Megacities yang membahas Jakarta ini, diputar kembali (re-run) di Metro TV dan TV One. Suatu tontonan yang dibuat dengan sangat menarik karena selain menampilkan kondisi saat ini (kumuh, crowded, dll.), banyak juga ditampilkan grafik 3D untuk Jakarta masa depan, seperti pembuatan pulau & tanggul di Jakarta Utara (laut Jawa), sistem MRT, dll. Tidak ketinggalan tentunya wawancara dengan pengguna KRL Jabodetabek dan warga Jakarta Timur yang pada tahun 2010 sudah terbebas dari banjir.

Kisah dimulai dengan woro-woro yang saya terima dari BBM seperti ini:
Hebohnya banjir dan macet di Jakarta sampai menggelitik National Geographic Channel untuk membuat tayangan khusus yang dikemas secara apik, hi-tech, dan edukatif dengan kualitas High Definition (HD). Penasaran?




Catat waktu tayangnya  “Megacities: Jakarta”
1. National geographic Channel (Indovision) 3 Des 19:00 (yang mau langganan kontak saya)
2. MetroTV, 4 Des 19:05
3. TV One, 4 Des 21:00
Share this with your fellow Jakartans!

Saat membaca itu, terus terang saya membayangkan suatu dokumentasi berupa potret kota Jakarta saat ini dengan segala permasalahannya. Dan memang benar, yang dipotret sebagian hal tersebut (termasuk tayangan suasana car free day dan masyarakat sedang ber-OR di hari Minggu), namun yang membuat tayangan ini menarik  adalah disajikannya konsep Jakarta yang sedang berlangsung (yang ternyata banyak yang belum saya ketahui) dan Jakarta masa depan. Jadinya mirip acara developer yang sering kita saksikan di televisi-televisi. Perbedaannya, ini dikemas dengan sangat baik sehingga bisa membuat warga Jakarta bangga akan Jakarta dan tentunya akan makin banyak penduduk daerah lain yang ingin mengadu nasib di Jakarta. Lupakanlah usulan pemindahan Ibu Kota.

Menurut tayangan tersebut, masalah  utama yang saat ini harus segera diatasi adalah: sistem pengelolaan tanah, sistem transportasi, sistem pencegahan banjir dan pengolahan sampah. Semua masalah yang timbul tersebut, merupakan akumulasi dari kondisi dan perlakukan penduduk masa lampau, di mana masyarakat Jakarta percaya bahwa alam begitu kaya dan bersahabat sehingga bisa melindungi dan memperhatikan kita semua (jadinya kita bisa berbuat semau gue, buang sampah ataupun nyedot air sembarangan). Ke depan diharapkan masyarakat Jakarta harus sudah memiliki paradigma baru, mau lebih memperhatikan dan menjaga alam sekitarnya. Belajar untuk melindungi alam tempat kita hidup dan menikmati anugerahNya.

Materi-materi 3D yang menarik
Berikut beberapa materi-materi 3D yang menarik yang disajikan pada acara yang diputar selama 1 jam tersebut:

  1. Guna mengatasi masalah banjir, bisa terlihat bagaiamana usaha pengurukan tanah di laut Jawa sehingga menciptakan pulau-pulau tambahan di Jakarta Utara (kaya’ palm tree island di Dubai jadinya  ya, eriktapan). Jadi selain masalah banjir teratasi, di atas pulau-pulau tersebut (ini berbeda dengan di Dubai) bisa dihuni oleh warga Jakarta. Juga akan dibuat tanggul setinggi 3 meter dari permukaan air laut guna melindungi pulau ini dan kota Jakarta tentunya dari bahaya masuknya air laut (rob).
    Untuk mengurangi amblasnya tanah, dihimbau agar masyarakat bisa mengurangi pemanfaatan air tanah (perlu juga diperhatikan de-water-isasi pembangunan gedung-gedung besar, eriktapan)
  2. Dalam bidang transportasi selain bus way akan dibangun MRT, yang akan membelah Jakarta dari Utara ke Selatan selanjutnya dari Barat ke Timur. Selain station-station di atas tanah, untuk mengurangi biaya pembelian tanah akan dibangun juga station-station MRT  bawah tanah (keren!!, eriktapan). MRT ini akan di-sinergi-kan dengan moda angkutan lainnya seperti: bus, trans Jakarta dan mono rel. Khusus untuk monorol terlihat dibuat hanya di segitiga emas saja.
  3. Untuk sampah, ternyata kalau dahulu sempat heboh karena adanya pihak-pihak yang keberatan menjadi “tempat sampah”, namun dengan teknologi, sampah tersebut (yang menghasilkan gas metana) bisa dikelola untuk mendirikan pembangkit tenaga listrik (sumber energi).

Kesimpulan tayangan ini
Dari tayangan ini, dikatakan karena masalah saat ini terjadi secara perlahan-lahan tentu untuk perbaikannya tidak bisa secara dilakukan cepat melainkan secara bertahap yang kadangkala tidak disadari oleh penduduk Jakarta. Sebagai contoh persoalan banjir yang saat ini sudah berkurang 30% dibandingkan tahun lalu. Diharapkan akan menjadi 40% (tahun 2011) dan musnah sepenuhnya pada tahun 2016. Bersama kita bisa.

Penasaran mengenai program Megacities dari National Geographic Channel?

Berikut kutipannya:
Megacities takes a revolutionary look at the places where most of us live: the modern Metropolis. Megacities focuses on the single aspect of a city’s infrastructure which best informs the life and functions of that place. Each city is examined as an organism: living, breathing, and growing. In order to survive, these infrastructures must each function independently, and yet blend into a harmony of man, machine, strategy and system, which defines it as a mega city. Megacities examines the infrastructure of eight iconic locations around the world: Las Vegas, Mexico City, Hong Kong, London, Paris, Sao Paulo, Mumbai and New York. Through dramatic storytelling, unparalleled access and sophisticated computer graphics blended seamlessly with live action, Megacities takes viewers beyond the monuments - and into the machinery - that is the true, living marvel of each mega city.

10 komentar:

Aji S. mengatakan...

Media asing cenderung optimis memandang permasalahan, sedangkan media kita cenderung pesimis

Arul mengatakan...

Ada logo pemda DKI Jakarta di situ. Ini salah satu bagian promosinya.

Erik Tapan mengatakan...

@Aji, Baru sadar bahwa cara pandang kita bisa mempengaruhi hasil karya kita. Thanks infonya sangat bermanfaat.

@Arul, Perlu ditelusuri lebih lanjut, mana yang lebih dulu, apakah NGC kemudian karena menurut pemda DKI baik maka di re-run di TV nasional atau sejak awal pembuatan, sudah ada pesanan dari Pemda DKI. Namun apapun itu, bisa menjadi salah satu trigger bagi Pemda DKI Jakarta (dan mungkin juga pemerintah RI) untuk berbuat sesuatu demi kehidupan yang lebih baik.

Venus mengatakan...

semoga para pemerintahan terutama DKI membaca n menyaksikan nya.. :)

Felix K mengatakan...

Terima kasih atas infonya..ehe..asik2

Ahmad Z mengatakan...

Baguslah di expose media sebesar NGC. Supaay para pemangku kepentingan di DKI lebih sadar lagi permasalahan di wilayahnya.

Claudy Y mengatakan...

Iya semalam saya nonton acara itu. Acaranya sangat bagus dan dikemas sangat menarik. Acaranya benar-benar bagus

Kenpeki mengatakan...

Wah..Negara lain mau bantu mikir masalah di negeri kita..Mau bantuin nambah dananya juga apa 'gak ya? Hahaha...

Martin A mengatakan...

Salut tuh buat National Geographic, paling mgga' qta kembali diingetin biar Jakarta ngga' macet lagi

Ekondra mengatakan...

Kalo menurut saya... Saya jadi mikir... Apakah skrg Nat Geo Channel sudah ngak netral lagi... Saya liat di acara itu seperti iklannya Bang Fauzi Bowo yang memang sudah sengaja dipesan spot-nya untuk kepentingan publisitas dia supaya bisa menaikan citranya... Semoga aja Nat Geo Channel ngak bisa dibeli dan tetap netral dalam menyajikan program acaranya.