IdBlogNetwork

Want to live longer and healthy?

Anggota KOWAS sering berkumpul untuk sharing
Apparently not always live longer and healthy tips are torture and many restrictions. The film from BBC Horizon titled "How to Live to 101" and the book "The Status Syndrome: How Social Standing Affects Our Health and Longevity" by Dr. Michael Marmot, give information how the tips are more fun. Especially in Jakarta, organizations such as KOWAS could be one example.


Pengen hidup panjang, ber-gaul-lah!!


Kelihatannya ajakan seperti judul tulisan di atas hanya berlaku bagi orang-orang muda dalam mencari pasangan. Ternyata tidak demikian. Ini juga bisa diterapkan kepada mereka yang telah berusia 60 tahun ke atas yang masuk golongan lanjut usia  / lansia. Tulisan ini ditujukan bagi para lansia maupun Anda yang peduli terhadap orang tua / kakek / nenek Anda dan mengharapkan mereka bisa berusia panjang dan sehat. Ternyata tidak selalu usia panjang tersebut hanya bisa dicapai dengan gaya hidup yang terasa menyiksa, penuh peraturan, dll.

Lahirnya opini di bawah ini terinspirasi dari kegiatan saya bersama suatu kelompok orang tua yang tergabung dalam Komunitas Warga Senior (KOWAS). Banyak para anggota -dari perkumpulan yang memiliki pertemuan 2 bulanan ini- berusia di atas 70 tahun. Mereka pun tetap aktif berkumpul dan membagi hal-hal yang bermanfaat sesuai dengan usia mereka. Tidak hanya pertemuan fisik semata yang dilakukan, anggota KOWAS aktif juga berdiskusi via mailinglist / internet dan BBm Group. Adakah manfaat dari aktifitas KOWAS ini bagi para anggotanya agar bisa berusia panjang? Berikut beberapa temuan yang berhasil saya peroleh.

Improving With Age: How to Live to 101 and Still Have FunRasa penasaran yang terus menggantung selama ini, pelan terungkap setelah saya menyaksikan tayangan BBC Knowledge yang berjudul "How to Live to 101". Film yang dibuat berdasarkan riset Dr Bradley Willcox tersebut, diawali dengan kisah seorang dokter bedah jantung 92 tahun yang masih aktif mengoperasi pasien-pasiennya  (untuk melihat bagian pertama dari film dokumenter “How to live to 101”, silakan klik  http://tinyurl.com/101part1 ). Selanjutnya kita dibawa ke suatu desa yang sangat terkenal di Jepang, Okinawa. Penduduk di sana, terkenal panjang usia (rata-rata berusia sekitar 100 tahun/centenerian) karena hidup di lingkungan yang bebas polusi, konsumsi makanan yang sehat (healthy life style) dengan pola Calorie Restriction Adequate Nutrition / CRAN.

Menariknya, masih dalam film tersebut, tayangan kemudian dialihkan ke tempat yang sama-sama memiliki kelompok berusia lanjut namun dengan pola hidup yang berbeda bahkan bisa disebut sangat bertolak belakang. Para lansianers di Ovodda - Sardinia (klik http://tinyurl.com/101part2 untuk menyaksikan filmnya) gaya hidupnya penuh dengan pesta pora, makan daging (dalam film terlihat mereka sedang membakar kambing), keju, minum bir, dll. Dalam satu wawancara dengan warga yang senang berpesta tersebut, mereka mengatakan, biarlah kambing (yang jadi salah satu menu saat berpesta) yang menjadi vegetarian..

Bisa dilihat bahwa selain pola makan (CRAN) ternyata genetik dan gaya hidup (senang bergaul) bisa mempengaruhi hidup panjang dan sehat seseorang. Seperti contoh di Ovodda tersebut. Fakta menarik ini juga telah diselidiki oleh seorang dokter ahli epidemiologi Michael Marmot.

Dalam bukunya yang berjudul "The Status Syndrome: How Social Standing Affects Our Health and Longevity" dokter kelahiran London Inggris tersebut membahas mengenai penelitiannya terhadap orang-orang yang terkenal (tidak hanya artis, tapi dari pelbagai profesi). Sebut saja, pengelana dari Inggris Robert Scott yang meskipun berhasil mencapai Kutub Selatan namun tewas di dalam perjalanan kembalinya. Alhasil menurut dr Michael, sang pengelana tersebut meninggal karena kecewa akibat dikalahkan oleh Roald Amundsen dari Norwegia yang telah sampai lebih dahulu ke Kutub Selatan. Kesimpulannya, orang yang hatinya terluka (umumnya terjadi para orang tua yang merasa diabaikan oleh anak-anak/lingkungannya) menjadi rentan terhadap hal yang bisa mempengaruhi kesehatan seseorang.



Hal lain yang bisa memperpanjang hidup yang berkualitas
Dengan sering kumpul-kumpul tersebut, setidaknya -seperti yang dilakukan para member KOWAS- para anggota memiliki kesempatan untuk saling membagi pengalaman / sharing dan bisa bermanfaat satu dengan yang lainnya, bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya dan yang cukup penting ialah bisa memiliki akses / networking dengan sarana pelayanan kesehatan termasuk dengan para dokter pemerhati para orang tua (lansia). Hal terakhir ini cukup penting, karena meskipun seseorang memiliki dana yang cukup untuk mengobati penyakitnya, namun pada saat keadaan darurat, jika orang tersebut maupun pihak keluarganya mempunyai kendala mengakses fasilitas pelayanan kesehatan termasuk informasi kesehatan, tentu akan berbeda hasilnya dengan mereka yang sudah memiliki akses tersebut.


Kesimpulan
Banyak hal yang bisa mempengaruhi usia panjang seseorang. Semuanya ini sangat bergantung pada kondisi genetik (internal) manusia dan lingkungan (external). Sebagian besar masih dalam penelitian para ahli. Namun hal yang paling sederhana yang bisa kita lakukan saat ini adalah: selalu mendekatkan diri padaNya, bersosialisasi / sharing dengan teman maupun lingkungan sekitar, dengan tidak lupa selalu berkonsultasi dengan ahlinya. Selamat menikmati hari-hari Anda.


Kalbe Farma bekerjasama dengan KOWAS menyelenggarakan  HLUN (Hari Lanjut Usia Nasional) , salah satu kegiatannya melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap sekitar 700 Lansia di Senayan Jakarta Mei 2010



Tidak ada komentar: