IdBlogNetwork

UPDATE INFO: Enterobacter sakazakii

Jikalau bisa membayangkan isi kepala saya itu berisi kumpulan kata tag, maka kata-kata seperti: Enterobacter sakazakii, susu formula (sufor), IPB, Depkes, BPOM menjadi kata-kata yang cukup dominan saat ini. Size-nya mulai dari yang imut hingga ada yang sangat-sangat besar.
Bayangkan, sampai pkl 22.22 WIB, masih ada yang nge-BBM, "Dok, anak saya dua2nya skrg suka muntah, apa krn susu formulanya ya. Anak yg besar mnm **** (nama sufor, diedit), yg kcl **** (nama sufor yang lain, edited tentunya)".

Tidak hanya itu saja, di setiap kesempatan muncul pertanyaan-pertanyaan seputar hal tersebut, hingga ada permintaan ditulis donk mengenai hal ini di blog Dokter, agar kita bisa mengetahuinya tidak sepotong-potong.

Itulah yang mendorong saya untuk mencoba menulis isu ini, mudah-mudahan setelah membaca tulisan ini, kita semua bisa memandang persoalan dengan lebih proporsional. Tidak menjadi takut berlebihan. Sekiranya ada hal yang ingin ditambahkan atau dikoreksi, tentunya dengan senang hati saya akan menerimanya.

Hal yang paling indah dan menyejukkan saat ini, ternyata sudah ada jaminan dari pemerintah, baik itu Depkes maupun BPOM bahwa sejak tahun 2008, 2009, 2010 dan awal Februari 2011, berdasarkan pengambilan sampling yang dilakukan (dengan jumlah yang lebih banyak dari yang di-sampling oleh peneliti IPB) sudah tidak ditemukan lagi susu formula yang mengadung bakteri Enterobacter sakazakii tersebut. Jadi para orang tua bayi yang terpaksa menggunakan susu formula tidak perlu was-was lagi.

Masih kurang yakin dan penasaran?
Berikut disampaikan informasi yang dikompilasi dari berbagai pertanyaan dan jawaban yang sering saya terima (frequently asked questions) mengenai Enterobacter sakazakii.




1. Apa itu Enterobacter sakazakii?
Mungkin ini pertanyaan yang banyak ditanyakan orang, tapi jika mengutip dari Wiki (seperti jawaban ini) menjadi kurang begitu diperhatikan karena terlalu teknis. Dari kamus Wiki,  Enterobacter sakazakii merupakan bakteri gram negatif anaerob fakultatif, berbentuk koliform (kokoid), dan tidak membentuk spora. Bakteri ini termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sampai tahun 1980 E. sakazakii dikenal dengan nama Enterobacter cloacae berpigmen kuning. Pada tahun 1980, bakteri ini dikukuhkan dalam genus Enterobacter sebagai suatu spesies baru yang diberi nama Enterobacter sakazakii untuk menghargai seorang bakteriolog Jepang bernama Riichi Sakazakii. Reklasifikasi ini dilakukan berdasarkan studi DNA hibridisasi yang menunjukkan kemiripan 41% dengan Citrobacter freundii dan 51% dengan Enterobacter cloacae.

Bagi pembaca lebih menarik kalau diinfo bahwa kuman ini adalah bakteri BUKAN virus. Dan bagi mereka yang senang menulis (baik di blog, twitter maupun social media lainnya), bisa memperhatikan bahwa cara penulisan "Enterobacter sakazakii" itu adalah dengan huruf italic dimana huruf pertama "s" pada kata sakazakii ditulis dalam huruf kecil.

2. Kenapa saat ini menjadi heboh?
Kehebohan mengenai bakteri yang sebenarnya ada di mana-mana di sekitar lingkungan kita ini, dimulai dari kesalahpahaman mengartikan penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Sri Estuningsih pada tahun 2006 dan dipublikasi pada Februari 2008. Penelitian yang dilakukan sebenarnya bermaksud meneliti seberapa banyak sih makanan/minuman yang beredar saat itu di pasar Indonesia, mengandung bakteri E. sakazakii kualitas mikrobiologi seperti apa yang ada di makanan, dan sudah seberapa bagus produk makanan yang ada di Indonesia. Dalam perjalanan penelitiannya itulah kemudian ia menemukan banyak bakteri E Sakazakii [di-edit: 28/02/11].

3. Koq bisa mengandung bakteri E. sakazakii, bagaimana prosedur pengendalian kualitas produk para produsen?
Eitss...., jangan dulu terburu-buru menghakimi bahwa produsen susu formula tidak baik / ceroboh dalam memproduksi susu formula. Pada tahun 2006 tesebut, International Code of Hygienic Practice for Foods for Infants and Children yang dirumuskan oleh Codex Committee for Food Hygiene (CCFH), ternyata masih mengizinkan kandungan bakteri koliform (termasuk E. sakazakii) berkisar 1 - 10 bakteri per 1 gram bubuk susu formula.

4. Lalu kapan aturan bahwa susu formula harus bebas bakteri Enterobacter sakazakii?
Pada tahun 2008, badan pangan dunia FAO mengadakan seminar internasional yang mengundang beberapa ahli dari penjuru dunia termasuk peneliti dari Indonesia (IPB). Dalam acara tesebutlah akhirnya secara resmi dikeluarkan standar keamanan (yang berlaku secara internasional, termasuk diadopsi oleh BPOM Indonesia bahwa susu formula harus bebas dari kontaminasi bakteri E. sakazakii.

5. Kenapa aturan ini dikeluarkan?
Meskipun kasusnya relatif sedikit (infeksi akibat bakteri ini sesuai penelitian para ahli di dunia, ada 48 kasus sejak tahun 1961 hingga 2003 di seluruh dunia), namun badan pangan dunia mempunyai kewajiban untuk membuat aturan yang bisa melindungi konsumen. Tentunya aturan ini benar-benar dikeluarkan setelah ada riset yang valid. Dari 48 kasus yang diderita pada bayi bermasalah dg sistem kekebalan tubuhnya (lahir dengan berat badan rendah, prematur, dll), hanya 8 kasus yang benar-benar terbukti berasal dari kontaminasi susu formula.

6. Hanya sebagian kasus infeksi yang benar-benar terbukti berasal dari kontaminasi langsung susu formula, kalau begitu yang lain dari mana?
Bakteri Enterobacter sakazakii ada di mana-mana. Di udara sekitar kita, dalam peralatan makanan / minuman kita, dll. Bisa saja terjadi kontaminasi E. sakazakii pada alat makanan yang digunakan termasuk pada susu yang dibiarkan lebih dari 4 jam.

7. Kalau ada di mana-mana, kita sudah sering terpapar sama bakteri itu donk?
Benar sekali, sudah mulai pinter. Kita manusia sudah berkompromi hidup secara bergandengan tangan tidak hanya dengan bakteri E. sakazakii namun juga dengan berbagai bakteri lainnya. Khususnya bakteri Enterobacter sakazakii itu kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada di usus kita. Pasti muncul pertanyaan, kenapa kita tidak sakit khan?

8. Eh iya dok, koq tahu? Dokter juga sudah semakin pinter ya. Kenapa dok?
Kalau mau pinter kayak dokter, mesti banyak minum cucu ya nak ya (promosi dot com). Balik ke tablet (lebih keren dari laptop), Oleh Sang Pencipta, kita manusia itu dianugerahi sistem pertahanan tubuh (imun) yang sangat canggih. Pernah dengar cerita (atau mengalami sendiri) bahwa ada tamu-tamu kita dari luar negeri (katakan dari Eropa atau Amerika) yang langsung mencret2 begitu mengkonsumsi makanan kaki lima/pinggir jalan? Sedangkan kita, aman-aman saja tuch, malah kalau dikasih akan minta nambah baksonya. Setiap hari sistem imun kita itu belajar. Jika "kalah" maka kita akan jatuh sakit mulai dari yang ringan hingga yang berat/fatal.

9. Kalau begitu, yang jatuh sakit akibat bakteri itu, mestinya daya tahan tubuhnya lemah ya Dok?
Wah makin pinter. Benar sekali. Umumnya kasus-kasus akibat bakteri Enterobacter sakazakii itu adalah pada bayi-bayi yang berumur kurang dari 1 tahun bahkan lebih sering pada mereka yang berusia kurang dari 1 bulan yang mengalami masalah, seperti lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kg, prematur, dll. Tahu kenapa?

10. Ngetest ya Dok. Ya iya lah, masa' iya donk. Mereka itu khan daya tahannya masih lemah. Kalau kita-kita ini yang sudah agak gedean (atau bayi-bayi sehat), pastilah sudah pada kebal. Apalagi saya pernah baca, selain di susu formula bakteri Enterobacter sakazakii juga ditemukan dalam keju dan daging kemasan.

11. Kapan dokter mau nraktir kita makan bakso di pinggir jalan?
Wah, kamu ini mau langsung-langsung saja. Masih ada beberapa point yang perlu diinformasikan kepada masyarakat khususnya bagi ibu-ibu yang sedang bahagia bersama buah hatinya.

12. Iya dech dok. Kasihan juga ya para Ibu yang tidak bisa menyusui ASI bagi buah hatinya?
Benar sekali. Makanan/minuman yang paling sehat/bergizi dan mengandung zat-zat pembentuk kekebalan tubuh yang sempurna bagi bayi, hanyalah Air Susu Ibu. ASI sebaiknya diberikan secara eksklusif dalam 6 bulan pertama. Selanjutnya didampingi dengan makanan lain hingga bayi berusia 2 tahun. Insya Allah, bayi kita akan bebas dari macam infeksi dan sistem imunnya berkembang baik. Namun bagi mereka yang terkendala untuk memberikan ASI, bisa menggunakan susu formula. Guna mencegah kontaminasi, tidak hanya bakteri Enterobacter sakazakii namun dari kuman-kuman lainnya, perlu memperhatikan:


  • kaleng susu: sudah lewat tanggal expired/kadaluarsa, penyok. bocor, mengembung --> jangan dibeli atau digunakan
  • setelah susu diambil, tutup rapat kaleng tersebut dengan baik agar tidak terkontaminasi dengan pelbagai kuman
  • menyiapkan susu dengan tangan, alat dan lingkungan yang bersih
  • gunakan alat (botol dan dot) yang telah dibersihkan dan disterilkan
  • menghangatkan susu JANGAN dengan air mendidih tapi air hangat 70 - 80 derajat Celsius.
  • menyajikan susu formula hanya sekali penyajian
  • jangan membiarkan susu lebih dari 2 jam.
  • perhatikan cara penyajian susu formula sesuai dengan instruksi tenaga kesehatan atau seperti yang tercantum dalam kaleng susu


13. Ada lagi dok?
Dari saya, sudah cukup, kalau ada yang mau dikomentari atau ditanyakan, silakan tulis di-comment di bawah. Mudah-mudahan saya bisa menjawabnya. Yuk, katanya mau makan bakso.

14. Ok deh dok.

4 komentar:

Rhoedy mengatakan...

Sangat bermanfaat Pak. Thank you.

M. Sirod mengatakan...

Wuih dokter ikut nulis juga neh :-)

Erik Tapan mengatakan...

Thanks apresiasinya.
Iya, akhirnya nulis juga. Banyak yang nanya. Jadi ke depan, bisa diminta untuk akses blog saya ini saja.
Semoga bermanfaat dan sekiranya ada yang masih belum dimengerti bisa ditanyakan. Mudah-mudahan saya bisa membantu menjawabnya.

s1Lv!4 G. mengatakan...

Makasih atas sharingnya.. :D
Saya jadi tidak bimbang lagi saat memberikan mereka susu.

Semoga hal2 yang tidak pasti seperti ini tidak terjadi lagi ya.