IdBlogNetwork

Fwd: Sepuluh Jawaban tentang Obat

Pembaca blog ysh,
Berikut ada info yang menarik yang dimuat di Harian Republika Minggu, 20 Maret 2011.
Ditulis oleh Reiny Dwinanda
Mudah-mudahan bermanfaat.


Meski ada panduan pada label, masih banyak pertanyaan yang mengganggu seputar minum obat.


Ketika sakit, bagaimana cara Anda mendapatkan obat penghilang atau pereda gejalanya? Wenty Gibran punya trik tersendiri. "Saya tidak buru-buru ke dokter," cetus ibu dua anak ini.

Wenty mengatakan, kebiasaannya itu hanya berlaku untuk penyakit umum saja. Selama gejalanya tidak berat, ia akan mengobati sendiri diri dan anggota keluarganya. "Saya manfaatkan obat bebas saja sambil meningkatkan stamina tubuh," kata warga Depok, Jawa Barat ini.

Bijaksanakah pendekatan yang Wenty terapkan? Dr Galih Linggar Astu mengatakan, langkah tersebut ada benarnya untuk orang dewasa. "Namun tetap harus waspada, penyakit umum sekalipun sebaiknya dikonsultasikan ke dokter segera saat mulai memburuk," ungkapnya.

Jika itu terjadi pada anak, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Orang tua nantinya akan mendapatkan rekomendasi obat bebas apa yang tepat diberikan. "Pada anak kecil, kita harus berhati-hati dalam memberikan obat karena mereka belum bisa mengomunikasikan keluhan yang dirasakan," cetus Galih.

Selain cara seperti Wenty, masih banyak lagi kebiasaan pengobatan yang marak dipraktikkan masyarakat awam. Penjelasan Galih terhadap sejumlah pertanyaan berikut akan mengungkapkan fakta pengobatan yang tepat. Adakah salah satunya menjadi tradisi keluarga Anda?





Bolehkah mencontek resep sesama pasien?

Ketika penyakit datang mengganggu aktivitas, sebagian orang enggan ke dokter. Mereka lebih suka bertanya kepada orang di sekitarnya yang pernah mengalami sakit yang sama.
Langkah ini sebaiknya tidak ditiru. Belum tentu penyakit Anda sama persis dengan pasien tersebut. "Di samping itu, Anda belum tentu cocok dengan obatnya," ucap Galih.
Imbauan itu berlaku untuk semua penyakit. Termasuk yang ‘ringan’ seperti batuk.
Pemberian obat batuk, lanjut Galih, harus tepat sesuai jenis batuknya. Orang yang memiliki riwayat asma dengan batuk berdahak dapat merasakan sesak ketika mendapatkan obat batuk kering. "Ia semestinya minum obat yang mengandung pengencer dahak dan bronkodilator." Sedangkan, pemberian obat asma yang tidak sesuai indikasi juga dapat menimbulkan efek samping. "Jantung berdegup tidak teratur hingga terasa deg-degan," tutur Galih.

Bolehkah mengulang resep?

Dokter biasanya menuliskan Iteratie (Iter) pada resep yang bisa diulang penggunaannya. Jika tidak tercantum kata 'Iter', jangan menebus ulang resep tersebut. "Kalau belum juga sembuh, konsultasikan ke dokter supaya bisa diperiksa dan diberikan obat sesuai dengan kemajuan atau kemunduran kondisi pasien," Galih menyarankan.
Galih juga mengingatkan agar masyarakat tidak membeli obat dari resep terdahulu ketika kembali sakit. Kecuali, resepnya memang Iteratie dan dokter telah menjelaskan peruntukannya. "Resep tersebut hanya cocok jika kondisinya sama persis."

Perlukah menyimpan kopi resep?

Untuk penyakit yang sering berulang, sebaiknya simpanlah kopi resep atau tulis obat yang biasanya cocok untuk Anda. Jadi, apabila berobat ke dokter yang tidak biasa Anda kunjungi, dokter bisa meresepkan berdasarkan kopi resep tersebut. "Untuk anak-anak, obatnya mungkin sama, namun dosisnya harus disesuaikan dengan pertambahan berat badannya," urai Galih.

Bagaimana cara minum obat yang benar?

Banyak orang keliru mengartikan panduan cara meminum obat. Sebut saja, obat yang harus dikonsumsi tiga kali sehari setelah makan. "Tanpa memperhatikan rentang waktunya, obat langsung diminum tiap kali habis makan," kata Galih.
Demi menghindari kesalahan seperti itu, belakangan tenaga kesehatan tidak lagi menuliskan aturan pakai obat dengan istilah sekian kali minum. Jadwal minum obat kini sudah semakin jelas. "Minumlah setiap enam jam untuk obat yang terbagi empat dosisnya dan delapan jam untuk obat yang terbagi tiga dosisnya," paparnya.

Apa yang terjadi ketika obat dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu minum sebelumnya?

Obat terutama antibiotik harus mencapai level tertentu untuk membunuh kuman. Ketika diberikan tepat pada waktunya, obat levelnya tetap berada di atas ambang kemampuan membunuh kuman. Sebaliknya, saat pemberian obat jaraknya tidak beraturan, ada peluang kadar obat di dalam darah sudah di bawah ambang. "Nantinya obat tidak efektif," ujar Galih.

Terkadang, saat menyendokkan ke anak, sirup obat tumpah sebagian. Apa yang harus dilakukan?

Coba perkirakan sebanyak apa tumpahannya. Begitu pula jika anak memuntahkannya sesaat kemudian. Cukupkan saja dosisnya. "Andaikan terlalu sedikit volume obat yang terbuang, tak perlu mengulang pemberian obat," Galih memandu.
Sementara itu, jika tablet obat pernah terjatuh, sebaiknya jangan mengonsumsinya. Dikhawatirkan telah terkontaminasi. "Gantilah dengan tablet yang bersih," ujar Galih, yang juga konselor ASI di Kemang Medical Center, Jakarta Selatan.

Bagaimana jika kelebihan dosis?

Jika baru saja terminum obat dalam dosis besar, cobalah rangsang efek muntah. Namun, andaikan waktunya sudah cukup lama berselang, lakukan observasi di rumah sakit. "Andaikan ia mengalami kondisi yang tidak mengenakkan, segera bawa ke dokter," saran alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini.

Bagaimana jika lupa mengocok obat?

Obat dalam sediaan sirup atau suspensi memiliki molekul yang bisa mengendap. Agar kembali homogen, obat harus dikocok sebelum diberikan kepada pasien. "Demikian pula untuk sirup kering yang diberi air sebelum diberikan," kata Galih.

Bolehkah minum susu bersama obat?

Susu dapat menghambat penyerapan obat yang sifatnya larut dalam air. Utamanya, antibiotik. "Minum antibiotik dengan susu dikhawatirkan akan menurunkan khasiat obatnya," urai Galih.
Sebaiknya, minumlah obat dengan air putih. Teh boleh saja. "Kalau ingin minum susu, beri jeda satu sampai dua  jam dari konsumsi obat terakhir," papar dia.
Obat juga dapat saja ditelan tanpa air. Asalkan sudah mahir tentunya. "Bisa juga dengan pisang seperti kebiasaan sejumlah orang," tuturnya.

Ada obat tertentu yang harus dikonsumsi setelah makan. Seberapa banyak penganan yang harus masuk ke perut sebelum meminum obat?

Ada alasan kuat di balik anjuran mengisi perut sebelum minum obat. Ini akan menghindarkan orang dari terkena iritasi lambung alias sakit maag. "Makanlah beberapa suap, atau habiskan setengah porsi baru minum obat," ucap Galih.
Sebaliknya, patuhi juga aturan pakai obat yang diminum sebelum makan. Konsumsi obat tersebut setidaknya 30 menit atau satu jam sebelum waktu makan tiba. "Ini ditujukan untuk mempermudah penyerapan obat," jelas dokter yang praktik di RSIA Lestari, Cirendeu, Jakarta Selatan ini.

Manjurkah obat generik?

Obat generik dengan originator memiliki komponen aktif yang sama. Otomatis khasiatnya juga sama. Namun, ada kalanya faktor psikologis memengaruhi kesembuhan pasien yang hanya meyakini obat dari merek tertentu.
Pada kenyataannya, ada juga pasien yang tak sembuh pileknya dengan obat generik lalu kembali sehat setelah mendapatkan obat originator. Galih menjelaskan, kemungkinan besar pasien tersebut sudah dalam kondisi hampir sembuh. "Ketika obat generiknya habis di hari ketiga, ia terpaut empat hari menuju perbaikan kondisi secara signifikan dan kebetulan di saat itu pasien mengonsumsi obat originator," ia mengilustrasikan.

1 komentar:

lowongan kerja medan 2011 mengatakan...

Nice info dok. Terima kasih.