Review buku: Kris Biantoro: Belum Selesai

Kris Biantoro & Maria Nguyen Kim Dung (isteri tercinta)
Siapa yang tidak kenal Kris Biantoro, MC kondang jaman dulu? Tahun 70-an, saat  TVRI masih menjadi satu-satunya televisi yang bisa ditonton masyarakat seluruh Indonesia, sosok yang dikenal sebagai orang yang sering menggunakan pakaian perjuangan ini (dan pekikan “MERDEKA”) selalu muncul membawakan acara. Banyak yang tidak tahu, ternyata sejak tahun 1974, Pak Kris, sudah menderita penyakit ginjal yang dimulai dari batu ginjal. Sungguh sayang karena lebih mengutamakan kariernya yang menanjak, penyakitnya tidak terlalu dipedulikan dan hanya diberi pengobatan seadanya dan tidak tuntas.

Akibatnya, meskipun kelihatan perkasa dan bisa menjalankan pekerjaannya sebagai: pembawa acara (dimulai dari acara dwimingguan di TVRI dengan gaji Rp. 15.000 /bulan) kemudian menjadi MC dan meningkat Entertainment Manager di Night Club Tropicana, selanjutnya menjadi  pembawa acara /entertainer di banyak tempat, penggemar jero-jeroan ini ternyata menyimpan kondisi kesehatan yang tidak main-main. Batu ginjal  yang berlanjut ke Payah Ginjal Kronik.

RBT "Just The Way You Are" yang maksa

Perkembangan akses informasi via mobile disinyalir banyak pakar, sangatlah cepat. Jumlah pemilik gadget yang terus meningkat ini tentu tidak dilepaskan dari para aktifis marketer. Berlomba-lombalah mereka meneruskan informasi marketing via SMS. Hampir setiap hari, saya menerima 3 - 5 penawaran via SMS. Meskipun mengganggu, tetapi mau diapakan lagi?

Yang paling menyebalkan, teror SMS yang tidak diinginkan ini tidak hanya memberi informasi, namun sudah sampai pada taraf "merampok". Ini contoh SMS yang nyedot pulsa "GRATIS RBT Just The Way You Are[chorus]-0231714 akan diperpanjang secara otomatis. Untuk menonaktifkan Ketik STOP 0231714 ke 505".

Kapan terakhir Anda (sang jurnalis) menulis?

Pertanyaan di atas dianggap wajar bagi sebagian orang, namun akan terdengar aneh jika ditanyakan kepada teman-teman journalis. Lha kerjaannya memang nulis, koq ditanya kapan terakhir menulis?

Di hari Kartini ini, saya mencoba meng-list teman-teman journalis yang memiliki blog tempat menyalurkan hobi menulisnya. Tentu yang namanya hobi, hal tersebut dikerjakan tidak dalam rangka pekerjaan alias tidak ada hubungannya dengan gaji bulanan kita secara langsung.

Tantangan migrasi Rekam Medis dari ke kertas ke elektronik

Judul di atas saya kutip dari topik seminar yang diselenggarakan oleh FKUI-RSCM, lebih tepatnya oleh The Center for Clinical Epidemiology and Evidence-Based Medicine (CEEBM) FKUI-RSCM. Dalam seminar yang berlangsung di gedung A lantai 8 RSCM tersebut, para pemangku kepentingan di RSCM diberi informasi mengenai persiapan apa yang perlu dilakukan guna mencapai tujuan memperoleh sertifikat international  Joint Committee International (JCI) pada tahun 2012 nanti. Hasil seminar, klik di sini.

Yup benar, Anda tidak salah baca. RSCM saat ini sedang giat-giatnya berusaha memperoleh sertifikat rumah sakit bergengsi tersebut yang sampai saat ini baru dimiliki 3 rumah sakit di seluruh Indonesia.

Bagi Anda yang jarang ke RSCM (seperti saya), mungkin akan terkejut melihat Gedung A RSCM. Suasana gedung baru tersebut bersih dan apik. Tidak ada bedanya dengan rumah-rumah sakit swasta modern lainnya di Indonesia.

Shabu Slim, resto all you can eat yang tidak bikin gemuk

Ada ahli yang berpendapat bahwa berkembangnya resto-resto all you can eat & drink, membuat masyarakat terpacu untuk makan sebanyak-banyaknya (mungkin ini hanya di tempat tertentu saja). Dari asumsi itu, bisa dipandang bahwa resto-resto all you can eat bertentangan dengan pola diet para penganut anti aging.

Namun siang ini, saya berkesempatan  mencicipi resto all you can eat yang kelihatannya bisa membuat orang tetap slim. Namanya saja Shabu Slim. Resto punya aktor kawakan, Ferry Salim tersebut ternyata baru membuka cabangnya di Mal Kelapa Gading (MKG).

Kenapa disebut all you can eat tapi bisa membuat slim?
Setidaknya menurut saya ada 4 alasan yang mendasari hal tersebut: