IdBlogNetwork

Tantangan migrasi Rekam Medis dari ke kertas ke elektronik

Judul di atas saya kutip dari topik seminar yang diselenggarakan oleh FKUI-RSCM, lebih tepatnya oleh The Center for Clinical Epidemiology and Evidence-Based Medicine (CEEBM) FKUI-RSCM. Dalam seminar yang berlangsung di gedung A lantai 8 RSCM tersebut, para pemangku kepentingan di RSCM diberi informasi mengenai persiapan apa yang perlu dilakukan guna mencapai tujuan memperoleh sertifikat international  Joint Committee International (JCI) pada tahun 2012 nanti. Hasil seminar, klik di sini.

Yup benar, Anda tidak salah baca. RSCM saat ini sedang giat-giatnya berusaha memperoleh sertifikat rumah sakit bergengsi tersebut yang sampai saat ini baru dimiliki 3 rumah sakit di seluruh Indonesia.

Bagi Anda yang jarang ke RSCM (seperti saya), mungkin akan terkejut melihat Gedung A RSCM. Suasana gedung baru tersebut bersih dan apik. Tidak ada bedanya dengan rumah-rumah sakit swasta modern lainnya di Indonesia.



Pada acara yang berlangsung hingga pukul 4 sore, para praktisi dan pengamat informatika kesehatan berkumpul membahas mengenai penerapan rekam medis elektronik. Terima kasih kepada UU ITE No.11/2008 yang telah menyatakan bahwa dokumen elektronik kedudukannya disetarakan dengan dokumen yang dibuat di atas kertas. Dengan demikian, dokumen rekam medis  yang berbentuk elekronik/digital sama kedudukannya dengan yang dicetak di atas kertas.

Hal ini memang menjadi isu utama sebelum diluncurkan UU tersebut. Saat itu, RS yang mau menjalankan rekam medis elektronik harus juga memiliki rekam medis kertas. Bayangkan betapa repotnya. Yang elektronik untuk keperluan internal sedangkan yang kertas, untuk keperluan external termasuk -jika memang perlu- untuk proses hukum. Sekarang sudah tidak lagi.

Tetapi penerapannya tidak semudah yang dipikirkan kita. Selain alasan teknis, ternyata banyak alasan non teknis yang dihadapi, seperti kesiapan para personel: perawat, dokter, dll. terhadap perubahan ini. Pihak praktisi IT pun, tidak kalah repotnya. Tidak hanya menyiapkan hardware maupun software, tetapi mereka harus standby 24 jam per hari kalau-kalau software yang dibuatnya mengalami masalah.

Keuntungan untuk pasien
Dengan adanya sistem rekam medis elektronik terintegrasi, pasien akan menerima kemudahan seperti:


  1. Tidak perlu ditanya-tanya lagi nama, alamat, dll. setiap kali pindah tempat pendaftaran. Proses entri data pasien cukup dilakukan satu kali.
  2. Dengan mudah, setiap saat pasien / keluarga bisa mengakses informasi billing.
  3. Jika proses ini dihubungkan dengan beberapa rumah sakit (atau bahkan ada satu server yang mengumpulkan data pasien, seperti di Hongkong), maka pasien bisa memperoleh pelayanan di beberapa rumah sakit dengan mudah. Data pasien tersimpan di server khusus yang bisa diakses dari rumah sakit manapun yang terhubung, tentu atas ijin sang pasien.


Bagaimana dengan Anda, punya pengalaman menarik mengenai proses administrasi di rumah sakit?


Pengalaman unik
Pengalaman unik lainnya saat berkunjung ke RSCM yang sudah tampil beda, adalah saat saya menggunakan mesin minum otomatis. Lelah berkeliling di gedung A, saya bermaksud membeli minuman yang ada dalam mesin minum otomatis. Setelah memasukan uang, baru sadar bahwa mesin ini BELUM ADA kemampuan untuk menyediakan uang kembali.

PIKIN (Perhimpunan Informatika Kesehatan Indonesia)
Bagi yang tertarik dengan informatika kedokteran (yaitu suatu bidang ilmu yang ditekuni bersama dokter dan praktisi IT), silakan join bersama kami di Perhimpunan Informatika Kesehatan Indonesia / PIKIN

9 komentar:

T. Waluyo mengatakan...

kalau di jepang penerapan rekam medik berbasis elektronik udah lama diterapkan bahkan rs yg ada di pelosok pun sudah menerapkannya dan memang diperlukan SDM dan teknologi yg tepat supaya bisa berjalan dgn baik dan lancar, tentunya teknologi ini sangat membantu kelancaran pelayanan di rsdo

Erik Tapan mengatakan...

Thanks infonya Pak Waluyo. Memang kita, masyarakat kesehatan dan IT Indonesia banyak PR untuk mengejar ketertinggalan ini. Salam informatika kedokteran.

Choiron mengatakan...

iya, di thailand saja, rumah sakit besar sudah mengakui keabsahan rekam medik digital. di Siloam Hospitals Surabaya, kita menggunakan 2 model, paper dan digital menunggu hingga disyahkannya peraturan penggunaan rekam medik digital. Oh ya, banyak dokter senior yang masuk gaptek, sehingga sulit penerapan paperless.

Erik Tapan mengatakan...

Betul Bung Choiron, saat ini “demi amannya” rumah sakit menggunakan dua moda untuk rekam medis. Sungguh merepotkan memang. Sukses untuk Siloam Hospitals Surabaya. BTW, apakah RS Bung Choiron sudah punya sertifikat JCI?

Choiron mengatakan...

Kalau Siloam Hospitals Surabaya masih belum ya, namun Siloam Hospitals yang di Lippo Karawaci sudah.

Mujiono Sadikin mengatakan...

Pak Erik yth.,
Perkenalkan saya mahasiswa S3 di Fakultas Ilmu Komputer UI. Konsentrasi riset saya adalah bidang biomedical informatik. Fokus penelitian saya adalah bagaiamana mengintegrasikan dan mensintesakan data – data medis yang terserak  dan bermacam – macam format tersebut (ada tulisan tangan, text, image hasil scan, image hasil rontgent dll, atau basis data terstruktur) sehingga bisa membantu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
Apakah kita bisa berdiskusi lebih lanjut? Mungkin nanti saya bisa dibantu dan mudah-2an bisa membantu memberikan kontribusi ilmu informatika yang saya pelajari untuk ilmu medis .

Terimakasih
Salam
Mujiono
Moedjionosadikin.wordpress.com
Mujiono.sadikin@gmail.com

hakayuci mengatakan...

yang palng lucu dari artikel diatas adalah pengalaman uniknya..hehe

Megah Sukmayuda mengatakan...

selamat siang dokter erik, saya it di rumah sakit Surya Husadha Denpasar. Aplikasi yang kami gunakan masih berbasis desktop dan di gunakan untuk billing system. tahun depan rencananya kami akan migrasi ke web base dengan penggunaan yang lebih luas yaitu ke Rekam medis elektronik. kalo boleh tau adakah rumah sakit di indonesia yang sudah sukses menerapkan rekam medis elektronik ini tanpa menggunakan yang manual lagi. Mungkin kami bisa belajar atau study banding ke sana.
terima kasih

Erik Tapan mengatakan...

Setahu saya: RS Pertamina DKI di Cempaka Putih, RS Siloam di Lippo Karawaci, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading dan mungkin masih banyak lagi.