KorSel menjadi negara pertama komersialisasi Terapi Stem Cell

Akhirnya ada juga negara yang akan meloloskan terapi stem cell untuk digunakan secara komersial. Melanjutkan berita-berita sebelumnya yang pernah ditulis di blog ini

1. Stem Cell untuk penyakit degeneratif
   "Masih uji klinik?
    Yup benar, kesemua terapi sel punca yang dilakukan masih dalam taraf uji klinik.
    Just info saja, sampai saat ini di seluruh dunia, terapi dengan sel punca masih berstatus uji klinik."

2. Indonesia Perlu Tingkatkan Riset Sel Punca
   "Sejumlah negara menyediakan anggaran cukup besar bagi pengembangan riset dan teknologi (termasuk riset sel punca), seperti Jepang 140 miliar dolar AS (3,4 % PDB), Jerman 70 miliar dolar AS (2,5%), Perancis 40 miliar dolar AS (2%), Korea Selatan 40 miliar dolar (3,1%) serta  Singapura 6 miliar dolar (2,5%), ujar Boenjamin."

Indonesia Perlu Tingkatkan Riset Sel Punca

Teman-teman ysh,
Berikut ada info menarik dari Antara News. Semoga bermanfaat bagi kita semua.


Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan riset pemanfaatan sel punca atau dikenal dalam dunia kedokteran sebagai stem cell bagi penyembuhan penyakit.

"Saat ini anggaran riset di Indonesia baru 0,2 persen dari PDB, padahal di luar negeri rata-rata sudah 2 persen," jelas Wakil Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI), dr. Boenjamin Setiawan, Ph. D di Jakarta, Minggu, saat dihubungi terkait penyelenggaraan simposium riset dan aplikasi sel punca di Indonesia.

Menurut Boenjamin yang juga penasehat senior PT Kalbe Farma Tbk., tubuh manusiia terdiri 100 triliun sel yang membentuk jaringan bagi organ tubuh.

Boenjamin mengatakan, saat ini tengah dikembangkan sel punca bagi penderita sakit jantung, tujuannya mengembalikan kondisi jantung agar sehat seperti sediakala.

"Prinsip pengobatan sel punca ini untuk menggantikan sel-sel organ tubuh yang sakit. Biasanya organ yang sakit beberapa selnya mati maka ditempatkan sel baru untuk mengobatinya," ujar dia.

Presentasi pengobatan sakit jantung menggunakan jaringan pengganti yang dibuat dari sel punca akan disampaikan dalam kongres diantaranya oleh Prof. Dr. dr. Teguh Santoso SpPD-KKV, Sp.JP, jelas dia.

Sementara itu dalam jumpa pers terkait simposium tersebut, Ketua Dewan Ilmiah ASPI, Prof. Dr. dr. Soebandrio, SP.MK (K) mengatakan, pengembangan sel punca di Indonesia sendiri masih terbentur masalah peraturan (regulasi) terutama mengenai kode etik agar jangan sampai terjadi pelanggaran.

Dia mengatakan, persoalan yang masih menjadi perdebatan mengenai pengambilan sel punca ada yang menyebutnya dari embrio, janin 2 - 3 bulan, tali pusat atau sumsum tulang belakang . Namun kalau melihat kode etik Indonesia, kalangan kedokteran memilih tali pusat dan sumsum tulang belakang.

Sejumlah negara yang lebih liberal memilih semua sumber untuk mendapatkan sel punca alasannya sel yang didapat lebih aktif dalam mengobati organ tubuh yang sakit, jelas dia.

Soebandrio mengatakan, aplikasi pengobatan sel punca di Indonesia diperkirakan membutuhkan waktu tidak sebentar sebagai gambaran untuk riset antibiotik baru membutuhkan waktu 10 sampai 15 tahun.

"Penyelenggaraan kongres sendiri untuk mengetahui perkembangan terkini aplikasi sel punca di Indonesia namun bagi masyarakat yang ingin mendapatkan pengobatan ini memang belum ada rumah sakit yang khusus menyediakan fasilitas ini," ujar dia.

Pertemuan secara berkala dokter-dokter yang mendalami sel punca diharapkan akan dapat menemukan inovasi baru sehingga pada akhirnya dapat dilakukan komersialisasi sehingga masyarakat dapat merasakan teknologi ini.

Sementara dr. Yefta Moenandjat, SP.BP (K) mengatakan, pengobatan sel punca sudah ada pada teknologi operasi plastik yang telah diterapkan pada pasien penderita luka bakar.

"Seperti pada luka bakar, dengan terapi sel punca (berupa obat tetes), luka akan lebih cepat sembuh dengan lebih baik." ujar dia.

Sejumlah negara menyediakan anggaran cukup besar bagi pengembangan riset dan teknologi (termasuk riset sel punca), seperti Jepang 140 miliar dolar AS (3,4 % PDB), Jerman 70 miliar dolar AS (2,5%), Perancis 40 miliar dolar AS (2%), Korea Selatan 40 miliar dolar (3,1%) serta  Singapura 6 miliar dolar (2,5%), ujar dia.

Sejauh ini sel punca telah dipergunakan selain bedah plastik juga penyakit tulang, saraf, kencing manis, kanker, jantung, anti penuaan, serta masih dikembangkan untuk organ lainnya.

Stem Cell untuk penyakit degeneratif

Saat masih mengikuti kepaniteraan klinik (co-schaap), salah satu teman saya (co-ass) mengalami gangguan jantung. Setiap kali mendaki jalan ke rumah sakit (yang letaknya di atas bukit), dia harus berhenti beberapa kali. Istilah awam, napasnya sudah tidak cukup untuk mendaki bukit tersebut. Inilah salah satu ciri dari penyakit payah/gagal jantung. Sebagian otot jantung teman saya itu sudah rusak, sehingga kemampuan jantung tidak optimal lagi. Berjalan sedikit saja (kalau keadannya sdh parah), harus berhenti sejenak. Sampai sekarang saya masih ingat bagaimana teman saya itu bergulat dengan kondisinya yang tidak bisa disembuhkan itu.

Cerita lain lagi. Saya mundur waktunya hingga saat masih SD. Di depan rumah ada seorang Ibu (berusia sekitar 50 tahunan), yang saya bisa menyaksikan sendiri jalan  / perkembangan penyakitnya. Pelan-pelan saya bisa menyaksikan sendiri perkembangan penyakitnya. Mulai dari keluhan (saat berkunjung ke rumah) nyeri pada lutut, hingga suatu waktu, tidak bisa menggunakan lututnya itu. Berbeda dengan cerita pertama (penyebabnya jantung), penyebab tidak bebas beraktifitas sang Ibu yang ceria ini adalah penyakit yang disebut osteoartritis. Apakah bisa sembuh? Sayang pada waktu itu belum bisa.

Sekarang, balik ke masa saat ini. Sahabat saya mengeluh mengenai luka di kaki mamanya yang tidak bisa sembuh. Sudah berbagai cara dilakukan untuk mengobati lukanya itu, sayang bukannya sembuh, malah boroknya (maaf) tambah melebar dan dalam. Dokter pun sudah angkat tangan untuk menyembuhkan penyakit yang namanya  Gangren Diabetes ini. Satu-satunya cara, harus diamputasi.

Kasus-kasus di atas adalah contoh penyakit degeneratif yang umumnya masih sukar untuk disembuhkan. Sampai saat ini, penanganan yang dilakukan hanya bersifat memperlambat progresifitas penyakit tersebut. Artinya dengan upaya yang dilakukan diharapkan laju keparahan penyakit bisa diperlambat.

Pengguna BB makin asyik dengan Indosat

suasana launching Indosat Mobile
Jasa pelayanan telekomunikasi saat ini berkembang pesat. Dari feature yang paling tradisional seperti voice, text (SMS) hingga saat ini sudah sampai ke paket data. Selain itu, hadir juga paket-paket pemanja pengguna BlackBerry seperti produk Indosat Mobile yang baru-baru ini diluncurkan di Hotel Ritz Carlton Jakarta.

Sebagai provider dengan jumlah pelanggan no. 2 terbesar di Indonesia, Indosat hadir dengan produk / tarif kompetitif. Tentu hal ini tidak bisa dielakkan lagi di tengah persaingan yang kian ketat antar provider.


Pengguna BlackBerry makin asyik dengan Indosat Mobile