Seminar Farmasi mengenai e-Health, Sabtu 30 Juni 2012


Sudah kangen ingin diskusi / sharing mengenai e-health / Informatika Kesehatan / Kedokteran?

Jangan lewatkan acara Seminar Farmasi yang mengambil topik "Perkembangan e-Health dalam Dunia Kefarmasian untuk Mendukung Keselamatan Pasien". Acara yang digelar Seker XXI ISTN ini, menghadirkan Keynote Speaker Dra Maura Linda Sitanggang Ph.D, Dirjen Bina Kefarmasia dan Alat Kesehatan Kemenkes RI dengan pembicara lain seperti:

a. Dr Erik Tapan, MHA
   International Medical Informatics Association (IMIA) &
   Perhimpunan Informatika Kesehatan Indonesia (PIKIN)

b. Ir Saiful Hidayat, MT
   Director of e-Health Project Indonesia

c. Drs. M. Dani Pratomo, MM., Apt
    Ketua IAI (Ikatan Apoteker Indonesia)

d. Reri Indriani, Apt., M.Si
    BPOM RI

e. Dra. Yulia Trisna, M.Pharm, Apt.
    Kepala Instalasi Farmasi RSCM

Fwd: Menjadi Pasien Cerdas, Bisa kan?


Menjadi pasien cerdas sudah menjadi keharusan. Perkembangan pesat teknologi informasi, khususnya internet membantu masyarakat untuk mencari informasi mengenai berbagai jenis penyakit dan mendiskusikannya dengan dokter.

Jika suatu ketika Anda sakit, penting untuk mencari tahu tentang penyakit tesebut di internet, mengetahu gejala hingga opsi pengobatan yang bisa dilakukan.

Mungkin Anda pernah mengalami penyakit yang sama, berobat ke dokter berbeda, dan menerima resep yang berbeda pula, baik dalam jumlah maupun jenis. Untuk kasus ini, sebaiknya Anda bertanya mengapa bisa seperti itu.

“Jangan segan bertanya kepada dokter, karena dokter yang baik semestinya dengan senang hati mendiskusikan penyakit dan pengobatannya dengan pasien. Hubungan dokter-pasien harus dilandasi kepercayaan,” kata  Ketua Sub Komite Marketing Practices IPMG (International Pharmaceutical Manufacturer Group) Gilbert Julien pada media edukasi yang digagas Sanofi-Aventis Indonesia di Jakarta, Selasa (23/11).

Fwd: Pasien Cerdas, Dokter pun Rajin


Effendi Rasyid, 42 tahun, sibuk membuka beberapa situs kesehatan luar dan dalam negeri, sebelum memeriksakan diri atau keluarganya ke dokter. “Untuk bekal dan mengurangi rasa curiga terhadap dokter,” katanya. Karena itu, ketika berada di ruang praktek dokter, Effendi bisa leluasa menanyakan pengobatan terbaik. “Selama ini, yang saya temui, dokter yang saling mengerti.”

Internet memang telah mengubah pola hubungan dokter dan pasien. Dalam survei kesehatan yang diadakan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Konsultan Informasi IndoPacific Edelman, terungkap bahwa pasien sekarang lebih kritis dan memakan waktu lebih lama manakala bertemu dengan dokter. “Ini positif, sekaligus mengingatkan dokter agar lebih update terhadap penemuan pengobatan teranyar,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Prijo Sidipratomo, kepada Tempo, Rabu pekan lalu.

Fwd: Menjadi Pasien Cerdas


www.femina.co.id
Sering kali, ketika berhadapan dengan dokter, kita jadi pasien pasrah. Begitu juga, ketika anak kita yang sakit. Mau dikasih obat apa, iya saja, deh. Berapa pun harganya, demi sehat, rela membayar. Pemikirannya, dokter pasti tahu yang terbaik buat kita ataupun anak kita.

Tapi, masa, sih, pasrah saja diberi obat yang tidak perlu? Kita sebenarnya punya bargaining power ketika berhadapan dengan dokter.
Ikuti beberapa tip berikut ini:

Fwd: Jadi Pasien Cerdas dengan Membaca Label Obat


Jadi Pasien Cerdas dengan Membaca Label Obat - Minum obat tentu tujuannya untuk mendapat kesembuhan penyakit. Tetapi kebanyakan pasien malas membaca label dengan teliti. Padahal, salah membaca label bisa berdampak pada keracunan obat dan berbuah komplikasi penyakit. Label yang terdapat dalam kemasan obat memang dicetak dalam huruf kecil-kecil, tetapi sesungguhnya di dalam kertas tersebut selain berisi keterangan tentang tanggal kadaluarsa dan dosis yang dianjurkan, ditulis pula kandungan obat dan hal-hal yang sebaiknya diketahui pasien saat mengonsumsi obat, misalnya tidak boleh mengonsumsi alkohol atau kontradiksi dengan obat lain

Sebelum mengonsumsi obat, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh setiap pasien. Carilah informasi seputar obat yang akan dikonsumsi pada dokter atau apoteker, tanyakan apa saja fungsi obat dan efek sampingnya. Sampaikan pula jika Anda memiliki alergi obat atau penyakit tertentu. Jangan segan untuk bertanya jika Anda kurang mengerti tentang aturan pakai obat, tanyakan pula adakah makanan atau obat lain yang harus dihindari selama mengonsumsi obat. Yang tak kalah penting adalah mencocokkan obat dengan resep dokter. Jika Anda merasa harga obat yang diberikan terlalu mahal, jangan ragu untuk meminta dokter meresepkan obat generik.

Ada beberapa obat yang tidak bisa dikombinasikan dengan makanan tertentu. Berikut adalah makanan yang harus dihindari saat mengonsumsi obat :

Seminar & Workshop Ketrampilan Pengendalian TB Paru di Tempat Kerja, 11 SKP IDI

TB is a workplace issue too! It should be well managed!

It might be usefull for you or your friends

Banyak laporan bahwa TB juga sering ditularkan antar teman sekerja.

Bagi perusahaan, TB paru menurunkan produktivitas penderita dan teman sekerjanya, juga menambah biaya pengobatan pekerja dan anggota keluarganya. Namun dengan penatalaksanaan  yang efektif, pekerja dapat kembali bekerja setelah dua atau empat minggu tanpa berisiko menularkan kepada rekan kerjanya.

Program pengendalian TB di tempat kerja sangat strategis, karena pekerja dapat hadir berobat dan diedukasi secara rutin. Kompetensi dokter yang bekerja di perusahaan atau sebagai provider di ranah publik (Dokter Kesehatan Kerja) dalam pengendalian TB sangat dituntut. Di samping itu ketrampilan penatalaksanaan TB oleh dokter yang berkompeten dapat mencegah timbulnya kasus TB yang resisten terhadap berbagai obat (mixed drug resistensi/MDR).


Update pembagian Penyakit Gangguan Ginjal


Berbeda dengan pembagian / klasifikasi beberapa waktu yang lalu, saat ini penyebab gangguan ginjal (kronik) hanya dibagi atas 3 bagian saja: (1) yang disebabkan oleh penyakit kencing manis, (2) non DM dan (3) pasca transplantasi.

Hal ini disampaikan Rully MA Roesli saat memberi presentasi di Aula RS Meilia Cibubur, Sabtu 9 Juni 2012 yang lalu. Bertajuk "Pengelolaan Gagal Ginjal", Guru Besar Penyakit Dalam FK Unpad Bandung tersebut menjelaskan kepada para dokter umum, perawat dan undangan lainnya seputar Gangguan Ginjal Akut dan Kronis.

Ternyata sama dengan perjalanan Gangguan Ginjal Kronis, pembagian Gangguan Ginjal Akut pun ada progressnya, sebelum sampai pada Gagal Ginjal Akut. Hendaknya para dokter / nakes mengawasi / waspada terhadap pasien yang mengalami gangguan ginjal akut sejak dari awal, pesan Rully. Sangat penting memantau output urine yang keluar selain TNRS (tensi, nadi, pernapasan dan suhu tubuh) pasien-pasien yang dirawat karena dehidrasi, sepsi dan pasca operasi.