IdBlogNetwork

Fwd: Pasien Cerdas, Dokter pun Rajin


Effendi Rasyid, 42 tahun, sibuk membuka beberapa situs kesehatan luar dan dalam negeri, sebelum memeriksakan diri atau keluarganya ke dokter. “Untuk bekal dan mengurangi rasa curiga terhadap dokter,” katanya. Karena itu, ketika berada di ruang praktek dokter, Effendi bisa leluasa menanyakan pengobatan terbaik. “Selama ini, yang saya temui, dokter yang saling mengerti.”

Internet memang telah mengubah pola hubungan dokter dan pasien. Dalam survei kesehatan yang diadakan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Konsultan Informasi IndoPacific Edelman, terungkap bahwa pasien sekarang lebih kritis dan memakan waktu lebih lama manakala bertemu dengan dokter. “Ini positif, sekaligus mengingatkan dokter agar lebih update terhadap penemuan pengobatan teranyar,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Prijo Sidipratomo, kepada Tempo, Rabu pekan lalu.



Menurut survei yang melibatkan lebih dari 300 dokter yang berpraktek tiga tahun lebih di klinik dan rumah sakit di Jakarta, Depok, Bogor, dan Tangerang, 85 persen dokter merasa pasiennya banyak bertanya. “Ini bisa membuat komunikasi antara pasien dan dokter semakin efektif," kata guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Profesor Hasbullah Thabrany. Survei yang dilansir dua pekan lalu ini baru melibatkan dokter. Tahun depan, menurut Thabrany, pasien akan disertakan.

Terbukti, 79 persen dokter mengandalkan informasi dari Internet untuk mengimbangi kecerewetan pasien. “Kami tidak menyangka hasil itu cukup tinggi,” kata Prijo Sidipratomo. Pasalnya, asosiasi yang dipimpinnya baru melakukan sosialisasi agar para dokter menggunakan Internet sebagai sarana pencarian informasi.

Menurut Prijo, hasil survei itu menjadi bekal asosiasinya mengajukan usul agar pemerintah memperkuat jaringan dan memperbesar band with. “Dalam kondisi negara kepulauan semacam Indonesia, hal itu semakin diperlukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” katanya.

Meningkatnya penggunaan Internet di kalangan dokter, menurut Thabrany, terasa menggembirakan. Sebab, pada saat dia menjadi dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dua tahun lalu, minat mahasiswa terhadap informasi kesehatan di Internet masih kecil. “Padahal sudah dikeluarkan biaya Rp 6 miliar setahun buat langganan jurnal ilmiah kedokteran,” katanya. Jikapun ada, mahasiswa lebih suka mengunduh informasi yang berbahasa Indonesia. Padahal, menurut dia, informasi terbaru kebanyakan berasal dari situs kedokteran yang berbahasa Inggris.

Survei yang dilaksanakan sepanjang enam bulan, sejak awal tahun ini, menurut Thabrany, sekaligus mengubah pola penerimaan informasi dokter. “Selama ini informasi obat baru, misalnya, hanya diterima dari medical representative atau detailer, yang kadang pula hanya menonjolkan produk perusahaannya,” katanya. Akibatnya, dokter sering tergiring pada informasi yang diberikan itu saat menangani pasien. “Nah, dengan peningkatan penggunaan Internet di kalangan dokter, semakin beragam pula informasi.”

Hanya, ada risiko konflik manakala si pasien mendapatkan informasi yang salah dari Internet tapi tetap ngotot bahwa dialah yang benar. Karena itu bekas Sekretaris Jenderal IDI itu berharap ada situs kesehatan yang bisa dipercaya dan akurat. “Untuk menghindari mispersepsi antara dokter dan pasien,” ujarnya.

Menurut Vice President IndoPacific Edelman, Mayang Schreiber, survei praktisi kesehatan ini merupakan kontribusi pada industri kesehatan untuk menanggapi berbagai permasalahan kesehatan mendasar di Indonesia. “Komunikasi kesehatan yang akurat dan terarah memainkan peranan penting dalam setiap usaha untuk meningkatkan pemahaman dan tingkat kesehatan di Indonesia,” katanya ketika mempublikasikan hasil survei ini di Jakarta.

Penggunaan informasi dari Internet oleh dokter dan pasien, menurut Profesor Thabrany, juga untuk meminimalkan malpraktek, baik dalam hal terapi maupun pemberian obat.

Penulis: Ahmad Taufik, seperti yang dipublikasi di Majalah Tempo edisi 14 November 2010

Tidak ada komentar: