IdBlogNetwork

Ditemukan Test Bakat Korupsi


Sebagian besar dari kita pasti sudah pernah melakukan test psikologi. Entah itu saat masuk sekolah, pemilihan jurusan hingga mengetahui minat dan bakat kita.

Namun test yang dibuat oleh seorang Doktor Neuroscience, Health and Spiritual dan Ahli Anatomi ini berbeda dengan test-test yang umumnya kita kenal. Bisa dikatakan test ini merupakan yang pertama di dunia.

Test untuk mengetahui apakah seseorang memiliki bakat koruptor atau tidak. 

Ya, Anda tidak salah membacanya. Test ini lahir dari Dr Taufiq Pasiak, dr., M.Pd., M.Kes, dokter lulusan FK Unsrat Manado yang melanjutkan studi-nya di UIN Kalijaga, Yogyakarta. Sebuah test yang bahkan tidak banyak orang yang pernah memikirkannya. Apalagi di negara lain yang belum tentu jumlah koruptornya sebanyak di Indonesia. Agak susah tentu untuk memvalidasinya. :)

Dalam launching buku terbitan Mizan yang berjudul "Tuhan Dalam Otak Manusia", Taufik mengatakan bahwa saat ini masyarakat di Indonesia, banyak orang yang melakukan aktifitas spiritual hanya sebatas simbolik belaka. Lebih mengejutkan lagi pernyataan dari Wakil Ketua KPK Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum, yang turut membahas buku ini saat launching. Dari pengalaman Busyro Muqqoddas, bahkan sang koruptur -yang sudah disumpah saat menjabat- melakukan korupsi dengan menggunakan ayat-ayat dari kitab suci yang diyakininya. Artinya meskipun mereka terlihat sangat beragama, namun belum ada Tuhan dalam otak mereka.

Indonesia Spiritual Health Assesment
Lewat penelitiannya yang mendalam selama 10 tahun, Taufik akhirnya mengeluarkan sebuah test yang diberi nama Indonesia Spritual Health Assesment (ISHA). Penelitian ini tidak hanya terpaku pada aspek psikologis semata, melainkan juga aspek sosial & anatomis yang memang menjadi makanan sehari-hari Taufik.



Assesment ini telah di uji kepada masyarakat berdasarkan bantuan dana dari Kementrian Keagamaan. Setelah makin mantap dengan hasil uji coba tersebut, Bro Upi (panggilan akrab sang penemu ini) merangkumnya dalam sebuah buku yang berjudul seperti di atas. Taufiq mengharapkan buku dan ISHA bisa digunakan dalam perekrutan pejabat atau posisi penting lainnya di tanah air sehingga Indonesia bisa segera bebas korupsi.

Pembicara lainnya
Selain Wakil Ketua KPK, tampak hadir dan memberi ulasan pada acara yang berlangsung Selasa, 31 Juli 2012 di Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta ini adalah Gubernur Sulawesi Utara sekaligus Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, Dr. Sinyo H. Sarundjang. Bertindak sebagai moderator, Ketua Umum PB IDI Periode 2012 - 2015, dr Zainal Abidin, M.H.Kes.

Bagaimana tanggapan Anda pembaca, bisakah Indonesia bebas korupsi

Links:
1. http://blog-ansyari.blogspot.com/2012/05/ada-god-spot-di-otak-manusia-menurut.html

9 komentar:

Arief Warsito mengatakan...

Menakutkan sekali... Sungguh menyeramkan Pak Erik...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Erik Tapan mengatakan...

Iya Pak Arief, dari sisi ilmu kedokteran, masyarakat saat ini sudah sakit dan harus di-terapi.

Untuk terapi tentu perlu diperiksa terlebih dahulu (didiagnosa). Test yang dibuat (ISHA), bisa dijadikan salah satu alat untuk mendiagnosis-nya. Masih ada beberapa alat lainnya yang diusul penulis buku Tuhan Dalam Otak Manusia.

Terapinya?
Selain kita serahkan kepada ahlinya, kita sebagai orang PR tentu bisa ambil bagian juga dalam rangka membangun masyarakat yang Tidak Sesat Pikir dan Korupsi tersebut.

Sebagai pribadi, bulan puasa bisa dijadikan momentum introspeksi diri kita masing-masing. Saya percaya kita semua di milis ini tidak / minimal dalam melakukan Korupsi atau Sesat Pikir.

Bukan begitu?

Arief Warsito mengatakan...

Padahal Pak... Ada seorang sesepuh Perhumas yg bilang pd saya waktu Desember 1998, bahwa "we live in a sick angry society"... Dan itu terus berlangsung hingga sekarang yg bulan Agustus 2012 (jadi sudah sekitar 14 tahun)...
Amazing
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Anonim mengatakan...

Salam ANTUSIAS,

Korupsi dan suap sudah ada sejak jaman dahulu, Raja Salomo / Nabi Sulaiman saja sudah menulis di
Pengkhotbah 7:7
Sungguh, pemerasan membodohkan orang berhikmat, dan uang suap merusakkan hati.

Manusia banyak yang beragama tetapi tidak ber TUHAN. Kalau mereka takut akan TUHAN mereka tidak akan korupsi, karena tahu ada yang melihat walau tidak ada yang melihat..

Peringatan lain yang harus diwaspadai adalah :
Janganlah mengatakan: "Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?" Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan
hal itu. (Pengkhotbah 7:10)

Mari anggota milis ini hiduplah takut akan TUHAN, kalau memang masih percaya TUHAN itu ada.. Pilihan ada ditangan anda..

Salam,
Arief Rahardjo

Erik Tapan mengatakan...

Setuju Pak Arief,
Katakan NO pada Korupsi.

Anonim mengatakan...

Halo, ikutan ya, teman2.
Utk belajar tidak korupsi, mgkn bisa belajar dari hal yg kecil2 ya. Misalnya antri dan tidak membuang sampah sembarangan. Penjelasannya begini, tidak antri ( antri tiket, antri kendaraan, antri duit (he he), dll) berarti mengambil hak orang lain, demikian juga membuang sampah sembarangan juga mengambil org lain yg mau hidup bersih dan sehat. Korupsi itu mengambil sesuatu yg sebenarnya menjadi milik atau hak org lain. Jadi, tidak aneh akan banyak korupsi di negara ini, krn belum bisa antri dan membuang sampah pada tempatnya. ( He he, kenyataannya di negara yg berbudaya antri dan bersih juga ada korupsinya, jd hrs ada pembuktian dulu). Tapi paling tidak, belajar jangan mengambil sesuatu yg bukan haknya atau mengambil hak org lain. Tks

Goenawan Tan

Erik Tapan mengatakan...

Saya percaya, sebelum menganjurkan kepada orang lain, kita harus mulai dari diri kita sendiri.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu, datang teman sejawat (dokter) yang menawarkan kapsul "stem cell" kepada saya.
Hampir lebih dari setengah jam, ybs mempromosikan kemanjuran produk tersebut. Termasuk memberi CD ROM dan macam-macam testimoni.

Karena saya tahu bidang Anti Aging berbeda dengan bidang kedokteran lain, yaitu produk2 anti aging, bisa digunakan kita sendiri, maka saya bertanya kepadanya: apakah sudah mengkonsumsi kapsul stemcell tersebut?

Jawabanya belum. :)

Terima kasih responsnya Pak Goenawan.

Anonim mengatakan...

Ini betul-betul berita yang sangat menggembirakan. Test ini perlu dikembangkan dan dipraktekkan kepada setiap calon pejabat, bukan hanya presiden saja. Bagaimana kalau keempat calon pejabat teras DKI ini dijadikan kelinci percobaan untuk menguji akurasi test ini?

Mengacu kepada hasil kinerja yang telah lalu, mestinya Jokowi dan Ahok memiliki bakat korupsi yang lebih rendah.

Haliman

Erik Tapan mengatakan...

Menurut saya tidak lagi kelinci percobaan, karena test ini telah divalidasi kepada masyarakat dengan biaya 72 milyar rupiah bantuan Kementerian Agama RI.