IdBlogNetwork

Ahok: RS Kecil Boleh Menolak Pasien


Baru saja (Jumat, 22 Feb’13, sekitar pkl. 2 pm) saya menyaksikan pernyataan wakil gubernur DKI Pak Basuki a.k.a Ahok yang mengatakan (via Metro TV), “kalau tahu bayinya akan bermasalah, RS kecil jangan menerima”.

Wah kalau ini dilakukan RS kecil, menurut saya akan membuat rame lagi. Ada pasien ibu hamil (bumil) mau melahirkan tetapi RS (kecil) menolak.

Bisa dikatakan dengan adanya musibah meninggalnya  salah satu bayi kembar (Dera) yang memerlukan NICU tersebut, semua jadi pontang panting. Pemprov bingung, RS bingung (emang enak menyediakan unit NICU yang super mahal tersebut? bukan hanya faktor biaya & maintenance, faktor SDM-nya bagaimana?), masyarakat juga bingung (masa provinsi terkaya di Indonesia, tidak memiliki NICU yang memadai?)



Bukan ingin menambah kekisruhan atau kebingungan banyak pihak, namun menurut saya ada satu hal yang dilupakan banyak orang (belum terlalu terdengar di media), yaitu tindakan preventif. Meskipun usaha kuratif/pengobatan cukup penting, namun usaha-usaha sosialisasi tindakan preventif ini harus lebih digalakkan. Dimulai dari institusi pelayanan kesehatan terkecil seperti Puskesmas (yang memang diciptakan untuk melakukan hal ini, baca ini http://www.eriktapan.com/2008/02/mengembalikan-fungsi-puskesmas.html ). Biarlah Puskesmas lebih memprioritaskan diri pada usaha preventif daripada kuratif. Biaya penambahan fasilitas rawat inap sebagian bisa dialihkan ke pengembangan usaha-usaha preventif.

Sebagai contoh pada tulisan kali ini: Ibu hamil (masih banyak penyakit-penyakit lain yang bisa diedukasi usaha preventifnya). Jika usaha preventif diterapkan, maka sang Ibu selayaknya melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, sehingga ybs sudah ready/siap akan melahirkan di mana sekiranya diperkirakan akan bermasalah. (Ini mungkin yang dimaksud Pak Ahok)

Bukannya begitu bumil sakit perut/mulas, langsung ke Rumah Sakit terdekat dengan kartu Jakarta Sehat atau KTP. Hal ini tentu selain membingungkan orangtua/keluarga juga termasuk pihak Rumah Sakit. Risiko bayi meninggal pun menjadi tinggi.

Mulailah memanfaatkan Puskesmas. Jika usaha preventif ini bisa disosialisasi dengan baik dan dilakukan banyak pihak, maka penanganan kehamilan yang rumit sekalipun bisa dilakukan dengan terencana. Bayi selamat, Ortunya happy, Dokter / RS happy juga, pemprov DKI juga happy. Detil bagaimana melakukan usaha preventif di Puskesmas bisa klik: http://www.eriktapan.com/2008/02/mengembalikan-fungsi-puskesmas.html .

Biaya ini menurut penulis lebih murah daripada menyediakan unit NICU yang memadai di Jakarta.

Demikian sedikit opini dari seorang yang mencoba melakukan sosialisasi usaha preventif karena penulis yakin seyakin-yakinnya bahwa biaya preventif jauh lebih murah dari biaya kuratif, apapun penyakit Anda.

Bagaimana pendapat Anda?

dr Erik Tapan MHA, health consultant

12 komentar:

Anonim mengatakan...

Saya melihat ada ketidakseimbangan pemberitaan. Saya pikir para wartawan kita harus lebih banyak belajar "melaporkan" dengan baik. Mereka hanya mengejar oplah atau rating acara. Padahal beritanya tidak seperti yang ditayangkan.

Jangan sampai hal2 seperti itu menumbuhsuburkan layanan kesehatan yg "defense medical services".

Jika hal ini terjadi, maka Indonesia akan menjadi lahan subur praktek kesehatan asing.

Wahai para wartawan....
Sadarkah Anda bahwa wartawan adalah profesi yang mulia, selama mampu menjadi manfaat untuk masyarakat.

Maka belajarlah sebelum memberitakan, jangan cuma ngejar rating dan popularitas....

dr. Pramadhya
Prognosis Consulting

Anonim mengatakan...

pemprov sekarang kan emang kayak opera van java dok... wayangnya bingung, dalangnya lebih bingung.... semua sibuk cari pencitraan

Hani D

Anonim mengatakan...

Masalahnya yg dipikirkan hanya pengobatan gratis untuk pencitraan. . .tidak terpikirkan pengobatan adalah ujung rantai panjang manajemen fasilitas pelayanan kesehatan. . .dan yg terpenting bagaimana mencegah jadi sakit. .bukan mengobati yang sakit karena akan sangat mahal

Hedy B.

Anonim mengatakan...

Mencegah lebih baik daripada mengobati

Hapsari

Anonim mengatakan...

Penasaran ANC nya bagaimana... kalau ANCnya sudah benar dia pasti dirujuk ke RS besar

ANC = Ante Natal Care, pemeriksaan kehamilan

-ivo, dokter puskesmas- hehe

Anonim mengatakan...

Ibunya ANC ke bidan semaunya sendiri. . .

Hedy B

Anonim mengatakan...

Iya, ini sang ibu di acara hitam putih, akhirnya menyadari pentingnya ANC...

wadduuuh, makanya jangan cuman nonton infotainmen dan sinetron wahai para ibu hamil seIndonesia....

dok, bikin film yg angkat kisah ANC kali.... duh, ga da yg nonton ntar. Yg main harus nikita willy dan diego barangkali biar rame nyaingin ainun n habibie

Ivo

Erik Tapan mengatakan...

Ts dr Pramadhya
Usulan/masukan yang baik dari ts. Pengalaman saya bergaul dengan teman-teman dari media, pada prinsipnya mereka sangat terbuka dengan informasi dari berbagai pihak, istilah kerennya cover both side. Adalah tugas kita semua untuk lebih sering memberi informasi yang baik dan benar tentunya.

Mengenai mengejar oplag atau rating, ya memang begitu suasananya. Justru ini bisa menjadi tantangan bagi kita semua agar bisa memberi informasi yang menarik sehingga bisa meningkatkan oplag atau rating. Buktinya -seperti kata ts- dokter2 asing (termasuk pengobatan alternatif) bisa menjadi lebih menarik untuk didatangi.

Anonim mengatakan...

Saya setuju dengan adanya tindakan preventif seperti ANC terhadap ibu-ibu hamil.

Pastinya, informasi yang bersifat edukasi harus sering diberitakan. Baik melalui media massa, poster di rumah sakit atau puskesmas, maupun dari tenaga kesehatannya.

Meski tak dapat dipungkiri, media massa sekarang memegang peranan penting.

Sukses selalu untuk TS sekalian.

Vie, dr

Anonim mengatakan...

Saya juga ketika ada berita spt ini langsung terfikir jgn sampai gara-gara ini, mindset untuk mengedepankan usaha-usaha preventif malah gak ada, padahal sangat penting dan harus diutamakan…. lalu ada perbaikan sistem informasi sehingga jadi lebih handal

Odam

Erik Tapan mengatakan...

23 February 2013 10:15:08

Memang kuratif diperlukan saat emergency, namun demikian setelah keadaan reda/tertanggulangi, usaha preventif mesti lebih digiatkan.

Mudah2an saat ini dianggap saat emergency sehingga kondisi seperti di bawah cepat berlalu dan kembali usaha preventif digalakkan. Terima kasih sharingnya.

Berikut ini komentar (yang masih hangat) dari salah satu dokter di Puskesmas:

Memang sejatinya peran dokter puskesmas seperti yg dr Erik paparkan di atas.
Namun, baru 3 tahun saya bekerja sebagai dokter puskesmas (pkm) di jakarta, terjadi lah pergeseran ke arah kuratif itu.
Kami di pkm tidak diberikan ketentuan jam buka pelayanan kesehatan secara tertulis yg menyatakan jam berobat jam 8.00-12.00
Kegiatan kesmas (preventif) jam 13.00- 16.00
Sehingga kami pun dalam pelaksanaan sehari” jadi gagap jadwal.
Apalagi dgn kjs ini, banyak sekali pasien yg datang ke pkm siang2 untuk berobat atau sekedar minta rujukan. Padahal yg boleh mengobati pasien dan menentukan diagnosa plus dokter spesialis yg akan dirujuk hanya dokter -yg di sebagian besar pkm hanya satu-

Ini bahkan beredar di socmed video, seorang pasien yg marah” krn dia mendaftar berobat jam 13.00 dan puskesmas sudah tidak menerima pendaftaran berobat.

Yang pasien tau kita jam kerjanya sampe jam 16.00 jadi harus melayani pengobatan sampai dengan kita absensi pulang. Mereka tidak mau tau kita punya tugas kesmas.

Akhirnya muncul di media massa ‘pendekar rakyat’ yg tidak melakukan cek n ricek dan tidak memahami fungsi puskesmas ini.

Ada baiknya bila ditegaskan secara tertulis yang oleh berwenang membuat peraturan yg berkenaan dgn tugas yankes dan kesmas di puskesmas, mungkin dengan sosialisai pula mengundang para pendekar rakyat tsb agar mereka tidak lagi bersuuzon thd dokter di puskesmas, yg sudahlah cuman 1, harus dibelah 5

Erik Tapan mengatakan...

Ini keren. Lanjutkan Bro.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menginginkan agar tim medis turun gunung untuk mengecek langsung kondisi kesehatan warga. Jadi, tim yang turun langsung ke kampung-kampung untuk mendeteksi orang berdasarkan nama dan alamatnya.

Tim yang terdiri dari dokter akan mendatangi setiap bayi yang mengidap gizi buruk, terutama dari keluarga miskin. Selain mendatangkan dokter, Ahok juga berencana melakukan kerja sama dengan mahasiswa kedokteran untuk menangani permasalahan tersebut.

"Kita ke depannya untuk yang tidak mampu, dokter bisa datang, itu lebih ideal lagi. Kita mau kerja sama dengan mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu," kata Ahok di Balai Kota, Senin (25/2).

http://www.merdeka.com/jakarta/ahok-ingin-dokter-datangi-penderita-gizi-buruk.html