Proteksi Data Rekam Medis KJS

Jakarta, PKMK. Data rekam medis yang direncanakan disimpan dalam chip di Kartu Jakarta Sehat (KJS) sebaiknya diberi proteksi. Bentuk proteksi itu bisa berupa password ataupun PIN. Dengan demikian, seandainya KJS hilang dari pemegangnya, data rekam medis itu tidak mudah disalahgunakan pihak lain, ungkap dr. Erik Tapan, pengamat informatika kedokteran dari Perhimpunan Informatika Kedokteran Indonesia (Pikin) di Jakarta (29/5/2013). Erik mengatakan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah kapasitas penyimpanan (memori) chip di KJS itu. Kapasitas tersebut kemungkinan tidak besar. Maka, langkah ini harus diambil untuk mengatasi hal itu. "Sebaiknya, data tersebut disimpan dalam server. Sehingga kapasitasnya lebih besar," kata direktur Klinik L' Melia tersebut.
Terlepas dari kelemahan tersebut, keberadaan chip penyimpan data rekam medis di KJS itu berpotensi mendorong terbentuknya jaringan rekam medis elektronik antar-rumah sakit ataupun antar-banyak lembaga. "Sejauh ini, beberapa rumah sakit di Jakarta sudah merintis jaringan itu. Tapi masih terbatas dalam satu grup," kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Manado) tersebut. Kini di Indonesia, rumah sakit yang menggunakan rekam medis elektronik cukup banyak. Namun, masih dijalankan bersama dengan rekam medis manual. Penyebab hal itu, pertama, persoalan infrastruktur (hardware ataupun software) yang mahal. Maka, rumah sakit banyak yang membuat rekam medis elektronik dengan menggandeng perusahaan lokal. Di sini, rumah sakit tidak serta merta beralih penuh ke rekam medis elektronik. Kedua, tenaga medis di rumah sakit banyak yang belum terlalu familiar dengan rekam medis elektronik. "Meski begitu, kini hal itu mulai teratasi," kata Erik. Di beberapa negara maju, data rekam medis pasien dikumpulkan dalam satu server. Kata Erik, "Kemudian, dengan persetujuan si pasien, data tersebut bisa diakses secara elektronik oleh rumah sakit lain."

(sumber: http://www.kebijakankesehatanindonesia.net/component/content/article/73-berita/1655-proteksi-data-rekam-medis-kjs.html)

Jangan pandang enteng jika sakit kepala & pusing

dr Pukovisa SpS sedang menjelaskan ttg Migren
Pusing dan Sakit Kepala adalah gejala yang sudah sangat merakyat. Begitu merakyatnya gejala ini, hingga di pasar tersedia berbagai macam cara mengatasinya, mulai dari yang sudah terbukti (istilah kerennya "evidence based") hingga yang masih berupa mitos.

Untuk membekali pengetahuan para dokter, khususnya dokter umum sebagai garda terdepan pelayanan masyarakat, maka CME Departemen Neurologi FKUI/RSCM bekerjasama dengan IDI cabang Jakarta Pusat pada Sabtu, 25 Mei 2013 mengadakan acara yang diberi nama Workshop dan Mini Simposium Sehari Vertigo dan Migren di Hotel Sofyan Betawi Jakarta.


Sesi Pertama Vertigo
Dr. Freddy Sitorus, Sps(K) memulai sesi ilmiah pertama dengan menjelaskan bagaimana membedakan Vertigo Vestibuler Sentral dan Perifer, yang diikuti pemaparan Penatalaksanaan Vertigo baik yang menggunakan bukan-obat (non-medikamentosa) maupun obat-obatan (medikamentosa). Ternyata ada cara mengatasi vertigo tanpa menggunakan obat-obatan kimiawi.

Selesai pemaparan 2 ahli vertigo tersebut, para dokter mengikuti wokshop berupa cara memeriksa pasien yang datang dengan keluhan Vertigo. Kembali dengan lincahnya dr Freddy memperagakan (langsung menggunakan "pasien") bagaimana cara menganamnesis (wawancara) maupun pemeriksaan neurologisnya.

Pencegahan Kemiskinan & Asuransi Sosial Orang Tua Indonesia bersama Komnas Lansia & CAS UI

Bertempat di Hotel Borobudur Jakarta, 8 Mei 2013 yang lalu, telah dilaksanakan Southeast Asian Countries Meeting and Workshop on "Older Person's Social Security and Poverty Prevention" oleh Komite Nasional Lanjut Usia / KOMNAS LANSIA (National Commission for Older Persons (NCOP)) yang bekerjasama dengan Pusat Studi Keorangtuaan UI / Centre for Ageing Studies Universitas Indonesia (CAS-UI) Jakarta.

 Latar belakang acara ini menurut Ketua 2 Komnas Lansia, H. Toni Hartono karena melihat perubahan demografi dari negara-negara ASEAN terutama perkembangan jumlah penduduk usia lanjut. Saat ini, secara global ada sekitar 810 juta (11%) penduduk dunia berusia 60 tahun dan lebih. Diperkirakan pada tahun 2050 akan menjadi 20% yang mana pada tahun 2047, jumlah lansia akan melewati jumlah anak-anak yang berusia 14 tahun.

Direktur CAS-UI, Prof Tri Budi W. Rahardjo menambahkan, berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, Indonesia memiliki 4,7juta penduduk berusia 65 - 69 tahun, 3,5 juta berusia 70-74 tahun dan 3,8 juta berusia 75 tahun dan lebih. Artinya ada sekitar 12 juta penduduk Indonesia bisa dikategorikan Lansia. Sayangnya, kebanyakan dari Lansia Indonesia belum memiliki asuransi hari tua / program pensiun lainnya. 

Nara Sumber lainnya