IdBlogNetwork

Tabloid Kontan Desember 2013: Memang sudah sakit, buat apa sedih terus

Tabloid Kontan ed. Desember 2013
Pada Kolom "Komunitas" Tabloid Kontan 9 - 15 Desember 2013 hal. 39, terdapat tulisan berjudul "Memang Sudah Sakit, Buat Apa Sedih Terus" yang berkisah tentang "Kisah Inspiratif penderita Gagal Ginjal Kronis menjalani hidup dengan normal".

Berikut kutipan dari tulisan hasil karya Surtan Siahaan:

Bagi kebanyakan orang, gagal ginjal adalah kiamat kecil. Meski sempat mengalami depresi hebat, sejumlah penderita ginjal bisa bangkit dan menjalani hidup seperti orang normal.

Kamis (5/12) lalu, sang surya masih terlelap di peraduan, langit Jakarta masih gelap  pekat, tapi Sri Murdiatisudah siap beraktivitas. Setelah membersihkan diri dan salat  subuh, perempuan 50 tahun ini lantas memasak untuk sarapan keluarganya. Sayur bayam bening dan telur goreng menjadi menu sarapan. Ketika jarum jam tepat menunjuk angka enam pagi, Sri pun siap berangkat kerja dengan ojek langganannya.Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sunter Agung 12, Jakarta Utara, ini sehari-hari mengajar murid kelas dua. Tingkah polah anak-anak SD yang lincah, serba ingin tahu, dan tidak bisa diam dia hadapi dengan sabar. Sekilas, tak ada yang istimewa dari keseharian Sri sebagai seorang pengajar. Tapi, siapa sangka, ibu dua anak ini adalah pasien ginjal kronis. Sejak tahun 2005, fungsi ginjalnya bahkan sudah divonis tinggal 25%. Alhasil, untuk memperpanjang hidup, ia wajib melakukan cuci darah alias hemodialisa (HD) dua kali dalam sepekan. Tak mudah menjalani hidup layaknya orang normal dengan fungsi ginjal hanya seperempat. Sri bahkan butuh perjuangan selama setahun untuk menemukan kembali semangat hidupnya sejak divonis gagal ginjal.



Selama satu tahun itu, dia mengaku mengalami depresi karena dibayangi ketidakpastian akan masa depannya. Apalagi, enam bulan pertama, kondisi fisik Sri sangat lemah. Praktis, selama setengah tahun pula ia kehilangan aktivitas yang sangat disenanginya yakni mengajar. Namun, dukungan dari keluarga, spiritualitas, dan motivasi diri membuat kepercayaan dirinya pulih kembali.
“Saya memang sudah sakit, jadi buat apa saya sedih karena memang sudah begini  jalannya. Jadi, ya, saya nikmati saja,” katanya terus terang.

Erik Tapan, Ketua Bidang Informasi dan Edukasi Indonesia Kidney Care Club (IKCC), bilang, saat seseorang didiagnosis menderita penyakit ginjal, khususnya gagal ginjal terminal, mereka akan mengalami perasaan yang lebih dari sekadar kecewa. Biasanya, pertanyaan yang muncul dari orang itu: kenapa harus saya?
Hilangnya semangat hidup para penderita ginjal kronis disebabkan beberapa hal. Tapi yang utama adalah bayangan akan seriusnya penyakit yang diderita dan besarnya biaya yang harus ditanggung agar tetap bisa bertahan hidup.

Menurut Erik, hampir seluruh pasien yang didiagnosis menderita penyakit ginjal kronis akan mengalami depresi. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, perasaan depresi tersebut sebenarnya bisa dihilangkan.
Nah, dalam tahapan trauma healing, sangat penting bagi pasien cuci darah untuk terlibat dalam komunitas penderita gangguan ginjal. Soalnya, “Perasaan kecewa malah bisa berubah positif, bahkan bisa menginspirasi teman-teman seperjuangannya,” ujar Erik yang berprofesi sebagai dokter.

Menjadi motivator
Selain Sri, ada Robert Siahaan yang juga mampu bangkit dan menjadi inspirasi. Tiga bulan lalu, bekas karyawan perusahaan kontraktor di Jakarta ini diundang menjadi motivator bagi sesama pasien ginjal di sebuah rumah sakit.
Beberapa pasien ginjal kronis pun melakukan konsultasi pribadi dengan Robert. Robert, 65 tahun, justru menemukan makna hidup ketika menderita ginjal kronis. Harapannya tidak muluk-muluk kok, yakni bisa berbuat sesuatu bagi sesama penderita ginjal. Alhasil, Robert pun merasa hidupnya justru semakin berguna.
Sebagai penderita ginjal kronis, Robert tergolong cukup mandiri. Untuk cuci darah, misalnya, ayah dua anak ini tidak mau diantar. Dari rumahnya di daerah Kampung Ambon, Jakarta Barat, dia naik angkutan umum menuju Rumah Sakit Harapan Kita di Slipi.
Robert juga selalu menyeterika bajunya dan membantu pekerjaan rumahtangga, seperti menyapu dan mengepel. Ia juga makin teratur olahraga. Hampir tiap pagi, dia rutin melatih persendian dengan bersepeda keliling daerah Pacuan Kuda.

Tapi, jangan harap Anda bisa melihat Robert yang sekarang tujuh tahun lalu. Saat didiagnosis sakit ginjal, dia bahkan berkesimpulan hidupnya sudah habis. Maklum, cobaan datang menderanya bertubi tubi, mulai dari bergelut dengan sakit liver hingga batu empedu. Robert baru sadar ginjalnya rusak ketika sakit batu empedu dan livernya dinyatakan pulih.
Bukan makin segar, Robert tetap merasa sakit. Dia pun kembali memeriksakan keadaannya. Bagai disambar geledek di siang bolong, Robert langsung lemas ketika divonis menderita gagal ginjal kronis dan wajib menjalani cuci darah. Ia pun mengalami depresi hebat.
Selama tiga bulan pertama setelah divonis, Robert menolak melakukan terapi cuci darah. Bahkan selama setahun ia tidak bisa tidur pulas. “Pernah suatu subuh saat hujan lebat, saya keluar  berjalan kaki tanpa sandal. Mungkin kalau tetangga lihat saya sudah dibilang gila,” kenang Robert.
Lantas, bagaimana kepercayaan diri Robert bisa pulih?
Hal itu tak lepas dari dukungan keluarga.
Dia bilang, istri dan anak-anaknya selalu mengingatkan agar bersyukur lantaran masih diberikan kesempatan hidup, meski harus menjalani HD. Tidak sedikit pasien ginjal yang sudah tidak memiliki alternatif lain untuk menyambung hidupnya.
Tapi, Robert menambahkan, motivasi juga harus berasal dari diri pasien sendiri.  Penderita ginjal harus bisa mengiklaskan keadaannya. Saat diberi kesempatan sebagai motivator di RS PMI Bogor, ia memotivasi penderita ginjal dengan perumpamaan. “Kita harus terima, mau diapain lagi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tapi biar bubur itu enak bagaimana kita olah dengan memberi ayam, kerupuk, kacang, dan bumbu,”ungkap Robert sambil terkekeh.

Ya, kalau Sri dan Robert bisa, kenapa kita enggak bisa.
Tulisan lainnya: http://www.eriktapan.com/2013/12/fwd-bangkit-dengan-bantuan-komunitas.html

Catatan dr Erik Tapan:
Sehubungan dengan tulisan di atas, kami ingin melengkapi dengan informasi sebagai berikut:

  • Kondisi saat seseorang diharuskan menjalani Terapi Pengganti Ginjal, jika fungsi ginjal hanya tersisa 10 - 15 persen saja atau yang disebut Gagal Ginjal Terminal. 
  • Jenis-jenis Terapi Pengganti Ginjal saat ini yang diketahui oleh para dokter ada 3:
    • Hemodialisis atau yang dikenal dengan Cuci Darah (meskipun istilah ini tidak disenangi oleh para dokter)
    • CAPD (Cuci Perut)
    • Transplantasi
  •   Ketiga cara tersebut a, b dan c bisa saling bertukar.


Tidak ada komentar: