Mencoba langganan IndiHome dari Telkom

Ini tim Marketing TELKOM yang berhasil meyakinkan saya
Sebagai seorang blogger, selalu terhubung dengan internet dan dengan kecepatan akses yang mumpuni adalah suatu kebutuhan primer. Sayangnya provider yang saya gunakan saat ini, sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan saya tersebut. Sebagai gambaran bagaimana kecepatan internet yang saya nikmati saat  ini adalah sangat susah bagi saya untuk menonton video streaming. Untuk download file, bisa putus di tengah jalan.  :(

Sudah lama saya melihat /  membaca brosur mengenai Paket IndiHome dari Telkom, tapi selama ini karena mempunyai pengalaman yang kurang baik dengan Telkom Speedy, maka dicuekin saja. Kata teman-teman sekantor saat saya menunjukkan brosur IndiHome yang saya terima, "Ingat lho IndoHome itu punya TELKOM!!" .

Namun hari ini, saya berhasil diyakinkan oleh tim Marketing IndiHome bahwa dengan kabel fiber optik yang mereka miliki , akses internetnya, pasti lancar dan tidak akan putus/down.

So, kita lihat hasilnya nanti. Saya akan cerita kembali setelah saya berhasil menggunakannya.

Berikut hasilnya:
http://www.eriktapan.com/2014/12/kesempatan-menjajal-speed-indihome.html
http://www.eriktapan.com/2015/05/komplain-indihome-telkom.html

Paket IndiHome

Trik ngurus perpanjangan STNK tanpa biro jasa

prosesnya 10 menitan, nunggunya yg lama
Masyarakat Ibukota saat ini dimanjakan oleh pelayanan publik. Ini kisah mengenai pengurusan perpanjangan STNK tanpa menggunakan biro jasa.

Seperti biasa, setahun sekali pemilik kendaraan bermotor perlu "melapor" ke Samsat untuk perpanjangan STNK. Entah sudah keberapa kali saya mengurusnya, tapi selalu ada yang unik yang bisa dibagi ke netizen. #dasarblogger

Pengurusan hanya memakan waktu 10 menit saja Seperti kita ketahui bersama, jika ingin mengurus perpanjangan baik SIM maupun STNK, cara yang cukup mudah dan menyenangkan adalah dengan mengurusnya di pusat perbelanjaan, khususnya di Mal Artha Gading Jakarta Utara. Memang mal ini terkenal dengan fasilitas layanan publik-nya, contohnya beberapa waktu yang lalu pengurusan RFID bisa di mal ini.

Kembali ke laptop / mac book. :)
Pengurusan pembayaran pajak tahunan kendaraan bermotor pun cukup mudah. Siapkan saja berkas seperti photo kopi KTP, STNK dan BPKP. Kemudian mengisi formulir yang disediakan. Tak lama kemudian STNK perpanjangan itu pun selesai. Seperti itulah yang saya alami, Jumat 7 November 2014. Prosesnya mulai mengantri pkl. 13:00 dan selesai pada pkl 13:10. Artinya dari mengantri, memasukkan berkas, membayar dan menerima STNK baru, hanya membutuhkan sekitar 10 menit saja. Bravo kecepatan pelayanannya. Lalu kenapa saya perlu membayar parkir Rp. 16.000 seperti foto di atas?

Ini kisah panjangnya:

Sel Punca Indonesia

Tebak apa yang Anda peroleh jika mencari / googling kata “sel punca” atau “stem cell Indonesia”. Yup, Anda tidak salah, ada beberapa tawaran terapi sel punca / stem cell di Indonesia, baik itu yang berasal dari klinik yang dikelola oleh orang Indonesia maupun dari mereka yang berpraktek di luar negeri. Begitu pula jika kita membaca media massa di Indonesia, penawaran terapi (yang dianggap menjanjikan ini) datang dari berbagai institusi kesehatan di dalam maupun luar negeri.

Padahal seperti yang kita ketahui, pemerintah baru mengijinkan 11 (sebelas) Rumah Sakit (pendidikan) yang bisa melakukan pelayanan berbasis riset mengenai sel punca atau stem cell ini. Alasannya, sampai dengan saat ini, bukti ilmiah dari terapi canggih ini belum bisa memuaskan sebagian komunitas medis di dunia, sehingga penerapannya harus berhati-hati dan dalam ruang lingkup penelitian. 

Suasana Pertemuan Koordinasi Pembentukan Konsorsium Pengembangan Sel Punca
“Sampai saat ini kami masih terus meneliti keampuhan sel punca ini. Contohnya saja, dalam temuan kami, ada pasien diabetes / kencing manis yang terbantu dengan terapi sel punca, ada yang tidak berespons sama sekali.” ungkap Dr. dr. Ferdiansyah SpOT, peneliti Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya, saat dimintai pendapat pada acara Pembentukan Pengurus Konsorsium Pengembangan Sel Punca dan Rekayasa Jaringan di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan, Selasa 4 November 2014 ini.

Acara Pertemuan Koordinasi Pembentukan Konsorsium Pengembangan Sel Punca ini merupakan tindak lanjut dari penandatangan kesepakatan MoU 3 Menteri (Kesehatan, BUMN dan Ristek) era SBY beberapa waktu yang lalu. Menindaklanjuti MoU tersebut, pada tanggal 4 Oktober 2014 ini telah terpilih secara aklamasi Ketua Konsorsium adalah Prof. DR. Dr. H. FA Moeloek, SpOG yang dilengkapi dengan sekretariat dan bendahara serta ketua-ketua bidang seperti: Bidang Medis, Bidang Riset, Bidang Bisnis, Bidang Regulasi Produksi, Bidang Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Bidang Humas.

"Melalui konsorsium ini diharapkan pengembangan sel punca dan jaringan di Indonesia, dapat terlaksana secara komprehensif dan mencakup semua aspek, baik penelitian, penerapan, pemanfaatan, pelayanan, maupun pengawasan,” harapan Menkes Nafsiah Mboi saat penandatanganan MoU, Senin 13 Oktober 2014 yang lalu.

Semoga demikian, karena biar bagaimanapun riset dan treatment Sel Punca di Indonesia belum begitu tertinggal dibandingkan di negara-negara maju lainnya. Bagaimana pendapat Anda?