IdBlogNetwork

Sel Punca Indonesia

Tebak apa yang Anda peroleh jika mencari / googling kata “sel punca” atau “stem cell Indonesia”. Yup, Anda tidak salah, ada beberapa tawaran terapi sel punca / stem cell di Indonesia, baik itu yang berasal dari klinik yang dikelola oleh orang Indonesia maupun dari mereka yang berpraktek di luar negeri. Begitu pula jika kita membaca media massa di Indonesia, penawaran terapi (yang dianggap menjanjikan ini) datang dari berbagai institusi kesehatan di dalam maupun luar negeri.

Padahal seperti yang kita ketahui, pemerintah baru mengijinkan 11 (sebelas) Rumah Sakit (pendidikan) yang bisa melakukan pelayanan berbasis riset mengenai sel punca atau stem cell ini. Alasannya, sampai dengan saat ini, bukti ilmiah dari terapi canggih ini belum bisa memuaskan sebagian komunitas medis di dunia, sehingga penerapannya harus berhati-hati dan dalam ruang lingkup penelitian. 

Suasana Pertemuan Koordinasi Pembentukan Konsorsium Pengembangan Sel Punca
“Sampai saat ini kami masih terus meneliti keampuhan sel punca ini. Contohnya saja, dalam temuan kami, ada pasien diabetes / kencing manis yang terbantu dengan terapi sel punca, ada yang tidak berespons sama sekali.” ungkap Dr. dr. Ferdiansyah SpOT, peneliti Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya, saat dimintai pendapat pada acara Pembentukan Pengurus Konsorsium Pengembangan Sel Punca dan Rekayasa Jaringan di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan, Selasa 4 November 2014 ini.

Acara Pertemuan Koordinasi Pembentukan Konsorsium Pengembangan Sel Punca ini merupakan tindak lanjut dari penandatangan kesepakatan MoU 3 Menteri (Kesehatan, BUMN dan Ristek) era SBY beberapa waktu yang lalu. Menindaklanjuti MoU tersebut, pada tanggal 4 Oktober 2014 ini telah terpilih secara aklamasi Ketua Konsorsium adalah Prof. DR. Dr. H. FA Moeloek, SpOG yang dilengkapi dengan sekretariat dan bendahara serta ketua-ketua bidang seperti: Bidang Medis, Bidang Riset, Bidang Bisnis, Bidang Regulasi Produksi, Bidang Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Bidang Humas.

"Melalui konsorsium ini diharapkan pengembangan sel punca dan jaringan di Indonesia, dapat terlaksana secara komprehensif dan mencakup semua aspek, baik penelitian, penerapan, pemanfaatan, pelayanan, maupun pengawasan,” harapan Menkes Nafsiah Mboi saat penandatanganan MoU, Senin 13 Oktober 2014 yang lalu.

Semoga demikian, karena biar bagaimanapun riset dan treatment Sel Punca di Indonesia belum begitu tertinggal dibandingkan di negara-negara maju lainnya. Bagaimana pendapat Anda?



Box 1. Di mana bisa peroleh layanan terapi Sel Punca ?
Berikut disampaikan daftar  11 rumah sakit yang bisa memberikan layanan terapi sel punca di Indonesia:

  1. Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (Pembina)
  2. Rumah Sakit Dr. Soetomo (Pembina)
  3. Rumah Sakit Dr. M. Djamil, Padang, Sumatera Barat
  4. Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta
  5. Rumah Sakit Fatmawati
  6. Rumah Sakit Kanker Dharmais
  7. Rumah Sakit Persahabatan
  8. Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung
  9. Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta.
  10. Rumah Sakit Dr. Karyadi, Semarang
  11. Rumah Sakit Sanglah, Bali


Box 2. Organisasi resmi Peneliti dan Praktisi Sel Punca di Indonesia

Jika Anda seorang Dokter atau seorang Peneliti yang saat ini sudah berkecimpung maupun berminat mengenai layanan berbasis riset dari Sel Punca / Stem Cell di Indonesia, bisa bergabung dengan 2 organisasi di bawah ini:

  1. Asosiasi Sel Punca Indonesia (peneliti)
  2. Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO) (khusus dokter)

Mari sama-sama kita kembangkan layanan sel punca demi kemaslahatan umat manusia.


Referensi:


  1. http://health.liputan6.com/read/2020183/11-rumah-sakit-jadi-rujukan-terapi-sel-punca-di-indonesia
  2. http://m.bisnis.com/lifestyle/read/20141013/220/264446/pemerintah-bentuk-konsorsium-pengembangan-sel-punca-jaringan
  3. http://www.tempo.co/read/news/2013/07/31/060501349/RSUD-Dr-Soetomo-Kembangkan-Rekayasa-Jaringan

Tidak ada komentar: