Tipe-tipe Pemimpin berdasarkan keadaan kritis

Akhir-akhir ini, kita bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh keluarga/sahabat/rekan kerja kita di pulau Sumatera, Kalimantan bahkan Sulawesi. Penderitaan yang diakibatkan oleh pembakaran hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Menurut informasi, cara membakar tersebut awal-awalnya dirasakan bermanfaat dan murah, tapi pada akhirnya sampai pada keadaan yang tidak bisa ditanggulangi sehingga membuat penduduk daerah tersebut menjadi susah untuk bernapas. Mudah-mudahan penderitaan keluarga/rekan kerja kita ini bisa segera berakhir.

Sehubungan dengan hal tersebut, sebenarnya kalau kita perhatikan, tipe-tipe pemimpin dalam satu peruahaan bisa dianalogikan dengan keadaan tersebut:

1. Tipe pembakar
Pemimpin tipe ini, bisa disebut pemimpin yang bisa memberi solusi jangka pendek. Jika ada satu masalah, yang bersangkutan bisa memberikan solusinya dengan harga yang dianggap murah (efisien). Kelihatan menguntungkan saat itu. Namun sang pemimpin tipe pembakar ini belum memperhitungkan efek jangka panjangnya. Istilahnya berpikirnya kurang strategis. Hanya bisa menyelesaikan / solusi jangka pendek.

Ahok: Pemprov DKI bersedia membeli RS yang akan dijual

Kembali Gubernur DKI Jakarta, Bpk Basuki TP (Ahok) membuat pernyataan yang mengejutkan sebagian peserta Kongres XIII PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia). Dalam penutupan acara hari ini (24/10/15), Ahok yang menjadi pembicara tamu terakhir mengajak peserta untuk lebih serius mengelola Rumah Sakit. "Bagi Rumah Sakit yang tidak dikelola dengan baik atau hanya ala kadarnya (meminjam istilah pakar management RS, dr Chairulsjah SpOG: business as usual) , saya jamin akan segera tutup. Jika hal itu yang terjadi, silakan cari investor lain atau hubungi Pemprov DKI karena lokasi RS tersebut tidak bisa dipergunakan untuk usaha lain selain Rumah Sakit."

Yang dimaksud dengan serius menurut Ahok, adalah bersedia melayani pasien-pasien BPJS dengan sebaik-baiknya dan tidak melakukan fraud. Management juga harus mampu melayani pasien dengan seefisien dan seefektif mungkin. Tidak adalagi pemaksaan pembelian obat-obatan / alkes yang "mutunya" lebih baik, boros alkes, dll., dalam pelayanannya.



Dr. Boenjamin Setiawan Ph.D Bapak Sel Punca

Mungkin apa yang akan saya ceritakan di sini, tidak cocok lagi disebut My Local Hero. Sosok yang satu ini menurut saya sudah bukan level lokal lagi, tapi sudah level Indonesia bahkan sudah mendunia. Bayangkan saja perusahaan yang didirikannya saat ini, sudah merupakan perusahaan terbesar di Asia Tenggara.

Berfoto di rumah samping bengkel bersejarah di T. Priok
Siapa sangka dari sebuah bengkel di Tanjung Priok, dr Boenjamin Setiawan Ph.D.  (yang sering dipanggil dr Boen) mendirikan pabrik farmasi yang hingga saat ini cabangnya tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara dari Asia hingga Afrika. 

Kesederhanaan
Meskipun memiliki segudang perusahaan, namun kesederhaan selalu hadir pada pria kelahiran tahun 1933 tersebut. Setiap kali ditanya, apa resepnya hingga bisa membuat group perusahaan yang begitu besar, jawabannya selalu, “karena kebetulan”. Jadi menjalani hidup dan berkarya bagi dr Boen adalah mengalir seperti air, dan kebetulan bisa memiliki banyak perusahaan tersebut.

Mendirikan perusahaan untuk melakukan riset
Namun banyak yang belum mengetahui bahwa sebenarnya cita-cita dr Boen bukanlah membangun bisnis yang besar tapi karena ingin melakukan riset atau penelitian. Bagaimana bisa, yuk ikuti ceritanya. Cerita yang muncul berdasarkan pengalaman saya mendampingi dr Boen dalam aktifitas beliau di kantor, memberi seminar-seminar inspirasi dan waktu santai di rumahnya di bilangan Menteng. Mudah-mudahan bisa sedikit memberi warna lain dari biografi dr Boen, My International Hero, Bapak Sel Punca atau Bapak Stemcell Indonesia.

#QLUE: Kelurahan Cempaka Putih Timur adalah salah satu kelurahan yang terbaik

Email dari QLUE
Bagi saya akhir-akhir ini banyak terjadi kejutan di DKI, khususnya pelayanan bagi masyarakat umum. Saya -yang sering harus berurusan dengan petugas baik di Kecamatan Cempaka Putih maupun di Kelurahan, Cempaka Putih Timur- termasuk yang merasakan perubahan tersebut. Jika ada masalah, petugasnya sangat terbuka untuk diskusi dan dicari jalan keluarnya. Layanannya pun ramah-ramah.

Rupanya pelayanan seperti ini bukan hanya dirasakan oleh saya saja. Baru saja aplikasi QLUE mengeluarkan ratingnya mengenai Kelurahan dan Dinas yang paling responsif dalam merespons keluhan warga via aplikasi yang bisa di-download di Google Play atau App Store tersebut.

Dari Kategori Kelurahan Terbaik, kelurahan Cempaka Putih Timur memperoleh ranking kedua, sesudah Kelurahan Paseban. Kami ucapkan banyak selamat kepada Lurah dan aparat dari Kelurahan Paseban, Cempaka Putih Timur dan Petojo Selatan. Terus tingkatkan prestasi yang sudah baik!! Warga pasti lebih mencintai kelurahannya!!

Sedangkan untuk Dinas,  Dinas yang terbaik berturut-turut: Dinas Kebersihan, Dinas Perhubungan dan Satpol PP.

Manfaat Stem Cell untuk Memperlambat Proses Penuaan dan Pengobatan Nyeri Lutut, Sabtu 26 September 2015 (2)

tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya (1) 

Peran Stemcell pd penyembuhan tulang rawan lutut oleh dr Andri MT Lubis Sp. OT(K) Ph. D.

Umumnya sangat sukar terjadi penyembuhan spontan pada kerusakan tulang rawan karena daerah tulang rawan sangat sedikit pembuluh darahnya. Selain itu tulang kelainan tulang rawan tidak sampai jaringan tulang, sehingga tidak memiliki akses ke sel-sel yang bisa menyembuhkan (progenitor cell) yang ada ada sum-sum tulangnya. Sudah kita ketahui bersama bahwa kerusakan tulang rawan yang berat bisa menyebabkan osteoartritis.  Saat ini intervensi terapi pembedahan maupun non pembedahan pada penyakit osteoartritis terbatas hanya untuk meringankan dan atau memperbaiki bagian tertentu saja dan selanjutnya harus dilakukan operasi penggantian lutut secara keseluruhan.

Dr Andri dari Departemen Bedah Ortopedik FKUI/RSCM menjelaskan bagaimana peran stemcell dalam hal ini Mesenchymal Stemcell untuk mengobati kelainan tulang rawan lutut. Turut dipresentasikan beberapa riset dr Andri kepada mereka yang mengalami kelainan pada lutut yang kemudian sembuh dengan treatment stem cell dari diri pasien sendiri.

Acara diakhiri dengan Press Conference
Kami dari panitia mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran teman-teman jurnalis. Selain itu mohon maaf sebesar-besarnya jika ada hal-hal yang kurang berkenan disebabkan antara lain peserta yang hadir melebihi estimasi/perkiraan kami.






Liputannya:

Manfaat Stem Cell untuk Memperlambat Proses Penuaan dan Pengobatan Nyeri Lutut, Sabtu 26 September 2015 (1)

Bertempat di Gedung Kalbe Cempaka Putih, pada Sabtu 26 September 2105 saya diminta untuk menjadi moderator pada Seminar Awam dengan tema Manfaat Stem Cell untuk Memperlambat Proses Penuaan dan Pengobatan Nyeri Lutut. Acara ini sebenarnya acara dari Komunitas Warga Senior (KOWAS) namun karena membahas mengenai Stem Cell / Sel Punca, sebagai Sekretaris Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO), tentu tidak ada salahnya mengundang para teman sejawat yang tertarik mempelajari lebih jauh mengenai Stem Cell. Akhir sepakatlah kami mengadakan Seminar Awam, tentu dengan harapan akan ada lanjutan seminar medis dengan bernilai SKP.

Berikut resume presentasinya yang ada dibagi dalam 2 tulisan:

1. Pemanfaatan Stemcell untuk Perlambat Proses Penuaan oleh dr Boenjamin Setiawan Ph.D.

Terus tetap muda bahkan kalau bisa tidak meninggal (immortal) sudah menjadi impian manusia sejak jaman dahulu kala. Kita tahu ada legenda mengenai air mancur/sumur yang bisa memperpanjang usia manusia yang meminumnya. Dikatakan (dalam legenda tersebut) siapa yang meminum air dari fountain of youth, sel-sel tubuhnya akan beregenerasi menjadi sel yang muda kembali.

Presentasi dr Boen kali ini menjelaskan mengenai “cairan" yang bisa dikatakan mirip kerjanya dengan air dari legenda fountain of youth tersebut.

Seminar Awam Stem Cell Rejaselindo KOWAS

Begitu banyak penawaran terapi stem cell yang bisa kita lihat saat ini, baik melalui media konvensonal (cetak, tv) apalagi via internet ataupun sosial media. Terpanggil untuk lebih mengsosialisasi pemanfaatan stem cell yang baik dan benar, Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (Rejaselindo) bekerjasama dengan KOWAS menyelenggarakan Seminar Awam dengan topik "Pemanfaatan Stem Cell untuk Memperlambat Proses Penuaan dan Pengobatan Nyeri Lutut".

Pembicaranya seminar kali ini bukan pakar biasa. Bisa disebut narasumber kelas dunia (yang berasal dari Indonesia) yaitu: dr Boenjamin Setiawan Ph. D dan ahli/spesialis tulang dr. Andri Lubis SpOT(K). Ph.D.

Jika selama ini, masyarakat sering menerima informasi yang kurang benar dari "produsen/praktisi" Stemcell yang tidak jelas kepakarannya, maka dengan mengikuti seminar ini, kita bisa langsung menerima informasi yang benar dan aplikatif (sudah dikerjakan di Indonesia) dari putra terbaik bangsa Indonesia dalam bidang Sel Punca. Melalui pemaparan para ahli stem cell tingkat dunia ini akan bisa terlihat bahwa sebenarnya produk2 stem cell dari Indonesia tidak kalah (kata sederhana dari sejajar atau lebih) dengan produk-produk Stem Cell dari luar negeri.

Lalu kenapa kita mesti melakukan tretment Stem Cell di luar negeri atau menggunakan produk2 luar negeri?
Penasaran?
Yuk daftar segera, jangan sampai ketinggalan. Seat terbatas!!

Siapa yang harus ikut event ini?


Jeremy Lim (Oliver Wyman): Tahun 2020, rata-rata setiap orang memiliki 6,5 gadget, siapkah Layanan Kesehatan Indonesia menghadapinya?

Novartis CEO FORUM 2015

Foto bersama peserta Novartis CEO Forum 2015
Penerapan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Nasional dan peningkatan kurs dollar membawa tantangan tersendiri bagi perumahsakitan di Indonesia. Hal inilah yang menjadi kepedulian Novartis Indonesia sehingga pada CEO FORUM tahun ini mengambil tema: "What's the challenges? See your way through change". 

Acara yang dibuka langsung oleh Presdir Novartis Indonesia, Lutfhy Mardiansyah pada Rabu, 9 September 2015 di Jakarta menghadirkan 2 pembicara luar dan 3 panelis dari dalam negeri. Salah satu pembicara dr Jeremy Lim mengatakan perlu adanya perhatian yang serius bagi pembuatan sistem dan branding rumah sakit yang baik.  Selain Jeremy Lim dari Oliver Wyman Singapura tampil juga dr Joe Ledesma dari St. Luke’s Medical Center (Filipina) dan para panelis: dr. Wasista Budiwaluyo MHA (PERSI), dr. Lia Gardenia Partakusuma SpPK(K), MM, MARS (RS Jantung Harapan Kita) dan dr Anastina Tahjoo (RS Siloam).

Pada tahun 2020 nanti, ramal Jeremy, setiap orang akan terhubung rata-rata 6,5 gadget. Oleh karena itu mau tidak mau, siap tidak siap penyedia layanan kesehatan tingkat dunia harus memahami dan memanfaatkan “Internet of Things” dan “Big Data” pada layanannya. Khususnya di Indonesia, Jeremy menjelaskan 3 hal yang berpengaruh saat ini seperti:

Hari Pelanggan Nasional 2015, dikunjungi PT Telkom Indonesia

Ibu Wati & Ibu Mei dari TELKOM
Ting-tong, bel rumah berbunyi. Siapa yang datang nih pas saya mau berangkat kerja. Ada mobil IndiHome TELKOM parkir di depan rumah. Mau servis? Perasaan akses fiber optik IndiHome saya OK-OK saja. Usee TV (meskipun jarang ditonton), sepertinya tidak bermasalah.
Target 3jt Pelanggan IndiHome dideklarasi di Home Pelanggan
oleh Ibu Mei, Pak Joko dan Pak Supri
Rupanya hari ini, tanggal 4 September 2015, dalam rangka Hari Pelanggan Nasional (HarPelNas), pihak Telkom berkenan mengunjungi rumah saya yang memang sampai saat ini sudah berlangganan IndiHome Triple Play (akses internet, UseeTV dan Telpon Rumah).

Setelah melalui obrolan pembukaan, perkenalan, dll., seperti biasa (jadi ingat pengalaman saat kerja di Kalbe Farma. Waktu itu, setiap HUT Kalbe dari level Direksi hingga Manager turun menemui pelanggan seperti rumah-rumah sakit, apotik, dll.

Asuransi Proteksi Dokter Indonesia dari PB IDI

Grand Launching Asuransi Proktesi Dokter Indonesia
Untuk pertama kalinya Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meluncurkan asuransi proteksi untuk para dokter Indonesia. Proteksi dari apa? Bukankah sudah ada BPJS? Yup benar, jika berbicara proteksi dari biaya yang perlu dikeluarkan jika menderita sakit, tentu BPJS adalah salah satu proteksi. Tapi ini, karena jaman makin maju, pengetahuan masyarakat makin meningkat, bukan tidak mungkin -meskipun dokter telah berusaha untuk melakukan yang terbaik- ada saja pasien yang menuntut dan memperkarakan dokter. Risiko inilah yang dicoba sharing dengan Asuransi Jiwasraya dan Asuransi ASEI. Kedua asuransi pelat merah tersebut bersedia membagi risiko atas tuntutan sengketa medis yang mungkin dialami para anggota IDI di seluruh Indonesia. 

Bukan itu saja, menurut Ketua Umum PB IDI, dr Zaenal Abidin MHKes saat ditemui pada acara Grand Launching Asuransi Proteksi Dokter Indonesia, Kamis 27 Agustus 2015, tidak hanya sengketa medis saja yang dicover, bahkan para dokter bisa dengan bebas (free) berkonsultasi mengenai masalah hukum baik saat tidak bermasalah, sebelum atau sementara proses mediasi.

Manfaat
Manfaat Sengketa atau Kelalaian Medik yang bisa diperoleh antara lain:
  • Sengketa Medis
  • Kelalaian dan pelanggaran tugas perawatan
  • Kesalahan karyawan di bawah supervisi Dokter
  • Konsultasi hukum medikolegal via phone dengan perjanjian dan Konsultasi hukum medikolegal tatap muka khusus daerah Jakarta
  • Penyuluhan medikolegal
  • Pendampingan klaim dan analisis medikolegal
  • Menjamin tempat praktek dan tempat penugasan dokter

Selain manfaat Sengketa Medis atau Kelalaian Medis, asuransi proteksi ini juga menutup risiko kematian (Jiwa), berapapun umur dokter anggota IDI tersebut.

GE Healthcare Innovation Forum 2015

Erik Tapan - David Utama - Lula Kamal - Yohana Nevilya
Sebagai perusahaan yang telah berkiprah di Indonesia lebih dari 70 tahun, tentu berbagai aktifitas marketingnya bisa menjadi inspirasi bagi  perusahaan-perusahaan lainnya di Indonesia. Setiap tahun GE melalui anak perusahaannnya GE Healthcare mengadakan sebuah forum yang mengulas berbagai isu kesehatan global maupun nasional. Topik yang diangkat tahun ini adalah “Strategi dan Kesempatan di Negara Ekonomi Berkembang”.



GE HEalthcare Innovation Forum 2015 (begitu forum ini dinamai) diadakan dari tanggal 21 hingga 22 Agustus 2015 di hotel Fairmont Jakarta berupa simposium, seminar, workshop dan pameran yang didisain menyerupai rumah sakit mini untuk menampilkan berbagai produk inovasi GE Healthcare. Lebih dari  100 peserta yang terdiri para dokter (dan tenaga kesehatan lainnya), Direktur Rumah Sakit, rekanan GE Healthcare Indonesia hadir pada acara ini guna berbagi best practice dan melahirkan kolaborasi-kolaborasi baru untuk menciptakan sektor kesehatan berkelanjutan di Indonesia untuk masa mendatang.

Alamat terkini IDI Cabang Jakarta Pusat

Berbekal pengalaman betapa susahnya mencari alamat IDI Jakarta Pusat di internet, mudah-mudahan informasi ini bisa bermanfaat bagi Dokter atau siapapun yang membutuhkannya.

Awalnya IDI Cabang Jakarta Pusat berkantor di:
    Jl. Cempaka Putih Barat III/17c
    Jakarta, Indonesia 10520

Tapi ternyata sudah pindah ke:
    Jl. Kesehatan No. 10
    Tanah Abang   
    Jakarta Pusat

NAMUN, mulai Januari 2015 pindah ke:

Perkantoran Apartment Menteng Square
Jl. Matraman no. 30E
Tower B, lantai 3 no. 41
Jakarta Pusat 13210
No Telp.: 021-29614371
Jam Kerja: Senin - Jumat pkl.09:00 - 16:00 WIB



Ini petanya:

Kerja itu Main tapi bukan main-main!!

Punya kisah menarik, bagaimana Anda mencintai pekerjaan Anda ?


Baca kisah saya di: http://kerjaitumain.com/gallery/detail/mendokterkan-internet-dan-menginternetkan-dokter tentang bagaimana Mendokterkan Internet dan Menginternetkan Dokter.

Bagaimana pendapat Anda?


FGD Kompas: Pola Konsumsi Media Digital

Menggunakan Sensor Bola Mata
Sabtu, 23 Mei 2015 kami diundang oleh pihak Kompas dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) Pola Konsumsi Media Digital. Meskipun baik kami maupun tuan rumah semuanya tidak pernah ketemu sebelumnya namun berkat kelihaian (keramatahan, dll.) pihak tuan rumah, diskusi pun berlangsung seru namun hangat. Tak terasa hampir 3 jam kami berdiskusi yang dipandu oleh Ibu Theresia.

Dengan lincahnya Ibu Theresia melemparkan pertanyaan ke kita-kita, yang sayangnya setiap kali ditanya balik, sang Ibu hanya melempar senyum tanpa ada jawabannya (ha…ha…ha… fungsi moderator FGD mesti begitu ‘kali  :)).

Dari pertemuan kemarin saya menemukan fakta yang menarik yang mungkin belum banyak yang mengetahui, yaitu mengenai produk-produk digital dari Harian Kompas, selain Kompas yang dicetak secara fisik.

Mohon maaf kalau penggambarannya masih kurang tepat karena kami memang tidak dibagi catatannya karena acara ini khan bukan pers conference :)

1. Kompas.com (http://www.kompas.com)

Kompas dot com adalah website/situs yang menyanyikan informasi yang up to date namun isi beritanya tidak terlalu dalam. Kecepatan pembuatan berita menjadi prioritas dan seandainya ada hal yang perlu ditambahkan, dibuat dalam berita lain lagi. Oleh sebab itu dalam membaca berita di kompas.com, tidak jarang kita harus mengklik lebih dari satu berita untuk topik yang sama.


Pertemuan KE-33 Komunitas Warga Senior: Belajar membuat keramik

Testimoni Pengunjung
Rumah Keramik
Untuk yang ke-33 kalinya, Komunitas Warga Senior (KOWAS) akan menyelenggarakan pertemuannya. Kali ini akan diadakan di rumah Keramik Bpk. F. Widayanto di Tanah Baru Depok.

Rencananya siapa yang tertarik untuk belajar keramik bisa berkumpul pada:

  • Hari/tanggal:  Sabtu, 23 Mei 2015
  • Berangkat pkl. 08:00 WIB, diperkirakan sudah kembali pkl. 16:00 WIB.
  • Alamat pertemuan:  Gedung Kalbe, Jl. Letjend Soeprapto kav. 4, Jakarta Pusat
  • Biaya Rp. 205.000:
    • GRATIS (dengan menunjukkan member card KOWAS yang masih berlaku)
    • Harga khusus: Rp. 150.000 (dengan menyebutkan mengetahui dari Blog dr Erik, tempat terbatas)


Tempat terbatas, segera hubungi bagian pendaftaran: 021-42873888 ext.1930 (sen-jum, pk 08.00 - 14.00), 08121307838 (Lastrie). Untuk registrasi ulang membercard KOWAS hanya Rp. 350.000/tahun (free mengikuti semua aktifitas KOWAS),- atau Non Member yg ingin ikut wisata keramik dapat menstransfer ke rekening KOWAS a.n Janti Atmojo atau a.n atau Erik Tapan, Bank BCA, 7060397826. Terima kasih.

Daftar aktifitas KOWAS

BPOM akan mengawal layanan dan industri Sel Punca

Tampak Ketua BPOM bersama Ketua Konsorsium Sel Punca
Bertempat di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan Jakarta Pusat, Selasa 7 April 2015 telah diadakan pertemuan antara BPOM dengan Konsorsium Sel Punca Indonesia. 

“BPOM akan selalu mengawal penelitian dan pengembangan industri Sel Punca di Indonesia”, demikian dijelaskan DR. Ir. Roy Sparringa Kepala BPOM meyakinkan peserta pertemuan tersebut. Seperti diketahui, sejak dibentuknya Konsorsium ini akhir tahun 2014, secara marathon para anggota Konsorsium aktif melakukan kegiatan seperti pertemuan-pertemuan baik internal anggota konsorsium maupun dengan pihak-pihak lain yang dianggap berperan dalam mengawal layanan dan perkembangan industri sel punca di Indonesia. Ini semua dilakukan agar masyarakat Indonesia bisa terlindung dari tawaran-tawaran layanan sel punca yang kurang bertanggung jawab di Indonesia. Seperti diketahui hingga saat ini, masih sedikit produk sel punca yang sudah memperoleh ijin edar di dunia (komersialisasi). Sebagian besar masih dalam penelitian. Apalagi di Indonesia, belum ada satu pun produk sel punca  / stem cell yang telah memperoleh approval dari BPOM.

Konsorsium Sel Punca yang dibentuk Depkes beranggotakan para pakar dari Akademisi, Bisnis (Swasta), Clinician (Klinisi/Dokter) dan Goverment (Pemerintah) yang sering disingkat dengan ABC-G.

Bagi para dokter yang tertarik dengan layanan sel punca, bisa bergabung dalam organisasi seminat Perhimpunan Seminat Dokter Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO) dan bagi para peneliti (dokter maupun non dokter) bisa bergabung di Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI).

Info mengenai Konsorsium Sel Punca, bisa akses:


Diskusi Bulanan PB IDI: Kembalikan Fungsi Puskesmas

dr Gatot Soetono, MPH - PB IDI
Aktifitas Puskesmas yang dicanangkan dan dipraktekkan sejak 40 tahun yang lalu, dianggap membelenggu Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini. Demikian dijelaskan dr Gatot Soetono. MPH pada acara Dialog Kebangsaan dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107 dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015, di Kantor PB IDI Jakarta Pusat, Senin 30 Maret 2015.

Bagaimana tidak, lanjut Kabid Pengembangan Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu dengan Sistem Rujukan PB IDI tersebut, Puskesmas yang hadir saat belum ada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan BPJS tersebut memperkerjakan dokter sebagai tenaga pelaksana Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Akibatnya para dokter cenderung melaksanakan UKP (apalagi dijadikan sebagai tenaga Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama) sedangkan UKM yang seharusnya memiliki porsi yang sama atau bahkan lebih besar, ditinggalkan. Bisa diduga, biaya pemeliharaan kesehatan secara nasional akan menjadi mahal karena hal ini bertentangan dengan konsep pencegahan lebih murah pengobatan.

Oleh karena itu, PB IDI mengusulkan agar di era Jaminan Kesehatan saat ini, ada baiknya Upaya Kesehatan Perotangan (yang sering disebut upaya kuratif) diserahkan kepada masyarakat / swasta dan pemerintah baru melibatkan diri kalau belum ada pihak masyarakat / swasta yang berminat. Sedangkan Puskesmas, sesuai namanya dikembalikan fungsinya sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat yang menjalankan Upaya Kesehatan Masyarakat (preventif dan promotif) menjadi tanggung jawab pemerintah.

Dialog Kebangsaan PB IDI dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107
dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015


Tulisan lainnya

Akibat sembarangan menggunakan antibiotik

Suasana Workshop Pneumonia yang diselenggarakan
PDPI dengan Kalbe Academia
Peta Kuman di salah satu RS
Masyarakat awam dihimbau agar makin berhati-hati menggunakan antibiotik, di lain pihak, Rumah Sakit dihimbau untuk menyiapkan dan menggunakan peta kuman yang sesuai dengan kondisi dan situasi rumah sakit masing-masing. Demikian pesan singkat yang bisa disimpulkan saat mengikuti Workshop of Infection - Nutrition: Pneumonia in critically ill patients, Sabtu 28 Maret 2015 di hotel Ritz Carlton Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Kalbe Academia tersebut dibuka oleh Dr. dr. Priyanti ZS, Sp.P(K), MARS yang juga sebagai narasumber materi pertama dengan judul Severe Pneumonia: How to Deal and Management: - Early warning signs of severe pnemonia, - Update guideline of (antibiotic) treatment for severe pneumonia.

Contoh kasus menarik
Dalam acara yang berlangsung setengah hari tersebut, terungkap beberapa kasus menarik yang bisa saja terjadi di rumah sakit baik di poliklinik maupun ICU, antara lain: ada pasien yang hasil kulturnya sudah resisten dengan sebagian besar antibiotik yang ada di pasaran. Hanya satu jenis antibiotik yang masih sensitif. Sayangnya pasien tersebut alergi pada antibiotik tersebut. Di sini sangat dibutuhkan ketrampilan dokter untuk secara bijak mencari / menggunakan antibiotik yang tepat.

Tips cara bijak menggunakan antibiotik

Boenjamin Setiawan: orang tua perlu bergaul dengan teman-teman segenerasinya

dr Boen sharing di acara ASLI
"Meskipun saya sering mengisi waktu luang dengan berinternet (dan menjalankan perusahaan pribadi, red), namun saya tetap mencari waktu untuk bersosialisasi dengan mereka yang sudah masuk dalam usia senior. Untuk itulah kami membentuk perkumpulan yang diberi nama KOWAS (Komunitas Warga Senior). KOWAS rutin mengadakan pertemuan membahas berbagai hal seperti kesehatan, kesejahteraan, dll.”, demikian ungkap dr Boenjamin Setiawan saat diminta komentarnya bagaimana ia mengisi waktu luang di usia 80-an tahun pada acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI), Sabtu, 14 Februari 2015 di Balai Kartini Jl. Gatot Soebroto Jakarta.

Konsep agar selalu bersama-sama dengan komunitas seusia dan beraktifitas sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis kiranya menjadi tema dari acara yang diberi judul “Senior Living sebagai Gaya Hidup Lanjut”.

Saat di mana, sang anak ataupun cucu sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, alangkah mirisnya kalau orang tua kita diminta menjadi “penjaga setia” rumah saja. Lagi pula menurut penelitian, berkumpul dengan teman-teman bisa memperpanjang usia kita secara berkualitas, baca: Ingin umur panjang, bergaullah, http://www.eriktapan.com/2011/01/want-to-live-longer-and-healthy.html

I3L - Healthcare transformation: This time it’s real!

Jeremy Lim - I3L Advisory Board Member.
Bagaimana rasanya jika kita (sebagai orang awam yang menderita penyakit kronis) tidak perlu sering-sering ke dokter, namun kesehatan kita tetap terjaga? Atau bagi tenaga kesehatan, pasien yang datang hanya yang benar-benar membutuhkan penanganan langsung. 

Parameter pemeriksaan kesehatan seperti: tekanan darah, suhu bahkan jumlah langkah kita pun bisa termonitor oleh gadget. Hasil pemeriksaan laboratorium hingga EKG sudah terhubung langsung dengan pusat data di rumah sakit langganan kita.

Wah mana mungkin, biar bagaimana pun kontrol ke dokter itu penting.

Iya, saya tahu itu penting, tapi pernahkan kita berpikir bahwa sebelum ada mesin ATM, orang harus ke bank untuk menabung, mengecek saldo, dll. Tapi apa yang terjadi saat ini, bahkan untuk transfer uang antar bank pun bisa dilakukan via internet (di depan komputer / notebook) di tempat masing-masing.

Cepat atau lambat teknologi akan mempengaruhi layanan kesehatan, yang sayangnya inovasi hal ini lebih banyak berasal dari luar masyarakat kedokteran/kesehatan. 

Pemahaman inilah yang menjadi inti dari presentasi Dr Jeremy Lim di Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L) Jakarta, Selasa 13 Januari 2015.

Video Conference menggunakan Google Hang Out

salah satu fitur Google Hang Out, back ground themes
Google Hang Out adalah software video conference yang ketiga yang saya coba. Percobaan dengan software lainnya bisa dilihat di link / URL di bawah artikel ini.
Pada tanggal 30 Desember 2014 sekitar pukul 3 sore, saya melakukan video conference (sekali lagi) dengan Nofa yang dilanjutkan dengan Mas Dewo pada hari yang berbeda. Dari pengalaman tersebut, saya mengambil kesimpulan:

  1. dari sisi fungsi kelihatan bisa mengakomodasi fungsi video conference yang saya inginkan.
  2. masih banyak fungsi / fitur lainnya yang perlu dicoba

Namun ada kelebihan  (atau kekurangan?) dari Google Hangout, yaitu: fiturnya sangat beraneka ragam seperti bisa mengganti back ground, presenternya bisa di "make over” mengenakan kacamata atau berkumis, dst…dst. Ini yang membuat saya, Nofa dan terakhir dengan Mas Dewo jadi lebih asyik utak-atik fitur tersebut dibandingkan mengexplore fitur-fitur khusus video conference. Fasilitas yang lebih cocok ke ABG.

Komputer cepat panas dan baterei boros

Sayangnya dari pengamatan / pengalaman saya, saat menggunakan Google Hang Out, notebook menjadi cepat panas (sehingga kipasnya menderu-deru) serta boros baterei. Sudah 2 jenis notebook yang saya coba yaitu Mac Book Air dan Notebook merk HP. Semuanya begitu. Ada yang bisa menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi?