Diskusi Bulanan PB IDI: Kembalikan Fungsi Puskesmas

dr Gatot Soetono, MPH - PB IDI
Aktifitas Puskesmas yang dicanangkan dan dipraktekkan sejak 40 tahun yang lalu, dianggap membelenggu Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini. Demikian dijelaskan dr Gatot Soetono. MPH pada acara Dialog Kebangsaan dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107 dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015, di Kantor PB IDI Jakarta Pusat, Senin 30 Maret 2015.

Bagaimana tidak, lanjut Kabid Pengembangan Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu dengan Sistem Rujukan PB IDI tersebut, Puskesmas yang hadir saat belum ada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan BPJS tersebut memperkerjakan dokter sebagai tenaga pelaksana Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Akibatnya para dokter cenderung melaksanakan UKP (apalagi dijadikan sebagai tenaga Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama) sedangkan UKM yang seharusnya memiliki porsi yang sama atau bahkan lebih besar, ditinggalkan. Bisa diduga, biaya pemeliharaan kesehatan secara nasional akan menjadi mahal karena hal ini bertentangan dengan konsep pencegahan lebih murah pengobatan.

Oleh karena itu, PB IDI mengusulkan agar di era Jaminan Kesehatan saat ini, ada baiknya Upaya Kesehatan Perotangan (yang sering disebut upaya kuratif) diserahkan kepada masyarakat / swasta dan pemerintah baru melibatkan diri kalau belum ada pihak masyarakat / swasta yang berminat. Sedangkan Puskesmas, sesuai namanya dikembalikan fungsinya sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat yang menjalankan Upaya Kesehatan Masyarakat (preventif dan promotif) menjadi tanggung jawab pemerintah.

Dialog Kebangsaan PB IDI dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107
dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015


Tulisan lainnya

Akibat sembarangan menggunakan antibiotik

Suasana Workshop Pneumonia yang diselenggarakan
PDPI dengan Kalbe Academia
Peta Kuman di salah satu RS
Masyarakat awam dihimbau agar makin berhati-hati menggunakan antibiotik, di lain pihak, Rumah Sakit dihimbau untuk menyiapkan dan menggunakan peta kuman yang sesuai dengan kondisi dan situasi rumah sakit masing-masing. Demikian pesan singkat yang bisa disimpulkan saat mengikuti Workshop of Infection - Nutrition: Pneumonia in critically ill patients, Sabtu 28 Maret 2015 di hotel Ritz Carlton Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Kalbe Academia tersebut dibuka oleh Dr. dr. Priyanti ZS, Sp.P(K), MARS yang juga sebagai narasumber materi pertama dengan judul Severe Pneumonia: How to Deal and Management: - Early warning signs of severe pnemonia, - Update guideline of (antibiotic) treatment for severe pneumonia.

Contoh kasus menarik
Dalam acara yang berlangsung setengah hari tersebut, terungkap beberapa kasus menarik yang bisa saja terjadi di rumah sakit baik di poliklinik maupun ICU, antara lain: ada pasien yang hasil kulturnya sudah resisten dengan sebagian besar antibiotik yang ada di pasaran. Hanya satu jenis antibiotik yang masih sensitif. Sayangnya pasien tersebut alergi pada antibiotik tersebut. Di sini sangat dibutuhkan ketrampilan dokter untuk secara bijak mencari / menggunakan antibiotik yang tepat.

Tips cara bijak menggunakan antibiotik