IdBlogNetwork

Dr. Boenjamin Setiawan Ph.D Bapak Sel Punca

Mungkin apa yang akan saya ceritakan di sini, tidak cocok lagi disebut My Local Hero. Sosok yang satu ini menurut saya sudah bukan level lokal lagi, tapi sudah level Indonesia bahkan sudah mendunia. Bayangkan saja perusahaan yang didirikannya saat ini, sudah merupakan perusahaan terbesar di Asia Tenggara.

Berfoto di rumah samping bengkel bersejarah di T. Priok
Siapa sangka dari sebuah bengkel di Tanjung Priok, dr Boenjamin Setiawan Ph.D.  (yang sering dipanggil dr Boen) mendirikan pabrik farmasi yang hingga saat ini cabangnya tersebar di seluruh Indonesia dan manca negara dari Asia hingga Afrika. 

Kesederhanaan
Meskipun memiliki segudang perusahaan, namun kesederhaan selalu hadir pada pria kelahiran tahun 1933 tersebut. Setiap kali ditanya, apa resepnya hingga bisa membuat group perusahaan yang begitu besar, jawabannya selalu, “karena kebetulan”. Jadi menjalani hidup dan berkarya bagi dr Boen adalah mengalir seperti air, dan kebetulan bisa memiliki banyak perusahaan tersebut.

Mendirikan perusahaan untuk melakukan riset
Namun banyak yang belum mengetahui bahwa sebenarnya cita-cita dr Boen bukanlah membangun bisnis yang besar tapi karena ingin melakukan riset atau penelitian. Bagaimana bisa, yuk ikuti ceritanya. Cerita yang muncul berdasarkan pengalaman saya mendampingi dr Boen dalam aktifitas beliau di kantor, memberi seminar-seminar inspirasi dan waktu santai di rumahnya di bilangan Menteng. Mudah-mudahan bisa sedikit memberi warna lain dari biografi dr Boen, My International Hero, Bapak Sel Punca atau Bapak Stemcell Indonesia.


Setelah menyelesaikan kuliah dan mengambil doktor Farmakologi (ilmu obat-obatan) di Amerika Serikat, dr Boen ingin membuat obat penurun tekanan darah tinggi dari herbal. Namun untuk melakukan riset diperlukan dana. Setelah dicari ke sana-ke mari, ternyata belum ada yang mau meminjamkan dana tersebut hingga akhirnya bertemulah Dr Boen dengan seorang pengusaha farmasi. Saat Dosen Farmakologi FKUI ini menyatakan keinginannya untuk melakukan riset,  tanpa pikir panjang dan banyak tanya, sang pengusaha pabrik obat DUPA (Daya Upaya Para Apoteker) bertanya (dalam bahasa Belanda), “berapa uang yang kamu perlukan”. Begitu disebutkan (yang kalau di kurs saat ini sekitar 30juta rupiah), langsung ditulis ceknya. Dr Boen langsung terpana. Ternyata menjadi pengusaha farmasi bisa memberikan banyak support jika ingin melakukan riset. Mulai saat itu, hati dr Boen semakin mantap ingin mendirikan perusahaan farmasi. Bekerjasama dengan teman-teman seperguruan dr Boen mulai memproduksi & menjual produk pertamanya, yaitu Bioplacenton. Sayang usia kongsi ini tidak berjalan lama.  

Dr Boen menyadari betul bahwa untuk mendirikan dan menjalankan pabrik farmasi, tidaklah cukup dengan kepintaran farmasi / ilmu obat-obatan semata. Dibutuhkan modal dan pengelola (management) yang baik. Di tengah kegalauannya, dr Boen mendapat tawaran dari perusahaan enzym di Belanda. Kembali tekad untuk melanjutkan karier di bidang penelitian membara. Siap-siaplah dr Boen berangkat ke Belanda.

Dukungan penuh dari keluarga
Ternyata niat dr Boen ke Belanda mendapat tantangan keras dari saudara-saudarinya. Sepakatlah kakak-adik Dr Boen untuk mendukung niat dr Boen untuk mendirikan perusahaan farmasi yang diberi nama KaLBe yang merupakan kependekan nama chinese Dr Boen dan adiknya, Pak Bing.
Dengan tekad dan dukungan penuh dari keluarga, lahirlah perusahaan Kalbe dan terus membesar seperti saat ini dengan cabang di seluruh Indonesia, Asia dan Afrika.

Senang berinternet
Menemani dr Boen memberi ceramah-ceramah inspirasi pada berbagai institusi atau saat temu media, dll., sungguh menarik dan memberi tantangan tersendiri. Karena dr Boen sering berbicara tanpa naskah, padahal sering menginformasikan data, saya harus siap-siap memberi sedikit bisikan/contekan baik dari belakang panggung atau pun dari sisi audience (tergantung posisi saya ada di mana), jika diminta. Kalau menyangkut sejarah dan tahun-tahun milestone yang ada hubungannya dengan Kalbe, tentu bisa saya hafal karena data/angka-nya tidak berubah. Namun jika menyangkut data seperti data budget riset dari negara-negara (dalam dollar) dan ranking budget riset negara mana yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya di dunia, yang ini yang susah. Begitu update-nya dr Boen mengakses informasi via internet, jadi angka-angka itu sering berubah mengikuti informasi terkini yang diperoleh dari internet. Dan saat saya mengecek validitas angka/data yang diucapkan dr Boen, sore harinya di rumah, hasilnya memang tepat.

Kapan dr Boen mengakses internet?
Kami semua yang sering menerima  email dr Boen, sudah tahu. Mulai jam 10 malam, email-email dr Boen sudah di share ke kita-kita. Selain email tentu tugas-tugas yang sudah mesti dilengkapi untuk didiskusikan pada pertemuan pertama.

Bayangkan kalau kita tidak memiliki provider akses internet yang mumpuni. Bisa "nangis darah" jika ditanya oleh dr Boen. Itu kiasannya. Yang benar, bisa malu sama rekan-rekan yang lain. Lebih baik lagi kalau akses internet tersebut juga satu paket dengan tv kabel karena akan lebih membuka wawasan dengan news channels yang ada.


Sumbangsih Dr Boen bagi negara Indonesia
Sudah banyak peran dr Boen bagi negara kita. Ini bisa dilihat dari berbagai penghargaan yang diterima beliau, baik dari organisasi Swasta/LSM hingga dari Pemerintah RI. Namun menurut saya pribadi, kegigihan dr Boen untuk memajukan dunia penelitian di Indonesia adalah salah satu hal yang bisa kita acungkan jempol. Tak kenal lelah, dr Boen selalu menginformasikan bahwa suatu negara bisa maju jika penelitian di negara tersebut diperhatikan. Tidak tanggung-tanggung, Kalbe, sepengetahuan saya adalah perusahaan yang biaya risetnya cukup besar. Tanpa penelitian tidak ada pertumbuhan. Tanpa pertumbuhan perusahaan tidak bisa bertahan, demikian nasehat dr Boen setiap saat.

Bapak Sel Punca
Workshop oleh experts Stemcell Jerman
Banyak yang berpikir bahwa Kalbe masuk ke riset Sel Punca (stem cell) karena melihat potensi pasar yang besar. Namun, hal itu masih kurang lengkap menurut saya. Sejak tahun 2005, dr Boen sudah ke sana ke mari menawarkan konsep pengobatan / menjaga kesehatan dengan Sel Punca. Banyak sudah peneliti dari Luar Negeri diundang untuk presentasi yang biasanya dilakukan di FKUI Jakarta. Tujuannya adalah, jika kita (Indonesia) bisa cepat-cepat melakukan riset mengenai Sel Punca maka metode pengobatan ini bisa lebih unggul dibandingkan negara-negara lain yang sama-sama baru mulai (waktu itu). Sebab kalau kita riset obat antibiotika misalnya, maka sudah ketinggalan dengan negara-negara lain seperti Amerika, India dan Cina. Jadi kita perlu melakukan lompatan dalam bidang riset obat-obatan agar bisa sejajar atau melebihi negara lain. Dengan berbagai usaha yang sudah dilakukan dr Boen termasuk bersama-sama dengan teman sejawat lainnya melahirkan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) dan Perhimpunan Dokter Seminat Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO), menurut saya, pantas kiranya jika dr Boenjamin Setiawan Ph. D disebut Bapak Sel Punca (atau Bpk Stemcell Indonesia)


Di mana ada kemauan di situ ada jalan

dr Boen merayakan ultah-nya yang ke-28,
dengan Seminar Stemcell

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil kesimpulan, di mana ada kemauan di situ ada jalan. Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi “made for minds”, inspirasi untuk meniru apa yang dilakukan oleh dr Boen, senhingga bisa memperbaiki kualitas hidup kita menjadi lebih baik seperti misi Kalbe, “TO IMPROVE HEALTH FOR A BETTER LIFE" Tentu dalam skala yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing saat ini. Happy Birthday dr Boen, panjang usia dan tercapai yang dicita-citakan.

3 komentar:

Happy H. mengatakan...

Sangat menginspirasi...thanks dr. Erik

Agus mengatakan...

Dr Erik Tapan yang baik,

Dr. Boen bukan saja "Bapak Stem Cell Indonesia", tetapi juga seorang Guru Sel Punca. Selain itu, Dr. Boen selalu mendorong kita untuk membaca lebih banyak tentang sel punca, suatu sifat seorang perintis dan pelopor. Dipandang dari perspektif suksesnya mendirikan sebuah Perusahan Obat Nasional terbesar, Beliau juga seorang Idola.

Bila di sini saya boleh merefleksi renungan saya, berbeda dengan hampir semua konglomerat di Tanah Air yang saya kenal, Dr. Boen berjasa di dunia "manufacturing", yang berbeda daripada berdagang, menambang atau membangun rumah-rumah, karena manufacturing menyediakan begitu banyak lapangan kerja dan rejeki buat lebih banyak lagi manusia. Bayangkan, dari hulu sampai ke hilir, dari pabrik sampai ke detailer sampai ke para kurir sampai ke dokter, rumah sakit dan pasien.

Prof. Taat pernah bilang kepada saya, Indonesia membutuhkan orang-orang pandai seperti Dr. Boen. Meski ada beberapa orang-orang pandai di Indonesia, tetapi yang "bejo" (meminjam kata-kata alm. Bob Sadino) kayak Dr. Boen tidak banyak, bahkan mungkin ia satu-satunya (ini mungkin yang dimaksud oleh Dr. Boen sebagai "kebetulan-kebetulan" itu).

Menurut saya, intuisi dan bisa melihat jauh ke depan dari Dr. Boen luar biasa, dan ini adalah anugerah dan berkat. Sayangnya, pemerintah dan pejabat-pejabatnya terkesan kurang mengapresiasi ide-ide serta masukan mau pun kritik Beliau, terutama mengenai alokasi dana riset di APBN yang seharusnya lebih tinggi untuk mengejar ketertinggalan kita di bidang pendidikan, penelitian dan Ilmu Pengetahuan. Walaupun demikian, tiada hentinya Dr. Boen selalu mengingatkan Pemerintah, bahwa bangsa yang kuat risetnya, juga akan menjadi bangsa yang sejahtera dan maju.

Selamat Ulang Tahun yang ke 82, Dr. Boen! Sehat-sehat selalu dan kami doakan Tuhan memberikan Umur yang Panjang, sehingga semakin berguna bagi Tanah Air. Siapa tahu, dalam waktu dekat kita juga sudah menemukan "air mancur remaja" itu untuk kita semua.

BTW, sebetulnya saya juga ingin hadir di Seminar Komunitas itu di Gedung Kalbe, karena mau atau tidak, tanpa disadari sepenuhnya, saya rupanya sudah termasuk orang usia lanjut (usila), yang semoga juga masih bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Salam hormat saya,

Indra mengatakan...

Terima kasih Dr Agus dan dr Erik......semoga semakin
Banyak lahir dr Boen dr Boen yang lain dan majulah
riset Indonsia.....aamiin.