Pensiun pun perlu modal, simak caranya!!


Pada hari ke-2, telapak kaki melepuh,
namun terus berjalan melawan kesakitan.

Pensiun dan hanya mengerjakan apa yang kita inginkan menjadi idaman semua orang. Tidak ada lagi dateline, tidak ada lagi kekuatiran dikejar-kejar atasan. Yang ada hanyalah menjalankan hobi seperti yang dikerjakan Pak Djoko. Di  usia menjelang 70 tahun, Pak Djoko dan teman-temannya berjalan sejauh 250km selama 14 hari. 
Pada hari ke dua, telapak kakinya melepuh/blister, namun terus berjalan melawan kesakitan. Ikuti penuturannya, bagaimana menjaga kekuatan fisik dan mental selama perjalanan menuju Santiago de Compostela.

Perlu modal juga
Namun, pensiun dan mengerjakan hobi kita tidak mudah dilakukan jika tidak ada persiapan. Baik persiapan fisik (terus menjaga kesehatan), psikis maupun dana. Mengenai bagaimana mengelola dana agar cukup saat pensiun nanti, akan di-sharing oleh Pak Kris dari Wealth Management OCBC NISP.

Acara ini cocok bagi mereka yang bercita-cita mengisi masa pensiun dengan aktifitas yang menyenangkan. Makin jauh dari usia pensiun, makin besar manfaat.


Daftarkan diri Anda pada acara yang akan diselenggarakan:
Sabtu, 24 Maret 2018
Pk 09.00-13.00 (makan siang)
OCBC NISP Premiere, lt. 2
Jl. Boulevard Blok XC 5-6 no. C
Kelapa Gading - Jakarta Utara
(021) 29600500 

Sudah pake BPJS, kenapa mesti bayar lagi?


Begitu pertanyaan yang sering saya terima. Untuk lebih jelasnya berikut kisah imajinasi untuk menggambarkan hal tersebut. Masih banyak kisah-kisah riil lainnya dengan kondisi yang mirip-mirip, terpaksa harus mengeluarkan uang meskipun sudah membayar BPJS.

Bpk. Amir pasien HD yang datang ke Unit Hemodiasis dengan diantar mobil pribadi. Seminggu 3x, Pak Amir melakukan dialisis. Berkat BPJS Kesehatan, biaya dialisis termasuk obat dan suntik jika diperlukan, semua ditanggung oleh BPJS. Sayang karena tensi yang selalu tinggi, sehingga suntik hormon eritropoetin (sering disingkat epo) tidak bisa dilakukan selesai proses HD. Akhirnya epo tersebut dibawa pulang dan tidak pernah disuntik. Sudah diduga, suatu saat Pak Amir terpaksa dirawat karena HB rendah. Diberi transfusi dan infus.

Perlu diketahui, pasien dialisis umumnya harus disuntik epo agar HB tetap stabil (di atas 10). Bagaimana jika tensi yang tinggi sehingga tidak bisa disuntik saat selesai dialisis? Sebaiknya suntik epo dilakukan diluar waktu HD. Jawaban Pak Amir, malas antri di puskesmas. Padahal, kalau mau kan bisa disuntik oleh seorang dokter umum praktek swasta di klinik-klinik di sekitar rumah Pak Amir. Keengganan melakukan hal tersebut, karena harus mengeluarkan biaya. Sudah BPJS koq mesti bayar lagi.

World Kidney Day 2018


Hari ini, Kamis 8 Maret 2018 adalah Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day). Berbeda dengan hari peringatan lainnya, tanggal Hari GInjal Sedunia bisa dibilang unik. WKD selalu diperingati pada Hari Kamis kedua bulan Maret. Jadi setiap tahun bisa saja tanggalnya berbeda.

Menariknya tema yang diangkat pada Hari Ginjal Sedunia 2018 ini adalah mengenai Ginjal dan Kesehatan Wanita.

Berikut kisah yang ringan dan lucu dari World Kidney Day 2018. Jangan terlalu serius bacanya ya.

Ada yang berbeda kalau saya melihat foto-foto pasien yang sedang HD antara wanita dan pria. Wanita terlihat lebih segar dan tampak tidak sakit. Setelah saya amati lebih detil, ternyata penyebabnya adalah pasien-pasien wanita jika berfoto, mereka dandan terlebih dahulu.

Bagi kaum wanita, apapun kondisinya, tampil cantik adalah penting, mungkin ini pelajaran yang bisa dipetik. Benar tidak menurut Anda?

Selamat memperingati Hari Ginjal Sedunia

Siaran di TV (internal) RS Islam Jakarta

Penulis bersama Fina, sang pembawa acara di TV RSIJ
Tidak banyak rumah sakit yang memiliki siaran TV internal, apalagi yang bisa berlangsung selama 24 jam. Kita tahu semua, pasien dan keluarga pasien di rumah sakit merupakan satu segmen yang cukup potensial. Berapa banyak orang yang menunggu di poliklinik atau dalam kamar perawatan yang tidak tahu mau melakukan aktifitas apa? Kebanyakan dari mereka akan menggunakan smartphone untuk berselancar di dunia maya. Informasi yang diperoleh pun tidak banyak yang bersentuhan dengan rumah sakit tempat dirawat.

Bayangkan, jika Rumah Sakit memiliki station TV yang selama 24 jam terus menerus menyiarkan info-info yang bermanfaat yang disiarkan ke seluruh poliklinik dan rawat inap. Channel itupun bisa menjadi salah satu channel pilihan. Mirip-mirip dengan yang sering penulis lihat di hotel. Misalnya saja ada pasien sedang menunggu diobati oleh dokter, eh dokter itu muncul di tv, membahas penyakit yang kebetulan sedang diderita pasien tersebut. Kemudian ada penjelasan, bagaimana prosedur pengobatan, apa yang bisa dan tidak boleh dilakukan selama perawatan, dll. Tentu materinya harus disesuaikan dengan materi yang perlu diketahui pasien selama perawatan hingga pulang ke rumah nantinya,

Bisa jadi profit center