Dokter yang saling melayani


Saat di Indonesia, para pasien masih merindukan pelayanan yang lebih baik dari para dokter, ternyata di negara lain, sesama dokter saling melayani. Demikian kira-kira kesimpulan yang bisa diambil sewaktu penulis mengunjungi acara Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-4 dari Raffles Hospital Singapore. Meskipun tidak bisa diambil kesimpulan secara keseluruhan, tetapi penulis melihat dan mendengar suasana yang saling menghormati dan melayani dari dokter spesialis kepada dokter umum/keluarga (family medicine), teman sejawatnya.

Pertanyaan "nakal' penulis lontarkan ke beberapa peserta (dokter Indonesia) yang mengikuti acara ini: "Kenapa Anda mengirim pasien keluar negeri? Apakah jika mengirim ke dokter spesialis dalam negeri, pasien tidak dikembalikan?"
Jawabnya sederhana tetapi sangat mendasar: "Kita merasa diperlakukan sebagai teman sejawat. Tidak ada omelan atau salah-salahan yang kita terima. Pengembaliannya pun disertai dengan catatan medik yang double. Satu untuk pasien satu untuk kita." (rangkuman dan sudah diedit....)

Lepas dari pro atau kontra, diakui atau tidak, rujukan dokter umum / dokter perusahaan kita ke dokter spesialis luar negeri semakin hari semakin bertambah. Saya sampai tidak berani menulis berapa dollar Sing ataupun ringgit Malaysia yang rata-rata lari ke LN. Ini fakta yang patut kita renungkan bersama.

Jika sistem pelayanan kesehatan masih seperti saat ini, menurut saya, pelan tetapi pasti kita akan semakin ketinggalan dalam hal pelayanan kesehatan dengan negara tetangga kita.

Saya tidak akan banyak berkomentar, karena merasa tidak mengetahui banyak faktor-faktor kesulitan yang dialami dalam pengaturan pelayanan kesehatan dalam negeri, tetapi hanya membantu mengingatkan saja via media blog yang kecil ini.


Ada tanggapan? Setuju atau tidak ?
Silakan kunjungi http://eriktapan.blogspot.com dan masukkan tanggapan Anda, apapun itu.
Posting Komentar