Presentasi Introduction to Anti Aging Medicine pada acara Dokter Keluarga Jawa Barat

Menempuh perjalanan dari Jakarta tepat pukul 11:30, akhirnya rombongan kami tiba di Bandung Trade Center (BTC) Mall, tepat pukul 2 siang. Ternyata tidak sukar menemukan baik gedung maupun tempat parkir. Mungkin ini salah satu bedanya jika mencari tempat parkir di mal-mal Jakarta. Sewaktu memarkir mobil di lantai atas, ternyata pintu masuknya langsung menuju tempat pelaksanaan acara.

Presentasi saya dimulai tepat pukul 3 siang. Sayangnya moderator yang memandu acara, terlalu ketat pada aturan. Ini menyebabkan presentasi yang sudah saya buat untuk 30 menit (sesuai dengan waktu yang diinformasikan ke saya) ternyata sudah dipotong menjadi 20 menit saja (tanpa pemberitahuan). Karena ada masalah teknis yang memakan sekitar 5 menit. Jadilah presentasi yang saya lakukan hanya 15 menit saja.

Akibatnya -menurut saya- banyak materi yang missed. Tapi masih untung, para pembicara berikutnya bisa melengkapinya. Hanya sayang saja, sang moderator yang kaku ini tidak berdaya jika ada pembicara yang tidak memperdulikan 'peringatan' moderator alias nakal.

Tanya jawab yang seru
Diskusi seru pun terjadi saat tanya jawab. Beberapa isu yang timbul:
1. Apakah benar intervensi anti aging medicine (AAM) dimulai pada saat usia tua? Seperti pada foto-foto yang diperlihatkan saat presentasi, semuanya orang-orang tua (> 90-an tahun) yang masih segar bugar?
Jawab: Intervensi AAM sudah bisa dimulai dari usia berapapun. Makin muda makin baik. Foto-foto yang diperlihatkan tersebut sebagai bukti bahwa jika menerapkan AAM sejak awal maka pada usia -bahkan- 90 - 100 tahun pun masih segar bugar layaknya mereka yang berusia 35 tahunan.

2. Bagaimana tanggapan Dokter mengenai Diet Berdasarkan Golongan Darah, apakah masuk dalam Anti Aging Medicine?
Jawab: Diet adalah salah satu metode dalam AAM. Namun kalau sudah menyangkut salah satu metode yang ditanyakan tersebut, maka jawabannya adalah: seperti yang sudah saya presentasikan, salah satu konsep AAM adalah metode yang diperkenalkan tersebut harus -minimal- masuk dalam journal ilmiah dan direview oleh ahli-ahli yang sebidang. Bahwa sudah banyak buku yang ditulis oleh penemu diet ini bukanlah berarti sudah memenuhi syarat di atas.
Kita sebagai dokter harus pinter-pinter menilai suatu metode/obat. Gunakanlah ilmu yang kita miliki untuk mencari journal-journal yang ada hubungannya dengan metode tersebut.

3. Berapa tahun usia paling muda menerapkan konsep anti aging medicine?
Jawab: Yang termasuk dalam cakupan Anti Aging Medicine itu sangat luas. Perawatan wajah yang rutin agar tidak menimbulkan jerawat misalnya, adalah intervensi anti aging. Begitu pula dengan berolahraga secara baik, terukur guna mempertahankan kesehatan.
Jadi tidak harus menunggu seseorang jatuh sakit atau sudah berumur.

4. Apa-apa saja intervensi AAM yang dilakukan saat ini?
Sebagai seorang praktisi AAM tentulah harus melakukan metode AAM. Mulai dari yang sederhana seperti sangat berhati-hati dalam memilih metode/produk yang mengklaim diri masuk golongan AAM, kemudian selalu berpikir positif dan menyempatkan waktu untuk meditasi/berdoa, berolahraga (jalan kaki/treadmill, bersepeda, berenang, latihan beban), penggunaan sun screen maupun suplemen sesuai kebutuhan, dll.
Untuk diet, pagi hari makan sereal + susu, siang hari vegetarian, malam hari usahakan untuk tidak makan lagi 2 jam sebelum tidur.
Bagaimana kita bisa menjadi konsultan bagi orang lain, jika kita sendiri tidak sanggup melakukannya? Inilah yang membedakan seorang dokter AAM dengan yang lain. Dokter AAM umumnya menerapkan ilmu yang diperolehnya pada dirinya sendiri juga. Karena memang bisa diterapkan pada diri sendiri, siapun dia.

5. Bagaimana seseorang yang berpenyakit (katakanlah DM/kencing manis) melaksanakan aktifitas Anti Aging Medicine?
Apakah bisa, sebab yang dipaparkan adalah contoh-contoh pada orang sehat saja.
Jawab: Konsep AAM adalah pencegahan. Jika menemukan penyakit, silakan berkonsultasi dahulu kepada dokter bidang lain yang lebih kompeten. Setelah penyakit tersebut terkontrol, barulah dilaksanakan program-program AAM.
Tidak jarang dengan melakukan program AAM, sangat membantu pengobatan konvensional. Contohnya pada mereka yang menderita DM II, ketergantungan terhadap OAD bisa menjadi berkurang saat kita menerapkan AAM.
Posting Komentar