Teknologi vs Informasi (pengalaman dengan Halo Telkomsel)

Kata "teknologi" selalu disandingkan dengan "informasi". Di mana-mana kita melihat 2 kata ini selalu berjalan bersama-sama. Bagaimana pendapat Anda jika dua kata ini tidak lagi beriringan jalannya?

Ceritanya begini:
Tertarik dengan kebesaran nama Telkomsel, saya pun meng-apply kartu Halo via kantor (Corporate). Pada awalnya karena saya bermaksud menjadikan Telkomsel sebagai primary number, saya memberanikan diri untuk meminta no yang unik. Maksudnya nomor unik (bukan nomor cantik tapi) adalah nomor yang ada hubungannya dengan inisial atau nama saya, misalnya terdapat angka 3745 (ERIK) atau 343745 (DRERIK) atau 82726 (TAPAN) atau salah satu kombinasi dari angka-angka di atas.
Ternyata setelah hampir sebulan menunggu dan belum keluar juga nomor yang dimaksud, akhirnya saya menyerah. Nomor apa saja deh.

Akhirnya datang juga
Hari yang dinantikan pun tiba. Kartu Halo sudah tergeletak di meja kerja. Setelah Diteliti dengan saksama, membolak-balik petunjuk yang ada di dalamnya, ternyata tidak ada penjelasan sama sekali mengenai fasilitas apa saja yang saya peroleh.

Saya pun berusaha mengontak PIC (person in charge) di Telkomsel yang sekiranya bisa memberi tahu kepada saya: apakah ada biaya bulanan, berapa harga SMS, dll., dll.
Berkali saya menghubungi PIC tersebut, namun tidak pernah mendapat balasan. Ditelpon tidak pernah diangkat, di SMS juga begitu. Akhirnya karena ketidaksabaran, saya langsung call Veronica saja.

Dari keterangan Mbak Veronica akhirnya saya bisa tahu fasilitas apa yang saya peroleh, seperti free biaya bulanan asalkan penggunaan > Rp. 25.000 / bulan. Setiap bulan memperoleh 100 SMS gratis dan yang penting saya baru tahu bahwa billing saya datangnya pada pertengahan bulan. Sayangnya, paket Telkomflash unlimit belum termasuk pada fasilitas tersebut, padahal sejak awal saya sudah me-request hal tersebut.

Terus terang, jika saya bisa memperoleh nomor unik + paket telkom flash unlimited, so pasti no HP dari Telkomsel ini yang akan saya jadikan nomor telepon utama saya.

Dan karena menurut Mbak Veronica untuk mengaktifkan paket unlimit Telkomflash harus menghubungi sang PIC tersebut, kembali saya meng-SMS yang bersangkutan. Rupanya pepatah "kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah" sudah menular ke orang-orang Telkomsel. Setelah berkali-kali saya SMS (kalau voice memang tidak pernah diangkat), akhirnya keluar jawaban, bahwa untuk mengaktifkan paket tersebut, saya perlu mengisi formulir yang akan dikirim via e-mail. E-mail pun saya SMS kepada ybs dan diberi jawaban via SMS bahwa formulir sdh dikirim. Perlu diketahui bahwa proses menjalankan kegiatan dalam alinea ini, memakan waktu sekitar 3 hari.

Nyatanya 1 minggu telah berlalu, saya sama sekali belum menerima e-mail yang dimaksud. Karena sudah tak sabar, saya langsung menuju Grapari dengan harapan bisa menyelesaikan masalah ini.
Dengan semangat 45, saya bersama beberapa teman kantor mengunjungi Grapari Telkomsel di Jalan Pemuda.
Ternyata antara nomor antri yang kami peroleh dengan customer yang sedang dilayani, terdapat perbedaan 40 nomor. Kalau saja setiap orang dilayani 15 menit dengan meja layanan rata-rata ada 4, berarti saya harus menunggu sekitar 10 x 15 menit alias 150 menit.

Ya sudahlah, kami putuskan untuk mengantri lain hari saja. Akhirnya saya bersama rekan-rekan lainnya (yang tertarik juga meng-apply Telkomsel, tetapi mau langsung saja tanpa via corporate), memutuskan untuk memencet-mencet layar touchscreen yang tersedia. Siapa tahu ada jawaban yang bisa ditemui di situ.

Betapa kagetnya saya, ada content yang belum di upadate sejak 1 Mei 2004. Pantas saja tarif SMS Postpaid Hybrid Rp. 250 / SMS.

Kesimpulan
Ternyata penggunaan teknologi canggih belum diikuti baik oleh SDM maupun informasi. Ada perbedaan antara teknologi yang diterapkan dengan informasi (dan sumber daya) yang tersedia.

Bagaimana komentar atau pengalaman Anda?
Posting Komentar