Mari manfaatkan Teknologi Informasi dalam Pelayanan Kesehatan



Saat
penulis diminta untuk sharing informasi mengenai "Urgensi Teknologi Informasi dalam Pelayanan Kesehatan", lama penulis termenung. Kira-kira apa yang akan disampaikan? Hari gene, siapa yang tidak mengenal dan memanfaatkan IT? Bahkan -menurut news ticker yang penulis baca di salah satu TV-, pemerintah kita sendiri sudah mencanangkan pada tahun 2010, Internet sudah menjangkau seluruh desa di tanah air. So, kira-kira apa issue-nya yang perlu didiskusikan?

Upaya lainnya dari pemerintah, bisa kita lihat gencarnya promosi Warkominfo (CMIIW), yaitu semacam internet cafe namun mempunyai pelayanan bagi para pelanggan (pengusahan kecil dan menengah / masyarakat kebanyakan) untuk berkonsultasi, membuat website, dll.

Tak bisa dipungkiri lagi IT sudah jauh merangsek pada pelbagai sudut-sudut sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia (tidak hanya di kota-kota besar saja). Belum lagi berbicara media komunikasi lainnya seperti Handphone, PDA, dan Smartphone. Diperkirakan jumlah pesawat mungil nan canggih / hightech tersebut, 4 kali lipat dari jumlah komputer (PC, notebook dan netbook). Jadi kalau ada 30 juta pengakses internet menggunakan perangkat konvensional (komputer), maka jumlah HP yang beredar di Indonesia sudah berjumlah 120 juta.

Jumlah yang tidak sedikit memang. Namun dibalik kesuksesan penjualan perangkat IT, sayangnya (hmm.... ini issue yang baik!!) masih banyak yang memanfaatkan perangkat tersebut hanya kemampuan dasarnya saja, seperti hanya menggunakan word processor ataupun kalkulasi (untuk komputer) dan media komunikasi (voice/SMS) untuk pesawat telpon bergerak.

Sangat dibutuhkan orang-orang yang kreatif di negara tercinta kita ini untuk bisa memanfaatkan alat-alat IT tersebut agar bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak tidak sekedar sebagai hanya alat komunikasi biasa.

Beberapa point yang penulis kemukakan pada acara yang diselenggarakan oleh BEM FKIK UIN Syarif Hidayatullah:
A. Memanfaatkan komputer untuk mendukung akreditasi rumah sakit, agar kasus-kasus seperti yang dialami oleh Prita dapat diminimalkan

Semua pasti setuju untuk mengatakan bahwa tidak sepatutnya kejadian yang dialami Prita maupun RS Omni akan terulang kembali. Baik Prita maupun RS Omni selayaknya bisa melakukan introspeksi diri.
Diluar pelbagai sudut yang sudah banyak dikemukakan oleh para pengamat (mulai dari view public relation / komunikasi hingga view keadilan), ada satu hal yang masih membuat penulis penasaran sebagai seorang praktisi Informatika Kedokteran. Sebenarnya, apakah status akreditas Rumah Sakit dari RS Omni tersebut? Apakah (1) tidak terakreditasi atau (2) akreditasi bersyarat atau (3) akreditasi penuh bahkan (4) akreditasi istimewa. Yang penulis maksud adalah akreditasi yang dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Tidak mudah memang menjalani akreditasi rumah sakit, apalagi jika dilakukan secara manual tanpa bantuan IT. Itulah sebabnya begitu urgen-nya IT guna mendukung keberhasilan akreditasi rumah sakit / institusi pelayanan kesehatan lainnya.

B. Point lainnya yang mengemuka dalam presentasi kemarin, adalah soal keengganan para operator / user untuk menggunakan IT karena bisa menyebabkan semuanya menjadi transparan / telanjang.
Mengambil contoh di salah satu rumah sakit, di mana para operator / kasir menolak mati-matian untuk dibuatkan software-nya, penulis menganjurkan kepada para decision maker yang kebetulan berada di rumah sakit tersebut, agar bisa membalikkan pakem yang selama ini sudah berlaku umum.
Sebagai contohnya, kita bisa melihat di luar negeri, ada tong sampah yang bernyanyi jika kita memasukan sampah (mungkin sudah ada di Indonesia). Bayangkan untuk mengsosialisasi buang sampah pada tempatnya, mereka harus berkreatifitas seperti itu. Artinya yang tadinya menjadi pekerjaan (membuang sampah), sekarang aktifitas tersebut menjadi sesuatu kegembiraan.
Contoh lainnya, apakah para penggemar Social Network seperti Facebook ataupun Friendster akan dengan sukarela mengisi semua kolom-kolom identitas yang diminta jika hal itu bukan merupakan suatu pekerjaan yang menyenangkan? Bayangkan betapa banyak data kita dikumpul (dengan sukarela kita mengisinya) oleh pengelola media tersebut. Foto-foto kita pun langsung menjadi copyright mereka TANPA bisa dibatalkan. Lalu menurut Anda para Facebook/Friendster maniak, apakah data yang dikumpulkan tersebut akan dibiarkan menjadi sampah saja oleh pengelolanya? Bukankah sejak awal media tersebut diciptakan untuk mengumpulkan data dan picture kita?

Kata kuncinya cuman satu, buatlah itu menjadi pekerjaan yang menyenangkan!!!
Keengganan untuk mengisi yang sebenarnya
Issue yang sering terjadi saat IT diterapkan adalah soal penolakan dari para user/operator. Agar penerapan Teknologi Informasi bisa berjalan dengan baik, menurut penulis, sebaiknya terapkanlah konsep lebih memberi reward (bagi yang berhasil) dibandingkan punishment (untuk mereka yang kurang berhasil, dengan sengaja). Jangan hanya rajin memberi punishment meskipun kesalahannya sangat-sangat kecil NAMUN reward-nya HANYA diberikan kepada mereka yang sangat-sangat berprestasi. Jika suatu laporan tidak sesuai target, kita lihatlah permasalahannya di mana, apakah memang mereka perlu diberi bimbingan lebih atau tidak. Jangan belum apa-apa, muka kita sudah tidak senang (berlipat) akan laporan-laporan yang 'sedikit' kurang baik, tanpa kita mau mengusut lebih jauh akar permasalahannya. Akibatnya jika menerapkan hal tersebut, keluarlah laporan Asal Bapak/Ibu Senang. Semua happy, KECUALI customer langsung yang kita layani.

Kesimpulan, mohon tanggapannya
Diakhir tulisan singkat ini, bisa penulis kemukakan bahwa apa yang ditulis di sini, mungkin belum bisa mencerminkan solusi yang berguna bagi masyarakat banyak karena dilhat dari sisi seorang praktisi Informatika Kedokteran yang ilmunya belum banyak diketahui orang. Namun setidaknya bisa menjadi inspirasi bagi pejabat yang berkompeten (yang tentu memiliki pengaruh yang lebih besar) baik dari kalangan swasta maupun pemerintah untuk bisa memanfaatkan seoptimal mungkin yang namanya Teknologi Informasi. Mau tidak mau, mereka itu telah hadir bahkan dalam dompet / kantong kita semua. Seakan-akan sudah menjadi salah satu barang yang harus terus dibawa (kebutuhan primer). Alangkah sayangnya kalau tidak memanfaatkan semua feature yang ada di dalamnya. Masalahnya tinggal di brainware dan software saja.

Sangat dinantikan komentar dari pembaca blog ini.

Salam,
Erik Tapan
Perhimpunan Informatika Kedokteran Indonesia (PIKIN)
Posting Komentar