TB Kelenjar

Jangan takut ke dokter jika timbul benjolan.  Belum tentu kanker.  Jika karena TB Kelenjar maka bisa sembuh total jika diobati

TB atau tuberkulosis umumnya terjadi di paru-paru.  Begitu ada orang batuk2 lama apalagi di dahaknya tercampur dengan bercak darah / strip merah,  dugaan pertama sebagian masyarakat,  wah kemungkinan TB nih. 

Apakah mungkin TB menginfeksi organ / jaringan lain di luar paru?  Apa saja gejala-gejalanya dan apakah bisa mematikan (dalam bahasa medis disebut Prognosisnya jelek).


Semoga tulisan ini bisa sedikit membantu pembaca memahami TB Kelenjar yaitu infeksi TB pada kelenjar Limfe.  Sebenarnya masih banyak tempat infeksi kuman tb lainnya,  tapi tulisan ini khusus tb di kelenjar aja. 

Berbeda dengan infeksi tb di paru,  jikalau orang terkena TB Kelenjar ( sebut saja demikian namanya), umumnya tidak menunjukkan gejala batuk-batuk.  Pasien hanya merasa dirinya lemas2,  suhu tubuh meningkat sedikit antara 37 - 38 derajat Celsius,  nafsu makan menurun sehingga berat badan turun drastis. Orangnya jadi kurus. 
Tanpa perhatian serius dari orang tersebut (sadar kalau perlu ke dokter) , pasien ini akan hidup seperti orang normal hanya sedikit mengurangi aktifitasnya.  Jadilah berbulan-bulan pasien ini hidup seperti biasa hingga (umumnya)  terkena infeksi yang bisa mengakibatkan masuk rumah sakit karena parahnya.  Daya tahan orang yang mengidap TB Kelenjar otomatis menurun, jadi mudah terkena infeksi. Yang pada orang normal, hanya infeksi ringan, pada pasien tb kelenjar bisa menjadi berat.

Saat masuk rumah sakit,  dokter yang berpengalaman bisa mencari benjolan-benjolan di kelenjar limfe pasien (namun adakalanya dokter hanya memberi antibiotik untuk infeksi yang terjadi saat itu dan setelah sembuh keluar RS tanpa diketahui tb kelenjarnya). Bila perlu untuk mencari benjolan2 ini ( disebut limfadenitis,  radang kelenjar getah bening)  bisa dilakukan pemeriksaan USG. 

Lalu,  apakah semudah itu?  Setelah ketemu benjolan2, pasti TB Kelenjar? 
Jangan salah,  pembesaran kelenjar Getah Bening di leher,  rahang bawah,  pundak, ketiak, selangkangan, dll., bisa juga karena kanker limfe atau Limfoma.  Gejala-gejalanya juga mirip-mirip:  tubuh lemas,  nafsu makan hilang, berat badan menurun, suhu tubuh sub febril,  nyeri2 otot,  dll. 

Di sinilah peran dan kepintaran  seorang dokter,  untuk memutuskan apakah pasien itu mau diterapi tb kelenjar atau limfoma. 

Pengobatan
Sangat beruntung (masih saja disebut beruntung),  jika diagnosis tb kelenjar bisa ditegakkan ( dari pada kanker kelenjar). Dengan pengobatan rutin OAT (Obat Anti Tuberkulosis),  penyakit TB Kelenjar bisa sembuh sempurna asalkan didukung dengan kepatuhan minum obat dan asupan gizi yang cukup. 

Kesimpulan: 
  1. Kasus2 TB saat ini cukup sering terjadi di masyarakat Indonesia
  2. Tidak seperti TB paru yang sudah sangat populer ada jenis TB lain yang tidak terlalu populer sehingga orang sakit sering menunda pengobatannya,  apalagi gejala2nya mirip keganasan.  Tahu kan apa yang terjadi saat pasien disebut kemungkinan keganasan? 
  3. Jika sering keringat malam hari meskipun tanpa batuk-batuk dan foto rontgen paru normal,  bukan berarti TIDAK kena infeksi TB
  4. Infeksi TB Kelenjar bukan penyakit yang mematikan dan bisa disembuhkan
  5. Infeksi TB kelenjar tidak menular via batuk-batuk (pasiennya kan nggak batuk) 



Tolong di-share agar masyarakat tetap mau berobat ke dokter meskipun ditemukan pembengkakan kelenjar Limfe.  Karena belum tentu kanker lho

Tidak ada komentar: